Gadis Desa

Gadis Desa
Episode 11


__ADS_3

Tepat pukul 19:00 Tasya dan anak-anaknya pulang ke rumah, "Assalamualaikum Bii Inah." Tasya memanggil Bi Inah yang saat itu sedang ada di dapur.


" Waalaikumsalam Nyonya. Maaf Nyonya saya sedang menyiapkan makan malam di dapur."


"Oohh tidak apa Bi, apa Tuan sudah pulang?."


"Iya Nyonya. Tuan sudah pulang sejak pukul 15:00 sore tadi. Tuan mengatakan akan menelpon kalian. Apa tidak ada salah satu diantara kalian yang ditelpon oleh Tuan?."


Mereka semua bingung dan langsung mengecek ponsel mereka masing-masing. Ternyata benar ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nando.


Re melihat ponselnya dan berkata, "Masya Allah Bunda, lima panggilan tak terjawab dari Ayah."


Ze juga memeriksa ponselnya sembari berkata, "Astaga. Delapan panggilan tak terjawab Bunda."


Tasya juga melihat layar ponselnya lalu berkata, "Ya Tuhan. Punya Bunda sepuluh panggilan tak terjawab, sayang. Bagaimana ini Re??. Ayah kalian pasti sangat marah kepada Bunda Ze!!." Ucap Tasya panik.


"Ayah juga menelpon di ponsel Aira, lihat ini tiga panggilan tak terjawab dari Ayah." Aira menunjukkan ponselnya kepada mereka bertiga.


Tiba- tiba muncul suara dari atas tangga, "Eheemm." Sebenarnya nando sudah sejak tadi memperhatikan mereka.


Nando menuruni tangga dan berjalan kearah mereka, "Sepertinya kalian berempat sangat happy ya, sampai-sampai tidak ada yang mengangkat telpon dari Ayah."


"Maaf Ayah, ponsel Re tadi tinggal di dalam mobil."


"Ponsel Ze hanya getar saja, jadi Ze denger Yah."


"Ponsel Aira juga tadi di dalam tas, mungkin Ayah menelpon Aira saat Aira sedang mencoba gaun."


"Iyaa, heem.. Ayah jangan marah ya!!. Ponsel Bunda juga tadi...."


"Tadi apa??." Ucap Nando memutus pembicaraan Tasya.


"Kalian tahu tidak Ayah mencemaskan kalian semua tapi kalian sama sekali tidak peduli Kepada Ayah." Nando mulai kesal.


"Ayah kita benar-benar minta maaf." Ucap mereka bertiga bersamaan. Sedangkan Tasya tidak berani menatap suaminya.


"Yaaah,, Nda juga mintaa..." Ucapan Tasya langsung dipotong oleh Nando.


"Minta apa??. Haah??." Nando menatap tajam istrinya itu.


"Bunda ingin minta maaf juga??. Tidak semudah itu untuk meminta maaf kepada Ayah. Sekarang Nda ikut Ayah." Nando langsung menarik tangan Tasya. Mereka bertiga hanya diam dan melihat kepergian Tasya.


"??"


"??"


"??"


Sampai di kamar, Nando langsung mengunci pintu kamar dan berjalan terus mendekati Tasya.

__ADS_1


"Perasaan ku tidak enak." Gumam Tasya.


"Ayah bisa mendengarnya Nda, tadi Nda mau minta maaf sama ayah kan??. Sekarang Nda harus membuat ayah puas. Hanya setelah itu Ayah akan memaafkan Nda."


"What!!. Yang benar saja Yah!!."


"Kenapa??. Keberatan??. Bukankah Nda sudah biasa melakukan hal itu??."


"Nda fikir tadi ayah akan memarahi Nda habis-habisan ternyata hanya ituu".


"Oooo.. Artinya Nda mau Ayah benar-benar marah begitu?."


"Tidak..Tidak..Tidak.. Bukan begitu maksud Nda, Ayah. Baiklah Nda akan melakukannya, tapi janji setelah itu ayah memaafkan bunda."


"Iya janji". Nando Tersenyum penuh kemenangan.


Mereka pun melakukannya sampai 10 ronde. Tasya yang saat itu sudah tidak berdaya dan benar-benar lelah langsung tertidur pulas.


Sementara itu disisi lain, Ze juga sudah tertidur pulas namun Re belum bisa tidur. Re berjalan keluar kamar menuju teras ternyata disana ada Aira yang sedang berdiri memandang langit malam yang penuh dengan gemerlap bintang.


"Airaa." Aira menoleh kesumber suara, "kamu belum tidur?."


"Eeeh, Kak Re. Belum kak. Aira belum ngantuk."


"Oow.. Apa hari ini melelahkan??."


"Aah itu, sama sekali tidak kak. Justru hari ini Aira sangat bahagia. Tapii..." Aira mengingat apa yang terjadi pada Tasya.


"Tapi bagaimana dengan Bunda. Ayah pasti menghukum bunda kak. Aira takut bunda kenapa-kenapa."


"Sudahlah. Besok juga mereka sudah berbaikan. Ayah ku tidak pernah bisa marah terlalu lama kepada bunda." Ucap Re


"Apa kak Re yakin??."


"100% yakin sayang." Re mencoba menggoda Aira dengan memangilnya sayang.


Aira yang dipanggil sayang sangat maluu, hal itu pertama kalinya Aira dipanggil sayang oleh seorang pria selain ayahnya.


Aira yang sedang senyum-senyum berkata, "Jangan panggil Aira begitu kak Re, Aira malu!!."


"Kenapa maluuu??. Kau itu calon istri kakak, jadi jangan pernah malu jika kak Re panggil dengab sebutan sayang."


Aira tersipu malu, "Iiiisss.. Kak Re!!. Ini pertama kalinya aira dipanggil sayang oleh seorang pria selain Bapak, makanya Aira malu kak."


"Waaaw.. Bagus dong kalau begitu. Apa itu artinya kau juga belum pernah pacaran?."


"Belum!!. Jangankan pacaran temen laki-laki saja Aira tidak punya. Di sekolah Aira, kebanyakan laki-laki menghindar dari Aira karna Aira miskin."


"Oow. Kau itu orang yang kuat, hebat dan juga pintar. Jadi biarkan saja jika mereka tidak mau berteman dengan mu. Kakak yakin suatu saat nanti Ai akan menjadi orang yang sukses." Ucap Re.

__ADS_1


"Amiin Ya Allah, makasiih kak. Meskipun kita baru kenal tapi Aira merasa seperti sudah sangat dekat dengan kakak. Maaf." Aira menatap wajah Re dan mereka pun saling bertatapan dalam beberapa detik.


"Ternyata dia cantik juga jika dilihat dari dekat seperti ini, dia benar-benar cantik." Batin Re.


"Matanya yang indaah, bibirnnya yang tipis, ingin rasanya aku memakan dan **********." Batin Re lagi.


Tapi lamunannya itu seketika membuyar saat Aira memalingkan wajahnya. Aira yang merasa aneh ditatap sejak tadi jantungnya berdegup cepat.


"Jantung ku kenapa berdetak cepat sekali?. Ada apa dengan diri ku?. Apakah ini yang dinamakan cinta seperti di novel-novel yang sering aku baca itu?. Ooohh.. Airaaa.. Apa yang terjadi dengan mu." Batin Aira.


Lamunannya Seketika ambyar, saat Re menyentuh pundak Aira. "Heii, apa yang kau fikirkan Airaa?. Apa kau sedang memikirkan ku?". Tanya Re menggoda Aira.


Wajah Aira memeraah, "Bagai mana dia bisa tahu." Batin aira


"Siapa yang memikirkan kakak. Aira tadi hanya berfikir apa kakak benar-benar yakin ingin menikah dengan aira. Aira seperti sedang bermimpi saat ini." Jawab Aira berbohong.


"Oowh.. Jadi kau belum yakin."


"Bukan belum yakin, maksud Aira apa ini tidak terburu-buru?."


"Tidak. Karna lebih cepat lebih baik." Re langsung menatap lekat wajah Aira dan berjalan mendekati aira. Sedangkan Aira terus berjalan mundur karna takut Re akan melakukan sesuatu diluar dugaan. Re terus saja melangkah maju mendekati Aira sampai akhirnya Aira terpojok di sebuah dinding dan Aira ingin melarikan diri. Tapi Re dengan sigap menangkap tangan Aira dan berbalik menatap Re, mereka saling bertatapan.


Tatapan itu pun semakin dekat tapi Aira dengan sigap mendorong Re dengan kuat hingga Re terjatuh, "Apa yang ingin kakak lakukan??. Kakak jangan macam-macam ya!!. Aku tidak suka jika kakak melakukan hal seperti ini pada ku." Aira berlalu pergi meninggalkan Rein.


Re tersenyum renyah melihat tingkah gadis itu yang menurutnya itu sangat menggemaskan. Re berdiri lalu Kembali ke kamarnya. Re merebahkan tubuhnya di kasur dia mengingat-ingat kejadian tadi sambil bicara sendiri dan tertawa sendiri seperti orang gila.


"Dia benar-benar menggemaskan, hehe." Re tertawa kecil


"Dia sangat lucu, sepertinya aku benar-benar suka padanya." Re bicara sendiri sambil senyum-senyum sendiri.


"Apa aku sudah jatuh cinta kepada gadis itu?. Hm, itu mungkin saja!!." Re benar-benar berfikir keras.


"Tapiii..."


Re langsung bangun dari tidurnya dan langsung duduk seolah-olah sedang bermimpi, "Secepat ini??."


"Aaarrrhh". Re mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuang nafas, "Huuuuuh."


"Sepertinya memang benar, aku sudah jatuh cinta kepada gadis itu, hahaha. Tapi aku merasa sangat bahagia dan sangat nyaman saat bersamanya. Tidak masalah jika dia masih berusia 15 tahun." Re sangat bahagia karna menemukan gadis seperti Aira.


Tanpa dia sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak dia senyum-senyum sendiri dan bicara sendiri, yaaaa siapa lagi kalau bukan Ze. Ze juga tersenyum bahagia melihat kakaknya merasakan kebahagiaan.


"Apa kau sedang jatuh cinta brother??." Tiba-tiba ada yang membisikkan sesuatu ketelinganya Re. Tentu saja itu membuat Re cukup kaget.


"Aaahhh. Kau ini mengagetkan saja!!."


"Yeeee.. Kau saja yang tidak lihat. Aku sudah sejak tadi disini dan mendengar semua celotehan mu itu. Aku terbangun saat kau tertawa tadi."


"Ternyata kau menguping. Dasar adek tak punya akhlak."

__ADS_1


"Sory kak Re. Ze tak bermaksud untuk menguping. Tapi suara kak Re itu yang sudah membuat Ze terbangun. Hu.. Uuh.. Ganggu orang tidur saja." Ucap Ze sembari berbaring kembali untuk melanjutkan tidurnya. Re hanya tersenyum melihat Aadiknya itu, lalu Re kembali merebahkan tubuhnya dan tertidur.


__ADS_2