GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Seperti biasa, Kaisar selalu bangun lebih awal dibanding Sabia. Ini adalah kali kedua ia tidur berpelukan, dan yang tadi malam mereka lakukan secara sadar.


Meskipun junior memprotes di bawah sana, sebisa mungkin Kaisar selalu menahannya. Siapa yang tak ingin meniduri Sabia? Bahkan dengan mencium aroma parfumnya saja sudah membuat sekujur tubuh Kaisar meremang. Ia benar-benar terkena karma atas serapahnya beberapa bulan yang lalu. Setiap inci tubuh Sabia sangat memabukkan, membuat Kaisar ingin menjamahnya lagi, lagi, dan lagi. Apadaya ancaman Bia selalu membuat nyalinya menciut bahkan sebelum Kaisar sempat menyentuh bibirnya.


Sambil memasang dasinya, Kaisar mengawasi Sabia yang masih terpejam. Suara dengkuran halusnya entah mengapa seperti musik indah yang terdengar seperti lullaby. Hangatnya pelukan dari tubuh mungil itu cukup membuat Kai menjadi candu. Andai tak harus ngantor, mungkin Kaisar akan melanjutkan tidurnya sampai siang. Ia rela meskipun tangannya kram karena tertindih tubuh Bia.


Sambil bersenandung, Kaisar keluar dari kamar dan bergabung dengan Syailendra yang sudah duduk tenang di meja makan. Seorang pelayan menarikkan kursi dan Kaisar pun duduk setelah mengucapkan terimakasih. Pelayan itu mengernyit heran, tak biasanya Kaisar merespon sehangat pagi ini. Selama puluhan tahun ia bekerja di keluarga Mahaputra, baru kali ini Kaisar menyadari keberadaannya.


"Hari akan berangkat ke Singapura nanti siang, bila ada pekerjaanmu yang belum selesai di ACC oleh adikmu, segeralah urus secepatnya sebelum siang ini," jelas Syailendra saat Kaisar menyesap kopi hitamnya.


"Berapa lama Hari berada di Singapura, Pa?"


"Entahlah, mungkin seminggu. Sekalian dia menemani Mamamu di sana sampai sesi kemoterapinya selesai."


Kaisar mengangguk paham, seingatnya tak ada pekerjaan yang belum beres dengan Hari. Semua urusan keuangan sudah di ACC oleh adiknya itu.


"Oh ya, Pa. Menurut Papa, bagaimana kalo aku membeli apartemen sendiri dan tinggal berdua di sana dengan Bia?"


Syailendra menoleh pada Putranya dengan kaget hingga tanpa sadar ia berhenti mengunyah rotinya. "Are you serious?"


Kaisar mengangguk cepat. "Ada rencana begitu, sih. Tapi aku akan pindah bila Papa mengijinkan."


"Lalu untuk apa rumah sebesar ini kalo kalian pindah?"


"Yaaa, untuk Papa, Mama dan Hari!" jawab Kaisar acuh.


Syailendra menghela napasnya berat. Ia menatap putra sulungnya dengan sendu.


"Apa kamu sudah  tidak betah berada di rumah ini?"


"Bukan begitu, Pa. Hanya saja aku berusaha membatasi interaksi Bia dengan Hari. Kadang aku merasa dia lebih akrab dengan Hari dibanding denganku!"


Bukannya menjawab dan menenangkan putranya, Syailendra malah tertawa mendengan keluhan Kaisar. Baru kali ini ia melihat ekspresi cemburu di wajah putranya yang ganteng itu!


"Kamu cemburu pada adikmu? Hahaha ..."


"Bukan cemburu, Pa. Aku hanya berusaha realistis. Harusnya Bia lebih menurut dan bergantung padaku dibanding dengan Hari. Apakah Papa tak merasa ini konyol?"

__ADS_1


"Hahaha ..." tawa Syailendra semakin pecah. Ia tak paham mengapa anak muda jaman sekarang gampang sekali terpancing emosi bila menyangkut perihal wanita.


Melihat Papanya menertawai kegundahannya, Kaisar hanya bisa merengut kesal. Instingnya tak pernah salah, perasaan sayang itu bisa datang kapan saja di antara Hari dan Bia, dan sebisa mungkin Kaisar akan menghalanginya dengan cara apapun! Sabia miliknya, hanya miliknya!!


"Tunggulah sampai Mamamu sehat, Kai. Bila kamu pindah di saat kondisi Mamamu sedang butuh dukungan seperti ini, dia pasti akan bertanya-tanya," putus Syailendra akhirnya.


Mendengar angin segar itu, Kaisar sontak tersenyum lega. "Baiklah, Pa. Kami akan pindah setelah Mama sehat."


.


.


Sementara itu menjelang siang, Sabia membuka mata dari tidur nyenyaknya. Ia meraih ponselnya yang selalu tergeletak di meja nakas dan menekan tombol lingkaran cukup lama.


"Jam berapa sekarang?" gumam Bia lirih di bagian atas ponsel.


"Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 menit." Suara siri dari ponsel itu membuat Bia terbelalak tak percaya.


Akhir-akhir ini ia sering sekali bangun kesiangan. Dan yang terparah adalah hari ini, padahal semalam ia tak tidur terlalu larut. Dengan sedikit tergesa-gesa, Sabia turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi sambil menggulung rambutnya ke atas. Ia harus segera mandi dan sarapan.


Clik


Sabia menutup pintu kamar tepat di saat seseorang baru saja melewati kamarnya. Aroma parfum yang sangat familiar sontak membuat Sabia menoleh ke arah si empunya.


"Hari?"


Hari yang memang sengaja berangkat ke airport di siang hari agar tak berpapasan dengan Sabia, sontak menghentikan langkahnya kaget. Ia menoleh ragu.


"Ya?"


"Kamu kok nggak ngantor?" tanya Bia penasaran.


Hari melirik Mira yang berjalan di sisinya, ia memberi kode pada Mira agar tak bersuara.


"Iya, ini mau berangkat. Barusan masih mengurusi sedikit masalah."


"Tentang apa? Masalah tentang Mama Mira, ya?" sela Bia tak sabar.

__ADS_1


Hari dan Mira saling berpandangan keki.


"Mama Mira sakit, kan? Kenapa selama ini kalian merahasiakannya dariku?" cecar Sabia lagi dengan wajah sendu.


Mau tak mau, Hari melepas genggamannya pada Mira dan mendekat ke Sabia.


"Bukan begitu, Bia. Kami tidak bermaksud untuk merahasiakannya darimu. Hanya saja kami tidak ingin menambah beban pikiranmu."


"Kita keluarga, kan? Kalo kalian menganggapku keluarga, harusnya nggak boleh ada rahasia apapun di antara kita semua. Dengan kalian diam seperti ini, membuat aku sadar kalo ternyata selama ini kalian nggak pernah nganggep aku keluarga."


"Bia, bukan begitu. Sungguh bukan itu yang ada dipikiran kami. Kami hanya--"


Mira menyentuh lengan Hari agar menghentikan penjelasannya.


"Maafkan Mama, Bia," lirih Mira kemudian.


Bola mata indah Sabia membulat sempurna, ia tak menyangka bila Mira juga berada di antara mereka.


"Mama tidak pernah bermaksud untuk merahasiakan semuanya ini dari kamu. Ini bukan salah Hari ataupun Kaisar, Mamalah yang memaksa mereka untuk tutup mulut. Karena Mama tidak ingin membuat kamu bersedih setelah tahu kondisi Mama yang seperti ini."


Air mata Sabia menetes, ia menyekanya dengan cepat. "Tapi setidaknya, jangan membuat Bia menyesal seumur hidup karena belum bisa melihat Mama."


Hari menghela napasnya berat, Mira pun ikut terisak dan menghampiri menantu kesayangannya. Tangan pucat dan kurus itu menggenggam tangan montok milik Sabia.


"Mama pasti sembuh. Kaisar sudah berjanji akan memberikan hadiah cucu yang cantik untuk Mama. Jadi Mama harus sembuh agar bisa merawat cucu Mama."


Hari melirik ekspresi Sabia yang tak banyak berubah setelah mendengar perkataan Mamanya.


Cucu, huh?


Apakah mereka sudah 'melakukannya'??


******************


Ahhh, Hari patah hati 💔


sini, sini, Hari sama otor aja 😚😚

__ADS_1


__ADS_2