
Di mobil sedan merah Hari, Bik Yati dan Sabia yang duduk di kursi belakang hanya bisa mematung syok. Bik Yati tak menyangka Kaisar memiliki perempuan lain meskipun ia telah menikah dengan Sabia. Sementara Sabia merasa tak berharga dan tak berguna saat kedatangan Patricia tadi membuat Kaisar malah mengusirnya.
"Bik, turunlah. Saya akan keluar berdua dengan Bia!" Hari memarkir mobilnya di halte.
Bik Yati mengangguk. "Non Bia, yang sabar, ya. Bibik turun dulu."
Sabia menarik ujung bibirnya dengan susah payah, suasana hatinya sedang tak baik namun ia tak ingin siapapun ikut bersedih karenanya.
Usai Bik Yati turun, Hari langsung menginjak pedal gasnya dengan kalap. Bia yang tak mengenakan seatbelt di kursi belakang, tak bisa menyembunyikan rasa paniknya saat Hari tiba-tiba mengebut.
"Hari, bisakah pelan sedikit?" pinta Sabia memohon.
Hari meliriknya dari kaca spion tengah, wajah Bia tegang dan pucat, ia berpegangan erat pada sandaran tangan di tengah kursi.
"Apa kamu sudah puas sekarang, Bia?" tanya Hari ketus sambil tetap fokus pada kemudi.
"Puas? Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan, Hari. Pelankan mobilmu, aku nggak mau mati konyol!"
Hari tak mengindahkan permohonan Sabia, sebenarnya ia cukup terlatih menjadi pembalap profesional, namun sayangnya hobi itu tak didukung oleh papanya.
Hari membawa mobilnya melaju memasuki tol, ia ingin melampiaskan rasa kesalnya pada Sabia di jalur bebas hambatan itu.
"Hari, ayolah. Aku takut, Hari."
Sabia semakin panik, saat mobil Hari berhenti sebentar dan terdengar bunyi 'tit', feelingnya mengatakan bila Hari pasti akan membawanya ke tempat yang jauh.
Hari menatap nanar pada jalanan di depannya yang lengang. Untuk sesaat, ia membayangkan jalan itu adalah sirkuit yang telah lama ia tinggalkan. Dengan hembusan napas berat, Hari menaikkan gigi mesin dan menginjak pedal gas lebih dalam. Dulu setiap kali emosinya tak terkontrol, Hari akan melampiaskannya di sirkuit. Dan sejak semalam, kesabarannya pada Sabia telah lenyap berganti kesal yang amat dalam.
"Hari, kamu mendengarku?"
"Hmm."
"Hari, ayo pulang. Aku takut." Sabia meraba kursi di depannya agar bisa menyentuh lengan Hari.
__ADS_1
"Tidak. Sudah terlambat, Bia!"
"Apanya yang terlambat? Katakan! Jangan membuatku semakin depresi dengan tingkahmu ini!" rutuk Sabia kesal.
Hari tak menyahut, umpatan Sabia seperti energi yang membuatnya semakin bersemangat untuk melajukan mobilnya lebih kencang.
"Jangan khawatir, Bia. Aku tidak akan membawamu ke akhirat."
"Hentikan, Hari. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menghentikan mobil ini!"
"Tidak bisa berhenti, Bia. Kita sudah berada di tol."
"Kamu gila! Kamu ternyata lebih gila daripada Kaisar!" cerca Sabia murka, air matanya merembes keluar.
Hari melirik gadis itu dari spion, wajah panik dan air matanya membuat Hari menurunkan laju mobilnya sedikit demi sedikit. 500 meter di depan ada rest area, Hari memutuskan akan berhenti di sana sejenak. Adrenalinnya sudah cukup terpacu meskipun tak bisa lama seperti di sirkuit.
Saat Bia merasa mobil itu melaju semakin pelan dan berbelok, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan lega. Sejak tadi tubuhnya gemetar ketakutan, jangankan untuk menyeka air mata, untuk bernapas saja rasanya Bia tidak sanggup.
"Kemarilah." Hari menarik tangan Sabia agar pindah duduk di depan.
"Bia, kemarilah," pinta Hari melunak. Ia menyentuh tangan Bia yang dingin dan gemetar.
Andai saja Bia tak buta, ia pasti akan memilih kabur saat ini juga. Apadaya ia masih sangat bergantung pada Hari. Akhirnya Bia menurut, dengan dibantu Hari, ia berpindah dari kursi belakang ke kursi depan.
Meski Bia menyekanya, air mata itu tetap saja menetes. Membuatnya semakin terlihat lemah di depan Hari.
"Apakah kamu tahu tiga kata ajaib yang bisa merubah penilaian seseorang?" tanya Hari memecah keheningan.
Bia tak menyahut, ia sibuk menghapus air matanya.
"Maaf, tolong dan terima kasih. Sangat simpel, namun tak semua orang bisa mengatakannya." Hari menoleh pada Sabia dan menatap wajah cantik itu dengan sedih.
"Jangan berputar-putar, katakan saja apa maksudmu! Aku sedang nggak bisa berpikir jernih," keluh Bia jengkel.
__ADS_1
"Biasakanlah mengatakan maaf bila kamu bersalah, katakan tolong bila kamu membutuhkan bantuan, dan jangan pernah lupa untuk katakan terima kasih saat siapapun telah membantu meringankan bebanmu."
"Jangan bertele-tele, Hari. Bisakah kamu mengatakannya lebih jelas?!"
Hari menghela napasnya berat. "Setelah kamu melihat sendiri kelakuan Kakakku, tidakkah kamu merasa bersalah padaku karena telah menolakku semalam?"
Deg.
Sebuah beban yang berat seperti menghantam hati Sabia. Ia seperti tertampar oleh perkataan Hari.
"Aku tidak akan menyalahkanmu. Tapi aku sedikit kecewa saat kamu menolak bantuanku."
"Aku hanya takut dia melukaimu, Hari! Kaisar sangat menakutkan bila sedang marah."
"Aku lebih takut dia melukaimu, Bia. Kenapa sih kamu terlalu mementingkan orang lain dibanding dirimu sendiri?!" keluh Hari kesal sendiri.
Sabia tersenyum di antara tangisnya. "Bukankah kamu juga seperti itu? Kamu selalu mementingkan orang lain lebih dahulu dibanding kepentinganmu!" ejek Bia terkekeh.
Hari mendengus, Bia benar.
"Tapi lain kali jangan pernah menolakku lagi, Bia! Kamu membuatku terluka."
"Iyaaa, iyaa, maafkan aku. Itu 'kan yang ingin kamu dengar?" Bia menoleh pada kursi kemudi tempat Hari berada.
Melihat senyum itu sudah kembali, Hari mengelus puncak kepala Bia dengan gemas.
"Dasar anak nakal!"
*****************
Ayang Hari dan sedan merahnya 🤩
__ADS_1
Bestie, jan lupa jempol! 😌
Yang nggak kasi jempol otor doain jempolnya tambah semok kek body otor 😆