GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Kejutan yang Lain


__ADS_3

Hampir tiga jam Mira dan Sabia menghabiskan waktu dengan spa. Ini adalah kali kedua baginya melakukan treatment di salon Hellen. Sabia sempat bertemu dengan Mbak Jeje yang sempat mendandaninya beberapa bulan yang lalu, ia masih saja kepo apakah Sabia sudah hamil dan melakukan sekss dengan Kaisar. Karena tak ingin rahasia perjanjiannya dan Kai dicurigai orang lain, mau tak mau Bia pun mengiyakan, ia mengaku sudah tidur dengan Kai dan melakukan sekss itu dengannya.


"Sudah, Bia?"


Bia tersentak kaget, ia sedang mengenakan pakaiannya di ruang ganti. "Iya, ini sudah, Ma!" sahutnya.


Sambil bergandengan, Mira kemudian membawa Sabia ke lobi depan. Hari yang sudah menunggu keduanya sejak setengah jam yang lalu sontak menghembuskan napas lega. Hellen tak hentinya mengajak Hari mengobrol ke sana kemari, membuat Hari mati kutu dan tidak bisa berkutik. Mira menitipkan Bia pada Hari sementara ia melakukan payment.


"Sampai jumpa lagi, Ayang!" lirih Hellen sembari melambaikan tangan manja pada Hari.


Bia terkekeh mendengar ucapan mesra itu. Hari berdiri tepat di depannya. "Balas, dong! Jangan diem aja!" perintah Bia lirih.


Hari mendengus mendengar ejekan Sabia. "Memangnya kamu rela aku didekati sama wanita jadi-jadian begitu?!"


"Rela banget, lah! Kan aku jadi bisa nyalon setiap hari di salon adik iparku! Pffff ..."


Ctak!


Hari menjitak kening Sabia dengan gemas, membuat gadis itu sontak mengaduh dan mengerucutkan bibir kesal. Enak saja dia menjodohkan Hari dengan Hellen, mending Hari menjomblo seumur hidup!


Hari menggamit lengan kakak iparnya dan menyeretnya keluar dari salon.


"Ayang Hari, besok-besok datang lagi, dongs!"  jerit Hellen dari dalam.


Hari melambaikan tangan seraya tetap menggamit Bia yang tertawa lebar dan keluar dari salon. Ia tak sadar di butik seberang, seseorang sedang memerhatikan mereka berdua dengan tatapan tajam dan bersiap mengabadikan pemandangan mengejutkan yang ia lihat petang ini. Sebuah foto yang terlihat sangat mesra antara Bia dan Hari berhasil tertangkap dan dia kirim ke ponsel seseorang yang beberapa minggu ini menjauhinya.


"Hentikan, Hari. Jangan terus menarikku seperti anak kecil!" sungut Bia kesal.


Hari tertawa, ia tetap menggamit lengan gadis mungil itu setelah melihat Mamanya menyusul di belakang.


"Nonton, yuk!"


Bia mendengus. "Kamu lupa kalo aku buta? Enak aja ngajak nonton!" decaknya.


"Kan kamu hanya perlu mendengar aja, seperti kebiasaan kamu sekarang! Nanti aku bisikin deh tokoh utamanya seganteng dan secantik siapa!"

__ADS_1


"Sialan! Nggak mau!"


Hari terbelalak mendengar Sabia mengumpat. "Hei, sejak kapan kamu mengenal kata-kata nakal itu?!" rutuknya syok.


Bia tak menyahut, dari siapa lagi ia mengenal kata-kata jelek bila bukan dari si Maha Agung dan Suci, Kaisar!


..


..


Di tempat berbeda, sejak sejam yang lalu perasaan Kaisar semakin dibuat kalang kabut begitu Diki menginformasikan bahwa Bia tak ada di rumah Mahaputra sejak tadi pagi. Bu Darma berkali-kali mencoba menghubungi namun telefonnya tak lagi aktif sejak siang, sepertinya karena kehabisan baterai.


Kaisar pun mencoba menghubungi Mira dan Hari, dua-duanya tak ada yang merespon.


Meski geram, namun Kai berusaha menutupi perasaannya di depan mertuanya yang sudah bersiap-siap sejak sore. Bila tak ada mereka, mungkin ponsel Kai akan hancur berkeping-keping seperti biasanya. Ia mengalihkan rasa kesalnya pada Bia dengan melihat album foto istrinya itu, ada salah satu foto saat Bia merayakan ulang tahunnya di tahun lalu. Kaisar tersenyum lirih.



"Lalu gimana ini? Apa kita bawa kuenya ke rumahmu saja, Kai?" tanya Pak Darma memecah keheningan.


"Kita tunggu sebentar lagi, Ayah. Barangkali Sabia datang. Diki sudah standby di rumah untuk membawa Bia kemari."


Pak Darma mengangguk, sudah pukul 8 malam namun belum ada kabar dari putrinya itu. Sepertinya pesta kejutan ini akan gagal total.


Entah sudah berapa kali Kaisar memperhatikan cake buatannya yang teronggok di meja. Itu adalah cake terbagus yang berhasil ia hias setelah puluhan kali mencoba. Cake-cake sebelumnya entah berakhir di mana, Bu Darma memberinya pada tetangga dan orang yang lewat di depan rumah. Apakah pesta kejutan ini tak akan berhasil, Kaisar menghela napas panjang. Ia bahkan sudah merelakan banyak waktu dan tenaga untuk membuat hari kelahiran Sabia menjadi hari yang tak terlupakan.



...Credit pict : Pinterest...


Ting.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kaisar. Ia meliriknya sekilas, sebuah pesan dari Pat. Ia mendengus dan tak berminat untuk membuka pesan itu, suasana hatinya masih kacau karena menunggu Sabia yang tak ada kabar. Saat hendak meletakkan ponselnya di meja, tanpa sengaja Kaisar menyentuh bilah notifikasi pesan hingga chat dari Patricia itu terbuka. Sialll!


[Bukankah ini istrimu?]

__ADS_1


Deg.


Kaisar memperhatikan lampiran foto yang Patricia kirimkan di bawah pesan. Ia memencet foto itu agar terdownload. Dan beberapa detik kemudian, darah Kaisar sontak mendidih begitu melihat foto di layar ponselnya. Sabia dan Hari, berpelukan keluar dari salon!!


"Shittt!" lirih Kaisar murka.


Napasnya seketika terasa sesak, tangannya terkepal menahan amarah. Ia menoleh pada Pak Darma dan Bu Darma yang sedang memerhatikannya.


"Ayah, Mama, sepertinya kita gagal memberi Sabia kejutan. Biar cake ini saya bawa ke rumah. Saya mau pamit pulang."


"Tunggu, Kai. Kita foto dulu sebentar!"


Di mobil. Kaisar menempelkan airpod di telinganya.


"Diki, apa kamu masih di rumah?" Kaisar menginjak pedal gasnya kalap.


"Iya, Pak. Saya masih menunggu istri anda."


"Apa dia belum pulang?"


"Belum. Oh sebentar, ini mobil Hari datang. Saya tutup dulu telefonnya."


"Diki, tunggu! Bawa Sabia ke penthouse. Aku tunggu kalian di sana!"


Tit.


Kaisar memutar balik arah mobilnya dengan gesit. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.


*******************


Pengen ketawa tapi kasian, kualat kan kamu, Kai!


Betewe, visual cast Sabia bulan ini memang sedang ulang tahun loh, Bestie, sefruit kebetulan yang tidak disengaja.


Apakah ini yang dinamakan takdir? 🤣

__ADS_1


__ADS_2