
Mendengar secara langsung suara yang amat sangat dirindukan adalah anugerah yang luar biasa bagi Kaisar. Namun sayangnya, ia mendengar suara itu di tempat yang tak seharusnya ia inginkan. Persembunyiannya selama setahun terancam, Sabia tiba-tiba muncul saat ia berada di Restoran milik Bu Darma.
Detak jantung Kaisar seketika menggaduh, ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan namun masih takut untuk ia ekspresikan. Beruntung ia berada di dapur dengan lampu yang telah dimatikan, jadi Bia tak bisa melihatnya bersembunyi di sini. Namun sayangnya, ia lupa bila motornya diparkir di halaman depan. Mau tak mau akhirnya Kaisar terpaksa keluar. Ia mulai memutar otak mencari alasan agar Sabia tak bisa mengenalinya. Selama ini Bia tak pernah melihatnya, Bia hanya mengenal Kaisar melalui sentuhan dannn aroma parfum!
Dengan sigap Kaisar membuka kulkas dan mencari bahan masakan apapun yang bisa menyamarkan aroma parfumnya. Pandangan Kaisar terhenti di semangkuk bumbu dengan bau yang cukup menyengat. Ia menyendok bumbu itu dan mengoleskannya di leher, dan beberapa bagian tubuh yang ia semproti parfum tadi sore. Meski mual saat mencium baunya, Kaisar tak peduli. Hanya ini satu-satunya cara untuk tetap bersembunyi dari Sabia.
Sebelum memutuskan keluar, Kaisar mengenakan kembali masker wajahnya dan mencuci tangan. Melihat air yang mengalir membuatnya memiliki ide brilian!
Untuk pertama kali, setelah hampir setahun lebih menghilang dan bersembunyi, Kaisar bisa melihat istrinya dari jarak sangat dekat. Saat Bia menatap matanya, Kaisar tak kuasa membalas tatapan itu. Padahal sejak dulu ia sangat ingin merasakan ditatap oleh sepasang mata indah itu, namun kini ia justru tak berani beradu tatap.
Mencium aroma strawberry saat ia berjalan melewati Sabia membuat hatinya menghangat. Seketika memorinya melanglang buana ke masa di mana ia bisa memeluk Bia sepuasnya. Kaisar rindu.
"Pak? Anda masih di sana?"
Kaisar terkesiap. Rupanya sejak tadi ia melamun.
"Iya, Dik. Aku masih mendengarkan ocehanmu!" gerutu Kaisar jengah.
Diki hanya bisa menghubunginya di tengah malam, jadi saat sedang mengobrol begini ia akan menceritakan perkembangan dan keadaan di kantor selama Kaisar tak ada. Menceritakan apapun agar bosnya itu tak kesepian.
"Apa tidak sebaiknya Pak Kai tidur? Besok kan acara pembukaan pameran? Takutnya nanti malah tidak bisa datang."
__ADS_1
"Aku memang tidak akan datang, Diki. Tadi saja aku hampir ketahuan! Kalo sampe besok aku datang takutnya malah membuat dia semakin curiga."
"Yaaah, padahal saya sudah kangen dengan anda, Pak!" lirih Diki kecewa.
"Kamu kangen dimarahi?"
"Saya kangen membereskan masalah yang anda buat, Pak. Hehe ..."
"Sialan kamu! Segeralah cari istri biar setiap malam kamu tidak menggangguku!" keluh Kaisar memerintah.
Terdengar suara tawa Diki di ujung sana, membuat Kaisar ikut tersenyum kecut.
"Tidak. Jangan berharap banyak padaku, Dik. Aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun."
"Lalu bagaimana kalo Mbak Sabia yang menikah duluan?"
Deg.
Kaisar mendengus mendengar pertanyaan itu.
"Coba saja! Berani dia dekat dengan lelaki manapun, aku hancurkan lelaki itu sampai ke kutil-kutilnya!!"
__ADS_1
"Lalu mau sampai kapan anda sembunyi, Pak? Mbak Sabia juga butuh sosok lelaki yang bisa melindungi dan menyayanginya. Jangan terlalu lama membiarkan dia sendiri."
Kaisar tak menyahut, ia sibuk menetralkan rasa kesalnya usai pertanyaan Diki tadi mengusik ketenangannya.
"Aku masih belum siap bertemu dia, Dik. Rasa bersalahku pada Hari selalu terbayang setiap kali melihat Bia."
Hening, hanya terdengar hembusan napas masing-masing.
"Tapi anda tidak bisa merubah takdir, Pak. Yang terjadi pada Mas Hari di luar kendali anda."
"Tapi seandainya aku tidak pernah mengenal Pat, semua ini pasti tidak akan terjadi, Dik!"
"Pak, berhenti menyalahkan diri anda sendiri. Anda tidak akan mendapatkan apapun dengan menutup diri dan menghindari orang-orang yang anda sayangi. Mas Hari mendonorkan matanya pada Mbak Bia pasti karena ingin melihat kalian bersatu dan bahagia!"
Kaisar kembali terdiam. Begitu banyak penyesalan yang menumpuk di dalam hatinya, entah sampai kapan penyesalan-penyesalan itu akan terus menghantui hidupnya.
"Aku mau tidur, Dik! Besok aku akan ke makam Hari sebelum ke acara Bia!"
"Nah gitu dong! Itu baru Pak Kaisar yang saya kenal!"
***********************
__ADS_1