
Tiba di rumah sederhana milik keluarga Darma, Kaisar lebih dulu membantu Sabia turun dari mobil. Pak Darma yang sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya sejak pagi sontak berlari ke halaman untuk menyambut putrinya, ia langsung memgambil alih gandengan Kaisar dan menuntun Sabia masuk ke dalam rumah. Kaisar tersenyum lirih memperhatikan tingkah ayah mertuanya yang seolah iri bila perhatian putrinya terbagi, akhirnya Kaisar memutuskan kembali ke mobil untuk mengambil tas miliknya dan Sabia.
Sambil bersenandung, Kaisar masuk ke dalam rumah mungil itu dengan riang. Hatinya merasa benar-benar bahagia setiap kali berkumpul dengan keluarga Sabia. Terdengar suara obrolan Sabia di dalam, Kaisar menyusul dan menemukan tiga orang kesayangannya sedang duduk santai.
"Kaisar! Masuk-masuk sini!" Bu Darma berdiri dan menyusul menantunya yang mematung di depan pintu masuk.
Kaisar menyambut tangan mertuanya dan menyalaminya dengan sopan, begitu juga dengan tangan Pak Darma. Sekilas Kaisar bisa menangkap tatapan hangat dari kedua mertuanya, membuat hatinya jadi berbunga-bunga.
"Yuk, kalian belum sarapan, kan? Mama sudah masak banyak nih!" Bu Darma menarik tangan Kaisar ke ruang makan.
Mau tak mau Kaisar menuruti keinginan ibu mertuanya dan duduk setelah ia menarik kursinya sendiri. Tak ada pelayan di rumah ini, jadi Kaisar harus melakukan apa-apa sendiri!
Sabia yang merasakan perhatian Mamanya lebih besar tercurah pada Kaisar hanya bisa berdecak iri, ia duduk di meja makan persegi panjang yang terbuat dari kaca.
"Kai, mau makan dengan apa? Mama ambilin nasi anget ya?"
"Tidak perlu, Ma. Biar saya ambil sendiri," tolak Kaisar sungkan.
"Ah, nggak apa-apa! Sekalian Mama ambilin punya Ayah juga ini." Bu Darma berdiri dan menyentongkan nasi dari majicom.
Dengan telaten, ia pun melayani menantu kesayangannya dan Pak Darma. Sabia yang merasa teracuhkan semakin melipat wajahnya kesal. Hanya Kaisar yang menyadari perubahan ekspresi istrinya itu karena sejak tadi ia tak luput mengawasinya.
"Kamu mau makan apa, Bia? Mama masak pecekan segala rupa, ada nasi goreng sosis favoritmu juga tuh," tawar Kaisar tak enak hati.
Bu Darma melirik pada putrinya. "Bia makan sama nasi goreng saja, ya! Mama sudah masakin pake ekstra sosis!"
__ADS_1
"Nggak mau! Aku mau makan pecek terong aja!" putus Sabia ketus.
Kaisar melirik Bu Darma, mereka saling berpandangan dengan keki. "Ya sudah, ini nasinya buat kamu aja dulu," tawar Kai sembari menyodorkan piringnya yang sudah terisi nasi pada Sabia yang duduk tak jauh darinya.
Wajah Bia sontak berseri-seri, ia meraih piring yang Kaisar sodorkan di tangannya.
"Nih Ayah ambilin terong kesukaanmu, kamu mau makan apa lagi, Bia?"
"Telur ada nggak, Yah?"
"Ada dong! Mama masak lengkap khusus buat kamu," jelas Pak Darma seraya menyendokkan telur yang sudah penyet itu ke piring putrinya.
Kaisar hanya memperhatikan keduanya dengan perasaan haru, betapa kehangatan di keluarga Sabia telah membiusnya hingga jiwanya terikat kuat pada keluarga sederhana ini.
"I-iya, Ayah," sahut Kai malu, ia menyendok nasi di piringnya dengan tak sabar.
Rasa sambel buatan mertuanya benar-benar nikmat tak terkalahkan. Bahkan sekelas chef di rumahnya saja kalah. Kaisar bisa menghabiskan nasi dua piring hanya dalam sekali makan bila Bu Darma membuatkan sambel untuknya. Sebagai penyuka pedas, sambel olahan mertuanya sangat pas di lidah.
"Mama bikin restoran kayanya laris," goda Kaisar memecah hening.
Bu Darma menghentikan suapannya, ia melirik Pak Darma yang juga sedang meliriknya.
"Pengennya sih gitu, Kai. Sekalian Mama pengen punya toko roti kecil-kecilan. Tapi nanti sajalah, tunggu Ayah pensiun. Biar nanti Ayah bisa bantu-bantu di toko juga. Lagian punya usaha gitu butuh modal yang nggak sedikit!"
"Besok lusa saya bicarakan hal ini dengan Diki, biar dia cari lokasi yang strategis buat Mama," ucap Kaisar acuh.
__ADS_1
"Bicarakan bagaimana? Mama dan Ayah belum ada modal, Kai! Jangan becanda kamu, tuh!" sungut Bu Darma terkekeh.
Kaisar meletakkan sendoknya dan mengawasi kedua mertuanya dengan serius. "Jangan pikirkan modal. Biar itu urusan saya. Ayah dan Mama fokus saja mencari ide usaha, urusan modal biar saya yang handle."
"Mana bisa begitu! Kami nggak mau berhutang sama kamu." Pak Darma mulai buka suara.
"Ayah, selama ini Ayah dan Mama menganggap saya sebagai anak sendiri, kan? Sudah kewajiban seorang anak membahagiakan orang tuanya. Kalo Ayah dan Mama menganggap saya sebagai anak, tentu kalian tidak perlu berpikir tentang hutang," jelas Kaisar tersinggung.
Pak Darma menoleh pada istrinya, mereka saling bertatapan cukup lama. Sementara itu Sabia malah cuek menyantap sarapannya seolah ia tak mendengar apapun.
"Tapi tetap saja, Kai. Mama dan Ayah sudah terlalu banyak merepotkanmu. Sudah lupakan saja ide gila ini, Mamamu nggak akan sanggup masak sendiri di restoran itu nanti, percayalah sama Ayah!" tolak Pak Darma halus.
Kaisar menggeleng tak setuju. "Setidaknya coba dulu, Ayah. Saya akan sangat senang seandainya hobi Mama bisa disalurkan dan menghasilkan. Seperti hobi Bia membuat patung, kelak saat bila dia sudah bisa melihat, patung-patung itu harus dipajang di sebuah pameran dan dilihat oleh orang banyak. Jangan sia-siakan hobi terpendam kalian," ceramahnya dengan bijak.
Bia terhenyak, ia berhenti mengunyah dan menunduk sedih. Entah mengapa perkataan Kaisar seperti menohok sebagian hatinya. Seperti sebuah pertanda bila perpisahan di antara keduanya akan segera terjadi.
"Ya sudah, kita bahas hal itu nanti. Sekarang ayo sarapan lagi!" pungkas Pak Darma.
Kaisar menurut dan tersenyum lega, setidaknya ada sesuatu yang ia tinggalkan di keluarga ini sehingga bila tiba saat ia berpisah dengan Sabia, ia tak menyesal karena telah memperlakukan mereka dengan baik semasa masih bersama-sama. Kehangatan suasana sarapan pagi seperti ini tak pernah ia rasakan sejak lahir. Sedikit terharu, Kaisar memperhatikan Bu Darma dan Pak Darma yang saling bercanda sambil sesekali saling mengambilkan lauk pauk seadanya di meja.
"Ayo makan, Kai!" tawar Bu Darma sembari mengambilkan terong dan menaruhnya di piring Kaisar.
"Iya, Ma. Terima kasih."
****************************
__ADS_1