GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Dijemput Paksa


__ADS_3

Bisa lepas dari kursi roda adalah salah satu harapan Sabia setelah kecelakaan itu menghancurkan semua impiannya. Tentu saja, bisa melihat kembali juga harapan yang tak kalah pentingnya. Namun untuk saat ini, Sabia sudah merasa cukup bahagia bisa berjalan meski masih harus menggunakan tongkat. Toh, ia buta dan memang akan membutuhkan tongkat itu ke manapun ia pergi nantinya.


Sambil menikmati udara sore, Sabia menggenggam ponsel pemberian Hari di taman belakang rumah yang menjadi tempat favoritnya. Ia bisa merasakan sinar matahari senja yang menghangatkan wajah dan bagian tubuhnya yang tak tertutupi oleh benang. Ia kembali mengingat-ingat ucapan Hari yang menjelaskan fungsi setiap tombol pada ponselnya.


"Kalo kamu tekan angka 1 cukup lama, kamu akan otomatis tersambung ke nomorku. Nomor 2 adalah nomor Mamaku dan nomor 3 dan 4 adalah nomor Mama dan Ayahmu. Mengerti?!"


Sabia membuka flip ponselnya dan meraba angka-angka yang tadi sudah dijelaskan oleh adik iparnya.


"Kalo kamu menekan tombol bulat ini, ini adalah instruksi suara yang nanti akan menampilkan aplikasi yang akan kamu pilih. Misal kamu mau dengarkan radio atau mau browsing, kamu tinggal kasi instruksi suara maka otomatis tombol ini akan membukakan aplikasi itu untukmu, Bia."


Tombol bulat itu kini teraba oleh jemari Sabia. Ia tersenyum senang sembari membayangkan hari-harinya akan kembali ceria. Setelah melewati pagi yang mellow karena Kaisar tak pulang lagi semalam, namun siangnya saat ia bisa melepas gips dan mendapatkan hadiah dari Hari adalah bagian yang paling membahagiakan di hatinya.


Suara berisik di kejauhan mengusik lamunan Sabia, ia mulai fokus menajamkan pendengarannya. Lamat-lamat suara yang sangat ia kenal terdengar semakin mendekat. Sabia sontak berdiri dari kursi taman.


"Ayah! Mama!!"


"Biaaaa ..." teriakan Bu Darma dari ruang tamu terdengar nyaring hingga ke taman belakang.


Pak Darma mengikuti istrinya yang berlari tergesa-gesa, diikuti oleh Bik Yati yang juga ikut terbirit-birit di belakangnya. Sekilas mereka nampak  sedang bermain kejar-kejaran seperti di film india. Andai Sabia bisa melihat, mungkin ia akan tertawa hingga sakit perut.


"Mama!" Sabia merentangkan tangan, tak lama kemudian sebuah pelukan hangat memeluk tubuhnya.


"Bia, Mama kangen banget sama Bia! Kamu sehat kan, Nak?" tanya Bu Darma setelah mengurai pelukannya.


Sabia tersenyum dan mengangguk cepat. "Ayah ..." Sabia merentangkan tangannya lagi mengharapkan pelukan dari lelaki yang sangat ia sayangi melebihi apapun.


"Sabia!" Pak Darma memeluk tubuh mungil putrinya dengan penuh rasa rindu. "Kamu ngapain di sini sendirian? Ke mana orang-orang di rumah ini?"


"Maaf, Tuan. Saya orang, loh!" Bik Yati tunjuk tangan saat Pak Darma mengawasi sekeliling rumah keluarga Mahaputra yang megah.


Sabia terkikik. "Kalo jam segini semua orang masih belum pulang kerja, Yah. Kalo Papa Syailendra sama Mama Mira sedang ke luar negeri, baru kemarin berangkat!"

__ADS_1


"Kaisar pulangnya juga selalu malam?" tanya Bu Darma seraya menuntun putrinya untuk duduk di gazebo.


"Iya. Dia selalu lembur belakang ini, Ma," ucap Sabia berdusta. Ia tak punya pilihan lain, tak mungkin berkata jujur pada orang tuanya, bisa-bisa Kaisar dijebloskan lagi ke dalam penjara.


Bik Yati yang sejak tadi teracuhkan hanya bisa berdiri tak jauh dari mereka bertiga. Ia masih menenteng tas berisi oleh-oleh dari Mama Sabia. Isinya adalah beraneka macam kue kesukaan putrinya.


"Hari juga ngantor?" tanya Bu Darma lagi penasaran.


"Iya. Dia malah lebih sibuk dari Kaisar. Sampe jarang pulang!"


"Biiik!"


Lengkingan suara Hari dari ruang tamu sontak membuat bola mata Sabia membulat sempurna. Semua orang yang berada di taman menoleh cepat pada si empunya suara.


"Ya, Tuan! Bibik di belakang!" Bik Yati berteriak tak kalah nyaring, membuat Pak Darma dan Bu Darma kaget serta syok saat menyaksikan interaksi majikan dan pembantu rumah tangga yang unik di rumah ini.


Tak berapa lama, Hari muncul dan nampak terkejut saat melihat orang tua Sabia. Dengan keki ia pun menghampiri mereka dan menyalami Pak Darma dan Bu Darma dengan sopan.


Hari terhenyak, lembur? Jarang pulang?? Apakah Bia tidak salah sebut? Harusnya Kaisarlah yang lebih pantas menyandang dua kebiasaan itu.


"Oh, iya. Ini barusan saya pulang untuk mandi, setelah ini saya akan kembali ke kantor lagi, Tante," ucap Hari beralasan.


Bu Darma mengangguk. Ia menoleh pada suaminya yang diam mematung.


"Jadi sehari-hari Sabia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?"


"Nggak sendirian, Tuan. Ada saya dan beberapa pekerja lain di dalam," sela Bik Yati tak terima.


Pak Darma menghembuskan napasnya gusar. Selama tinggal di rumahnya, Sabia tak pernah merasa kesepian meskipun ia anak tunggal. Pak Darma dan Bu Darma selalu berusaha membagi waktu untuk menemani Sabia mengobrol atau beraktifitas. Selain itu juga ada Memey yang siap sedia 24 jam menemani Sabia.


"Hmm, sebenernya nggak selalu sendirian sih, Om. Kalo ada Mama biasanya sore-sore begini Sabia ngobrol sama Mama." Hari mulai panik, ekspresi Pak Darma terlihat tidak santai.

__ADS_1


"Ayah, Sabia nggak kesepian, kok! Ada Bik Yati yang selalu nemenin Bia kapanpun dan di manapun. Ya kan, Bik?"


"Iya, betul, Tuan. Kadang saya juga nemenin Non Bia tidur kalo Tuan Kai—" Bik Yati menutup bibirnya dengan keki, sepertinya dia terlalu banyak bicara kali ini.


"Kalo Kaisar kenapa, Bik?" selidik Bu Darma penasaran.


Bik Yati melirik ke arah Hari yang kini nampak memijat keningnya yang semakin berdenyut pusing.


"Saya akan bawa Sabia pulang! Sepertinya keluarga ini mulai aneh dan tidak jelas!" Pak Darma menarik tangan Sabia dan menyeretnya pergi.


Dengan langkah terseok-seok, Sabia berusaha mengimbangi langkah lebar ayahnya yang sedang dilanda emosi.


"Ayah, Bia nggak mau ke mana-mana tanpa Kaisar!"


"Biar nanti Kaisar yang menjemputmu di rumah! Ayah ingin mengobrol banyak dengan pria itu!"


"T-tapi Ayah ..."


"Om!" Hari mencekal lengan Pak Darma dengan cepat untuk menghentikan langkanya. "Tolong jangan gegabah. Sepertinya ini hanya masalah misskomunikasi. Kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa harus membawa Kak Bia pergi!"


"Hari benar, Yah. Ayah hanya salah paham dan misskomunikasi. Bia nggak mau ikut, Ayah!"


Pak Darma menepis tangan Hari dan kembali menyeret Sabia pergi.


"Ma, panggil taksi. Kamu naiklah taksi dengan Sabia. Biar Ayah motoran sendiri!"


"Om, biar saya antar, ya?!"


Bu Darma meraih lengan Hari dan menggeleng lembut saat lelaki itu menolehinya. "Tidak apa- apa, Nak Hari. Jangan khawatir, nanti suruh Kaisar menjemput Bia di rumah, ya? Ayahnya sepertinya kangen berat pada Sabia, mohon di maklumi, ya ..."


**************

__ADS_1


Hmm, yuk jangan lupa jempol, vote dan gift-nya, ya, Bestie 🥰


__ADS_2