GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Beginikah Rasanya Takut Kehilangan?


__ADS_3

Beberapa jam setelah peristiwa menegangkan di kamar mandi itu, Kaisar kini menatap tubuh lemah Sabia yang terpejam rapat di ruang ICU Rumah Sakit.


Sabia benar-benar membuktikan ancamannya, dia tidak main-main dengan janjinya. Telat beberapa menit saja, mungkin ia tak akan lagi tertolong.


Sore tadi, sambil menangis seperti orang gila, Kaisar membawa tubuh telanjang dan dingin Sabia berlarian di lobi Rumah Sakit. Ia hanya sempat membungkus tubuh mungil yang dipenuhi tanda kepemilikan itu dengan selimut tebal, dan tak memikirkan apapun lagi saking paniknya. Kaisar menunduk memperhatikan kakinya yang tak mengenakan alas, seperti inikah rasanya takut kehilangan? Lebih menyakitkan daripada sekedar mengucapkan kata putus pada Patricia.


Brak.


Kaisar tersentak. Ia menoleh cepat ke arah pintu. Pak Darma dan Bu Darma berlari menuju ranjang putrinya yang tergolek lemah.


"Bia ..." tangis Bu Darma seraya menggenggam erat tangan putrinya. Ia menoleh pada Kaisar.


"Apa yang terjadi, Kai? Kenapa Sabia sampai tenggelam di bak mandi?!" berondong Pak Darma syok.


Tiba-tiba dijemput oleh supir keluarga Mahaputra dan memintanya ikut ke Rumah Sakit karena Sabia tenggelam, orang tua mana yang tak kaget?!


Kaisar menunduk penuh sesal. "Maaf, Ayah. Saya tidak menjaga Bia dengan baik."


"Apa kalian berantem? Kenapa Bia sampai nekat begitu!" cecar Pak Darma tak puas.


"Ayah, sudahlah. Yang penting sekarang Sabia selamat! Jangan terlalu mencampuri urusan mereka berdua!" bela Bu Darma tak tega melihat Kaisar dicerca.


Pak Darma menggeram tertahan, ia menoleh ke ranjang dan memperhatikan wajah pucat putrinya yang terpejam dengan sebuah selang oksigen di hidungnya. Sekilas ingatan saat Sabia kecelakaan beberapa bulan yang lalu melintas. Dulu gara-gara Kaisar, dan sekarang pun karena ulahnya!


"Dokter bilang Bia mengalami Hipoksemia dan Hipotermia. Akan dilihat perkembangannya sampai besok!"


Plak.


Sebuah pukulan mendarat di pipi Kaisar.

__ADS_1


"Dasar anak bodoh! Ke mana saja kamu sampai membiarkan Bia tenggelam, huh!" Pak Darma melampiaskan emosinya mendengar pernyataan Kai dan memukulinya hingga membuat Kaisar meringkuk menahan pukulan demi pukulan yang menghujani seluruh tubuhnya.


"Ayah!" Bu Darma bergegas melerai keduanya dan menarik suaminya. "Jangan bikin ribut. Ini di ICU!"


Pak Darma menahan napasnya geram, ia menoleh pada istri dan putrinya lantas berbalik dan keluar dari ruangan steril itu. Bu Darma menghembuskan napas lega setelah melihat suaminya pergi, ia pun mendekat ke tempat duduk Kaisar.


"Maafkan Ayah ya, Kai. Dia sangat sayang sama Bia, hanya saja terkadang sikapnya keterlaluan." Bu Darma yang tadinya hendak mengelus bahu menantunya jadi urung melakukan itu karena Kaisar mundur ketakutan, tadinya Kai pikir Ibu Mertuanya juga akan memukulinya.


"Tidak apa-apa, Ma. Memang saya yang bersalah," sesalnya lirih.


Bu Darma kembali mencoba menepuk bahu Kaisar untuk memberinya kekuatan namun Kai meringis menahan sakit. "Kamu terluka?" tanyanya penasaran.


Kai menggeleng cepat. Ia pun berdiri untuk mengalihkan topik. "Saya titip Bia sebentar ya, Ma. Saya akan menemui Ayah dan meminta maaf."


Di luar ICU begitu membuka pintu, Kaisar terpaku untuk beberapa saat. Hari duduk di ruang tunggu bersama dengan Syailendra dan Mira. Mereka sontak berdiri dan mendekati Kaisar saat melihatnya.


"Bagaimana keadaan Bia?" cecar Mira tak sabar.


Hari melirik Mamanya untuk sesaat, tapi detik berikutnya ia kembali fokus pada Kaisar. "Apa Kak Bia sudah sadar?" tanyanya juga.


Kaisar menggeleng lemah. "Belum. Hanya sempat sadar saat dipasangi selang tadi."


Terdengar dessahan napas berat dari ketiganya, Kaisar mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari Pak Darma. Lantas tatapannya kembali beralih pada Mira yang nampak pucat dan lesu.


"Pulanglah, Ma. Keadaan Bia sudah stabil, besok dia sudah bisa dipindah ke ruangan rawat inap. Hari, bawalah Mama pulang!" Kaisar menatap tajam pada adiknya itu.


"Tapi Mama pengen nunggu Bia bangun."


"Kai benar, Mama harus istirahat. Besok kita kembali lagi kemari setelah Bia dipindah ke ruangan rawat inap. Yuk, Hari, kita pulang!" perintah Syailendra kemudian.

__ADS_1


Hari mendesah berat, sebenarnya ia masih ingin berada di sini menunggu hingga Bia bangun. Namun apa boleh buat, Kaisar lebih berhak untuk menjaganya.


"Kabari kami kalo Bia sudah bangun, Kai. Besok Mama akan kemari dengan Bik Yati!" Mira mengusap lengan Kai dengan lembut.


Kaisar mengangguk. "Iya, nanti aku kabari!"


Sepeninggal ketiganya, Kaisar beringsut duduk di kursi tunggu di depan pintu ICU. Ia memperhatikan kakinya yang telanjangg tak beralas. Seorang Kaisar Mahaputra yang berwibawa, dandy, angkuh dan highclass begitu tampak sangat mengenaskan malam ini.


Plek.


Sepasang sandal sederhana tiba-tiba jatuh tepat di kaki Kaisar. Ia mendongah cepat. Pak Darma sedang menatapnya tajam.


"Pakailah! Hanya itu yang Ayah punya," perintah Pak Darma seraya menunjuk sandal kulit yang warnanya sudah mulai usang.


Tatapan Kaisar beralih turun pada kaki Pak Darma yang kini tak mengenakan alas kaki.


"Tidak. Ayah lebih membutuhkannya."


"Kamu lebih butuh. Kamu akan menjaga Sabia sampai dia bangun. Bagaimana mungkin kamu akan telanjangg kaki seperti itu seharian sampai besok?!"


Napas Kai tertahan untuk sesaat, ia meraih sandal yang mungkin harganya tak lebih dari sandal jepit di rumahnya sendiri. Mungkin juga bahannya terbuat dari kulit KW. Namun sejak malam ini, sandal ini akan menjadi sandal favorit Kaisar melebih sandal termahal yang ia miliki di rumah.


"Terima kasih, Ayah!" lirih Kaisar terharu saat sandal itu begitu pas ia kenakan di kakinya.


Pak Darma mengangguk dan menepuk bahu Kaisar, membuat lelaki itu kembali meringis kesakitan.


"Maafkan sikap Ayah tadi di dalam. Ayah syok, Ayah merasa tak becus menjadi orang tua," sesal Pak Darma.


"Jangan bilang begitu, Ayah. Selama ini Ayah dan Mama sudah merawat Sabia dengan begitu baik, menjaganya hingga dia bisa tumbuh menjadi gadis yang ceria. Saya yang seharusnya meminta maaf karena tidak bisa menjaga Bia dengan baik."

__ADS_1


"Kai, apakah kamu mencintai Sabia?"


*******************


__ADS_2