
Hari berganti minggu, selama itu pula Kaisar tak sekalipun membiarkan Sabia merasa kesepian. Dia selalu berangkat ke kantor setelah memastikan Sabia sarapan dan pulang lebih awal. Kaisar juga meminta Bik Yati untuk menjaga dan mengawasi Sabia selama ia tak ada. Kehamilan Bia benar-benar membuat Kaisar semakin overprotektif.
"Bia, bagaimana kalo nanti kita beri nama King pada anak kita?" cetus Kaisar tiba-tiba.
"King? Raja?"
"Iya. Nama Papanya Kaisar, jadi nama anaknya harus setara dong! King misalnya ..."
"Kalo anaknya cewek gimana?" protes Sabia merengut.
"Anakku cowok, Bia! Percayalah padaku!" paksa Kaisar keukeh.
Sabia merengut tak setuju.
"Apa kamu sudah meminum vitaminmu?" tanya Kaisar lagi.
"Sudah, Tuan Kaisar yang Agung. Aku juga sudah minum suplement yang dikirim sama Mama Mira kemarin," jawab Bia acuh, Kaisar semakin cerewet saja.
Mendengar Bia menyebutnya tuan membuat Kaisar terkekeh, ia memperhatikan gerakan tangan Sabia yang sangat lihai membentuk hidung di patung buatannya.
"Kamu lagi bikin siapa itu?" tanya Kaisar lagi penasaran.
"Prince Charming!"
Kening Kaisar berkerut. "Siapa itu Prince Charming? Adiknya Prince William?"
Bia berpikir sejenak, Prince William? Oh, mungkin maksud Kaisar Prince William dari British Royal Family.
"Bukan, lah! Ini suaminya Cinderella!" sahut Bia acuh.
"Lalu patungku mana? Kenapa kamu malah bikin patung fiktif, kamu sudah janji akan membuatkan patung untukku, Bia."
"Iyaa, tapi aku belum sempat, lagian aku kehabisan bahan! Tunggu Hari datang saja, biasanya dia yang membelikanku bahan-bahan untuk mematung!"
"Kenapa harus Hari? Aku bisa membelikanmu lengkap dengan pabriknya! Bahkan aku akan membeli lahan produksi clay itu bila perlu!!" cetus Kaisar kesal. Dia merasa tersaingi setiap kali Bia menyebut nama Hari.
Sabia tertawa, ia menghentikan gerakan tangannya dan menoleh pada Kaisar yang duduk di sisi kanan tubuhnya.
"Kamu selalu menganggap Hari sebagai kompetitormu. Memangnya nggak capek apa bersaing dengan adik sendiri?"
"Kamu yang memulai. Sudah tahu aku benci sama Hari, masih saja nyebut nama dia!" sungut Kaisar jengah. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam pada Sabia.
"Iyaa iyaa, aku minta maaf," pinta Sabia merajuk seraya mengatupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Melihat ekspresi menggemaskan itu, hidung Kaisar jadi kembang kempis karena Ge-Er. Ini adalah kali pertama Sabia meminta maaf, biasanya selalu Kaisar yang meminta maaf duluan.
"Aku akan memaafkanmu bila kamu mau melakukan satu hal untukku!" cetus Kaisar menemukan ide.
Mata indah Sabia membulat, bibirnya seketika mengatup rapat. "Apa itu?" lirihnya mulai curiga.
Kaisar bangkit dari sofa, ia mendekat ke kursi Sabia yang berada tak jauh darinya dan memeluknya dari belakang. Untuk beberapa saat, Sabia hanya bisa terhenyak kaku. Dadanya mulai merasakan debaran aneh itu lagi saat aroma parfum Kaisar seolah menusuk indra penciumannya. Wangi yang hangat dan sangat maskulin, yang sedikit demi sedikit mulai membuat Sabia candu pada aroma memabukkan itu.
Merasa Sabia tak menolak pelukannya, Kaisar menarik sebuah kursi lagi dan memutuskan duduk di belakangnya. Kai kembali memeluk erat istri kecilnya itu dan menyurukkan kepalanya di bahu Sabia. Sesekali mencium leher jenjang dan putih itu dengan gemas hingga membuat bulu kuduk Sabia berdiri.
"Apakah kamu masih takut melakukannya lagi denganku, Bia?"
"Me-melakukan apa?!" potong Sabia gugup.
Kaisar menurunkan tangannya yang sejak tadi memeluk perut Sabia dan berhenti di antara paha gadis bocilnya itu. "Ini," desisnya lirih.
Tanpa sadar Sabia menelan salivanya panik, nafasnya mulai naik turun seiring dengan ciuman Kaisar yang menggelikan di leher dan pundaknya.
"Aku sabar menunggumu, Bia. Aku ingin kita melakukannya lagi saat kamu sudah siap." Kaisar beralih mencium telinga Sabia dan sedikit menggigit daun telinganya.
"Hmm." Tanpa sadar Sabia merintihh saat sensasi rasa aneh menjalar keseluruh tubuhnya tepat disaat Kaisar meniup telinganya.
Kaisar tersenyum lirih, ia sudah berhasil membuat Sabia masuk ke dalam godaannya. Sedikit lagi ...
Sabia tak menyahut, ia menikmati ciuman Kaisar di leher, pundak dan telinganya, juga sentuhan tangan kekarnya di bagian inti tubuhnya di bawah sana. Sesekali Kaisar membelainya dengan lembut seperti sedang memijat, membuat sekujur tubuh Sabia berkeringat dingin dan berkali-kali menelan saliva.
"K-Kai, jangan di sini ..." lirih Sabia memohon.
Mendapatkan lampu hijau, Kaisar sontak tersenyum lega. "Tidak apa di sini, Bia. Aku akan mengunci pintunya!"
"Jangan, aku ... aku takut."
"Takut kenapa?" tanya Kaisar kecewa.
Sabia menunduk keki. "Aku takut, Kai."
"Jangan takut, Bia. Aku akan melakukannya perlahan dan hati-hati. Aku tidak akan menyakitimu lagi seperti dulu, percayalah." Kaisar berjongkok di bawah Sabia dan menggenggam tangannya yang masih kotor dengan tanah liat.
Bia tak menyahut, mau tak mau akhirnya ia mengangguk. Kaisar segera bangkit dan melangkah lebar ke pintu untuk menguncinya rapat-rapat.
"Cuci tangan dulu, Bia," perintah Kaisar seraya menarik lengan Sabia dan menuntunnya ke wastafel.
Kaisar masih betah berdiri di belakang Sabia dan ikut cuci tangan bersamanya. Sesekali Kaisar mencium pipi Sabia dengan gemas sambil membantunya membersihkan sisa-sisa tanah liat yang menempel di jari-jemari istrinya.
__ADS_1
Saat tangan keduanya sudah bersih, Kaisar membungkuk lantas menggendong Sabia. Dengan sangat hati-hati, Kaisar menidurkan Sabia di sofa. Debaran-debaran hebat di dada keduanya mau tak mau membuat mereka mulai grogi.
Sabia masih berusaha mengatur ritme jantungnya yang menabuh riuh di dalam sana, belum lagi jeritan hati dan otaknya yang saling berdebat. Hatinya menuntun Bia untuk menyerah pada pesona Kaisar, namun otaknya memprotes keras dan memaksa Sabia untuk menolak sentuhan demi sentuhan yang mulai Kaisar luncurkan. Sungguh, Sabia merasa dilema, ia bingung harus memilih suara hati atau logika otaknya.
Tangan kekar Kaisar mulai melucuti kancing piyama Sabia. Ia memposisikan Sabia untuk duduk agar Kaisar bisa leluasa mencium setiap inchi tubuhnya. Ya, akhirnya Sabia menyerah pada bujuk rayu Kaisar.
Bibir keduanya mulai berpagut, Sabia merasakan ciuman kali ini lebih lembut dari saat terakhir kali Kaisar melakukannya. Yang ini lebih manis, lebih menghipnotis. Perlahan tangan Kaisar menggerayangi punggung Sabia dan melepas pengait gundukan favoritnya. Ia masih tak melepas ciuman itu agar Sabia terbiasa, rasa manis dari bibir itu membuat Kai ketagihan dan ingin semakin dalam menyesapnya. Ahhh, Kaisar sudah kepalang tanggung!
Dengan gerakan cepat, Kai melempar pakaian dan bra berwarna gemas itu ke sembarang arah. Ia menghentikan ciuman dan turun ke bawah. Menciumi gundukan kecil yang tak lebih besar dari milik Patricia namun lebih membuat Kaisar tergila-gila.
Sabia menggigit bibirnya sekuat tenaga, mencoba menahan desahann napasnya yang mulai menderu seiring dengan ciuman Kaisar yang memabukkan di kedua bukitnya.
"K-Kai ..." desah Sabia tak kuasa saat Kaisar mengulum puncak bukitnya.
'Siall!! Kenapa rasanya begitu enak??!!' Sabia mengumpat dalam hati.
Tak ingin terlalu lama, Kaisar mulai membuka pakaiannya. Ia pun melucuti semua yang menempel di tubuh mungil Sabia hingga gadis itu akhirnya duduk tanpa sehelai benangpun.
Kaisar menarik tangan Sabia dan mengarahkannya pada junior. Sabia terbelalak dan sontak menarik kembali tangannya karena terkejut saat menyentuh benda tegang dan panjang itu.
"Kenapa, Bia?" tanya Kaisar terkekeh melihat ekspresi super tegang istrinya.
"Lakukan saja, Kai! Jangan menggodaku!" sungut Sabia kesal, ia sudah kepalang tanggung dengan nafsunya tadi.
Kaisar tersenyum. Ia membuka kedua paha Sabia namun dengan malu-malu Bia masih menahannya.
"Bia, rileks!" perintah Kaisar gemas.
Bia tak menyahut, ia menutupi payudarranya dengan kedua tangan. Kaisar pasti puas melihatnya telanjangg bulat seperti ini!!
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Aku tidak ingin menyakitimu lagi, percayalah!" pinta Kaisar memohon.
Dengan malu-malu, Sabia akhirnya membuka sendiri kedua pahanya hingga Kaisar bisa melihat bagian yang paling memabukkan dari seluruh tubuh Sabia itu dengan jelas. Kaisar menelan salivanya gugup, padahal ia sudah sangat pro untuk urusan ranjang seperti ini! Tapi kenapa sekarang ia malah cemen!
Tanpa menunggu lama, Kaisar menenggelamkan kepalanya dan mulai menyentuh inti itu dengan lembut.
"Hmmm, Kai ..."
*******************
Eaaa eaaa, yang sudah pada nungguin episode ini pasti bahagia! 🤣
Awas senyum-senyum sendiri bacanya 😌
__ADS_1
Yang masih pelit jempol otor doain segera dapat hidayah 😆