
Setelah seharian menyepi di penthouse, akhirnya Kaisar membawa Sabia pulang ke rumah Mahaputra. Selama di perjalanan, Bia tak sekalipun membuka mulut. Ia tak membiarkan Kaisar menyentuh kulitnya sedikitpun.
"Apakah kamu akan mengacuhkanku selamanya?" tanya Kaisar penasaran sambil melirik Sabia dari spion tengah.
Bia tak menyahut, meski ia tak bisa melihat apapun namun pandangannya mengarah ke luar jendela. Hanya bias cahaya senja yang tertangkap oleh matanya.
"Bia."
"Sepertinya apa yang aku katakan padamu sudah jelas, Kai. Kamu nggak perlu lagi sok baik padaku setelah kejadian semalam. Aku anggap tak terjadi apapun di antara kita berdua."
"Apa?" Kaisar terbelalak tak percaya. Bagaimana mungkin justru pihak perempuan yang mengatakan hal seperti ini? Menggelikan!
"Aku anggap kejadian semalam adalah balas budiku atas perbuatan baik keluargamu padaku selama ini." Suara Bia terdengar datar tanpa emosi.
Kaisar menghembuskan napasnya berat, jadi kejadian semalam adalah semacam transaksi?
"Baiklah. Terserah kamu saja!" putusnya kemudian.
Mobil melaju dengan kecepatan stagnan. Setelah seharian berpikir, Kaisar memutuskan tidak akan melepaskan Sabia begitu saja. Meskipun ia masih mencintai Pat, namun Kai tak ingin kehilangan Bia.
Tiba di kediaman Mahaputra. Kaisar menghentikan mobilnya di teras.
"Bik, bantu Bia turun!" perintah Kaisar begitu masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Bik Yati. Ia sedang tidak mood untuk berbaik hati pada Sabia lagi.
Seolah mendapat mandat yang tak boleh di tolak, Bik Yati sontak lari ke depan dan membantu Nonanya turun dari mobil sedan hitam Kaisar.
"Non Bia sudah makan?" tanya Bik Yati khawatir begitu melihat wajah Sabia pucat.
Bia menggeleng lemah. Ia memang tak menyantap apapun seharian ini. Perutnya keroncongan, beberapa kali Kaisar menyuruhnya makan namun Bia menolak.
Bik Yati memerhatikan pakaian yang menempel di tubuh Sabia. Sebuah kemeja putih yang kedodoran dan dilipat di bagian lengan. Baju siapa ini?
"Non Bia mau mandi dulu? Biar Bibik siapkan air panas di bak, setelah itu baru makan, ya?"
Bia mengangguk pasrah. Ia sedang tak bersemangat untuk merespon dengan ucapan. Bik Yati membawa Sabia masuk ke dalam kamar dan menuntunnya ke ranjang.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Bibik siapkan air panasnya dulu!"
..
..
Sepotong demi sepotong ingatan melintas di kepala Sabia. Suara desah napas Kaisar, jeritan kesakitan darinya, sentuhan hangat yang menyentuh setiap bagian tubuhnya, lumatann ciuman yang panas, dan sesuatu yang menekan di bagian bawah tubuhnya.
"Hiks ..." tangis Sabia pecah.
Di kamar mandi, sambil berendam air hangat yang berbusa aroma Strawberry dan Vanilla, Sabia kembali menumpahkan air matanya seorang diri. Ia tak lagi perawan, ia tak lagi suci. Kaisar sudah merenggut hal yang paling ia jaga setelah ia paham apa itu sekss. Dan yang lebih menyakitkan adalah Sabia bukanlah wanita pertama yang dijamah oleh Kaisar. Ia mungkin wanita kesekian yang pernah ditiduri olehnya.
"Hiks ... aku benci sama kamu, Kaisar!" rintih Sabia pilu.
Bahkan setelah membuat Sabia buta, mengacuhkannya, menduakannya, menghancurkan semua impiannya, kini Kaisar juga merenggut kehormatannya. Si penghancur paling dahsyat itu adalah suaminya, laki-laki yang awalnya sangat ia puja bak dewa. Andai bisa memutar kembali waktu, andai Bia tak keburu setuju untuk berdamai dan menikah dengan si demon itu.
Sementara Bia terpuruk di kamar mandi, Kaisar justru menghabiskan waktunya di balkon ruang kerja karena frustasi. Entah sudah berapa batang rokok ia hisap dalam waktu satu jam, putungnya berserakan di bawah kakinya.
Penyesalannya datang silih berganti, banyak kata 'seandainya' yang saat ini memenuhi otaknya. Seandainya malam itu ia tak mabuk, seandainya tak mengebut, seandainya tak melukai Sabia, seandainya ...
Kaisar sendiri tak paham akan perasaannya yang mulai peduli pada si bocil pengganggu itu. Ia ingin menampik rasa yang mulai mengakar secara perlahan di dalam hati.
Setelah bertahun menjalani hubungan dengan Patricia, baru kali ini Kaisar meneteskan air mata untuk wanita. Dan yang lebih menggelikan adalah ia menangis karena Sabia!!
Levelnya benar-benar sudah turun derajat.
"Tuan!! Tuan Kaisar!! Tuan!!"
Teriakan Bik Yati sontak membuat Kaisar berlari keluar dari ruang kerjanya di lantai dua.
"Ada apa, Bik?" cecar Kaisar seraya menuruni tangga secepat kilat bak roket.
"Non Bia, Tuan! Non Bia!"
Jantung Kai terasa berhenti berdetak, napasnya tertahan.
__ADS_1
"Kenapa Bia?!"
"Tadi Non Bia mandi, terus pintu kamar mandi dikunci dari dalem, Bibik ketok bolak-balik nggak dibuka! Sudah daritadi Bibik ketokin."
Kaisar meringsek masuk ke dalam kamarnya dan berlari melesat ke kamar mandi. Ia menekan handle pintu yang memang terkunci dari dalam.
Dok dok dok.
"Bia, buka pintunya!!" perintah Kaisar panik sambil menggedor pintu beberapa kali.
Tak terdengar suara apapun, Kaisar menghembuskan napasnya gusar. Mira yang mendengar teriakan histeris Bik Yati ikut masuk ke dalam kamar Sabia dan Kaisar dengan bingung.
"Bia, buka! Atau aku dobrak pintunya sekarang!" teriak Kaisar marah. Bila ini hanya permainan Sabia, sungguh tidak lucu!
"Bia!" Kaisar mengetuk pintu itu dengan kalap.
Ia pun mundur dan mulai bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi itu. Dengan hitungan mundur, Kaisar pun mendorong pintu menggunakan bahunya.
Brug.
Tak berhasil. Kaisar kembali mundur dan mengumpulkan tenaganya yang tersisa, pikirannya tiba-tiba tertuju pada ancaman Sabia.
'Tidak, tidak, jangan nekat Bia!' Kaisar membatin dalam hati.
Di tengah kepanikan, Kaisar berlari dan mendorong pintu yang terkunci itu dengan sekuat tenaga hingga tulang belulang di bahunya terasa remuk redam karena sakit.
Bruak.
Pintu berhasil terbuka. Tubuh Kaisar terhempas masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengamati sekeliling dan tatapannya berakhir di bathtub. Dua matanya terbelalak syok saat melihat kepala Sabia terbenam di dalam bak penuh air dan busa itu.
"Bia!!!" jerit Kaisar histeris.
*******************
Terima kasih Bestie yang masih setia membaca, lope you banyak banyakkkk ❤️
__ADS_1