
Kaisar tiba di kediaman Mahaputra menjelang tengah malam. Ia mengendarai mobilnya keliling ke berbagai tempat untuk melampiaskan rasa sedih dan kesepian yang menderanya. Bajunya yang tadinya basah oleh air hujan, kini telah kering setelah ia masuk ke dalam kamarnya. Hanya tersisa rasa lengket yang membuatnya gerah dan ingin segera mandi.
Mandi kali ini, Kaisar menggunakan Shampoo dan sabun milik Sabia. Ia merindukan istri kecilnya itu, bahkan mungkin rasa manis dari bibirnya masih bisa ia rasakan saat ini. Wangi strawberry yang dulu ia benci kini menjadi candu yang sangat ia sukai. Segala hal yang ada pada Sabia telah membuat Kaisar bertekuk lutut dan tak bisa berpaling lagi. Sabia telah menjadi poros dunianya, menyedot semua perhatian dan perasaan seorang Kaisar Mahaputra.
Rasa dingin menyergap tubuh Kaisar usai dia menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya. Ia menarik piyama secara acak dan lekas naik ke tempat tidur. Bersembunyi di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Sepertinya tubuhnya mulai protes atas kesewenang-wenangan si empunya. Berhari-hari dihantam masalah yang bertubi-tubi tanpa support dari orang yang paling ia kasihi membuat mental Kaisar drop perlahan-lahan, fisiknya yang tangguh tak lagi mampu menahan beban mental itu seorang diri.
"Selamat malam, Bia ..." lirih Kaisar dengan suara gemetar.
Giginya mulai bergemeretak tanpa bisa ia kontrol. Kaisar butuh pelukan. Ia butuh Sabia.
Beberapa jam setelah berjuang melawan rasa dingin seorang diri, Kaisar terbangun di tempat yang berbeda hari ini. Jarum infus sudah menempel di pergelangan tangan kirinya. Ia menoleh lemah ke arah kanan di mana seseorang nampak sedang duduk menemani sembari menatapnya dengan tajam. Hari.
"Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Kaisar serak.
Suasana sudah temaram di luar jendela kamar tempatnya di rawat. Sepertinya ia tidur terlalu lama hingga membuat semua orang khawatir.
"Mama. Dia tidak bisa membangunkanmu sejak tadi pagi. Dan mulai panik saat siang hingga akhirnya memaksaku membawamu ke mari," jelas Hari dengan wajah datar.
Kaisar mengucek matanya yang terasa perih, entah karena terlalu lama tidur atau ia masih kurang tidur.
"Kalian tidak memberi tahu Bia, kan? Jangan hubungi dia agar tidak kaget."
__ADS_1
"Sudah, aku sudah menghubungi dia. Dan Bia hanya bilang semoga kamu lekas sembuh. Dia tidak mau datang kemari menjengukmu."
Kaisar menghela napasnya sedih. Begitukah? Bia sudah peduli lagi padanya??
"Dia memang tidak seharusnya datang kemari. Dia sangat membenciku, Hari," gumam Kaisar lirih, tatapannya lurus menatap langit-langit kamar.
"Baguslah. Sudah seharusnya dia bersikap tegas seperti itu setelah kamu melukainya lagi, Kak. Bukan sekali dua kali kamu menyakiti Bia, tapi berkali-kali!" kecam Hari mengingatkan.
Kaisar terdiam, ia merasakan helaan dan hembusan napasnya yang teratur naik turun.
"Fokuslah pada kesembuhanmu. Carilah Patricia dan balaskan dendammu. Jangan menyerah secepat ini sebelum kamu membalaskan sakit hatimu!" lanjut Hari berapi-api. "Aku sudah melakukan bagianku dengan melindungimu. Sekarang giliranmu melakukan sisanya!"
Kaisar menoleh lemah pada adiknya itu. Hari yang menyebalkan terkadang bisa bersikap sangat baik dan penuh kasih.
"Oh ya, aku mau menunjukkan sesuatu padamu, Kak." Hari merogoh ponselnya di saku kemeja, membuka kunci layar dan menyerahkan ponsel itu pada Kaisar setelah ia membuka sebuah foto.
Kaisar menerima ponsel itu dan melihat sebuah foto undangan pernikahan berbahasa Inggris. Ia membaca nama yang tertera di sana.
"Mirae Furouka dan Kenzo Yamamoto?" Kaisar menolehi Hari dengan bingung.
"Itu undangan pernikahan Mamaku dengan mantan tunangannya 26 tahun yang lalu. Aku menemukannya di rumah Nenek di Jepang."
__ADS_1
Kaisar mengernyit bingung. Mantan tunangan?
"Sebulan sebelum pernikahan itu, Mama bertemu dengan mantan kekasihnya yang berasal dari Indonesia. Waktu itu dia membawa putranya yang berusia 3 tahun jalan-jalan ke Jepang untuk menghibur diri usai ditinggal oleh istrinya. Geserlah fotonya!" perintah Hari cepat.
Kaisar menurut, ia menggeser foto itu dan muncullah sebuah foto sepasang lelaki dan perempuam juga seorang anak kecil yang mirip dirinya. Apakah ini memang dirinya? Tapi, kenapa Kaisar tak punya foto ini?
"Foto itu yang kemudian membuat Mama membatalkan pernikahannya dengan Tuan Kenzo dan terbang ke Indonesia menyusul Papa Syailendra dan kamu, Kak," jelas Hari lugas.
Hening, Kaisar hanya bisa menyimak cerita mengagetkan ini dengan jantung berdebar.
"Tuduhanmu yang mengatakan bila Mamaku menghancurkan hubungan Papa dengan mendiang Mamamu tidak benar, Kak. Surat undangan ini buktinya. Di masa itu, Mama justru sudah berniat untuk menikah dan baru goyah setelah bertemu kalian di Jepang. Bila boleh dibilang, justru Papalah yang sebenarnya menghancurkan hubungan Mama kala itu."
Tak sanggup berkata-kata, Kaisar hanya menatap foto berlatar taman bunga sakura itu dengan perasaan campur aduk.
"Semoga setelah mendengar cerita yang sebenarnya ini, kamu mau membuka hatimu untuk Mama dan tidak lagi membencinya. Tak masalah kamu membenciku karena aku pun juga tak menyukaimu."
Kaisar melirik Hari dengan sinis. Jujur sekali dia!
"Terima kasih untuk penjelasanmu, Hari. Aku salut kamu mau mencari info sedetail ini hanya untuk meluruskan kesalahpahaman di antara kami."
"Tidak perlu berterimakasih, aku hanya melakukan yang seharusnya dilakukan seorang anak pada orang tuanya!"
__ADS_1
********************