
Tanpa Kaisar ketahui, patung Prince Charming yang Sabia buat adalah patung untuknya. Hanya saja Sabia beralasan agar Kaisar tak terlalu ge-er dan besar kepala. Dalam bayangan Sabia, wajah Kaisar sekilas mirip dengan Prince Charming yang merupakan pasangan dari Putri Cinderella, hanya saja Kaisar versi lebih garang dan berbulu.
Dengan telaten dan hati-hati, Sabia memahat bagian hidung menggunakan butsir. Sambil mengingat-ingat bentuk hidung Kaisar yang telah beberapa kali ia sentuh dan berusaha untuk ia hafalkan, Sabia menipiskan beberapa bagian di tulang hidung. Sesekali ia tersenyum saat menyentuh sebagian wajah patung itu, seolah Bia sedang meraba wajah lelaki yang perlahan-lahan membuatnya jatuh cinta lagi.
"Biaaa ...."
Tangan Sabia terhenti, ia terbelalak dan tersentak kaget saat sebuah suara tak asing memanggil namanya. Suara yang selama ini ia rindukan. Mama Mira!
"Mama!!" Sabia berdiri dari kursi.
Mama Mira yang mengintip di pintu sontak berlari masuk dan memeluk menantu kesayangannya dengan erat.
"Mama kangen banget sama kamu, Bia!!" lirih Mama Mira seraya menepuk punggung Sabia dengan lembut.
"Bia juga kangen banget sama Mama!"
"Kangen sama aku juga, tidak?" suara Hari tiba-tiba memecah perhatian Sabia dan Mira.
Bia mengurai pelukan Mama Mira, ia merentangkan tangannya pada Hari dan tak lama tubuh jangkung dan berisi itu memeluknya dengan erat juga. Wangi parfum Hari yang lebih manis dari milik Kaisar membuat Sabia dejavu untuk beberapa saat. Ia jadi teringat pada momen di saat awal mengenal Hari.
"Kangen banget sama kamu, Hari!" rutuk Sabia seraya memukul punggung adik ipar kesayangannya dengan gemas.
Hari terkekeh, ia senang akhirnya bisa kembali bertemu dengan gadis yang selalu ia rindukan selama berada di Singapura. Ia sedikit mengangkat tubuh mungil Sabia hingga gadis itu memekik kaget.
"Hari, pelan-pelan! Sabia sedang hamil!!" protes Mama Mira sembari memukul pundak Hari.
"Oh iya, lupa!" lirih Hari sembari menurunkan Sabia dan mengurai pelukan mereka berdua.
Sabia tersenyum lebar. "Bagaimana kondisi Mama? Apakah sudah sehat betul?"
"Sudah dong, Bia! Mama kan sudah janji akan cepat sembuh biar bisa gendong cucu Mama!" Mira mengelus perut Sabia yang masih rata dengan penuh kasih.
Hari melirik tingkah Mamanya itu dengan jengah. Kabar kehamilan Sabia yang harusnya membuat ia bahagia karena akan memiliki keponakan entah mengapa justru membuatnya kesal. Ia cemburu karena Kaisar berhasil mengelabui Sabia dan menghamilinya!
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Hari menyelidik.
"Masuk 7 minggu, Hari. Kamu pasti seneng kan akan punya temen bermain!?"
Hari tak menyahut, ia membuang muka namun sesekali masih mencuri pandang pada perut yang masih rata itu.
"Mama belikan kamu banyak oleh-oleh. Yuk, kita buka di kamarmu, Bia!"
__ADS_1
"Yuk, Ma!! Sebentar aku cuci tangan dulu."
Mira menggandeng Sabia setelah gadis itu selesai mencuci tangannya. Hari memperhatikan keduanya dengan tatapan cemburu. Mau tak mau akhirnya Hari ikut menyusul mama dan kakak iparnya untuk membantu membuka oleh-oleh yang dibelikan Mira. Beberapa oleh-oleh itu adalah mainan untuk anak laki-laki dan perempuan. Karena jenis kelamin cucunya belum diketahui, jadi Mira mengambil amannya dengan memilih satu jenis permainan dengan warna yang berbeda.
"Hari, bisa minta tolong ambilin oleh-oleh yang di koper biru?" pinta Mira pada Hari yang duduk tak jauh dari mereka bertiga.
Hari menurut, ia bangkit dari kursi dan beringsut keluar untuk mengambil koper biru milik Mira yang berada di kamar orang tuanya. Dengan langkah lebar, Hari menggeret koper itu.
"Tuan! Tuan! Coba lihat ini!!"
Hari tersentak kaget, ia menoleh pada Bik Yati yang berlari terbirit-birit dari dapur.
"Apa ini, Bik?" Hari memperhatikan ponsel yang Bik Yati sodorkan.
"Baca, Tuan! Baca!"
"Ada apa, Bik?" tanya Mira sembari menggandeng Sabia keluar dari kamar.
Mereka berdua terkejut karena suara teriakan Bik Yati terdengar melengking hingga ke dalam kamar.
Hari melepas handle koper dan meraih ponsel itu dengan gugup. Sesekali ia menoleh pada Mira dan Sabia yang berdiri mematung di depan pintu kamar dengan wajah penasaran.
[Bos Mahaputra Group, teman kencan Model panas Patricia Christina yang ternyata telah beristri!]
"Ada apa, Hari?" tanya Bia khawatir.
"Tidak apa, hanya berita tentang saham perusahaan yang anjlok," elak Hari berdusta.
Mira menatap putranya dengan pandangan waspada. Ia tahu bila Hari sedang berbohong.
"Ma, ini kopernya. Aku mau ke kantor dulu sebentar untuk ngecek kondisi di sana!" Hari mengerlingkan mata pada Mamanya dan berlalu dengan gesit.
"Iya, hati-hati, Nak! Kondisimu masih belum pulih benar!"
"Oke, Ma!" Hari berlari menuju carport dan mengeluarkan mobil sedan merahnya.
Sabia mulai merasa ada yang tak beres, tak mungkin saham yang anjlok bisa membuat Bik Yati berteriak panik seperti orang kesetanan seperti tadi. Ia yakin ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Hari.
"Yuk, Bia. Kita buka oleh-oleh yang Mama belikan untukmu!" Mira kembali menggandeng lengan Sabia dan menuntunnya masuk kembali ke dalam kamar.
Bia tak menyahut, namun ia menurut saat Mira membawanya masuk dan duduk lagi di ranjang. Kali ini Bia tak lagi antusias seperti tadi, feelingnya tak nyaman. Pasti telah terjadi sesuatu, ia yakin.
__ADS_1
Sementara itu, Hari yang sudah melesat keluar dari kediaman Mahaputra berusaha menghubungi nomor Kaisar namun tak diangkat. Tak kurang akal, Hari pun kemudian menghubungi nomor Diki. Tersambung.
"Halo."
"Mas Diki, di mana Kak Kai?" sosor Hari to the point.
"Hmm, Pak Kaisar sedang tidak ada di tempat, Mas Hari."
"Ke mana? Apa dia sudah membaca berita yang beredar baru-baru ini?!"
Diki menghembuskan napas gelisah. "Iya. Sudah. Dan Pak Kai sedang menuju tempat Nona Patricia."
"Untuk apa? Kenapa dia malah menemui perempuan itu! Harusnya dia membungkam media lebih dulu!" rutuk Hari kesal.
Diki tak menyahut, ia sudah menyarankan hal itu pada Kaisar namun bos-nya itu sangat keras kepala.
"Aku minta tolong Mas Diki bungkam semua media sekarang juga! Media elektronik maupun media cetak! Jangan sampai berita ini tersebar semakin luas! Tuntut siapapun yang memuat foto Kak Kai dan perempuan jalangg itu!" perintah Hari tegas.
"Baik, Mas Hari. Siap."
"Bergerak sekarang! Jangan sampai Bia atau Papa tahu tentang berita ini!"
"Baik. Siap. Laksanakan!"
Hari memutuskan sambungan telefon itu dan melempar ponselnya ke kursi sebelah. Wajahnya tegang menahan kesal dan amarah. Entah bagaimana bisa foto itu tersebar luas di media, betapa Kaisar sangat ceroboh hingga foto semi telanjang mereka beredar dengan luas. Dan Patricia itu, pasti dia memiliki ide licik untuk menghancurkan keluarga Mahaputra.
Hari meraih ponsel yang tadi ia lemparkan dan lekas menghubungi nomor Suzan.
"Halo, iya Pak Hari?"
"Suzan, cari tahu nomor ponsel dan alamat agency model Patricia Christina! Sekarang. Aku tunggu secepatnya!"
"B-baik, Pak."
*******************
Jeng jeng jeng!!
Konflik utama dah mulai nih, Bestie 🥳
Siap-siap emosinya naik turun kek rollercoaster!
__ADS_1
Ingat, jangan pelit jempol kalo pengen otor rajin update banyak bab! 🥰