GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
365 Hari Kemudian


__ADS_3

Langit sore yang indah dengan semburat warna biru dan jingga di sebuah cafe dengan pemandangan alam terbuka. Seorang gadis berusia 21 tahun, dengan rambut hitam panjang  dan kulit segar merona, duduk seorang diri sembari menatap layar laptopnya dengan serius.


"Bia!"


Gadis itu menoleh, seorang gadis seusianya dengan rambut pendek dan bergaya tomboy mendekat.


"Mey!" Bia melambaikan tangan pada sahabat baiknya itu.


Memey tersenyum dan menarik kursi di depan Sabia. Ia memperhatikan penampilan sahabatnya yang kini nampak lebih dewasa.


"Lu mau minum apa? Pesen dulu deh!" perintah Bia sembari melambaikan tangan pada seorang waitress yang kebetulan melewati mereka.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya waitress itu seraya menyerahkan buku menu yang ia simpan di saku celemeknya.


Memey memperhatikan lembaran menu itu dan melirik minuman milik Sabia. Strawberry Milkshake dengan extra es krim seperti biasa.


"Coffee latte aja sama french toast 1!"


Waitress mencatat pesanan Memey di nota kecilnya dan berpamitan pergi.


Sabia tersenyum saat Memey menatapnya, sudah lama sekali mereka tidak nongki setelah Bia sibuk dengan kegiatan di yayasan disabilitas yang ia pimpin.


"Lu sehat, kan? Lu keliatan lebih kurus dari terakhir kali kita ketemu," tanya Memey khawatir.


"Sehat lah. Gue emang lagi diet ngurangi garam, Mey. Makanya agak kurusan, kan!"


"Ngurangi garam tapi nambah gula! Sama aja bohong!" sindir Memey terkekeh.


Bia tertawa. Memey benar, ia tak bisa hidup tanpa gula!


"Pameran lu gimana? Sudah rampung semua persiapannya??"


"Sudah dong! Bia gitu, loh!! Lu harus dateng ya pas acara pembukaan!"


Memey mengangguk pasti. "Pasti gue dateng, Bia. Don't worry!"


Bia tersenyum dan mencubit pipi Memey dengan gemas. Ia lantas memperhatikan layar laptopnya yang menyala saat ada email masuk. Dengan cekatan ia membuka email itu dan membacanya dengan teliti. Email tawaran sponsorship dari pihak ketiga.


"Bentar ya, Mey. Gue bales email ini dulu." Bia menarik laptopnya lebih dekat dan mulai mengetik di keyboard.


Untuk beberapa saat suasana kembali hening, hanya alunan musik yang terdengar. Memey memperhatikan sahabatnya dengan tatapan kagum, setelah sempat terpuruk cukup lama akhirnya Sabia bisa bangkit dan memperbaiki masa depannya. Memulai kehidupannya dari awal lagi dengan semangat baru dan orang-orang baru.

__ADS_1


"Lu pasti natap kaya gitu karena penasaran sama perasaan gue, ya kan?" cetus Bia tanpa melepas fokusnya pada layar laptop.


Memey tertawa, dia menyesap kopi yang baru saja diantar oleh waitress dan menghela napas panjang.


"Apa lu masih belum ketemu dia?"


Bia menggeleng cepat. Napas beratnya terhembus singkat.


"Dia ikut mati bersama King dan Hari. Gue nggak pernah lagi ketemu dia setelah sadar dari operasi itu."


"Lu udah jelasin hal itu berulang kali. Yang gue tanyain, apa lu sampe detik ini nggak ketemu dia?"


"Jangankan ketemu! Lihat muka dia aja gue nggak pernah!!" tawa Sabia mencemooh dirinya sendiri. "Dia bener-bener lenyap ditelan bumi, tau nggak!"


Memey hanya bisa merespon tawa pilu sahabatnya itu dengan tatapan iba. Andai ia bisa membantu menemukan Kaisar.


Ponsel Sabia bergetar dan berdering di meja. Ia memperhatikan nama yang muncul di layar.


Mama Mira is calling ...


Dengan cepat Bia meraih ponsel itu dan mengangkat telefonnya.


"Halo, Ma!" sapa Bia berbinar.


"Iya jadi, Ma. Ini bentar lagi Bia on the way ke sana, masih ketemuan sama Memey sebentar."


"Memey diajak lah kalo mau," usul Mama Mira.


Bia melirik sahabatnya. "Lu mau ikut nggak makan malam di rumah Papa Syailendra?"


Memey menggeleng cepat. "Nggak, gue masuk kerja satu jam lagi!" tolaknya halus.


Bia mengangguk paham. "Memey nggak bisa, Ma. Dia kerja bentar lagi."


"Hmmm, sayang sekali. Baiklah, Mama tunggu di rumah ya, Nak. Hati-hati nyetirnya!"


"Iya, Ma."


Tit.


Bia menutup sambungan telefonnya dengan senyum mengembang. Dalam sebulan, ia selalu menyempatkan untuk makan malam bersama di rumah keluarga Mahaputra. Ia melepas rindu dengan keluarga yang telah banyak berjasa dalam hidupnya.

__ADS_1


Waktu nongki bersama Memey berlalu dengan cepat. Jam 6 akhirnya mereka berpisah karena harus melanjutkan kegiatan masing-masing. Bia mengendarai mobil citycar yang dihadiahkan Papa Syailendra di usianya yang ke 21. Dan sejak itulah ia ikut kursus menyetir hingga kemudian menjadi sangat ahli. Bahkan mungkin ia bisa mengalahkan pembalap F1 saking ahlinya.


Usai mengenakan sunglasses hitamnya, Sabia mengendarai mobil citycar berwarna pink itu melesat menembus jalanan ibukota. Ia tiba dikediaman Mahaputra satu jam kemudian. Mira yang telah menunggunya sejak tadi sontak menyambut menantunya itu dengan hangat. Entahlah, apakah Sabia masih pantas disebut menantu karena selama setahun ini hubungannya dan Kaisar tak pernah jelas.


"Masuk, Sayang! Duh, Mama kangen banget sama Bia!" Mira menggamit lengan Sabia dan membawanya masuk ke dalam rumah megah bak istana.


"Bia juga kangen sama Mama! Kangeeeen, banget!" Bia merangkul Mama Mira dengan hangat.


Syailendra yang mengamati kedekatan mereka berdua dari meja makan hanya bisa berdeham singkat.


"Eh, sampe lupa kalo ada Papa!" lirih Bia malu, ia menghampiri Syailendra dan menyalami tangan mertuanya itu dengan hormat.


"Bagaimana kabarmu, Bia? Kenapa kamu terlihat semakin kurus?"


Bia duduk usai pelayan menarikkan kursi untuknya. Ia mengucapkan terima kasih pada pelayan itu dan kembali fokus pada Syailendra.


"Iya nih, Pa. Memey juga bilang gitu tadi! Emang keliatan banget ya kurusnya?"


"Banget! Mama sampe inget saat kamu pertama kali dateng ke rumah ini, tubuhmu kurus kaya sekarang gini!"


"Oh ya?" tukas Bia terkekeh. 


Perhatiannya tersita saat Bik Yati muncul dari dapur, pelayan kesayangan Bia itu sontak terbelalak bahagia saat melihat Nona mudanya datang.


"Non Bia!" serunya tertahan, lebay seperti biasanya.


Bia tersenyum lebar dan memberi isyarat pada Bik Yati agar tak bersuara. Bik Yati mengangguk paham, ia kembali fokus menata berbagai menu makanan di meja.


"Bagaimana kegiatanmu, Bia? Kalo kamu butuh bantuan, jangan segan-segan bilang sama Papa!"


"Alhamdulillah, Pa. Sejauh ini Bia masih bisa menghandle anak-anak asuh di yayasan. Tenang saja, nanti kalo Bia mentok pasti akan minta tolong sama Papa!" janji Bia dengan senyum khasnya.


Syailendra dan Mira ikut tersenyum senang melihat Sabia kini nampak lebih ceria setelah berbagai musibah yang ia lewati.


"Yuk, makan! Takut nanti keburu dingin kalo kita ngobrol terus!" Mama Mira mengambilkan seporsi nasi untuk suaminya, bergantian dengan Sabia.


"Mama gimana keadaannya? Sudah sehat betul, kan?" tanya Bia khawatir, sekilas ia bisa melihat tubuh mertuanya itu juga semakin kurus.


"Baik, Nak. Mama sudah sehat 100% berkat support dan doa dari kalian."


Bia menghembuskan napasnya lega. Ia menerima piring berisi nasi yang Mira sodorkan.

__ADS_1


"Oh ya, besok Mama akan ke makam Hari. Kamu mau ikut tidak?"


************************


__ADS_2