
Sepeninggal Kaisar, Sabia turun dari ranjang dan bergegas mandi. Perutnya masih terasa begah tak nyaman, namun ia tak ingin bermalas-malasan di ranjang tanpa melakukan apapun. Setidaknya ia harus menyelesaikan patung-patungnya yang terbengkalai.
Usai sarapan sedikit, Bia langsung menuju ruang galerinya. Kali ini sudah ada patung wajah Ayah Darma yang separuh jadi. Bia hanya perlu menajamkan beberapa detail di mata, hidung dan bibir. Karena sudah hafal dengan wajah Ayah dan Mamanya, Bia tak perlu meraba wajah mereka seperti pada keluarga Mahaputra.
Sambil memahat bagian mata dengan butsir, Bia mencoba mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan bersama Kaisar semalam. Mengapa ia tak bisa mengingat apapun??
"Non Bia, ini es krim strawberry-nya."
Bia tersentak kaget, ia mendongah ke arah pintu. "Masuk aja, Bik. Bawa sini es-nya!"
Bik Yati menurut dan membuka pintu galeri lebih lebar. Ia membiarkan Sabia mencuci tangan di wastafel sebelum kemudian menyerahkan gelas es krim.
Sambil termenung, Sabia menikmati sesendok demi sesendok es favoritnya itu meleleh di mulut.
"Non Bia nggak mual makan es krim pagi-pagi?" tanya Bik Yati heran.
Bia menggeleng, mana mungkin ia mual hanya karena makan es kesukaannya.
"Bik, semalam yang nganter saya pulang siapa?" tanyanya tak nyambung.
Bik Yati berpikir sejenak, ia lantas menarik kursi tak jauh dari Nonanya duduk.
"Tuan Kaisar, lah. Kan kalian berdua berangkat bersama!"
"Berarti saya semalam pulang hanya berdua dengan Kaisar?"
"Iya, Non!"
Sabia merenung lagi, otaknya masih berpikir keras. "Semalam saya jalan sendiri atau digendong pas turun dari mobil?"
"Digendong, lah! Non Bia teler begitu, mana bisa jalan sendiri! Hihihi ..."
"Kaisar yang gendong?"
"Lah, siapa lagi?! Mana boleh orang lain nyentuh Non Bia sembarangan kalo nggak pengen di smackdown sama Tuan Kaisar!"
Sabia terkekeh mendengar penjelasan Bik Yati.
"Terus Bibik tahu nggak setelah itu keadaan saya gimana?"
__ADS_1
Bik Yati menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman. "Jadi semalam, Tuan sempet minta tolong saya buat gantiin bajunya Non Bia. Tapi Non Bia nolak, nggak mau dipakein atasan piyama--"
"Hah???"
"Iya. Beneran! Sumpah! Bibik sampe dibentak-bentakin sama Non Bia."
Bia menggigit bibir bawahnya dengan panik, jadi semalam yang memakaikan atasan piyamanya adalah Kaisar??
"Terus setelah itu Bibik keluar deh. Tuan yang akhirnya makein bajunya Non Bia," terang Bik Yati berapi-api. "Emangnya Non Bia nggak inget apapun, ya?"
Bia menggeleng cepat. Pantas saja tadi pagi Kaisar bilang bila dia kuat mental menghadapi godaan Sabia, mungkin yang dia maksud adalah tidur tanpa mengenakan busana. Tapi, Bia masih tak yakin bila ia tak berbuat hal aneh -aneh pada Kaisar semalam.
"Mama Mira ke mana, Bik? Kok tumben nggak keluar kamar?" tanya Bia heran.
Bik Yati terhenyak, ia mendadak keki saat Nonanya menanyakan Nyonya Mira.
"Anu, masih tidur mungkin, Non."
"Semalam juga aneh banget, pas Papa ngucapin doanya, Papa sempet bilang semoga Mama sembuh dengan sempurna. Memangnya selama ini Mama sedang sakit?"
"Hmmm, ya ampun! Bibik lupa tadi lagi ngangetin sayur! Bibik tinggal dulu ya, Non!" Bik Yati sontak berdiri dan bergegas pergi sebelum Sabia melanjutkan pertanyaannya.
Bik Yati tak pandai berbohong, jadi sebisa mungkin ia akan pergi sebelum salah bicara.
.
.
Di kantor.
Wajah Kaisar yang sumringah seharian ini membuat Diki penasaran. Sepertinya semalam terjadi sesuatu yang menyenangkan sehingga Bos-nya itu terlihat sangat bahagia. Baru kali ini wajah Kaisar berseri-seri, sungguh berbanding terbalik dengan kesehariannya yang biasanya tegang dan menakutkan.
Diam-diam, Kaisar masih terngiang-ngiang dengan ucapan Sabia sebelum mereka tidur berpelukan semalam.
"I love you."
Kaisar terkikik geli. Entah kenapa kata romantis itu justru terdengar sangat menggemaskan saat diucapkan oleh Sabia. Apakah karena Kaisar menganggap istrinya itu masih bocil dan kekanakan?
Bia terlihat seperti seorang murid SMP yang menyatakan cinta pada gurunya sendiri! Kaisar kembali tersenyum lirih.
__ADS_1
Tidur sambil berpelukan dengan Sabia ternyata sangat menenangkan bagi seorang Kaisar, ia merasa seperti sangat dibutuhkan saat bersama gadis itu. Dan baru kali ini Kaisar merasakan betapa menyenangkannya saat ada orang lain yang membutuhkan dirinya.
Bila dalam keadaan sadar, mana mungkin Bia berani berbicara selembut dan sejujur itu padanya. Bia selalu menjaga jarak dan bersikap acuh pada Kaisar.
Brak.
Kaisar dan Diki tersentak kaget, sontak mereka berdua menoleh ke pintu yang dibuka secara kasar. Seorang wanita anggun dengan pakaian seksi dan terbuka berdiri di ambang pintu.
"Nona Pat," desis Diki syok.
Pun demikian juga dengan Kaisar, ia tak menyangka bila Patricia berani muncul di kantornya setelah ia memperingatkan wanita itu agar tak menampakkan batang hidungnya di tempat terbuka.
"Pat." Kaisar bangkit dari kursi dan menoleh pada Diki, memerintahkan asistennya itu untuk keluar dan mengkodenya agar berjaga-jaga di depan pintu.
Diki mengangguk paham, ia lekas beringsut keluar dan menutup pintu ruangan Kaisar dengan perlahan. Tak ingin siapapun masuk, terpaksa Diki berdiri di depan pintu.
Patricia menatap tajam pada Kaisar yang masih tak bergeming di belakang meja kerjanya. Napas wanita itu naik turun, berita tentang ulang tahun Syailendra yang dimuat di beberapa media membuat Patricia marah, terlebih terpampang foto Kaisar saat bergandengan dengan istri butanya itu!
"Pat, ada apa? Bukankah aku sudah bilang agar tak muncul sembarangan seperti ini?"
"Apa kamu memutuskanku karena gadis itu?"
Kaisar mengernyit heran. Apa maksud Pat adalah Sabia?
"Maksudmu Sabia?"
"Memangnya ada berapa gadis di sekitarmu, huh? Apa masih ada yang lain selain aku dan gadis buta itu?" cecar Patricia murka.
Kaisar menghela napas panjang. "Pat, Bia tidak ada hubungannya dengan keputusanku untuk berpisah sementara denganmu. Ini murni karena kesehatan Papa."
"Pembohong!"
Plek.
Patricia melemparkan koran yang memuat foto Kaisar dan Sabia sedang tersenyum lebar. Tatapan Kaisar pada gadis itu tak bisa berbohong, semua orang bisa melihat betapa tatapan itu penuh cinta.
"Kamu juga memperkenalkan gadis buta itu pada semua orang! Untuk apa? Agar semua orang tahu bila kamu sudah beristri?"
"Pat, dengarkan dulu penjelasanku."
__ADS_1
"Cukup. Aku tidak mau dengar apapun lagi darimu. Kamu hanya milikku, Kaisar Mahaputra! Tidak boleh ada yang memilikimu selain aku. Jangan harap kamu bisa berpisah semudah itu denganku. Ada bayaran yang harus kamu tebus untuk sakit hati yang aku rasakan hari ini!!"
***************