
Sabia menunggu kedatangan Kaisar yang sedang pulang untuk mengambil es krimnya selama satu jam. Padahal bisa saja Kaisar memerintahkan supir di rumahnya untuk mengantarkan es krim itu, namun nyatanya lelaki perfeksionis itu lebih memilih untuk mengambil sendiri ke rumah Mahaputra.
Kadang Sabia heran dengan sikap Kaisar yang plin-plan. Dalam satu detik ia bisa sangat baik, namun detik berikutnya ia akan berperilaku sebaliknya.
Sambil menunggu Kaisar, Bia mengisi waktunya dengan bernyanyi diiringi oleh musik dari MP3 di ponselnya. Suasana hatinya akan membaik bila mendengarkan lagu-lagu soundtrack film princes Disney favoritnya. Terlebih bila lagu "Part of Your World" dan "A Whole New World" terlantun, Bia bisa bernyanyi hingga lupa diri. Suaranya yang cukup merdu ternyata menyita perhatian Kaisar yang baru saja datang bersama Pak Darma.
"Suara Bia lumayan juga ya, Yah?" puji Kaisar, baru kali ini ia mendengar Bia bernyanyi.
Pak Darma tersenyum bangga. "Iya, suaranya memang bagus sejak kecil. Beberapa kali saat masih TK, Sabia pernah ikut lomba menyanyi dan menang."
"Oh ya, kenapa tidak dilanjutkan bakatnya? Saya baru sadar ternyata Bia punya darah seni yang cukup mumpuni."
Pak Darma tak menjawab, ia menenteng cooler bag yang berisi es krim strawberry putrinya ke dapur dan memberikannya pada istrinya.
Kaisar yang masih penasaran pada akhirnya memilih untuk melupakan pertanyaannya. Ia masuk ke kamar dengan diam-diam agar Sabia tak menyadari kedatangannya. Sayangnya, indra penciuman Bia yang tajam tak bisa berbohong, begitu ia mengendus aroma parfum Kaisar yang khas, ia sontak berhenti bernyanyi dan mematikan MP3-nya dengan malu.
"Kenapa berhenti? Aku suka suaramu, Bia," puji Kaisar kecewa karena Sabia menghentikan nyanyiannya.
"Apa di luar ada ayah?" tanya Bia lirih.
Kaisar mendekat ke ranjang dan duduk di samping istri kecilnya. "Ada tuh. Memangnya kenapa?"
"Apa tadi Ayah mendengar suaraku?" tanya Bia lagi. Wajahnya seolah menyimpan sesuatu.
"Tentu saja. Memangnya kenapa? Suaramu bagus. Ayah tadi juga sempat memujimu."
"Benarkah??" Wajah ketakutan itu berubah ceria.
"Iya. Aku juga suka suaramu. Menyanyilah lagi. Anak kita pasti juga suka!"
"Nggak mau. Aku nggak mau menyanyi di sini."
Kaisar mengernyit penasaran. "Memangnya kenapa?" tanyanya lirih.
"Nanti saja aku ceritakan bila kita sudah pulang. Betewe, mana es krimku!?"
Belum sempat Kaisar membuka mulut, Bu Darma datang sembari membawa segelas es krim untuk Sabia. Mendapatkan apa yang ia idam-idamkan membuat wajah Sabia kembali ceria. Ia menyendok es krim itu sedikit demi sedikit agar tak cepat habis.
"Stok es krimmu sudah hampir habis di rumah. Besok aku akan meminta Bik Yati memesannya lagi satu frezer penuh."
Bola mata indah Sabia membulat kaget mendengar janji Kaisar. "Satu frezer?"
__ADS_1
"Iya! Biar kamu tidak perlu menjilati es-nya sedikit demi sedikit!" sindirnya cepat.
Sabia merengut, betul kan apa yang dia pikirkan tadi! Kaisar bisa sangat manis namun bisa juga tiba-tiba menjadi sangat kejam.
"Kaisar, yuk sarapan! Mama sudah selesai masak!" Bu Darma melongok di balik pintu.
"Iya, Ma. Sebentar." Kaisar menoleh pada Bia. "Kamu makan juga ya? Aku ambilin sedikit saja."
"Nggak mau! Nanti saja kalo aku laper. Aku masih ingin makan es krim dulu."
..
..
Menjelang sore, Bia dan Kaisar berpamitan pulang. Kaisar tak mau Sabia kelelahan jadi ia memutuskan pulang sebelum malam agar Bia bisa beristirahat. Di perjalanan pulang, Kaisar yang masih penasaran dengan ketakutan Sabia tadi pagi, mendadak sangat kepo dan ingin tahu alasannya.
"Kamu bisa cerita sekarang, kenapa kamu takut sekali dengan Ayah saat ketahuan menyanyi tadi," celetuk Kaisar memecah hening.
Bia tersenyum sumbang. "Karena Ayah pernah hampir kehilangan aku gara-gara aku nekat ikut lomba menyanyi di luar kota. Ayah marah banget waktu itu, dan sejak itu Ayah melarangku bernyanyi," jelasnya terkekeh.
"Sayang sekali, padahal suaramu bagus."
"Aku mendukungmu, kok! Kamu bisa melanjutkan hobimu mulai hari ini," tukas Kaisar cepat.
Bia terkekeh. "Nggak mau, ah! Lagian aku buta gini, mana ada orang yang mau dengerin!"
"Kamu kan hanya buta, bukannya bisu."
"Hentikan, Kai. Aku ingin fokus dengan hobiku mematung saja saat ini," elak Bia.
"Ngomong-ngomong mematung, kenapa kamu tidak membuat patung wajahku? Semuanya sudah kamu buatkan, hanya aku yang belum!" keluh Kaisar manyun.
Mendengar protes itu, Sabia tertawa. "Kan aku sudah bilang, aku nggak akan pernah bikin patungmu! Habisnya kamu nyebelin."
"Huuu, curang! Padahal yang setiap hari nemenin kamu kan aku, tapi malah terlupakan!"
"Kamu mau aku buatkan patung juga?" tawar Bia menggoda.
Kaisar menoleh sekilas. "Mau lah! Aku kan ganteng, patungnya pasti akan jadi yang terkeren di antara yang lain!"
"Hmm, pede sekali anda!" cibir Sabia tertawa.
__ADS_1
"Harus pede dong! Kalo kita pede maka level ketampanan kita akan bertambah 100%, jadi tidak ada alasan untuk Kaisar Mahaputra merasa minder!"
Sabia memutar bola matanya gemas mendengar penjelasan Kaisar yang besar kepala. "Baiklah, besok aku akan buatkan patung untukmu!"
"Benarkah?"
Sabia mengangguk cepat, namun sebenarnya ia hanya berniat untuk mengerjai Kaisar.
"Oh iya, Kai, apa Mama Mira sudah mendengar tentang kabar kehamilanku, ya?"
"Entahlah, memangnya kenapa?" Kaisar balik bertanya.
"Nggak apa-apa sih. Kapan ya mereka pulang? Aku sudah kangen sama Hari."
Wajah santai Kaisar mendadak berubah menjadi tegang. Ia melirik Sabia dengan pandangan tak suka.
"Jangan dekat-dekat dengan Hari. Aku tidak suka, Bia."
"Memangnya kenapa? Sejak dulu aku dan Hari sudah dekat, kok! Bahkan mungkin sebelum dekat denganmu, aku lebih dulu dekat dengan Hari!"
"Tapi kedekatan kalian itu tidak lumrah! Aku tidak mau orang jadi salah paham pada kedekatan kalian!"
"Orang siapa yang kamu maksud? Papa Syailendra dan Mama Mira tahu kok kalo aku dekat dengan Hari hanya sebagai kakak adik."
"Jangan membantahku, Bia. Kalo aku tidak suka ya tidak suka, jangan dibantah dan jangan banyak alasan. Aku tidak ingin kamu jadi lebih dekat dengan Hari daripada denganku! Suamimu itu aku, bukan Hari!" cecar Kaisar terpancing emosi.
"Kamu cemburu yaaaaa?" goda Sabia sembari mengerlingkan sebelah matanya pada Kaisar.
Bia tak bisa melihat ekspresi Kaisar yang sedang naik pitam, jadi ia berfikir suaminya ini pasti hanya sedang kesal biasa.
Kaisar tak menyahut. Mungkin benar ia cemburu, sebagian hatinya menolak untuk mengakui bila ia sudah jatuh hati pada pesona gadis ababil ini, namun sebagian yang lain sangat takut untuk kehilangannya.
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kamu akan membenci Hari?"
"Sampai dia menikah dan punya keluarganya sendiri!"
**********************
Tenang, Kai.
Ayank Hari cuma tercipta untuk otor, kok! 😌
__ADS_1