
Kondisi Sabia yang semakin membaik membuat ia diperbolehkan pulang keesokan harinya. Selama berada di rumah, ia kembali sibuk menggarap patung yang belum sempat ia selesaikan. Ia masih tetap les pada Kak Bima dan semakin mahir membaca huruf braille. Tak ada waktu yang Sabia habiskan dengan sia-sia, ia selalu memanfaatkan waktunya dengan kesibukan agar tak melulu bersedih atas kejadian terakhir yang menimpa dirinya.
Sejak Bia pulang dari Rumah Sakit, ia tak pernah bertemu dengan Mira lagi. Sudah hampir tiga minggu Bia kesepian di rumah megah Mahaputra, ia pun sudah jarang mengobrol dengan Hari karena adik iparnya itu selalu pulang larut malam. Hanya Bik Yati yang setia menemani dan tak pernah bosan menghibur Sabia.
Hubungannya dengan Kaisar tak pernah semakin membaik. Sabia masih mengacuhkan lelaki tua itu seolah ia tak ada. Hanya sesekali saja mereka mengobrol, itupun karena ada Papa Syailendra. Selebihnya, mereka berdua memiliki dunianya sendiri-sendiri.
Kaisar terlalu takut untuk mendekati Sabia lagi, ia sangat trauma pada penolakan gadis nekat itu. Pun hubungannya dengan Patricia tak sehangat dulu lagi, hanya sesekali Patricia memaksa Kaisar datang untuk makan malam bersama, namun tak pernah terjadi apapun setelahnya. Kaisar selalu pulang ke rumah sebelum pukul 8 malam, meskipun Bia tak pernah mencarinya namun setidaknya ia masih memiliki waktu untuk memperhatikan istri kecilnya itu dari kejauhan.
Terkadang saat Bia sudah tidur, Kaisar akan masuk ke ruangan galeri dan melihat-lihat hasil karya gadis labil itu. Meskipun masih tak sempurna, namun tanah liat itu terlihat mirip dengan objek yang ditiru. Terkadang Kaisar iri, sudah ada patung Hari, Mamanya dan Bik Yati, namun Bia tak sekalipun memintanya menjadi objek karya patungnya.
Pagi ini, di meja makan, semua keluarga Mahaputra berkumpul untuk sarapan. Hanya Mira yang belum bergabung, alasan yang Bia ketahui adalah Mamanya itu sedang sibuk menata apartemennya di Singapura. Bia tak tahu bila Mira sedang menjalani kemo dan radiasi.
"Bagaimana dengan rencana acara ulang tahun Papa minggu depan? Kita jadi merayakannya seperti tahun lalu, kan?" tanya Hari seraya mengoles roti dengan selai kacang.
Syailendra mengangguk setuju. Kaisar hanya menyimak karena ia jarang mau terlibat di acara ulang tahun siapapun, baru di ulang tahun Sabia ia pertama kali ikut andil mempersiapkan ini itu.
"Acaranya mau di hotel atau di rumah ini saja?"
"Di hotel saja, Hari. Jangan sampai terlewat untuk mengundang semua kolega Papa, oh iya, orang tua Bia juga!"
Bia urung menyantap rotinya saat namanya disebut. Ia menutup mulutnya dengan keki.
"Sepertinya Ayah dan Mama nggak akan datang, Pa. Mereka pasti malu kalo bergabung di acara besar seperti itu."
"Kenapa harus malu?" tanya Kaisar bingung.
Bia mengedikkan bahunya. Ia kembali menyantap roti selai strawberrynya dengan cuek.
__ADS_1
"Undang mereka, Hari!" putus Kaisar.
"Percuma, mereka nggak akan datang!" keukeh Bia.
"Aku yang akan menjemput mereka sendiri kalo Ayah dan Mama tidak mau datang."
"Ya sudah, terserah."
Hari melirik Papanya keki, mereka saling berpandangan untuk beberapa saat. Menyatukan Kaisar dan Sabia seperti menyatukan minyak dengan air.
..
..
Di kantor.
"Ada apa, Pak?" tanya Diki setelah membungkuk
"Ke mana Hari?" Kaisar menunjuk kursi Hari yang kosong.
Diki menghela napasnya berat, apakah Kaisar memperlakukannya seperti Google yang harus tahu segala hal??
"Saya akan mencari tahu pada Suzan," sahut Diki cepat.
"Cepatlah. Kabari aku setelah kamu mendapat informasi yang fix."
Dan beberapa menit setelah kepergian Diki, Kaisar memeriksa ponselnya yang berdenting di meja. Ia melirik sekilas dari bilah notifikasi. Pesan dari Diki.
__ADS_1
[Hari tidak ngantor, Pak. Menurut info dari Suzan, hari ini Hari ijin karena ada acara.]
Kaisar mengernyit, acara?
Bukannya tadi pagi mereka sarapan dan berangkat bersama?
Tidak mungkin Hari ijin untuk kepentingan Mamanya karena Mira masih berada di Singapura. Mendadak perasaan Kaisar jadi tak bagus. Apakah dia janjian dengan Bia?
[Diki, tolong telefon ke rumah. Cari tahu apakah Sabia berada di rumah saat ini. Dan jangan lupa tanyakan apakah Hari juga berada di rumah.]
Kaisar mengetik pesan perintah itu dengan kekuatan jari thanos. Cepat, padat, dan mutlak.
Ting.
[Baik, Pak.]
Sambil mendengarkan penjelasan setiap dewan direksi yang memaparkan ide baru mereka terkait program kerja, pikiran Kaisar melanglang buana. Selama ini ia sudah cukup damai dan tak tersulut emosi karena Hari menjaga jarak dari Sabia, tapi bila sampai ketahuan mereka jalan bareng lagi di belakang Kaisar, jangan harap Hari akan selamat!
Ting.
[Istri anda tidak sedang berada di rumah, Pak. Dia pergi sejak satu jam yang lalu bersama Hari.]
***********************
Hayoloh, Kaisar! 😌
kalah lagi dari Hari yang lebih gercep 😂
__ADS_1