
Sunyi, hening, hanya bunyi detik jarum jam yang terdengar di ruangan President Suite tempat Mira terbaring lemah. Kaisar duduk di sebelah ranjang mama sambungnya itu dengan tatapan sedih. Mira yang dulu montok, cantik, dan mempesona kini tak lebih dari seonggok mayat hidup. Kaisar sedih melihat keadaannya yang semakin hari semakin mengenaskan.
"Kai? Apakah itu kamu?"
Kaisar tersentak, lamunannya buyar seketika. Ia tersenyum saat Mira membuka mata dan menatapnya dengan hangat.
"Iya, ini aku, Ma."
Mira mengangkat tangan kanannya dengan lemah dan mengelus pipi putra sulungnya dengan lembut. Kaisar menggenggam tangan itu dan menahannya di pipinya. Entah sudah berapa tahun yang lalu tangan lembut ini tak pernah lagi menyentuh wajahnya. Kaisar menunduk sedih.
"Maafkan Mama, Kai," lirih Mira. "Mama paham mengapa kamu sangat membenci Mama dan Hari."
"Aku juga minta maaf, Ma."
Mira menggeleng lemah. "Kamu anak baik, anak Mama Mira yang paling lembut perasaan dan hatinya. Kamu tidak salah apa-apa, Nak!"
"Mama, jangan tinggalkan kami. Mama harus semangat untuk sembuh! Sabia pasti akan sangat sedih kalo Mama pergi sebelum dia bisa melihat."
Mira tercekat, tangannya melorot dengan lemah. Merasa Sabia adalah kelemahan Mamanya, Kaisar kembali memberi semangat.
"Mama belum melihat cucu-cucu yang nanti dilahirkan oleh Bia! Mereka pasti cantik seperti Mama, Mama ingin punya cucu perempuan, kan? Bia pasti akan melahirkan anak perempuan tahun depan!" Janji Kaisar dengan napas sesak, padahal ia sendiri tahu bila hubungannya dengan Sabia tak akan bisa bertahan lama.
Mira tersenyum, matanya berkaca-kaca penuh haru. "Benarkah?"
Kaisar mengangguk cepat. "Kami sudah melakukannya beberapa kali. Jadi Mama tidak perlu khawatir, tidak lama lagi Bia pasti hamil!"
Sorot mata Mira nampak berbinar. Apakah Kaisarnya sudah berubah? Apakah ia sudah mencintai Sabia?
__ADS_1
"Mama tahu kamu berbohong, Kai. Bagaimana bisa kamu berjanji sementara dihatimu masih ada wanita lain?"
"Ma, kami sudah putus. Sejak Papa kolaps, aku sudah memutuskan Patricia. Percayalah." Kaisar menggenggam tangan dingin Mira dengan erat. "Mama harus sembuh, ya?" timpalnya memohon.
Mira tak menyahut, ada sebongkah asa di dalam hatinya yang perlahan timbul seiring janji yang Kaisar ucapkan.
"Mama berangkatlah lagi ke Singapura. Mama harus mau radiasi dan transplantasi. Hari akan baik-baik saja, Ma. Transplantasi tidak akan membuat dia sekarat!"
"Kak Kai benar, Ma."
Kaisar terbelalak, sontak ia menoleh ke pintu di mana Hari sudah berdiri di sana dengan tatapan teduhnya. Perlahan Hari mendekat ke ranjang Mamanya dan berdiri di samping Kaisar.
"Kami masih butuh Mama. Setidaknya berusahalah sembuh untuk melihat cucu-cucu Mama. Aku tidak akan mati meskipun mendonorkan sumsum tulangku."
Mira menggeleng, air matanya luluh. "Bagaimana Mama bisa mengorbankan kalian untuk kesembuhan Mama, kesehatan kalian di masa depan lebih penting!"
"Hari ..." Mira mengangkat tangannya untuk meraih lengan Hari.
"Mama egois! Mama lebih memilih untuk meninggalkan kami dan menyerah pada penyakit itu daripada berusaha untuk sembuh. Kenapa, Ma?!" teriak Hari emosi, ia memijat keningnya yang berdenyut pening tiap kali marah.
Kaisar berdiri dan menenangkan Hari dengan menepuk bahunya lembut. "Tenanglah, Hari."
"Bagaimana aku bisa tenang, Kak?! Setiap hari aku selalu ketakutan, setiap kali membuka mata aku selalu membayangkan bagaimana bila itu adalah hari terakhir Mama di dunia. Aku tidak siap! Aku tidak mau kehilangan Mama!" rutuk Hari. Sekian lama ia berusaha terlihat baik-baik saja, namun nyatanya ia tak sanggup menanggung semuanya sendiri.
"Hari, maafkan Mama," tangis Mira sedih. "Mama tidak punya pilihan lain."
"Punya! Mama punya pilihan lain, hanya saja Mama terlalu egois untuk memilih jalan itu. Dan aku muak!" Hari berbalik, ia beringsut pergi tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
Air mata Mira semakin deras tak terbendung. Hatinya sakit melihat Hari marah dan kecewa seperti itu, namun ia akan lebih sakit bila melihat putranya tersiksa suatu saat nanti.
"Ma, pikirkanlah lagi. Aku sudah kehilangan Mama kandungku, dan aku tidak mau Hari juga merasakan hal yang sama." Kaisar duduk kembali dan menggenggam tangan Mira, menatapnya sendu.
Mira tak menyahut, ia semakin menangis tersedu-sedu mendengar perkataan Kaisar. "Maafkan Mama ya, Nak. Sampai detik ini, Mama tidak bisa menjadi Mama yang baik untukmu."
"Aku sudah memaafkan Mama. Aku sudah melupakan semuanya sejak melihat Sabia sekarat kemarin!" sela Kai. "Tidak ada yang akan kita bawa mati selain pahala, dan melihat Bia tak berdaya seperti semalam, aku jadi sadar bila menyimpan dendam dan benci terlalu lama hanya akan membuat kita semakin jauh dari Tuhan."
"Hiks ... kenapa kamu malah menceramahi Mama, Kai!"
"Karena Mama butuh diceramahi agar Mama sadar! Tolonglah, Ma, pergilah ke Singapura sekali lagi."
Mira menyeka air matanya perlahan. "Baiklah. Mama akan berangkat."
Kaisar tersenyum lega, ia mencium tangan Mira dengan penuh rasa syukur.
"Tapi sebelum itu, ijinkan Mama menemui Dokter Alex."
**********************
Bestie, dah mampir ke cerita baru otor, belum?
Yuk, ramaikan cerita di sana juga!
Karakter cowok dan ceweknya dijamin bikin baper juga kek cerita Sabia dan Kaisar.
Otor tunggu, ya!
__ADS_1
Maaci ❤️