
Pameran Karya Disabilitas persembahan MataHari Foundation.
Kaisar membaca banner di pintu masuk menuju gedung dengan bangga. Sabianya, gadis kecilnya yang menyebalkan, cerewet dan suka membantah akhirnya bisa menjadi wanita sukses. Meskipun ini adalah pameran perdana, namun melihat banyaknya karangan bunga ucapan selamat yang memenuhi pintu masuk membuat Kaisar ikut berbangga karena pernah berada di kehidupan Sabia.
Dengan langkah pasti, Kaisar masuk ke dalam gedung yang telah di setting sedemikian rupa. Jejeran lukisan-lukisan indah memenuhi lorong di kanan kiri. Kaisar terperangah kagum, disetiap lukisan itu diberi keterangan judul dan nama pembuat serta keterbatasan yang mereka alami. Betapa setiap manusia tercipta dengan kelebihannya masing-masing, Tuhan begitu adil.
Usai melewati lorong berisi lukisan-lukisan, Kaisar tiba di sebuah aula kecil yang memamerkan banyak hasil karya cinderamata berupa tas, anyaman dan benda-benda lainnya. Beberapa di antara hasil karya itu boleh dibeli oleh pengunjung bila mereka berkenan. Hasilnya nanti akan di berikan kepada si empunya karya sehingga mereka bisa lebih bersemangat lagi untuk menghasilkan karya-karya yang lebih bagus dan memperbaiki taraf hidupnya.
Kaisar beralih ke aula sebelah kanan, di sana terkumpul banyak hasil karya berupa patung. Seketika Kaisar teringat pada Sabia, sepertinya beberapa karya istrinya itu dipamerkan di tempat ini. Sambil memeriksa keterangan nama pemahat, Kaisar mengedarkan pandangannya dengan waspada. Ia tak ingin dikenali oleh siapapun. Meskipun telah mengganti gaya rambut dan gaya busana, Kaisar masih ragu dan khawatir seseorang bisa saja tiba-tiba datang dan menyapanya.
Tak ada patung buatan Sabia di aula itu, akhirnya Kaisar masuk ke dalam lorong menuju aula utama. Pandangannya yang memindai setiap sudut tiba-tiba terhenti di tengah ruangan. Ada sebuah patung dengan penutup kaca yang membuat seluruh tubuhnya memaku tak percaya. Dengan langkah berat, Kaisar menghampiri patung itu dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
In memory of our beloved brother.
Hariyandi.
Dengan sangat sempurna, Sabia memahat wajah Hari hingga sangat menyerupai aslinya. Terakhir kali Kaisar melihat patung itu, masih ada banyak cacat di sana-sini. Dan sekarang, berdiri di depan pilar kecil dengan kotak kaca berisi patung wajah Hari, Kaisar seolah sedang benar-benar bertatapan dengan mendiang adiknya itu. Kaisar melepas masker yang ia kenakan, mendadak napasnya sesak.
"Hai, Hari!" sapa Kaisar pilu setelah cukup lama berdiri di depannya. "Akhirnya kita bertemu lagi!"
Setetes air mata jatuh namun dengan cepat Kaisar menyekanya. Ia tak ingin orang lain curiga.
Kaisar menoleh kaget. Seorang perempuan dengan kamera menggantung di leher tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Akan tetapi, ada yang sedikit berbeda dengan fisik perempuan itu. Tangannya cacat dengan jemari yang tak lengkap.
__ADS_1
"Tidak boleh. Permisi!" Kaisar berlalu pergi dengan sinis sembari memasang kembali masker wajahnya.
Meski tadi sempat iba, namun Kaisar tak suka di dokumentasikan oleh siapapun!! Tidak boleh ada yang tahu tentang dirinya.
Dengan langkah lebar, Kaisar segera berbelok menuju lorong tempatnya masuk tadi. Karena pandangannya masih mengabur akibat menangis dan suasana lorong yang temaram, Kaisar tak melihat bila dari arah berlawanan seorang gadis yang sangat ia cintai justru berjalan cepat sambil membawa beberapa kotak roti yang ditumpuk menjulang hingga menutupi hidungnya. Bia pun tak melihat Kaisar karena pakaiannya yang serba hitam dan lampu lorong yang temaram.
Buk.
Brak.
Kaisar merasakan tubuhnya oleng saat tiba-tiba ditabrak oleh monster kotak kue hingga monster itu terjengkal dan kotak kuenya jatuh berceceran. Aroma strawberry yang menguar mendadak membuat tubuh Kaisar merinding. Sabia!! Tidak, tidak, jangan sekarang!!
__ADS_1
"Hey, kamu!"
************************