GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Mengais Kenanganmu


__ADS_3

"Kamu nggak kangen sama aku, ya?"


Bia sedang duduk dengan patung wajah Kaisar berada tepat di depannya. Tiap kali rindu, Bia akan mengobrol dengan patung itu seolah dia adalah Kaisar yang sebenarnya.


"Kenapa kamu jahat banget, Kai. Kamu pergi setelah King juga ninggalin aku. Hari juga! Kenapa kalian sejahat itu kompakan pergi!" rutuk Bia sembari membelai pipi patung itu dengan sedih.


"Andai aku bisa memilih, aku lebih memilih tetap buta asal bisa bersama kamu." Mata Bia mulai berkaca-kaca. Setiap kali berandai-andai, air matanya pasti tumpah.


"Aku mohon, kembalilah padaku, Kai. Jangan sejahat ini sama aku ... huhuhu ..." tangisnya getir.


Ratusan malam sudah Bia lewati dengan membenci Kaisar, mengutuk dan mencerca sikapnya yang egois. Hingga akhirnya ia berada pada level lelah, ia menyerah dan merindukan Kaisar yang menghilang tanpa jejak.


Bia membuka laci meja belajarnya dan mengeluarkan secarik kertas berisi perjanjiannya dengan Kaisar semasa mereka masih bersama. Ada satu pasal yang tak dibaca oleh Kaisar kala itu, pasal yang membuat Bia ragu akan status pernikahannya saat ini. Bila merunut pasal di atasnya, harusnya status Bia sudah cerai dengan Kaisar, namun pasal tambahan itu membuat Bia masih merasa terikat dengan lelaki aneh itu.


Surat Perjanjian :



Dilarang mencampuri urusan masing-masing


Dilarang melakukan kontak fisik

__ADS_1


Pihak kedua harus menuruti apapun perintah dari pihak pertama


Pihak pertama dan kedua akan berpisah secara baik-baik setelah pihak kedua dioperasi dan bisa melihat kembali.


Dilarang keras untuk membocorkan isi surat perjanjian ini kepada siapapun


pasal nomer empat (4) tidak berlaku apabila pihak pertama menolak untuk berpisah.



"Aku rindu kamu, Kai ..."


.


.


"Nanti aja, Ma! Bia sudah telat janjian dengan Mama Mira ke makam Hari!"


Bu Darma mengawasi putri tunggalnya itu dengan gemas. Sudah tahu ada janji tapi dia malah bangun siang!


"Mama, jangan lupa nanti sebelum jam 12 sudah harus datang, ya!"

__ADS_1


"Iyaaa, udah sana buruan! Jangan ngebut meskipun telat! Toh makam Hari nggak akan pindah meskipun kamu dateng kesiangan!" tukas Bu Darma cepat.


Bia terkekeh. Ia menyalami Mamanya lantas berjalan cepat menuju mobilnya. Ia sudah terlambat 30 menit, semoga Mama Mira masih mau menunggunya.


Dengan kecepatan ekspres, Sabia menginjak pedal gasnya semakin dalam. Hari benar, mengebut ternyata bisa melampiaskan emosi yang terpendam di dalam jiwa. Kapan-kapan ia akan mencoba belajar balap mobil di sirkuit seperti Hari, tapi lebih dulu ia ingin lancar berkuda di MP Stable.


Tak sampai 1 jam, Bia tiba di pemakaman private yang hanya diisi oleh para konglomerat. Area makam Hari berada di blok tengah. Syailendra telah membeli kompleks itu untuk rumah masa depan dirinya sekeluarga dan yang pertama bersemayam di sana adalah Hari dan King.


Dari kejauhan, Sabia tak melihat mobil keluarga Syailendra. Sepertinya Mira sudah pulang karena mereka janjian jam 7 sementara Bia tiba jam 8. Akh, gara-gara menangisi Kaisar semalaman, dia jadi bangun kesiangan!!


Bia memarkir mobilnya di sebelah motor balap yang nampak familiar. Namun karena Bia terburu-buru, ia tak begitu fokus dan segera turun setelah menenteng plastik berisi bunga yang akan ia tabur di pusara Hari. Ia berjalan tergesa-gesa hingga tanpa sadar menjatuhkan plastik itu.


Seseorang yang sedang duduk tak jauh dari makam Hari sontak bersembunyi begitu melihat Bia datang. Ia meringsek ke balik semak-semak yang membatasi setiap kompleks dengan panik. Beruntung tadi Bia menunduk untuk mengambil sesuatu, bila tidak tamatlah riwayatnya! Dengan merangkak, lelaki yang selama ini sangat dirindukan oleh Bia itu keluar dari area pemakaman Hari untuk kembali ke parkiran. Begitu melihat Bia sudah duduk di samping pusara Hari, ia lekas berlari menuju motornya dan melaju pergi.


Bia yang menyadari bila ada seseorang yang datang sebelum dirinya tiba sontak berdiri dengan gesit. Ia sempat melihat motor yang parkir di sebelah mobilnya melaju pergi dengan sangat cepat. Bia memicingkan mata untuk melihat lebih jelas motor itu, sepertinya ia pernah melihatnya, tapi di mana ya??


Banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan membuat Bia sukar mengingat hal-hal kecil seperti ini. Pada akhirnya Bia menyerah untuk mencoba mengingat-ingat, ia kembali duduk di samping pusara Hari dan fokus pada mendiang adik iparnya ini.


"Hai, Hari! I miss you!" lirih Bia sembari menabur kelopak bunga mawar yang tadi ia beli di toko bunga di depan makam.


Makam yang dipenuhi oleh rumput dengan batu nisan yang terbuat dari batu marmer berukiran tinta emas itu membuat hati Sabia tercubit. Ia membelai batu nisan Hari dengan penuh kasih. Disebelah makam Hari, ada makam kecil tempat King bersemayam. Bia juga menaburkan bunga di makam putra yang belum sempat ia lahirkan ke dunia itu dengan sedih. Janin berusia 3 bulan itu beristirahat dengan tenang bersama Om-nya.

__ADS_1


"I miss you too, Nak. Mama kangen banget sama King! Baik-baik ya di sana sama Om Hari!"


***********************


__ADS_2