
"Berjanjilah di kehidupan berikutnya kamu akan lebih dulu bertemu denganku daripada dengan Kak Kai! Deal??"
Sabia tercekat mendengar permintaan Hari. Jantungnya mulai berdegup aneh. Demi menutupi rasa groginya, Sabia hanya bisa merespon perkataan itu dengan tawa.
"Haha ... ngomong apa sih kamu! Nggak jelas banget!"
"Aku serius, Bia. Kadang aku berpikir seandainya aku yang lebih dulu bertemu denganmu dibanding Kak Kai, mungkin kamu tidak akan merasakan sakit hati seperti yang saat ini kamu rasakan!"
Sabia menarik napasnya dalam. "Hari, dengarkan aku. Rasa sakit yang aku rasakan saat ini adalah pijakan yang membuatku bisa mendaki semakin tinggi ke atas. Aku sudah lebih tegar sekarang. Aku memiliki peninggalan manis dari Kaisar di tubuhku."
"Apa kamu mencintai Kak Kai?" selidik Hari di ujung sana.
Bia tersenyum lirih, ia meraba patung wajah Kaisar yang tergeletak di depannya. "Iya, aku sangat mencintai dia. Tapi untuk memilikinya lagi aku nggak berani. Lebih baik begini, Hari. Agar kita berdua nggak saling menyakiti."
"Apakah kamu yakin tidak akan menyesal dengan perasaanmu??"
"Nggak, tuh! Karena sejak awal aku menikah dengan Kaisar, aku memujanya sebagai pangeran. Aku mencintainya dengan segenap jiwa ragaku. Aku mencintainya tapi nggak mau lagi memiliki dia."
Hari tertawa, terdengar helaan napas beratnya.
"Baiklah, Bia. Sampai jumpa besok! Aku akan menjemputmu jam 3 sore, bersiaplah, oke!?"
"Oke! Aku akan menunggumu!"
Tit.
Bia meletakkan ponselnya di meja dan meraih butsir yang tadi ia geletakkan di samping patung Kaisar. Sambil bersenandung, Sabia memahat bagian mata itu sepenuh hati. Kaisar sangat menyukai suaranya, jadi Sabia akan melantunkan lagu sembari menyelesaikan patung ini secepatnya.
"King, besok kita akan bertemu lagi! Mama akan mendengar suara detak jantungmu lagi, Jagoan!"
Bia mengelus perutnya sembari tersenyum riang, ia tak sabar menunggu besok! Tanpa ia sadari, ia mulai menyayangi makhluk supermini yang saat ini berada di rahimnya. Bia tak lagi menolak kehadirannya dan lebih sering mengobrol sendiri dengan janinnya itu.
Esoknya, sejak siang Sabia sudah gelisah tak sabar ingin segera dijemput oleh Hari. Beberapa kali Pak Darma memperhatikan putrinya yang nampak sangat cantik dengan gaun selutut berwarna peach itu mondar mandir. Setelah sebulan lebih dia mengurung diri dan selalu murung, namun sejak seminggu yang lalu putri kesayangannya itu telah berubah menjadi lebih ceria.
Beberapa kali Pak Darma memergoki mobil Kaisar terparkir tak jauh dari rumahnya setiap sore. Menantunya itu memperhatikan Sabia dari jauh. Dan seolah memiliki ikatan batin, tiap sore Sabia selalu bermain ayunan seorang diri. Padahal mereka berdua tak sekalipun berhubungan, baik melalui telefon atau apapun, namun Kaisar selalu tiba di saat yang tepat.
__ADS_1
"Bia, Hari sudah datang tuh!" panggil Bu Darma yang sedari tadi menyapu teras.
Bia tersenyum lega, ia sontak berdiri dan menenteng tasnya.
"Hati-hati, Bia! Jangan pulang malam-malam!" perintah Pak Darma sembari menuntun putrinya keluar.
"Siap, Ayah! Hari cuma mengantarku ke Dokter saja, kok. Paling nanti kami akan makan malam sebentar habis gitu pulang!"
"Tapi tetap saja, kamu nggak sedang keluar dengan suamimu! Jadi berhati-hatilah!!" tukas Pak Darma cepat.
Hari turun dari mobil dan tersenyum lebar saat melihat orang tua Sabia menyambutnya di teras. Ia lantas menyalami suami istri itu dan menoleh pada Sabia yang terlihat sangat cantik sore ini.
"Sudah siap, Bia?" tanya Hari riang.
Sabia mengangguk cepat.
"Om, Tante, saya ijin mengantarkan Sabia ke Dokter, ya! Kami tidak akan pulang sampai larut malam," pamit Hari sopan.
Pak Darma mengangguk datar, Bu Darma mengangguk dan tersenyum hangat.
"Hati-hati ya, Hari! Kami titip Sabia!"
Bu Darma terkekeh. "Buruan, Bia. Inget, jangan banyak-banyak makan es krim! Jangan ngerepotin Hari!"
"Iya, Maaaa. Bia berangkat dulu ya! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" sahut Pak Darma dan Bu Darma bersamaan.
Hari menggandeng lengan Sabia dan berlalu.
"Kadang Mama mikir, Sabia tuh lebih sering tersenyum kalo bareng Hari daripada sama Kaisar ya, Yah??"
Pak Darma melirik istrinya sekilas. "Kata siapa! Sok tahu!"
"Ih, Ayah nih kalo dibilangin nggak percaya! Coba deh perhatiin. Masa jalan gitu aja mereka cekikikan!" solot Bu Darma sembari menunjuk Sabia dan Hari yang sedang tertawa karena kaki Hari baru saja terantuk batu dan hampir terjatuh.
__ADS_1
"Nggak, tuh! Biasa aja!" Pak Darma berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan cueknya.
Bu Darma terkekeh melihat ekspresi suaminya yang terlihat jelas bila tak menyukai Hari. Ia paham, suaminya itu sangat sayang pada Kaisar. Maka dari itu Bu Darma sengaja menggodanya dengan membandingkannya Hari.
Sementara itu, di mobil sedan merah milik Hari. Lagu-lagu favorit Sabia melantun dengan syahdu. Tadi Hari sengaja menautkan MP3 di ponsel Sabia ke audio mobil sehingga lagu-lagu favorit gadis itu auto terpindai di layar.
"Sebelum ke Dokter, aku mau mampir ke suatu tempat dulu, Bia. Kamu tunggu dimobil saja, oke? Aku cuma sebentar kok!"
Bia menoleh dengan pandangan kosong. "Memangnya mau ke mana?"
"Ada lah! Nanti kamu akan tahu. Cuma sebentar kok, setelah itu kita langsung ke Rumah Sakit!" jelas Hari antusias.
Sabia mengangguk pasrah. Ia mengelus perutnya sembari ikut bersenandung. Ia yakin bila King mendengar suaranya jadi sesering mungkin Sabia mengajaknya berkomunikasi meski lewat lagu.
Hari sesekali melirik Sabia yang terlihat sangat tenang di kursi penumpang di sebelahnya. Entah mengapa hari ini Sabia terlihat sangat cantik. Apa karena gadis ababil itu sedang mengandung? Atau karena Hari lama tak bertemu dengannya?
"Kamu nggak tanya soal Kak Kai?" cetus Hari memancing.
Bia berhenti bernyanyi, tangannya pun berhenti mengelus perutnya. Mendengar nama Kaisar membuat jantungnya berdebar tak santai.
"Apa dia baik-baik saja?" lirih Bia akhirnya.
Hari tersenyum simpul. "Baik. Tadi pagi kita masih berdebat seperti biasa. Dan aku sangat suka melihat ekspresinya bila sedang marah, hahaha ..."
Bibir Sabia reflek mengerucut. "Kalian seperti Tom dan Jerry!"
"Lebih dari itu, kami seperti air dan daun talas! Tapi meski begitu aku tahu Kak Kai sangat menyayangiku. Begitupun sebaliknya!" pungkas Hari sembari membelokkan mobilnya ke sebuah gedung bertingkat dan memarkirkan mobilnya.
"Tunggu sebentar ya, Bia! Aku akan segera kembali. Jangan keluar dari mobil, oke? 5 menit, tunggu aku 5 menit saja!!"
Sabia mengangguk, lagipula ia tak tahu sedang di mana sekarang berada. Tidak mungkin Bia nekat keluar, bisa-bisa ia malah nyasar!!
Dengan senyum mengembang, Hari menatap Sabia sekali lagi sebelum kemudian turun dari mobilnya. Dengan langkah lebar ia bergegas masuk ke lift basement sembari menelefon seseorang. Dia akan memberi surprise pada Sabia!
***************************
__ADS_1
Nah, khusus weekend ini otor dah Up 4 bab loh!
Jadi jan pelit jempol lagi yaaaa ❤️