GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Terjebak


__ADS_3

Seharian di kantor, pikiran Kaisar tak bisa fokus pada pekerjaan. Beberapa kali Diki harus memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh bosnya itu. Semakin sore, kegelisahan Kaisar semakin memuncak. Telefon dari Pat berdering berkali-kali sejak tadi siang dan Kaisar tak sekalipun berani mengangkatnya. Ia hanya membalas singkat pesan dari Patricia dan menyatakan ia akan datang namun tak bisa berlama-lama.


"Aku mau pulang, Diki. Apakah urusanku sudah selesai?" tanya Kaisar sembari memasang suitnya.


"Sebenarnya masih ada satu lagi, Pak. Tapi saya bisa me-reschedule agenda itu untuk besok," sahut Diki seraya memperhatikan bosnya yang nampak terburu-buru.


"Baiklah. Terima kasih banyak. Aku memang selalu bisa mengandalkanmu!" Kaisar menepuk bahu Diki dengan hangat sebelum kemudian ia berbalik dan beringsut keluar dari ruangannya.


Diki memperhatikan kepergian Kaisar dengan penasaran. Hanya ada dua hal yang bisa membuat bosnya itu gundah gulana, pertama yaitu wanita dan yang kedua adalah Hari. Beruntung Diki tak terlalu tertarik untuk dekat dengan wanita, baginya tiada waktu luang tanpa bekerja dan main golf.


Sementara itu, langkah lebar Kaisar membuatnya cepat sampai di parkir basement. Ia lekas masuk ke dalam mobil dan melajukannya cepat hingga bannya berdecit. Ia tak memiliki waktu banyak, Kaisar sudah terlanjur berjanji pada Sabia untuk menginap di rumah keluarga Darma. Jadi ia akan menyelesaikan urusannya dengan Pat secepat mungkin.


Tak sampai 30 menit perjalanan, Kaisar tiba di apartemen Patricia. Ia melepas sunglasses hitamnya sembari membuka pintu mobil. Dengan langkah pasti, ia masuk ke dalam dan menghilang di lift.


Tepat di lantai 35, pintu lift terbuka perlahan setelah Kaisar memencet kode privasi. Ia beringsut keluar dari lift sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sepi, tak ada siapapun.


"Pat!" panggil Kaisar dengan waspada.


"Aku di sini, Kai!" teriakan dari dalam kamar membuat Kaisar menoleh ke pintu berwarna coklat tua itu.


Masih dengan sikap waspada, Kaisar melangkah menuju kamar itu dengan jantung berdebar. Sudah lama sekali ia tak berkunjung ke apartemen ini, tak banyak yang berubah.


Cklik.


Kaisar membuka pintu kamar dengan lebar dan membiarkannya tetap terbuka. Suasana kamar yang temaram membuat darah Kaisar berdesir, terlebih aromatherapy yang terendus oleh indra penciumannya membuat hormon testosteronnya mulai bereaksi. Tidak, dia tidak boleh lengah! Dia harus ingat tujuan utamanya datang ke rumah ini! Dia akan memutuskan Patricia malam ini juga.


"Darling, aku di kamar mandi!" teriak suara Pat lagi.


Kaisar menghembuskan napasnya berat, ia berbalik dan hendak keluar kamar setelah mendengar penjelasan Pat.


"Kai? Kemarilah!" panggil Pat seraya melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


Kaisar menoleh sebentar, sebagian tubuh Pat yang telanjang bisa ia lihat dengan jelas dari tempatnya berdiri, dan anehnya, junior tak bereaksi sama sekali.

__ADS_1


"Aku tunggu di luar, Pat!" putus Kaisar tegas.


Ia pun melangkah keluar dan menutup pintu kamar Pat dengan perlahan.


Melihat kekasihnya menghilang dibalik pintu dan mengacuhkannya membuat darah Patricia seketika mendidih, ia menarik bathrobenya dengan kesal. Rencana pertama tidak berhasil, waktunya meluncurkan rencana kedua! Dengan tatapan tajam dan napas naik turun menahan emosi, Patricia menyusul Kaisar keluar.


Cklik. Brak.


Kaisar tersentak kaget dan sontak menoleh ke pintu kamar. Patricia berdiri di balik pintu dengan tatapan sendu. Ia lantas melangkah menuju pantry dan menuangkan minuman di gelas.


"Kamu mau minum?" tawarnya pada Kaisar yang masih memperhatikannya dari sofa.


Kaisar menggeleng pasti. "Tidak, Pat. Aku sedang tidak ingin minum. Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Patricia menghembuskan napasnya kesal, namun ia tetap membawa gelas sloki kecil itu dan menyodorkannya pada Kaisar.


"Minumlah sedikit! Agar kamu lebih rileks." Patricia memaksa Kaisar dan menjejalkan gelas itu di tangan kekasihnya.


Mau tak mau, Kaisar meraih gelas itu agar ia bisa cepat menyelesaikan urusannya.


Dengan senyum licik, Patricia menurut dan duduk di samping Kaisar. Ia lantas menarik lengan kekasihnya itu dan bersandar manja di sana. Sementara Kaisar mematung kaku, Patricia mendorong gelas di tangan kiri kekasihnya ke mulut. Kaisar menyesapnya sedikit, ia lantas meletakkan gelas itu di meja.


"Pat, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan." Kaisar menatap Patricia dengan tajam. "Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Pat. Kita harus berpisah."


Patricia sudah menduga bila Kaisar akan mengatakan hal ini. Ia menghela napasnya panjang dan melepas lengan Kaisar.


"Apa kamu yakin?" tanya Pat ragu.


Kaisar mengangguk cepat, sorot matanya membuat hati Patricia seperti ditusuk sembilu, hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun pada akhirnya kandas dengan menyakitkan.


"Maafkan aku, Pat. Seharusnya aku melepaskanmu sejak awal. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Cepat atau lambat perpisahan ini pasti terjadi," tutur Kaisar lugas. Entah mengapa ia begitu lancar mengucapkan kata-kata perpisahan ini pada Patricia yang telah menjalin hubungan bertahun dengannya.


Patricia tak menyahut, ia hanya menatap Kaisar dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. Sesekali bibirnya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Baiklah bila itu yang kamu inginkan, Kai. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta satu hal padamu."


"Baik, katakanlah, Pat. Aku akan mengabulkannya sebisaku." Kaisar memejamkan matanya yang mulai buram, seperti ada kabut yang melintas di bola matanya.


"Aku ingin kamu ..." Patricia menggantung ucapannya sesaat, ia memerhatikan Kaisar yang mulai oleng.


Dengan senyum licik, Pat menggeser duduknya merapat ke tempat Kaisar. Ia bersandar di lengan kekar pujaan hatinya itu dengan manja.


Kaisar yang merasa ada yang tak beres dengan dirinya hanya bisa menghela napasnya gusar. Patricia telah menjebaknya, dia pasti mencampurkan sesuatu ke dalam minuman yang tadi ia teguk dua kali. Sekujur tubuhnya meremang, darahnya berdesir panas, sepertinya Patricia mencampurkan pil perangsangg ke dalam minumannya. Kaisar hafal dengan efek ini karena ia dan Pat dulu sering menenggaknya.


"Apa kamu mencampurkan obat itu ke minumanku?" rintih Kaisar di antara gelora yang membara dari dalam tubuhnya, ia mencengkram lengan Pat dengan erat.


Bukannya menjawab, Patricia hanya tersenyum menggoda sembari merapatkan tubuhnya dan naik ke pangkuan Kaisar.


"Tentu saja, aku tahu kamu akan menolakku, jadi terpaksa aku mencampurkan obat itu agar kita bisa bercinta dengan sepuasnya malam ini!"


Kaisar menghembuskan napasnya yang semakin memburu dengan frustasi. Separuh alam bawah sadarnya ingin menolak, namun separuh yang lain seolah memaksanya untuk menikmati sentuhan demi sentuhan Patricia yang mulai menggeranyangi seluruh tubuhnya.


"Hentikan, Pat. Aku mau pulang!" Kaisar menepis tangan Pat yang mengelus wajahnya dan berpaling.


"Aaaaah, jangan menolakku, Kai. Aku tahu kamu merindukan setiap sentuhanku, kamu merindukan permainan yang panas denganku, kamu menginginkanku, bukan?" bisik Pat lembut sembari sesekali mendessah di telinga Kaisar.


Tubuh Kaisar menegang sempurna, juniornya mulai berdenyut tanpa bisa ia kontrol lagi.


"Tidak, hentikan. Aku mohon," pinta Kaisar mengiba, bayangan wajah Sabia melintas di ingatannya, di antara dessahan napas yang semakin memburu, Kaisar berusaha mempertahankan dirinya dari godaan Patricia. Ia tak ingin menghianati Sabia, tidak.


"Tidak semudah itu, Darling. Nikmatilah, lepaskan semuanya! Aku tahu kamu menginginkanku!!"


Jemari lentik Patricia mulai membuka kancing kemeja Kaisar satu persatu. Sesekali ia meniup telinga kekasihnya itu untuk membangkitkan birahiinya. Sensasi memabukkan membuat Kaisar menggeliat penuh rasa nikmat.


"Akh, Bia ... teruskan Bia ...."


****************************

__ADS_1


Yakin, deh. Chapter kali ini bikin kalian esmosi pagi-pagi 😂.


Maapkan otor ya, Bestie. Nikmati saja alurnya, mengumpatlah sepuasnya, tapi jangan marahin otor ya 🥹.


__ADS_2