GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Pagi Terindah


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Kaisar duduk termenung sembari menatap wajah istri bocilnya yang masih terpejam. Tarikan dan hembusan napasnya yang teratur membuat Kaisar merasa rileks, wajah tanpa dosa itu telah membiusnya sejak pertama kali melihat Sabia. Beberapa kali ia menampik, berusaha menyangkal bila Patricia lebih segala-galanya, tapi nyatanya Sabia telah mencuri hatinya. Terlebih setelah kini ada makhluk mungil di dalam rahim gadis ini, makhluk super mini yang tercipta dari sebagian tubuhnya. Kaisar tersenyum lirih, beginikah rasanya jatuh cinta pada sesuatu yang belum nampak?


Dengan gerakan perlahan, Kaisar menyentuh perut Sabia yang masih rata. Ada benihnya di dalam sana, calon penerus Kaisar yang nantinya akan ia didik sebaik-baiknya.


"Selamat pagi, Jagoan!" lirih Kaisar berbisik. Ia meringsek turun dan mengelus perut kecil yang naik turun dengan teratur.


Merasa sesuatu yang hangat meraba perutnya, Sabia reflek membuka mata. Ia termenung untuk sesaat mencoba mengumpulkan sukmanya yang masih belum menyatu.


"Oh, kamu sudah bangun?" sapa Kaisar berbinar.


Bia mengucek matanya yang masih terasa perih, sentuhan Kaisar tadi membuat tidurnya jadi terganggu.


"Aku sedang menyapa putraku barusan, maaf kalo malah membangunkanmu," timpal Kaisar cuek sembari kembali mengelus perut Sabia.


"Jam berapa ini?" tanya Bia serak.


Kaisar menoleh ke jam dinding di atas meja kerja. "Jam 6 pagi. Tidurlah lagi, Bia. Aku masih mau mengobrol dengan anakku!"


Sabia merengut, enak saja Kaisar menyuruhnya tidur lagi setelah mengganggunya hingga terbangun!


"Aku laper, Kai. Bisa tolong ambilkan es krim?"


"Lapar itu makan nasi, Bia. Kenapa malah minta es krim?"


"Mana aku tahu, aku inginnya makan es krim! Aku nggak mau makan nasi!" rengek Bia kesal. Andai ia bisa memilih, tentu saja lebih enak makan nasi, sayangnya yang terlintas di otaknya saat ini hanyalah es krim strawberry!!


Kaisar menghela napasnya berat. "Baiklah. Aku ambilkan. Tapi sedikit saja, ya? Setelah itu kamu harus makan nasi!" perintahnya sembari turun dari ranjang.


Bia tak menyahut, ia juga heran mengapa jadi sangat terobsesi pada es krim. Dia memang doyan, tapi tak pernah semaniak ini!


.


.


Usai mengambilkan segelas es krim, Kaisar bergegas mandi. Ia sangat ingin menemani Sabia seharian ini, sayangnya pekerjaan di kantor tak bisa ditinggal.


Keluar dari kamar mandi, Kaisar memperhatikan Sabia yang masih memakan es krim itu sedikit demi sedikit, bahkan es krim itu sudah meleleh menjadi cairan kental berwarna pink.


"Kenapa belum habis?" tanya Kaisar terheran-heran.


"Aku sengaja makan sedikit demi sedikit biar nggak cepet habis!"


"Astaga, Bia. Es-nya sudah mencair jadi sirup."

__ADS_1


"Biarin! Yang penting aku bisa berlama-lama makan es ini." Sabia menyendok seujung es itu dan menjilatnya.


Kaisar hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan keanehan istri kecilnya itu. Apakah kehamilan memang membuat seorang wanita jadi berperilaku di luar nalar?


"Kamu tidak mau ikut sarapan? Cepatlah mandi. Aku tunggu di meja makan. Papa pasti senang mendengar kabar tentang kehamilanmu!"


"Nggak mau, ah. Aku malu! Kamu aja sana sarapan dan cepat berangkat."


"Kenapa harus malu? Kamu hamil sama aku bukan sama Hari!"


Bia tertegun. "Kenapa jadi membahas Hari?"


Kaisar mendengus. "Kalian kan selalu bersama. Ke mana-mana berdua."


"Lalu kamu pikir aku bisa dengan mudah tidur dengan Hari begitu?"


"Bukan begitu. Akh ..." Kaisar berdecak frustasi. "Ya sudah, cepatlah mandi."


..


Di meja makan, tatapan Syailendra pada Kaisar pagi ini terlihat lain dari biasanya. Sejak putranya keluar dari kamar hingga duduk di meja makan, tatapan itu tak sekalipun lepas.


"Kenapa Papa lihatin aku kaya begitu?" tanya Kaisar keki. Ia menyesap kopinya sedikit.


Kaisar mengernyit, ia menoleh pada Bik Yati yang berdiri di belakang Papanya. Bik Yati sontak menunduk ketakutan melihat Tuan Mudanya menatap tajam pada dirinya.


"Papa sudah mendengar tentang kehebohan kemarin di rumah ini. Selamat Kai, akhirnya kamu benar-benar mewujudkan impian Papa untuk segera menimang cucu! Hahaha ...." tawa Syailendra menggelegar dengan bahagia.


Mau tak mau, Kaisar ikut tertawa. Padahal ia hendak memberi surprise pada Papanya. Tapi mulut comel Bik Yati ternyata lebih dulu mengungkapkan rahasia besar itu.


"Apa Papa senang sekarang?"


"Tentu saja! Papa sangat senang dan bahagia! Mamamu pasti juga tambah semangat untuk sembuh bila mendengar kabar bahagia ini." Syailendra menerawang sendu bila mengingat istrinya.


"Benar. Kabarilah Mama, Pa."


"Apa kamu sudah mengabari mertuamu?"


Kaisar menggeleng cepat. "Belum, Pa. Rencana nanti malam aku mau mengajak Sabia ke rumah orang tuanya sekalian menginap di sana mumpung weekend!"


Syailendra mengangguk setuju. "Bagus. Cepatlah selesaikan pekerjaanmu nanti. Pulanglah lebih awal agar Sabia bisa segera bertemu orang tuanya."


"Oke, Pa. Jangan khawatir!"

__ADS_1


Ponsel di saku Kaisar berdenting dua kali pertanda ada pesan masuk. Ia melirik ponsel yang ia geletakkan di samping gelas kopinya. Sebuah pesan dari Patricia.


[Jangan lupa dengan janjimu. Aku menunggumu malam ini, Darling! Aku sudah menyiapkan makan malam spesial dan aromatherapi kesukaanmu di bathtub. It's gonna be a wild night!]


Deg.


Kaisar menelan salivanya panik. Ia lupa bila sudah berjanji akan ke apartemen Pat malam ini. Ah, bagaimana ini?!


"Selamat pagi, Bia!"


Kaisar tersentak, ia membalik layar ponselnya dan menoleh ke arah pandangan Papanya. Sabia berjalan pelan menuju meja makan.


'Cepat sekali gadis ini mandi?' lirih Kaisar terheran-heran.


"Selamat pagi, Pa," balas Sabia setelah duduk di samping Kaisar.


"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Papa sudah mendengar dari Bik Yati bila kamu hamil. Semoga bayi Kaisar tidak membuatmu kerepotan, ya!" seloroh Syailendra.


Bia tersenyum lirih. Ia merasakan gelagat Kaisar yang nampak gelisah di sebelahnya. Melihat anak dan menantunya seolah salting, Syailendra menatap keduanya dengan kebingungan.


"Ada apa, Kai? Kenapa wajahmu tiba-tiba jadi pucat begitu?" tanya Syailendra heran.


Kaisar menggeleng gugup, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya dengan cepat. "Tidak apa, Pa."


"Jadi nanti kalian akan berangkat jam berapa?"


Bia mengernyit. "Berangkat ke mana, Pa?"


"Loh, tadi Kaisar bilang dia akan mengajakmu menginap di rumah keluargamu. Memangnya kamu belum tahu?"


Bia menggeleng cepat. Ia memang tidak tahu tentang ide ini. "Benarkah, Kai? Kita akan menginap di rumahku?" tanya Sabia berbinar.


Di tengah kebimbangannya, Kaisar hanya bisa mengangguk ragu. "Iya, nanti setelah aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku."


"Nanti pulanglah dulu, biar Diki yang menyelesaikan pekerjaanmu," usul Syailendra lugas.


"Iya, Pa." Kaisar mengangguk, ia melirik Sabia yang senyum-senyum sendiri.


"Jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk orang tuamu, Bia!"


"Iya, Pa," sahut Sabia dengan senyuman yang masih tersungging manis di bibirnya.


Kaisar jadi tak tega melihat ekspresi bahagia itu, tapi ia juga sudah terlanjur berjanji pada Pat untuk menemuinya malam ini. Kaisar jadi bimbang, tidak mungkin membiarkan Sabia pergi duluan ke rumah keluarga Darma, tapi juga tidak mungkin untuk mengingkari janjinya pada Patricia, ancaman Pat tidak main-main, bisa-bisa masa depan Kaisar hancur bila ia tak menepati janjinya pada wanita itu. Lagipula ada hal penting yang harus Kaisar katakan pada Patricia, ia akan mengakhiri hubungan mereka berdua malam ini. Tekad Kai sudah bulat untuk memilih Sabia, terlebih setelah kini gadis itu mengandung benihnya, Kaisar tidak akan membuang waktu lagi.

__ADS_1


***********************


__ADS_2