
Sebenarnya jadwal kepulangan Syailendra dan Mira masih hari Sabtu, namun karena mendapat kabar dari orang kantor bila Kaisar tak masuk kerja karena sakit dan di opname, saat itu juga ia dan Mira pulang ke Indonesia dan menunda jadwal kemoterapi Mira.
Dan sekarang, di Rumah Sakit tempat putranya dirawat, bukannya melihat anak dan menantunya, mereka berdua malah dikejutkan oleh pemandangan tak senonoh yang hampir saja terjadi antara putranya dan wanita model itu.
Syailendra menghampiri ranjang Kaisar dengan langkah lebar. Wajahnya merah padam, terlebih setelah melihat Patricia mengancing piyamanya yang terbuka, sungguh memalukan.
Plak.
Sebuah tamparan mendarat telak di pipi Kaisar. Mira terbelalak syok dan bergegas menghampiri keduanya.
"Anak tidak tahu malu! Sudah berkali-kali Papa memperingatkanmu untuk meninggalkan wanita ini, tapi kamu sama sekali tidak mengindahkan!" teriak Syailendra murka.
Mendapat tamparan di depan wanita yang ia sayang membuat Kaisar merasa terhina, ia menatap tajam pada Syailendra dan Mira.
"Bila kamu masih mau namamu ada di surat wasiat, tinggalkan dia!" Syailendra menunjuk wajah Patricia yang berdiri tegang tak jauh dari mereka.
"Berhentilah mencampuri kehidupanku, Pa. Aku sudah muak dengan semua ini!" teriak Kaisar sakit hati.
Syailendra menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, napasnya tersenggal dan terasa sakit saat dihembuskan.
"Kamu ..., anak tak tahu diuntung!" cecar Syailendra di antara rasa sakit yang semakin menusuk-nusuk.
Melihat suaminya memegang erat dadanya, Mira mulai merasa ada yang tidak beres. Ia menggamit lengan Syailendra dengan cepat.
"Pa, sudahlah. Yuk, kita pulang!"
"Sekali lagi Papa melihatmu bersama wanita binal ini, Papa akan mencoret namamu sebagai penerus CEO di perus---" Syailendra rubuh perlahan.
"Papa!!!" teriak Mira panik.
Kaisar yang tak menyangka Papanya akan kolaps sontak melompat dari atas ranjang, ia bahkan lupa bila sedang di infus hingga selang itu terputus dan darah segar mengucur dari venanya. Ia menopang tubuh tinggi besar Syailendra dan membantunya tiduran di ranjang pendamping.
Particia yang panik tak bisa berkutik, ia tegang mematung karena syok dengan apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat.
Setelah menidurkan Syailendra, Kaisar berlari ke meja nakas dan menekan tombol khusus untuk memanggil dokter atau perawat yang berjaga. Mira menangis di samping suaminya, ia menggenggam erat tangan Syailendra yang mulai dingin.
"Cepat, Kai! Papamu harus segera mendapat pertolongan!" cecar Mira panik.
__ADS_1
Kaisar menekan tombol itu berkali-kali. Ruang president suite seharusnya mendapatkan pelayanan yang lebih fast respon namun nyatanya para perawat itu tak kunjung datang.
Kaisar menoleh pada Patricia yang masih tak bergerak. Ia menghampiri wanita itu dan mencengkram kedua bahunya erat.
"Pulanglah. Nanti aku akan menghubungimu!"
"A-apa Papamu baik-baik saja?"
"Entahlah. Yang pasti serangan jantung Papa sedang kambuh. Pulanglah dulu, biar aku yang selesaikan semua ini."
Patricia mengangguk cepat, ia beringsut mengeluarkan tas miliknya yang ia simpan di dalam lemari dan bergegas ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Setidaknya ia harus mengenakan bra-nya dulu sebelum pulang.
..
..
Beberapa jam setelah kejadian menegangkan itu. Kini Syailendra yang berganti menempati ranjang Kaisar. Karena kondisi Kaisar sudah cukup baik, ia tak lagi butuh diinfus.
Hari dan Sabia datang dengan wajah panik dan tegang. Mira menyambut kedatangan mereka berdua dengan sukacita. Kaisar hanya memperhatikan keduanya dari sofa di ruangan depan. Sejak datang tadi, perhatian Kaisar tertuju pada Sabia.
"Gimana keadaan Papa, Ma?" tanya Hari seraya mendekat ke ranjang Papanya dengan sedih.
"Dokter bilang sudah aman, tadi Papa cuma kaget sehingga aliran darah ke jantungnya sedikit terhambat. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok!" jelas Mira lugas.
Hari menoleh pada Kaisar yang duduk di ruang tamu, untuk sesaat tatapan tajam mereka beradu. Seolah tatapan itu berusaha mencari tahu dan menelisik setiap informasi yang tak Hari ketahui.
'Apakah semua ini terjadi gara-gara dia?' batin Hari bertanya-tanya dalam hati.
Namun tak mungkin Hari menanyakan hal itu di saat Sabia juga berada di ruang ini. Sementara ia akan menahan diri hingga Sabia pulang.
"Mama kapan datang?" tanya Sabia memecah keheningan.
Mira melirik Hari dan Kaisar bergantian. Ia takut salah bicara.
"Baru aja kok, Bia. Mungkin karena Papa kecapean makanya langsung drop dan pingsan," terang Mira keki.
Kaisar bangkit dari kursi sofa dan menghampiri mereka bertiga. Sementara itu, Mira tak dapat menyembunyikan rasa gugupnya saat tatapan tajam kedua putranya saling beradu. Sabia tak sadar bila dua lelaki yang berdiri di antaranya sedang bersitatap, ia malah memijat-mijat lengan Syailendra dengan lembut.
__ADS_1
"Hmm, Bia, maukah temani Mama makan di restoran basement?" usul Mira.
Sabia mengangguk cepat, sekelebat aroma parfum Kaisar melintas di indra penciumannya, ia melirik sekilas.
"Yuk, Ma!" Bia mengulurkan tangannya pada Mira, ia tak sabar ingin segera keluar dari ruangan ini karena ada Kaisar di dalam ruangan yang sama dengannya.
Dengan bergandengan tangan, Mira dan Sabia menghilang di balik pintu.
"Apa ini karena ulahmu, Kak?" selidik Hari begitu hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar rawat inap.
"Menurutmu?" Kaisar balik bertanya.
"Bila sampai terjadi apa-apa dengan Papa karena ulahmu, aku tidak akan tinggal diam lagi."
"Kamu mengancam?"
"Tidak. Aku hanya memperingatkanmu!" tekan Hari.
Kaisar tersenyum sinis mendengar ancaman adik tirinya itu. "Lakukan sesukamu, Hari. Aku pastikan kamulah yang akan hancur lebih dahulu sebelum tanganmu menyentuhku."
"K-Kai ..." sebuah suara lemah memanggil nama Kaisar hingga ia sontak menoleh ke ranjang.
Papanya membuka mata seraya mengulurkan tangannya dengan gemetar. Kaisar beringsut mendekat dan menggenggam tangan keriput itu dengan erat.
"Maafkan aku, Pa," lirih Kaisar sendu.
Tatapan redup Syailendra membuat hatinya sakit karena dia adalah satu-satunya orang tua yang Kaisar miliki.
"Ini adalah permintaan Papa yang terakhir kali padamu, Kai. Berjanjilah pada Papa, kamu akan tinggalkan wanita itu."
Kaisar melirik pada Hari yang masih menatapnya dengan dingin dan tajam. Semua keluarga Mahaputra memiliki sorot mata yang menakutkan.
"Kai?"
"Baik, Pa. Aku janji akan memutuskan Pat."
__ADS_1
********************
Bestie, jan lupa tinggalkan jempol, hadiah, vote, komen dan warisan juga boleh 😆❤️