GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Tiba waktu makan malam, lagi-lagi Sabia tak bertemu dengan Mira di meja makan. Kecurigaannya semakin menjadi-jadi, pasti telah terjadi sesuatu pada Mama mertuanya itu yang membuatnya tak bisa ikut bergabung.


Hari memperhatikan kakak iparnya yang kali ini nampak suntuk. Bia menyantap makan malam dengan tak berselera, sangat jelas sekali terlihat dari suapannya yang lemah tak bertenaga.


Kaisar yang menyadari bila Hari sedang memperhatikan istrinya sejak tadi hanya bisa menatap adiknya itu dengan tajam. Ia mulai bertanya-tanya sejauh apa hubungan mereka selama ini? Apa saja yang sudah Kaisar lewatkan?


"Kamu sudah membaca koran pagi ini?" tanya Syailendra memecah hening.


Sontak Kaisar dan Hari menoleh bersamaan ke arah Papanya. Seketika Kaisar teringat pada koran yang Patricia lemparkan tadi.


"Sudah, Pa," sahut Kai lirih, ia masih mengawasi gerak-gerik Hari.


"Yang ulang tahun Papa, tapi kenapa malah fotomu dan Bia yang jadi halaman utamanya, hahaha ..."


Bia terbelalak, benarkah? Dia masuk koran nasional??


"Sepertinya Kak Kai berbakat menjadi artis, Pa," kelakar Hari cuek.


"Apa kalian serius? Fotoku dan Kaisar ada di koran?" potong Sabia penasaran, ia masih tak percaya pada pendengarannya.


"Serius, Bia. Fotomu dan Kaisar terlihat serasi sekali. Ah, sayang kalian tidak punya foto pengantin, ya! Atau mungkin Papa akan meminta Diki untuk meminta file foto itu pada redaksi koran yang memuat wajah kalian agar kalian punya foto bersama yang bagus?"


"Tidak perlu, Pa. Nanti kami akan foto sendiri kapan-kapan!" tolak Kaisar.


"Hmm, baiklah. Nanti foto kalian akan Papa pajang di ruang tamu dan Papa cetak sebesar-besarnya!"


Kaisar melirik Bia yang sedang senyum-senyum sendiri, entah apa yang gadis itu bayangkan.

__ADS_1


"Kabari saja kapan kalian akan foto, Papa akan datangkan fotografer terbaik!" janji Syailendra lugas.


Bia kembali tersenyum lirih, entah seperti apa fotonya di malam itu dengan Kaisar. Pasti wajahnya terlihat culun bersanding dengan orang tua macam Kai.


.


Di kamar.


Sudah sejak satu jam yang lalu Sabia tergeletak di samping Kaisar. Bia tak bisa memejamkan mata, rasa penasarannya akan keadaan Mira membuat kantuknya lenyap.


"Kai," panggil Bia lirih sembari berbalik dan memposisikan tubuhnya menghadap Kaisar.


"Hm."


"Apa kamu belum tidur?"


Kaisar membuka matanya dan melirik Sabia yang sedang mengawasinya dengan tatapan kosong. Mata indah itu, seperti apa rasanya ditatap langsung oleh sepasang mata berbulu lentik itu?


Bibir Sabia mengerucut mendengarnya. "Aku nggak bisa tidur. Aku kepikiran Mama Mira. Apa dia baik-baik saja?"


Bukannya menjawab, Kaisar malah tertegun. Ia tahu cepat atau lambat Sabia pasti akan menanyakan soal Mira. Dan mungkin inilah saatnya ia tahu yang sebenarnya.


"Semua orang di rumah ini seperti merahasiakan sesuatu. Aku nggak tahu harus tanya sama siapa. Cuma kamu yang bisa aku interogasi sekarang!" sungut Bia jengkel.


"Apa yang ingin kamu tahu?" Kaisar berbalik dan mereka saling berhadapan.


"Apa Mama Mira sedang sakit? Aku merasa dia sedang tak sehat, terakhir kali aku meraba wajahnya sebulan yang lalu saat membuat patung wajahnya, dia sangat kurus dan cekung. Lantas sewaktu di acara ulang tahun Papa tempo hari, Papa mendoakan--"

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Mama Mira memang sedang sakit!" sela Kaisar tak sabar. Mendengar Bia mengoceh di saat ia sedang mengantuk malah membuat kepalanya pusing.


Bola mata indah itu membulat sempurna, Bia menutup mulutnya dengan tangan karena secara reflek tadi ia menganga kaget.


"Sakit apa?" tanyanya setelah bisa menguasai diri.


Kaisar menghela napas panjang. "Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, Bia. Yang hanya perlu kamu tahu, Mama Mira memang sedang sakit. Dia butuh support dari kita semua. Hiburlah dia bila kalian bertemu besok, semangati dia agar mau sembuh demi kita semua."


Air mata Sabia menetes, entah mengapa hatinya terasa sakit sekali. Ia memang baru mengenal Mira, tapi kedekatan mereka seperti telah terjalin selama bertahun-tahun.


Melihat Sabia menangis, mau tak mau Kaisar akhirnya menyeka air mata itu dengan lembut. Ia tak suka melihat wanita menangis, hatinya selalu ikut sakit.


"Apa Mama Mira akan meninggal?" tanya Bia lirih di antara isak tangisnya.


"Semoga saja tidak. Aku bukan dokter, Bia. Aku tidak bisa menjanjikan apapun."


"Tapi Mama Mira nggak boleh meninggal sebelum aku bisa melihat, Kai! Aku bahkan belum pernah melihatnya tersenyum dengan mata kepalaku sendiri, kenapa sekarang kami malah harus berpisah?!"


Kaisar menggeser tubuhnya mendekat ke tempat Sabia dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap-usap puncak kepalanya agar setidaknya kesedihan yang dirasakan oleh istri kecilnya itu bisa berkurang sedikit.


Mendapatkan perlakuan hangat dari Kaisar, mau tak mau membuat air mata Sabia semakin deras menetes. Ia memukul dada bidang Kaisar dengan kesal, rasanya pasti akan sangat menyakitkan bila ia sampai kehilangan Mama Mira sebelum matanya bisa melihat kembali.


'Kadang aku menyesal, Bia. Kenapa harus menabrakmu malam itu. Andai saja aku bisa memutar waktu ...' lirih Kaisar dalam hati sembari tetap memeluk Sabia dengan erat.


Kali ini Kaisar membiarkan piyamanya basah oleh tetesan air mata Sabia, tangisannya yang terdengar pilu membuat jantung Kaisar ikut teriris-iris.


"Tidurlah, Bia."

__ADS_1



*************************


__ADS_2