
Di kamar, di sofa panjang yang berada di sudut ruangan, Sabia memegang erat sebuah amplop putih yang bertuliskan nama sebuah Rumah Sakit. Beberapa kali Kaisar melirik amplop itu dengan penasaran, apa isinya?
"Mau sampai kapan kamu diam?" tanya Kaisar memecah hening.
Bia menunduk keki, tangannya meremass-remass ujung amplop itu dengan kalut.
"Aku ... aku ..."
Kaisar masih mengawasi Bia dengan penasaran. Ia sudah sangat tidak sabar.
"Kamu kenapa?"
"Aku hamil."
Senyum Kaisar tersungging, ia menghembuskan napasnya lega. Ia bergeser mendekat ke tempat Sabia.
"Tapi, aku nggak mau hamil, Kai. Aku ingin mengugurkannya."
Jder.
Gerakan tubuh Kaisar terhenti, senyum lebarnya sontak lenyap tak berbekas. Sekujur tubuhnya memanas mendengar perkataan Sabia.
"Aku nggak mau hamil. Aku nggak menginginkan anak ini!"
"Bia, janin itu tidak bersalah. Kenapa kamu tega sekali." Kaisar menahan debaran di dadanya yang bergemuruh.
Bia akan menggugurkan darah dagingnya? Yang benar saja! Langkahi dulu mayat Kaisar!!
"Tapi kita akan berpisah, kan? Lantas bagaimana nasib anak ini nanti? Aku nggak mau dia hidup tanpa sosok keluarga yang utuh! Jadi lebih baik dia nggak terlahir di dunia ini sekalian!" keluh Bia berurai air mata.
Berpisah? Jadi itukah yang selalu terpatri dipikiran Bia?
"Lahirkan anak itu, Bia. Baru setelah itu kita berpisah. Aku sendiri yang akan merawatnya nanti, kamu tidak perlu khawatir. Aku jamin masa depan anak ini sampai kapanpun!" putus Kaisar.
Bia tak menyahut. Ia menyodorkan amplop itu pada Kaisar.
__ADS_1
"Ini foto dia. Tadi dokter bilang usianya baru 5 minggu."
Kaisar meraih amplop itu dan lekas membukanya. Sebuah kertas foto dengan gambar hitam putih dan lingkaran di dalamnya membuat kening Kaisar mengernyit bingung.
"Ini foto apa?"
"Mana aku tahu! Kamu lupa kalo aku nggak bisa melihat?"
"Maksudku, apa Dokter tidak menjelaskan padamu ini foto apa?" tukas Kaisar gemas. Entah mengapa sebuah rasa yang aneh mulai menjalar di dalam dadanya, seperti rasa memiliki pada sesuatu yang tak nampak.
"Katanya sih foto rahimku. Dokter menyuruhku memberikan foto itu padamu sebelum memutuskan untuk aborsi," jelas Sabia sendu.
Kaisar meletakkan foto itu di pangkuannya dan menatap istri kecilnya. "Jangan pernah terpikir untuk aborsi, Bia! Janin itu milikku, calon anakku. Kita suami istri dan ..."
"Dan kita melakukannya tanpa cinta!" sanggah Bia terluka. Dua matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu memaksaku malam itu, kamu melakukannya berkali-kali seolah sengaja agar aku hamil! Benar, kan?"
Bibir Kaisar seketika kelu. Ia menatap foto bayinya yang masih berupa segumpal darah itu dengan rasa bersalah.
Dadanya terasa sakit sekali saat tadi Dokter menyatakan bila ia positif hamil, tespack itu tidak berbohong, ada janin kecil di dalam tubuhnya saat ini.
"Bia, tidak bisakah kita berdamai demi anak kita? Bukan saatnya kita saling menyalahkan," pinta Kaisar memohon. "Aku berjanji, Bia. Aku akan memutuskan Patricia dan fokus pada perkembangan anak kita. Aku tidak mau kamu selalu berpikiran yang buruk tentangku."
Bia tersenyum kecut. "Putus? Memangnya kamu bisa?"
"Bisa. Aku yakin 100% aku bisa memutuskan Pat."
"Bohong!"
Kaisar menarik tangan gadis kecilnya yang terkulai lemah dan menggenggamnya dengan erat. "Aku janji, aku akan memutuskan hubunganku dengan Pat. Demi kamu, demi anak kita!"
Bia tak menyahut, namun detik berikutnya ia merasakan jari kelingkingnya bertaut pada jari Kaisar.
"Nih, aku sudah janji padamu!" seloroh Kai setelah menautkan jarinya pada Sabia.
__ADS_1
Wajah yang sedari tadi murung itu perlahan mulai tersenyum malu, ia membuang muka tak ingin Kaisar melihatnya merona. Tapi sayangnya, Kai sudah menangkap ekspresi itu dalam memorinya hingga tanpa sadar ia pun ikut tersenyum dan tersipu.
"Kamu sudah makan? Dokter siapa yang tadi kamu datangi?" cecar Kaisar tak sabar.
"Belum makan, aku tak berselera seharian ini, Kai. Anakmu membuatku kelaparan tapi tak ada yang membuatku berselera selain es krim!" keluh Bia kesal.
Kaisar terkekeh gemas. Ia menyentuh perut Bia yang masih rata dan mengelusnya lembut. "Anak Papa belum apa-apa sudah doyan es krim, ya!" gumamnya. "Dokter yang kamu datangi lelaki atau perempuan? Bulan depan kita cari Dokter perempuan yang terbaik di kota ini."
"Memangnya kalo Dokter lelaki kenapa?"
"Apa maksudmu dengan kenapa? Aku tidak mau kamu disentuh sembarang lelaki! Aku juga tidak mau anakku merasakan sentuhan lelaki lain selain Papanya!!" seru Kaisar tertahan.
"Pfff ..." Sabia menahan tawa mendengar penjelasan Kaisar. Sangat overprotektif dan posesif.
"Aku serius, Bia. Aku tidak mau anakku jadi lebih akrab dengan dokter itu dibanding Papanya nanti!" sungut Kai tak suka.
"Iyaaa ... iyaaa. Bulan depan carikah Dokter wanita sesukamu."
Kaisar menggeser duduknya dan membungkuk, ia merebahkan kepalanya di paha Sabia lantas menempelkan telinganya di perut istri kecilnya itu. Sabia yang tak siap hanya bisa mematung kaget, ia membiarkan Kaisar mengelus-elus perutnya dan menciuminya beberapa kali.
"Hei, Baby! Kamu pangeran atau princess?" gumam Kaisar tak peduli pada ekspresi Sabia yang masih syok. "Oh, ya? Pangeran?? Wah, nanti Papa punya temen main, dong!"
Sabie terkekeh, Kaisar seperti orang asing saat ini. Lelaki garang yang angkuh dan selalu mau menang sendiri itu kini terlihat seperti anak kecil yang sedang mengobrol dengan teman halusinasi.
"Jangan rewel, dong! Kasian Mama tuh kalo kamu tidak mau makan. Jangan makan es krim terus ya, nanti di sana kamu sakit batuk gimana? Kan Papa tidak bisa main sama kamu lagi nanti!"
Kryuuuk ...
Perut Sabia berbunyi hingga membuat keduanya tersentak kaget. Kaisar bangkit sambil tertawa, seolah bayinya merespon apa yang ia katakan.
"Ternyata anakku nurut ya sama Papanya, tidak seperti Mamanya yang bandel!"
"Enak aja!" potong Sabia kesal. "Aku lapar, cepat bikinin aku pecekan terong!"
************************
__ADS_1