GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Hangover


__ADS_3

Sunyi, hangat, sesak, aroma kayu bercampur dengan citrus, musk dan mint sangat menusuk indra penciuman Sabia. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna situasi yang saat ini sedang terjadi. Bia merasakan sesuatu yang besar dan berat melingkar di perutnya, pun begitu hembusan napas hangat yang menyapu diseluruh wajahnya membuat Sabia sontak tersadar, ia sedang tidur sambil berpelukan dengan Kaisar!!


Untuk beberapa saat, tubuh Sabia membeku di dalam kungkungan tubuh kekar Kaisar. Tunggu dulu, bagaimana bisa ia tidur dalam posisi seperti ini? Pasti telah terjadi sesuatu! Ya, pasti Kaisar menyentuhnya lagi!


Bia meraba pakaian dan underwearrnya, masih utuh tak tersingkap. Ia beralih meraba bagian bawah tubuhnya, tak terasa nyeri ataupun sakit  seperti awal Kaisar menyentuhnya dulu. Tapi, bagaimana bisa mereka tidur dengan pose seperti ini??


Sambil merasakan hangatnya pelukan Kaisar, Bia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam sebelum mereka berakhir seperti ini. Ia dirias oleh Mbak Jeje, berangkat ke acara ulang tahun Papa Syailendra bersama Kaisar.


"She's my wife!"


Bia tersipu, suara Kaisar saat memperkenalkannya pada setiap orang yang menyapa mereka kembali mendengung di telinga. Lalu setelah itu acara dimulai, Papa Syailendra mengucapkan kata sambutan yang mengharukan, Bia meneguk Es Strawberry yang sangat segar dan ... ia tak ingat apa-apa lagi. Ingatannya terhenti di minuman rasa Strawberry bersoda itu.


Saat sedang berusaha mengingat sambil menggigit bibirnya, sekelebat rasa mual membuat Sabia spontan menutup mulutnya.


"Hoek." Bia beringsut duduk dengan gesit. Ia menggeser tangan Kaisar dan lekas turun dari ranjang.


Perutnya seperti diaduk-aduk, melilit dan bergejolak. Bia berjalan ke kamar mandi sambil meraba dinding, keringat dingin mulai membasahi kening dan telapak tangannya.


"Hoek!"


Bia tak kuasa menahan rasa mual yang memaksanya untuk mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. Setiba di kamar mandi, ia membungkuk di closet dengan cepat.


"Uhuk, hoekkk!" Dengan mata menahan perih, Bia memuntahkan apapun yang telah ia lahap semalam.


Mendengar suara berisik yang tak lumrah, Kaisar membuka mata dengan sangat terpaksa. Saat menyadari Sabia tak ada di ranjang, ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.


"Hoeekkk!!"


"Bia."


Kaisar beringsut bangkit dan meloncat turun dari ranjang. Ia berlari melesat menyusul Sabia yang duduk lemah di depan closet yang terbuka. Aroma tak sedap yang paling Kaisar benci entah mengapa tak membuatnya jijik dan berpaling, ia justru meringsek masuk ke dalam dan memijat leher Sabia dengan lembut.


"Tidak apa, Bia. Keluarkan semua biar perutmu lega," saran Kaisar sambil menekan flush closet.


Tadinya Sabia hendak menepis tangan Kaisar namun gejolak diperutnya entah mengapa semakin menjadi-jadi dan malah membuatnya bersyukur karena ada Kaisar yang membantunya membersihkan muntahannya yang pasti berceceran di lantai. Bia bergidik karena jijik, biasanya Mamanya lah yang merawat Bia ketika masuk angin dan muntah-muntah seperti ini.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Kaisar lembut saat Bia hanya diam mematung.


Bia menggeleng, sesuatu di dalam perutnya masih ingin meringsek keluar, ia sedang menikmati sensasi mual dan melilit yang tak lama kemudian berubah menjadi hentakan keras dari dalam perut.


"Hoek!" Bia kembali menunduk di closet.


.


.


Setengah jam berikutnya, Kaisar baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian saat Bik Yati mengetuk pintu kamar mereka. Bia masih tiduran di kasur, ia masih trauma untuk banyak bergerak.


"Masuk!" perintah Kaisar lantang.


Bik Yati menekan handle pintu ke bawah dan melongok ke dalam kamar. "Permisi, Tuan. Ini teh anget yang Tuan minta."


Kaisar melirik Sabia di ranjang, gadis itu lagi-lagi berakting dan pura-pura tertidur.


"Ya sudah, taruh saja di meja nakas itu, Bik!"


"Saya permisi dulu, Tuan," pamit Bik Yati sembari berbalik.


"Hm." Kaisar menyahut singkat sambil mengencangkan tali dasinya yang melingkar di leher.


Suasana kembali hening. Kaisar meraih jam tangan mahalnya dan memasangnya di pergelangan tangan. Masih jam 6 pagi, masih ada waktu untuk merawat si pemabuk kecil itu sebentar.


"Bangunlah!" perintah Kaisar sembari mendekat ke ranjang. "Aktingmu tidak mempan padaku, Bia!"


Sontak Bia membuka mata, bibir mungilnya mengerucut karena kesal gara-gara ketahuan.


Kaisar meraih gelas berisi teh yang masih mengepulkan asap itu lantas duduk di sisi ranjang Sabia.


"Nih, minum. Biar perutmu hangat. Teh mint ini juga bisa meredakan hangover."


Tak perlu menunggu lama, Sabia beranjak duduk dan bersandar pada headboard ranjang. Ia memegang gelas yang Kaisar sodorkan di tangannya dan meneguknya sedikit demi sedikit. Sensasi hangat dan segar di tenggorokan yang kemudian menjalar ke perut membuat Bia merasa lebih baik.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Bia datar.


Ia tak terbiasa berkomunikasi selayaknya teman dengan Kaisar, mereka lebih banyak bertengkar daripada akur.


"Sama-sama. Apa perutmu masih mual?"


Bia menggeleng cepat. Perutnya memang sudah membaik setelah ia mengeluarkan semua isi di dalamnya.


"Apa semalam aku merepotkanmu?" tanya Bia sungkan.


Kaisar tersenyum singkat. "Sedikit. Kalo boleh jujur aku suka kalo kamu sedang mabuk seperti semalam, kamu lebih manis dan penurut."


"Cih! Pasti kamu memanfaatkan keadaan!"


"Tidak. Kamu sendiri yang menawarkan diri."


"Aku!??" Sabia melotot tak percaya. Bagaimana bisa!?!!


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang pasti semalam aku sudah menjagamu dengan baik, padahal harusnya aku tak boleh merelakan kesempatan emas itu berlalu begitu saja!


"Cih! Coba aja kalo kamu berani menyentuhku lagi, aku akan--"


"Bunuh diri!" sela Kaisar cepat. "Jangan khawatir, Bia. Aku lebih takut melihatmu mati daripada menyentuhmu lagi. Aku masih bisa mengontrol juniorku dengan baik selama ancamanmu tidak berubah."


Sabia terdiam, mendengar ucapan manis Kaisar entah mengapa membuat tubuhnya seperti dialiri sengatan listrik. Apakah ia benar-benar serius dengan ucapannya? Namun detik berikutnya Sabia tersadar, Kaisar masih memiliki Patricia.


"Tentu saja! Kamu bisa melampiaskannya pada kekasihmu itu kapan saja. Jadi jangan pernah menyentuhku lagi!"


Dengan napas terhembus lelah, Kaisar mengepalkan tangannya untuk menahan emosi mendengar umpatan Sabia.


"Baiklah. Bila memang itu yang kamu inginkan, Bia."


*******************


Jan lupa jempolnya, Bestie!

__ADS_1


__ADS_2