GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Aku Mencintaimu!!


__ADS_3

Setelah bisa menguasai diri, Kaisar bangkit dan lekas pergi sebelum Sabia mengenalinya. Dengan tubuh gemetaran, Kaisar mempercepat langkahnya hingga tanpa sadar ia malah masuk ke lorong yang salah. Bukannya menuju pintu keluar, justru Kaisar terperangkap semakin jauh. Panik membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Setelah melewati dua lorong yang justru membuatnya kembali masuk ke aula utama, Kaisar baru menyadari bila ia telah tersesat.


"Damnn!" rutuknya kesal.


Tatanan gedung ini membuat Kaisar jadi terjebak dan tak bisa kembali.


"Loh, anda 'kan yang tadi?"


Kaisar menoleh cepat. Perempuan yang tadi menyapanya tengah berdiri di belakang dengan wajah kebingungan.


Meskipun masih kesal dan panik, Kaisar sempat merespon perempuan tadi dengan membungkuk sopan sebelum kemudian berlalu pergi.


"Pak, tadi Bu Bia mencari anda!" teriak Voni penuh semangat namun sayangnya Kaisar sudah lebih dulu pergi dan menghilang di lorong yang tadi ia masuki.


Bagaimana bisa ia malah tersesat! Benar-benar konyol dan tidak masuk diakal. Masih merutuki dirinya sendiri, Kaisar mencoba mengingat-ingat jalan yang pertama kali ia lewati. Patung, cinderamata, lukisan! Aha! Dia sudah berada di jalur yang tepat saat ini.


"Kai!!"


Deg. Suara itu.

__ADS_1


Kaisar menghentikan langkahnya sejenak, seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas. Itu suara Sabia.


Berpura-pura tak mendengar apapun, Kaisar kembali melangkah dengan sok acuh. Bisa saja dia sedang berhalusinasi saat ini. Namun belum sempat mencapai pintu masuk, seseorang menarik lengannya secara paksa.


Wajah yang selama ini Kaisar rindukan, suara yang selama ini hanya bisa ia dengar dalam mimpi, akhirnya memanggil namanya secara langsung dan menatap matanya dengan sendu. Dengan cepat Kaisar berpaling saat Bia berdiri di depannya dengan jarak yang begitu dekat.


"Kai ..." lirih Bia tercekat.


Untuk pertama kalinya sejak ia bisa melihat, akhirnya Bia bisa menatap secara langsung mata teduh yang selama ini hanya bisa ia raba pada patung buatannya. Sosok yang selama ini menghilang dari hidupnya kini berdiri tepat di depannya.


"I'm sorry, who are you!?" tanya Kaisar berpura-pura bingung saat akhirnya dia sadar bila ia harus tetap berpura-pura.


"Kamu Kaisar, kan?! Kamu suami aku!"


Bia menghembuskan napasnya kesal. Ia menarik masker wajah yang menutupi sebagian wajah Kaisar dengan paksa dan membuang masker itu ke sembarang arah. Jantung Bia sontak berdegup ekstra, matanya tidak berbohong, lelaki yang saat ini berdiri di depannya ini adalah Kaisar, suaminya!


"Teganya kamu melakukan ini sama aku, Kai!" tangis Bia pilu. "Kenapa kamu tega banget ninggalin aku setelah aku kehilangan segalanya!!"


Kaisar menepis tangan Sabia yang masih mencekal lengannya. "Anda salah orang! Saya bukan Kaisar. Kaisar yang anda maksud sudah mati."


"Nggak! Kaisarku nggak pernah mati, selama ini aku bertahan hidup hanya untuk menanti Kaisarku kembali."

__ADS_1


Kaisar tersenyum kecut. Sudah kepalang tanggung, ia sudah ketahuan! Jadi fokusnya saat ini adalah membuat Sabia membencinya.


"Kai, tolong jangan perlakukan aku seperti ini!"


"Kamu tidak benar-benar mencintaiku, Bia. Aku pun begitu. Kita hanya terjebak di hubungan yang salah."


"Aku cinta sama kamu!"


"Tapi aku tidak."


Sabia kembali tercekat. Ia menatap wajah Kaisar lekat-lekat. "Katakan sekali lagi bila kamu tidak mencintaiku dengan menatap mataku!"


Kaisar membuang muka, ia menahan sayatan demi sayatan di dalam hatinya yang menyakitkan.


"Katakan, Kai. Katakan bila kamu nggak mencintaku!" paksa Bia sembari mencengkram  kedua lengan Kaisar dengan erat.


Tanpa mereka berdua sadari, beberapa orang pengunjung mulai mengawasi mereka berdua dengan tatapan penasaran. Kaisar dan Bia lupa bila mereka sedang berada di tengah keramaian.


"Kamu nggak bisa mengatakannya, kan?" timpal Bia.


Kaisar masih berpaling, ia tak sekalipun berani menatap mata Bia. Ada sorot mata Hari di sana dan Kaisar tak cukup kuat untuk menghadapi rasa bersalah yang masih saja menderanya.

__ADS_1


"Bie, ada apa ini?"


***************************


__ADS_2