GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Celaka


__ADS_3

Dengan langkah lebar, Hari masuk ke dalam lift dan menekan angka 4 tempat ruangannya berada.


"Halo."


"Mas Diki, bisa bawa Kak Kai ke lantai basement sekarang?" pinta Hari begitu suara Diki menyapanya.


"Sekarang, Mas?"


"Iya sekarang! Aku sedang membawa Sabia di bawah, kami akan pergi ke Dokter. Tapi sepertinya Kak Kai yang lebih berhak membawanya ke sana."


"Baik. Saya akan membawa Pak Kaisar turun!"


"Oke, aku tunggu di bawah! Ahh, ya Tuhan! Aku lupa membawa berkasku!" rutuk Hari menepuk keningnya kesal. "Ya sudah Mas Diki, cepetan ya!"


"Baik, Mas Hari."


Tit.


Hari memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi dan menekan tombol menuju basement, namun karena lift yang ia tumpangi satu arah, maka ia harus naik dulu hingga lantai teratas untuk kemudian baru bisa turun ke bawah. Pintu lift terbuka di lantai 4, Hari segera keluar dan berganti turun menggunakan lift di sebelah. Ia menunggu lift dengan tak sabar, padahal berkas tadi sudah ia siapkan di dashboard!


Lift datang dan pintunya terbuka, Hari lekas masuk dan memencet tombol menuju basement.


3 ...


2 ...


1 ...


Basement.


Tting.


Hari menghembuskan napasnya lega dan beringsut keluar dengan sigap. Sorot lampu mobil dari arah kiri membuatnya sontak menoleh, dan sialnya ia menemukan Sabia terseok-seok berusaha keluar dari mobilnya yang sudah ringsek di beberapa bagian dan menabrak tiang. Hari terbelalak syok, Sabia berhasil turun dari mobilnya dengan wajah berlumuran darah.


Sepersekian detik, Hari tak mampu bergerak dari tempatnya berdiri, ia terpaku menyaksikan Sabia yang berjalan tanpa arah dengan mobil yang bersiap untuk menghantamnya dari arah berlawanan.

__ADS_1


"Tolong ..." jerit Sabia ketakutan.


Hari sontak tersadar saat mendengar jeritan itu, ia berlari untuk menyelamatkan Sabia yang terluka. Mobil sedan putih itu melaju semakin cepat, bagian depan moncongnya remuk. Hari yakin mobil itulah yang telah menabrak mobilnya dan sengaja akan melukai Sabia.


"Minggir Bia!" teriak Hari sembari terus berlari ke arah kakak iparnya.


Namun karena Bia buta, ia tak tahu harus minggir ke arah mana. Ia panik, kepalanya sakit sekali usai terbentur berkali-kali. Sebuah dorongan yang kuat membuat tubuh Sabia terhempas ke samping, ia oleng dan membentur kap mobil tepat di perutnya.


"Biaaa ..." teriak Hari panik saat melihat gadis itu membentur mobil lain yang sedang parkir.


Brak.


Tubuh Hari terhempas moncong mobil sedan itu hingga mental dan terlempar cukup jauh.


"Hariii!" teriak Bia lemah sebelum kemudian rasa sakit yang amat sangat membuatnya tak sadarkan diri.


"Uhuk!" Darah segar menyembur dari mulutnya saat Hari merasakan sesak di bagian dadanya.


Ia masih bisa melihat mobil itu melaju pergi dengan kecepatan penuh. Ia juga masih bisa melihat dengan jelas siapa yang menyetir di belakang kemudi.


"Hari! Kamu tidak apa-apa?"


Kaisar. Kakaknya. Tubuh kekar itu membalik dan menopang tubuh adiknya dengan panik.


"Diki cepat telefon ambulan!!" teriak Kaisar.


"Hari, bertahanlah Hari!" Kaisar menepuk pipi adiknya dengan air mata berlinang. Darah segar membasahi sebagian suitnya namun ia tak lagi peduli.


Diki yang kebagian mengamankan Sabia sontak mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetaran. Ia segera menelefon Rumah Sakit.


"Kak ..." panggil Hari lemah.


"Ya?" Kaisar menyeka air matanya cepat karena pandangannya mengabur.


"Patricia yang ... melakukannya."

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Bertahanlah sedikit lagi, oke? Ambulans sebentar lagi datang!"


"Se ... uhuk!" Darah segar kembali tersembur dan menciprati wajah Kaisar. "Bia, Kak!"


"Bia tidak apa-apa. Dia selamat! Sekarang fokus padamu, Hari. Bertahanlah! Jangan tinggalkan kami!" tangis Kaisar semakin keras. Ia sadar bila Hari tak akan bertahan lama karena adiknya itu mengalami luka dalam.


Hari menggeleng lemah. Dadanya terasa semakin sesak, sesuatu yang menyakitkan hendak meringsek keluar. Ia kembali batuk dan menyemburkan darah segar.


"Hariiii ... maafkan aku Hari. Maafkan aku!!" tangis Kaisar semakin histeris.


Hari mengangkat tangannya yang terasa semakin lemah, ia menyentuh wajah Kaisar dengan penuh kasih. Ini adalah pertama kali mereka bertatapan dengan hangat selayaknya saudara. Tatapan yang mungkin akan menjadi kenangan untuk terakhir kalinya.


"Thanks, Kak ..." mata Hari mulai terpejam perlahan, tangannya terkulai namun dengan sigap Kaisar meraihnya dan mengenggamnya dengan erat.


"Tidak. Hari!! Bangun!!" teriak Kaisar syok. Ia mengguncang tubuh adiknya yang semakin lemah dengan keras. "Hari!!!"


Dor.


Ccciiiiiittt ...


Bruakk ... bruak ... booom!


Sebuah ledakan dan kobaran api dari kejauhan membuat Kaisar sontak menoleh. Ia terpana untuk beberapa saat ketika melihat mobil putih yang tadi menabrak Hari meledak di jalan depan kantornya. Mobil Patricia.


Dada Kaisar bergemuruh, ia menoleh pada Sabia yang masih tergeletak cukup jauh darinya. Entah mimpi apa dia semalam, melihat dua orang yang ia sayangi terkapar seperti ini membuatnya syok bukan main!


Terdengar suara sirine ambulan di kejauhan. Kaisar masih terpaku sembari memeluk Hari dengan erat. Tubuh jangkung adiknya masih hangat, Kaisar masih berharap Hari masih bisa selamat.


Sebuah ambulans pun tiba dan berhenti tepat di depan Kaisar. Beberapa orang paramedis turun dengan membawa papan angkat. Usai Hari di bopong, Kaisar bangkit dan berlari menghampiri Sabia. Saat mengangkat tubuh istrinya itu, Kaisar baru menyadari bila darah segar mengucur dari bagian bawah tubuh istrinya.


"Tidak ..." Kaisar menggeleng lemah. "King ..."


********************


😭😭 otor nulis part ini sampe nyesek lo, serius!

__ADS_1


Hariiiii 😭😭


__ADS_2