
"Kamu bisa membawanya sendiri?" Pak Darma memperhatikan Sabia yang terkulai lemas di gendongan Kaisar dengan khawatir.
"Bisa, Ayah! Ayah pulanglah bersama Diki. Beri Mama minum air hangat yang banyak!" saran Kaisar berusaha tenang di antara rasa paniknya.
Pak Darma mengangguk dan lekas masuk ke dalam mobil sedan hitam yang telah standby menunggunya di lobi. Bu Darma sudah terkapar lemas di kursi belakang karena mabuk. Bia dan Mamanya menenggak coctail untuk pertama kali selama seumur hidup, toleransi alkohol mereka berdua masih sangat rendah, sehingga dua gelas kecil langsung membuat mereka terkapar mabuk. Es Strawberry yang mereka teguk dua gelas itu ternyata adalah coctail yang telah dicampur minuman beralkohol tinggi.
"Hati-hati, Kaisar! Jaga Bia baik-baik! Ayah pulang dulu."
Kaisar mengangguk dan mengawasi mobil Diki yang berlalu pergi. Tak lama valet membawa mobil sedan hitam miliknya dan berhenti tepat di depan Kaisar yang kerepotan membopong Sabia. Petugas valet membantu membukakan pintu depan untuk Kaisar menidurkan istrinya, dengan sigap ia pun merebahkan Sabia dengan sangat perlahan dan hati-hati.
Clik.
Sabuk pengaman Bia terpasang dengan baik. Bia yang merasa tubuhnya sangat ringan dengan kepala yang berputa-putar tak banyak merespon perlakuan Kaisar. Ia terlihat sangat pasrah dan lemah.
"Terima kasih, Pak!" ucap Kaisar seraya menyalami petugas valet dan menyisipkan lembaran uang di tangannya.
Petugas itu membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Pak!"
Kaisar tersenyum, ia lantas bergegas memutari kap mobil dan duduk di belakang kursi kemudi. Ia menoleh sebentar ke arah Sabia yang terpejam, posisi kepalanya yang tergeletak dan menghadap ke Kaisar membuat lelaki itu bisa menikmati kecantikan Bia dengan sangat jelas. Perlahan Kaisar pun menginjak pedal gas dan mobil pun melaju pergi dari teras lobi hotel mewah itu.
"Bia, kamu bisa mendengarku?" Kaisar melirik Sabia yang tak bergeming sejak tadi.
"Hmmmm."
"Kamu bisa mendengarku?" ulang Kaisar saat Sabia meresponnya dengan lenguhan lirih.
"Ce ... re ... wet!" gerutu Sabia jengkel. Ia pun menolehkan kepalanya ke sisi yang lain.
__ADS_1
Kaisar terkekeh, betapa konyolnya kejadian malam ini. Dan betapa polosnya semua anggota keluarga Darma. Ia merasa perlu mendidik keluarga polos itu mulai besok.
Tiba di kediaman Mahaputra, Kaisar memarkir mobilnya di teras dan lekas turun untuk membopong Sabia. Beberapa pelayan nampak berusaha membantu Kaisar namun ia menolak dan meminta pelayan-pelayan itu untuk membukakan pintu saja.
"Tuan, Non Bia kenapa?" tanya Bik Yati panik begitu melihat Kaisar membopong istrinya masuk.
"Dia mabuk, Bik. Cepat bukakan pintu kamar saya!"
Bik Yati lekas berlari mendahului Kaisar dan membukakan pintu kamar Tuannya. Dengan hati-hati, Kaisar pun menidurkan Sabia di ranjang. Aroma manis parfum Bia sejak tadi sangat mengganggu kejantanannya.
"Bik, saya minta tolong gantikan pakaian Sabia! Saya mau ke ruang kerja dulu sebentar!"
"Baik, Tuan!" sahut Bik Yati sigap, ia pun membuka lemari pakaian Nonanya dan memilihkan piyama tidur berbahan kaos yang hangat.
Saat Kaisar sudah keluar, Bik Yati dengan telaten membuka gaun Sabia dan menggantinya dengan piyama.
"Mau bantuin ganti bajunya, Non Bia," jelas Bik Yati.
Sabia berbalik, ia tetap menutupi tubuh bagian atasnya dengan tangan.
"Non, ayo pake bajunya dulu! Nanti Non Bia masuk angin!"
"Nggak mau, jangan sentuh aku! Pergi sana!"
"Lah, nanti Tuan Kaisar marah kalo Non Bia tidur nggak pake baju gini!"
"Perrrr ... gi!! Pergi kamu, Penjahat!" teriak Sabia kesal. Alkohol itu membuat logikanya tak berfungsi lagi.
__ADS_1
Bik Yati akhirnya hanya menyelesaikan tugas mengenakan celana dan membiarkan Nonanya tetap keringkuk tanpa memakai atasan. Biarlah nanti Tuannya saja yang memaksa Bia untuk mengenakannya.
"Sudah, Bik?" tanya Kaisar grogi saat Bik Yati keluar dari kamar.
"Sudah, Tuan. Tapi anu, Non Bia nggak mau pakai baju. Saya dibentakin disuruh keluar. Tuan Kaisar aja yang pakein bajunya Non Bia, ya?" jelas Bik Yati polos.
Kaisar menghembuskan napasnya berat, bukan ia tak mau membantu memakaikan pakaian Sabia, tapi bagaimana bila nanti Junior memprotes!? Ia tak ingin menyiram bensin ke kobaran api.
Melihat lekuk tubuh Sabia saja sudah sukses membuatnya menelan saliva, apalagi melihatnya telanjang!!
"Ya sudah, Bik. Terima kasih!"
Ha? Lalu Sabia?
Kaisar memijat keningnya sendiri, belum juga melihat gadis ababil itu telanjang namun bagian bawah tubuhnya sudah bereaksi.
Bik Yati berlalu dan meninggalkan Kaisar yang berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya sendiri. Ia gamang, ia galau, ia takut. Masuk ke dalam dan membantu Bia mengenakan pakaiannya tentu sangat beresiko bagi kesehatan jangka panjang gairahh seksualnya, tapi membiarkan gadis itu tidur tanpa pakaian juga sama beresikonya untuk kelangsungan hidup Junior! Keduanya sama-sama beresiko tinggi dan bisa menyebabkan Kaisar menggila malam ini bila sampai tak tersalurkan dengan baik.
"Akhh!" Kaisar berdecak frustasi.
Akhirnya ia menekan handle pintu dan masuk ke dalam kamar. Apapun yang terjadi, terjadilah!!
******************
Hayoloh 😆, coba tebak apakah akan ada sesi ehem-ehem di bab berikutnya?
Jan lupa jempol, vote dan favoritnya, Bestie!
__ADS_1