GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Menginap di Rumah Mertua


__ADS_3

Pulang ke rumah yang telah menjadi tempatnya tumbuh besar adalah hal yang ingin Sabia lakukan sejak merasakan pernikahannya dengan Kaisar tak berjalan mulus seperti yang selama ini ia impi-impikan. Tapi, bukan dengan cara seperti ini ia ingin pulang. Bukan dengan cara diseret paksa seperti yang ayahnya lakukan.


"Masih ngambek, ya?" goda Pak Darma saat melihat wajah Sabia masih manyun sejak tiba di rumah ini beberapa jam yang lalu.


Sabia tak menyahut, bibirnya mengerucut sempurna, membuat siapapun yang melihat pasti gemas ingin mencubit bibir mungil dan tipis itu.


"Kaisar pasti jemput ke sini. Tunggu saja lah. Lagian sejak menikah, kamu belum pernah pulang ke rumah ini lagi, kan?!" cecar Pak Darma cemburu. Ia menggeser duduknya ke tempat Sabia.


"Itu karena Kaisar sibuk, Ayah. Bukan karena Bia nggak mau pulang!"


"Iyaaa, Ayah tahu. Itulah kenapa Ayah bawa kamu pulang kemari, toh tadi kan nggak ada Kaisar, daripada kamu kesepian!"


Bia tak menyahut, ayahnya benar. Tak berapa lama terdiam, sepasang tangan tiba-tiba menyentuh perutnya dan menggelitikinya. Kebiasaan ayah bila Sabia ngambek adalah menggelitikinya hingga gadis itu menyerah dan minta ampun. Tawa Sabia pecah menggemparkan seisi rumah yang belakangan ini sepi karena si tukang ngambek sudah tak tinggal di rumah itu lagi.


Namun ternyata kedatangan Kaisar mengganggu keakraban ayah dan anak itu. Pak Darma yang merasa Kaisar telah merebut putri kesayangannya selalu menganggap lelaki muda itu adalah saingan berat. Ia masih saja tak rela Sabia menikah di usia semuda ini. Harusnya Sabia melanjutkan kuliah, harusnya ia tak mengizinkan putrinya itu cuti setahun setelah lulus dari SMA.


Karena masih rindu dengan Sabia dan ingin mengenal Kaisar lebih dalam, Pak Darma tak mengizinkan putrinya pulang. Ia akan menguji kesabaran dan perasaan Kaisar pada Sabia. Dan besok, akan menjadi hari besar bagi Pak Darma untuk melatih mental menantu barunya.


..


..


Di dalam kamar bercat dinding pink, ranjang berukuran 160 cm dengan headbed berbentuk mahkota, meja rias ala-ala princess kerajaan, Kaisar tak sekalipun bisa memejamkan mata.


Sejak satu jam yang lalu, Sabia telah terlelap dalam tidurnya. Seperti biasa, gadis itu sangat mudah sekali tidur dalam kondisi genting sekalipun.


Kaisar terjebak, lebih tepatnya dijebak! Bila bukan karena takut dipenjara, sudah pasti egonya sebagai lelaki dewasa yang sudah matang akan menolak dengan tegas untuk menikah dengan gadis ingusan macam Sabia. Bayangkan saja, Kaisar yang maskulin dengan tubuh sixpack, jambang tipis disepanjang rahang dan suara bariton khas pria sejati harus tidur di kamar yang lebih cocok ditinggali oleh anak usia enam tahun! Sama sekali tidak keren dan bergengsi, menohok harga dirinya sebagai lelaki sejati.


Dengan dengus napas kesal, Kaisar berbalik dan sontak posisi tidurnya berhadapan dengan Sabia. Wajah yang selama sebulanan ini menghiasi hari-harinya itu terpejam dengan nafas teratur.  Kaisar bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah Sabia tak pernah takut saat tidur bersama lawan jenis seperti ini? Sabia sangat lempeng untuk ukuran gadis seusianya. Seingat Kaisar, saat dirinya seusia Bia, dia sudah tahu apa itu nikmat dunia meski harus melakukannya dengan bantuan sabun. Patricia adalah perempuan pertama yang mendapatkan keperjakaannya, mengajarinya hal-hal nakal hingga membuatnya ketagihan. Sayangnya saat itu, Kaisar bukanlah lelaki pertama untuk gadis secantik Patricia. Sambil menatap wajah Sabia yang mungil, perlahan mata Kaisar pun mulai terasa berat.


..

__ADS_1


..


Patricia menggenggam junior dengan lihai, Kaisar yang sudah diambang batas kenikmatannya hanya bisa melenguhh lirih.


"Oh, Pat ..."


Genggaman itu kian erat, bergerak naik turun dengan konstan. Kaisar sangat menyukainya, bagian favorit setiap kali melakukannya bersama Patricia. Semakin erat, semakin membuat Kaisar kesulitan menarik napas.


"Apa ini?"


Deg.


Kaisar sontak membuka mata dan mendapati pemandangan mengejutkan. Sabia tengah memegang juniornya yang berdiri tegak di bawah sana. Tidak!


"Bia apa yang kamu lakukan?!" sentak Kaisar syok.


"Aku mencari tongkatku. Apa kamu memindahkannya? Semalam aku meletakkannya di sebelahku."


"Terus ini apa?" Sabia kembali mencengkram junior dengan penasaran.


"Lepaskan tanganmu dari situ, Bia!"


Sabia mengernyit heran. "Memangnya kenapa?" Bia semakin mengeratkan genggamannya hingga tubuh Kaisar meremang.


"Kamu ini sok bodoh atau memang bodoh sih?"


"Memangnya mencari tongkat harus ikut ujian kompetensi dulu?!"


Kaisar berdecak, nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul dan Sabia sudah membangkitkan birahinya. "Lepaskan sekarang. Aku akan mencarikan tongkatmu!"


Bia reflek melepas genggamannya pada benda hangat, tegang dan panjang itu. Apakah Kaisar membawa benda aneh saat tidur? Benda apa itu barusan?? Mengapa Sabia baru tahu ada benda seaneh itu di dunia ini.

__ADS_1


Begitu bisa menguasai diri, Kaisar bangkit dari ranjang untuk mencari tongkat Sabia. Berkali-kali Kai merutuk dirinya sendiri karena telah ceroboh membiarkan juniornya disentuh sembarangan oleh Sabia.


"Nih!" Kaisar meraih tangan Bia dan memberikan tongkat gadis itu di genggamannya.


"Terima kasih, Kai," ucap Sabia lembut.


Perlahan Sabia pun turun dari atas ranjang dan berdiri. Dalam keadaan buta pun ia sudah hapal pada setiap sudut kamarnya, jadi dengan mudah ia bisa menemukan pintu dan keluar.


Kaisar menghembuskan napasnya lega. Ia menunduk dan mengawasi juniornya yang mengkerut dan sudah kembali ke posisi semula.


"Dasar kemalluann tak tahu malu!"


..


..


..


"Hari minggu begini, biasanya kalian ngapain?" tanya Bu Darma saat mereka berempat sedang sarapan bersama.


Kaisar menelan makanannya dengan keki. Ia melirik Sabia yang tak bergeming. "Biasanya kami jalan-jalan sih, Tante. Tergantung Bia pengennya ngapain kalo hari libur."


"Jangan panggil Tante dan Om! Kamu sudah jadi anak kami, Kaisar. Harusnya kamu manggil Mama dan Ayah!" keluh Bu Darma menasehati.


Kaisar tersenyum dan mengangguk. "Baik, Ma."


"Nah, gitu dong!" Bu Darma mengacungkan jempolnya dengan sumringah.


Sabia yang mendengar kebohongan Kaisar hanya bisa tersenyum dalam hati. Jalan-jalan katanya? Yang ada malah Hari yang selalu sibuk mengantarkan dan mengurusi Sabia.


"Kai, sebentar lagi bantuin Mama nguleni roti, ya?"

__ADS_1


"Hah!?"


__ADS_2