GADIS CACAT SANG KAISAR

GADIS CACAT SANG KAISAR
Syok


__ADS_3

Setelah Hari dan Mama Mira berpamitan, Sabia kini merenung sendirian di gazebo taman belakang. Dulu ia sering menghabiskan waktunya dengan melamun di tempat ini, memikirkan sikap Kaisar yang selalu mengacuhkannya. Hari lah yang selalu menghibur Bia, menemaninya, menjadi teman bercerita dan berkeluh kesah, bahkan tempat Bia bertanya hal apapun. Terkadang Bia rindu masa-masa itu, saat di mana Mama Mira selalu menemaninya kontrol ke Rumah Sakit dan makan es krim sepulang dari sana.


Bia menghela napasnya berat, rumah ini kembali sunyi. Meski tak bisa melihat apapun, namun Bia bisa menebak bila rumah megah ini pasti sangat indah seperti di film-film. Sayangnya ia jadi tak bisa menikmati keindahan rumah ini karena kondisinya yang buta, entah sampai kapan donor kornea akan tersedia untuknya.


"Non Bia nggak makan?"


Bia tersentak, panggilan Bik Yati membuat lamunannya buyar seketika.


"Non Bia tadi belum sarapan juga loh! Nanti sakit kalo telat makan," timpal Bik Yati memaksa.


"Ambilin saya es krim aja deh, Bik. Saya lagi males mau makan!"


"Haduh, makan dulu deh! Nanti kalo Non Bia sakit gimana?"


"Nggak akan, Bik. Udah sana ambilin! Saya lagi pengen makan yang manis-manis seger!"


"Ah, Non Bia kaya orang ngidam aja! Dari kemarin es krim terus," seloroh Bik Yati terkekeh.


Deg.


Bia terhenyak, ngidam?


"Kalo ngidam itu berarti kita hamil ya, Bik?" tanya Bia gugup.


"Yaaa kebanyakan orang hamil sih seringnya ngidam, Non! Emang Non Bia hamil?" Bik Yati balik bertanya. Ia mengawasi wajah Nona mudanya yang seketika menjadi tegang.

__ADS_1


"Kalo hamil itu rasanya kaya gimana, Bik?"


"Macem-macem, Non. Tiap orang berbeda-beda pengalamannya. Ada yang diawal hamilnya mual-mual, nggak selera makan, nggak bisa cium bau-bau menyengat, ada juga yang melempem aja kaya nggak lagi hamil!"


"Caranya kita tahu kalo kita hamil gimana?" sela Sabia mulai panik, beberapa yang disebut oleh Bik Yati masuk ke dalam kriteria yang ia alami.


"Periksa ke dokter, Non! Tapi bisa juga periksa sendiri pake alat namanya tespack! Di cek dari tanggal menstruasi juga bisa. Bulan ini Non Bia sudah mens belum?"


Sabia menggeleng ragu, dadanya mulai berdebar aneh, pikirannya berkecamuk. Bulan ini memang dia belum mendapat menstruasi.


"Bik, bisa tolong belikan alat tes itu?"


Satu jam kemudian, Sabia dan Bik Yati menunggu dengan harap-harap cemas di dalam kamar mandi. Bik Yati membeli berbagai merk tespack dan mengujinya sekaligus bersamaan.


"Hasilnya dah keluar, Bik?" tanya Bia gugup.


"Non ..."


"Gimana, Bik?" Sabia mencengkram erat lengan Bik Yati.


"Hamil, Non. Hasilnya positif semua!"


Jderrr.


Bak disambat petir di siang bolong, tubuh Sabia lemas seketika. Ia mundur dan duduk di closet dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


"Tespack itu nggak bohong kan, Bik?"


"Mana bisa bohong, Non. Tadi kan ngetesnya pake air kencing Non Bia."


Bia menggeleng tak percaya, ia pasti bermimpi! Tidak mungkin ia hamil secepat ini. Kaisar hanya menidurinya sekali, ini pasti cuma halusinasi!!


"Non Bia, Bibik ambilin air, ya?"


Bia tak menyahut, pikirannya masih berkecamuk akan berbagai hal. Ia masih menyangkal kenyataan dan menolaknya. Bila dia hamil, lantas bagaimana dengan surat perjanjian antara ia dan Kaisar?? Mereka akan berpisah bila Bia sudah operasi, tapi bila sampai dia hamil lantas bagaimana nasibnya dan anak ini??


"Nggak! Ini pasti cuma mimpi, nggak mungkin aku hamil! Aku nggak mau hamil!!"


"Non, jangan bikin Bibik jadi sedih."


"Tapi nggak mungkin saya hamil kan, Bik!? Tespack itu pasti bohong, kan?!" Sabia mencengkram erat lengan Bik Yati yang memegangi tubuhnya.


Bik Yati tak menyahut, ia menoleh pada beberapa tespack yang teronggok di atas wastafel. Semua menunjukkan hasil positif.


"Periksa ke Dokter saja ya, Non? Bibik coba minta tolong Supir buat anter kita ke Dokter!"


Bia mengangguk cepat. Ia buru-buru berdiri untuk bersiap-siap.


"Non Bia tunggu di sini dulu, Bibik mau nyuruh Supir siap-siap!" perintah Bik Yati seraya meminta Sabia duduk di ranjang.


Setelah Nonanya duduk, Bik Yati kembali ke kamar mandi untuk mengambil tespack tadi. Karena gugup dan panik, tanpa sengaja Bik Yati menjatuhkan salah satu tespack dan tak menyadarinya. Ia bergegas keluar dari kamar Nonanya sambil berlari.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, Non! Bibik manggil Supir dulu."


****************


__ADS_2