GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Kamu Milikku


__ADS_3

Sinar matahari meringsek masuk melalui celah vitrase dan menerangi seisi kamar super mewah di sebuah penthouse super mahal. Baju dan bantal berserakan di bawah ranjang, pun sprei yang kusut membuat suasana kamar tak ubahnya seperti kapal pecah. Kaisar masih lelap tertidur setelah semalaman ia membantai Sabia habis-habisan dan menorehkan tanda kepemilikan di seluruh tubuhnya. Bercak darah di sprei putih seolah menjadi saksi bisu bila Sabia kini bukanlah gadis perawan. Ia sudah ternodai, ia tak lagi suci.


Merasakan secercah sinar membias di matanya, Bia pun perlahan membuka mata. Suara dengkuran halus Kaisar membuat ia kembali bergidik takut. Semalam adalah tragedi menyeramkan yang membuatnya trauma. Bagian bawah tubuhnya masih terasa sakit dan nyeri setiap kali Bia bergerak, pun begitu ia merasakan sedikit perih di beberapa bagian tubuhnya yang lain. Semalam, benda milik Kaisar seolah tiada ampun meringsek masuk ke bagian inti tubuhnya, membuat Bia menjerit kesakitan setiap kali Kaisar menghentakkan miliknya. Sangat menyakitkan dan membuat Bia trauma.


"Kamu sudah bangun?"


Bia tersentak, ia sontak menarik selimut hingga menutupi tubuhnya yang telanjangg bulat. Ia tak ingin Kaisar menyentuhnya lagi.


Tak mendapat respon dari Sabia, Kaisar mengusap kedua matanya yang terasa perih. Ia lantas berbalik dan beringsut duduk menghadap istri kecilnya.


Sabia semakin menarik selimut hingga menutupi leher. Ia mulai waspada. Bia tak bisa membela diri, yang bisa ia lakukan hanya menjaga dirinya sebaik mungkin untuk mencegah apapun terjadi.


Melihat sorot mata Bia yang ketakutan, Kaisar menghembuskan napasnya penuh sesal.


"Maafkan aku, Bia. Aku tidak punya cara lain untuk menjadikanmu milikku!"


"Kamu jahat, Kai! Kamu manusia paling jahat yang pernah aku kenal."


Kaisar mengangguk setuju. Semua yang buruk-buruk memang ada padanya.


"Ya. Aku memang jahat."


"Kamu egois! Kamu laki-laki brengsek!" umpat Bia penuh emosi.


Kaisar kembali mengangguk setuju. Ia menyentuh kening Sabia dan mengusap rambutnya lembut.


"Ya. Aku memang egois. Maafkan aku."

__ADS_1


Air mata Sabia kembali menetes, entah mengapa ia justru menangis di saat ia seharusnya marah. Ia menepis tangan Kaisar dengan kasar.


"Kamu sudah punya Patricia. Kamu bisa melakukan apapun padanya. Tapi kenapa kamu masih tega menyentuhku!" rutuk Sabia murka.


Deg.


Kaisar terhenyak mendengar perkataan Sabia. Gadis itu benar, Patricia bisa memberikan apapun yang ia mau, bisa memberi kenikmatan model apapun yang Kai butuhkan. Tapi, kenapa Kai masih tega menodai Sabia?


Kenapa rasanya sangat berbeda saat menghabiskan malam bersama gadis polos ini?


Apakah karena Bia masih perawan?


"Aku harap ini terakhir kali kamu menyentuhku. Sekali lagi kamu melakukannya, aku akan bunuh diri."


"Bia ..."


"Aku serius, Kaisar Mahaputra. Sentuhlah aku sekali lagi, atau kamu akan melihat mayatku."


"Bia, aku minta maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Tolong jangan berkata seperti itu."


"Kenapa? Bukankah harusnya kamu senang kalo aku mati? Kamu bisa menikah dengan kekasihmu itu, bukan?"


"Bia ..."


"Antarkan aku pulang. Dan setelah itu enyahlah dari hadapanku. Aku akan menganggapmu tak ada, seperti selama ini kamu menganggapku tak nampak!"


Nyes.

__ADS_1


Sakit sekali ucapan Sabia menusuk di relung hati Kaisar. Tadinya ia ingin Bia menjadi miliknya, hanya miliknya. Tapi, bukan seperti ini akhir yang Kaisar inginkan. Ia berharap Sabia akan luluh setelah ia menidurinya, tapi ternyata Bia justru semakin membencinya.


Tanpa Kaisar pahami, Sabia pun merasakan sakit yang sama saat mengucapkan sumpah serapahnya tadi. Seperti ada sebuah paku yang menancap tajam di dalam hati. Bia tak pernah sejahat ini, namun perlakuan Kaisar secara tak langsung mengajarinya cara menjadi wanita keji.


"Kamu tahu, Bia. Seharian kemarin aku menunggumu di rumah Ayah dan Mamamu. Apakah kamu tidak ingat bila kemarin adalah hari ulang tahunmu? Atau kamu memang tidak ingin merayakannya bersama kami?"


Deg.


Bia menelan salivanya syok. Benarkah? Apakah kemarin tanggal kelahirannya?


"Aku menunggumu, Bia. Aku meminta Diki untuk menjemputmu. Tapi ternyata kamu malah bersenang-senang dengan orang yang sangat aku benci." Suara Kaisar terdengar tak bersemangat.


"Setidaknya meskipun kamu membenciku, berpura-puralah baik padaku di depan orang tuamu."


Air mata Bia menetes. Membahas orang tuanya selalu membuatnya sensitif. Kaisar yang melihat tangisan tertahan dari Sabia sontak membuang muka.


"Orang tuamu membuatku merasakan memiliki keluarga yang utuh, Bia. Bila aku boleh memohon, kelak saat tiba waktunya kita berpisah, ijinkan aku untuk tetap menemui orang tuamu." Air mata Kaisar kembali menetes, namun secepat kilat ia menyekanya. Ia tidak boleh lemah.


"Boleh kan, Bia?"


****************


Bestie, mohon maaf bila jalan ceritanya membuat sebagian dari kalian kecewa. Tapi sejak di awal membuat kerangka cerita, memang beginilah alur yang akan saya tulis (entah kalian suka/tidak suka).


Di sini adalah titik balik Kaisar berubah menjadi lelaki yang lebih baik dan bertekad memiliki Sabia. Jadi tolong beri dia kesempatan kedua untuk berubah, ya.


Kaisar tidak sejahat yang kalian pikir, kok. Di balik sifatnya yang buruk-buruk, terdapat trauma yang nantinya di bab-bab berikutnya akan membuat kalian paham mengapa dia 'jahat'.

__ADS_1


So please, maaf untuk yang kecewa pada jalan ceritanya, ya. Saya tidak akan memaksa kalian untuk tetap membaca. Karena bagi saya pribadi, tulisan sy harus memiliki pesan yang nantinya bisa saya sampaikan pada pembaca, bukan hanya sekedar menulis cerita receh ecek-ecek dan essek-essek yang tidak memiliki essensi.


Sekali lagi, terima kasih untuk yang tetap mendukung dan membaca hingga akhir ❤️ jangan lupa tap jempol dan favorit.


__ADS_2