
Sementara itu, Hari yang stress berat karena memikirkan Mamanya selama beberapa minggu ini, mengajak Sabia ke bioskop karena ada premiere film baru. Ia sudah pernah berjanji akan mengajak Bia nonton film romance, jadi sekalian saja Hari mengajak Bia untuk refreshing.
"Memangnya kamu nggak dimarahi sama Papa kalo bolos ngantor?" tanya Sabia heran.
Hari memang putra dari CEO perusahaan Mahaputra, tapi pekerjaannya terlihat lebih santai daripada Kaisar.
"Aku sudah ijin, kok. Aku juga sudah menyelesaikan pekerjaan sejak kemarin. Hari ini agenda di kantor hanya meeting untuk memaparkan program-program baru, meskipun aku tidak datang juga tidak ada masalah!"
"Cih, enak sekali pekerjaanmu. Dibanding Kaisar sepertinya tugasmu lebih santai."
"Tentu saja. Karena Kak Kai adalah calon penerus Papa. Aku sih tidak terlalu berambisi seperti dia!"
Bia mengernyit. "Kenapa begitu? Bukannya bagus kalo kalian bersaing untuk jadi CEO di perusahaan?"
"Aku tidak suka tantangan, Bia. Hidupku flat seperti layar tivi. Itulah kenapa para wanita tidak menyukai tipe pria sepertiku!" keluh Hari.
Mereka berdua kini sudah tiba di bioskop. Hari meminta Sabia untuk menunggu dan duduk di bangku panjang tak jauh dari loket online. Beberapa pasangan anak muda nampak mengantri di depan Hari, sepertinya mereka akan menonton film yang sama dengannya.
Sabia yang mengenakan dress floral di atas lutut dengan rambut tergerai nampak sangat chic. Hari merasa seperti Om-Om yang sedang berkencan dengan anak SMA. Beruntung tadi ia tak mengenakan jas hitamnya, bisa-bisa ia terlihat semakin tua saat berjalan dengan Sabia.
Tiba giliran memesan tiket, Hari membeli dua tiket premium lengkap dengan popcorn dan minuman yang nanti diantar oleh petugas. Ia bergegas menjemput Sabia dan menggamitnya masuk ke studio 3 tempat film mereka akan diputar.
"Kamu tidak lapar?" tanya Hari begitu mereka berdua sudah duduk di kursi empuk yang memiliki bantalan kaki.
"Sedikit." Sabia mengacungkan jari kelingkingnya sebagai kode bahwa level laparnya hanyalah secuil.
"Sementara makan popcorn dan es cola dulu ya. Nanti sepulang dari sini kita makan di restoran rooftop."
"Rooftop? Skyview lagi!?" sela Bia berbinar.
__ADS_1
"Iya. Tapi yang ini lebih cozy lagi tempatnya," jelas Hari.
"Baiklah. Kita ke sana!"
Dan beberapa jam setelah nonton. Mereka kini telah berpindah tempat ke restoran dengan skyview yang sangat indah di pinggiran kota. Tak begitu banyak customer yang datang sehingga Hari dan Sabia bisa bebas berfoto-foto di sekitar sana.
...Credit Pict : Pinterest...
"Apakah langitnya hari ini indah, Hari?" tanya Sabia seraya memandang ke atas langit dan berpegangan pada besi pembatas.
Hari duduk tak jauh dari tempat Sabia, ia mendongah ke atas langit. "Langitnya tak secerah biasanya. Tapi ada bintang yang bersinar sangat terang di atas sana."
"Benarkah? Itu planet atau bintang?"
"Menurutmu?" Hari memperhatikan raut wajah Sabia yang terlihat berkilauan lebih dari bintang.
"Venus adalah nama dewi cinta, apakah kamu juga tahu tentang hal itu?"
Bia mengangguk cepat. "Apakah kamu suka membaca buku astronomi juga?"
"Tentu saja! Aku cerdas begini karena suka membaca!"
"Cih, dasar sombong!" olok Bia mencibir. "Apakah itu pertanda bila cinta adalah sesuatu yang paling bersinar dan dibutuhkan di dunia ini?" gumamnya berlanjut.
"Tidak juga. Kamu tahu kan, bila planet venus bisa bersinar karena mendapat pantulan sinar dari matahari. Mereka tidak bisa bersinar dengan sendirinya. Sama seperti cinta, mereka tidak akan bisa datang dan bertahan dengan sendirinya, butuh perjuangan dan kesabaran. Seperti cintamu pada Kak Kai."
"Hoek! Jangan sebut nama dia, aku mual!"
__ADS_1
"Terus kalo kamu tidak cinta pada Kak Kai, kenapa kamu masih bertahan dengan dia?" selidik Hari penasaran.
Bia mengedikkan bahunya tak paham. Ada perjanjian yang harus ia tepati meskipun Kaisar sendiri sudah mengingkari salah satu pasalnya.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk pergi darinya."
Seorang waitress datang dan menyajikan pesanan mereka berdua. Perlahan Sabia pun berbalik dan mengayunkan tongkatnya untuk mencari posisi kursi dan duduk dengan tenang setelah berhasil merabanya.
"Aku masih penasaran dengan kejadian tenggelamnya kamu dibathtub beberapa minggu yang lalu. Apakah ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?" Hari membuka suara saat hanya denting sendok yang terdengar di antara mereka berdua.
Bia terdiam, makanan yang ia kunyah seketika ia telan. Beruntung ia tak tersedak seperti Kaisar dulu.
"Nggak ada apa-apa, kok. Aku ketiduran waktu itu, nggak sadar kalo malah nyelem," sangkal Bia.
Bukan Hari namanya bila langsung percaya begitu saja. Ia menelisik ekspresi Sabia yang nampak salah tingkah. Ia tahu bila telah terjadi sesuatu antara Kaisar dan Sabia, hanya saja Hari tak bisa menebak hal apa yang justru membuat Sabia nekat melakukan tindak percobaan bunuh diri kala itu. Tidak mungkin Kaisar menodai Bia, apalagi malam itu mereka menginap di rumah keluarga Darma. Kaisar tidak akan bisa melakukan apapun di rumah itu.
"Baiklah, kalo tidak mau cerita. Aku akan menunggu sampai kamu mau berterus terang," cetus Hari sedikit kecewa.
Bia tak menyahut, ia kembali menyibukkan diri dengan makanan di piringnya. Biasanya ia bisa bebas bercerita tentang hal apapun pada Hari, tapi kenapa sekarang rasanya begitu sulit untuk berkata jujur?
Jam 9 malam, Hari dan Bia tiba di kediaman Mahaputra. Usai memarkir mobilnya, Hari membantu Sabia turun dan memegang lengannya agar berhati-hati melangkah.
Di ruang tamu, dari balik jendela kaca lebar, tatapan tajam menusuk dan dingin memperhatikan gerak gerik sepasang manusia yang sudah ia tunggu kedatangannya sejak beberapa jam yang lalu.
Pelayan membukakan pintu utama dan mengucapkan salam selamat datang pada majikannya. Bia tersenyum dan merespon salam itu dengan sangat manis, sementara Hari yang menyadari keberadaan Kaisar di ruang tamu sontak diam terpaku.
"Ada apa, Hari?" tanya Bia heran saat langkah kaki lelaki di sampingnya terhenti.
"Masuklah dulu ke kamarmu. Ada barangku yang ketinggalan di mobil!"
__ADS_1
**************************