Gadis Desa

Gadis Desa
Episode 19


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, entah kenapa hari ini Aira malas sekali bangun awal. Mungkin karena hari ini adalah hari minggu. Jadi Aira memutuskan untuk bangun lebih siang. Matahari sudah memancarkan cahayanya menembus kaca jendela kamar Aira. Aira yang saat itu masih tertidur sangat terganggu dengan pancaran sinar matahari itu. Akhirnya Aira pun terbangun, Aira langsung menuju ke jendela kamarnya dan melihat suasana di luar.


Aira membuka jendela kamarnya lalu melingkarkan tangannya di atas perut sambil menghirup udara segar dipagi hari, "Eeeeeemmm, udaranya sangat sejuk. Matahari pun bersinar sangat cerah. Tapi hatiku tidak secerah matahari pagi ini." Aira bicara dengan dirinya sendiri.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu." Aira bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Selesai mandi Aira turun ke bawah untuk sarapan. Aira bertemu dengan Bi Inah, Aira pun menyapanya, "Pagi Bii."


"Pagi Non." Jawab Bi Inah.


"Bibi masak apa?. Maaf ya Bi, pagi ini Aira bangun kesiangan. Soalnya Aira semalam susah tidur. karena tidurnya sudah hampir subuh makanya kesiangan."


"Iya tidak apa Non. Lagi pula Bibi sudah selesai memasak. Bibi juga sudah siapkan sarapan Non." Ucap Bi Inah


"Apa Bunda & Ayah sudah bangun?." Tanya Aira


"Tuan & Nyonya sudah pergi sejak pagi-pagi sekali Nona." Jawab Bi Inah


"Hah!!. Pagi-pagi sekali??." Aira menautkan kedua alisnya. Bibi serius??. Terus, Bunda sama Ayah titip pesan untuk Aira tidak??."


"Bibi serius Non. Tuan dan Nyonya tidak menitip pesan apapun Non. Bibi merasa Aneh Non, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Tuan dan Nyonya. Karena tadi Bibi melihat dari dapur, Nyonya membawa Tuan engan tangan yang dibalut handuk sepertinya mereka sangat terburu-buru. Tuan dan Nyonya juga tidak seperti biasanya Non."


"Eeeemm, begitu ya Bi!!. Apa mungkin Ayah dan Bunda ada urusan yang begitu mendadak sehingga tidak bisa memberitahu Aira Bi??. Apa mungkin memang ada masalah besar yang terjadi??." Tanya Aira curiga


"Entahlah Non, Bibi tidak tahu. Bibi juga tidak mau ikut campur Non. Maaf Bibi mau lanjut kerja lagi."


"Hm. Lanjutkan saja kerjaannya. Aira mau sarapan dulu."


Aira memakan sarapan yang telah diambilkan oleh pembantunya dan Aira menghabiskan makanannya. Setelah selesai makan Aira duduk di ruang keluarga, Aira mengambil remot TV lalu menyalakan TV nya. Aira menonton drakor kesukaannya.


Tiba-tiba Aira kefikiran perjataan Bi Inah tadi, lalu Aira berkata dalam hati, "Ayah Sama bunda kemana ya?. Apa memang ada masalah?. Tapi Apa?. Kenapa perasaan ku tidak enak. Sudahlah lebih baik aku fokus dengan film drakornya. Lagi pula ini hari minggu, aku bisa nonton TV sepuasnya."


FLASHBACK ON

__ADS_1


Malam saat setelah mereka semua istirahat Nando mendapat telpon dari seseorang. Tapi Nando tidak mau mengangkat telponnya karena nomornya tidak dikenal. Akhirnya nando mencoba untuk tidur. Sekitar pukul 03:00 dini hari, Nando terbangun dan kembali membuka ponselnya ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal itu. Nando juga melihat bahwa di ponselnya ada pesan dari Nomor tak dikenal itu yang mengatakan.


(Jawab panggilan telfonku. Jika kau tidak menjawabnya, maka aku akan menjadi mimpi burukmu dan aku akan membuat hidupmu jauh dari kata bahagia). Isi pesan tersebut.


Nando mencoba menghubungi nomor itu, tetapi tidak ada jawaban dari nomor tersebut. Beberapa menit kemudian nomor tersebut menelfon ke ponsel Nando. Nando menjawab panggilan telfonnya itu. Belum sempat nando berbicara, Nando sudah diserang dengan kata-kata dari si penelpon itu.


"aku akan buat keluargamu hancuur Nando." Ucap si penelpon itu


"Maaf anda siapa??. Apa maksud dari perkataan anda??." Ucap Nando


"Kau tidak perlu tahu siapa aku!!."


"Apa maksudmu??."


"Kenapa??. Apa kau takut dengan kedatangan ku. Dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan membuat keluargamu tenang Nando Wijaya." Ancam penelfon itu


"Sebenarnya apa maumu??." Nando mulai kesal


"APA!!." Nando sangat terkejut kemudian nando bertanya dengan nada yang sedikit tinggi, "SIAPA SEBENARNYA KAU INI??."


"Ha.. Ha..Ha.. Ha.. Ha.." Si penelpon itu tertawa terbahak-bahak seakan tidak punya dosa. Si penelfon itu kembali berkata, "Akan ku beritahu jika sudah tiba saatnya!!. Sekarang, kau juga harus tahu, bahwa akulah yang sudah mencelakai putramu itu. Suatu keberuntungan baginya karena masih bisa selamat dari kecelakanan Maut itu."


Nando yang mendengar semua perkataan si penelpon itu, Tubuhnya gemetar karena menahan amarahnya. kemudian nando bertanya dengan nada yang tinggi dan kata-kata yang sedikit kasar, "APA YANG KAU MAU DARIKU BRENGSEK??."


"Aku menginginkan semua yang kau miliki dan setelah itu aku ingin melenyapkanmu!!. Hanya setelah itu aku akan berhenti mengganggu keluargamu. Bahkan menantumu dan kedua orang tuanya itu hanyalah umpan. Kau tunggu saja tanggal mainnya. Aku akan membalas semua perlakuanmu yang pernah kau lakukan padaku dan aku akan merebut semua yang kau miliki." Ucap si penelfon itu dan mengakhiri sambungannya.


Nando dibuat bingung oleh si penelpon itu. Nando begitu kesal dan marah dengan si penelpon itu. Nando mengepalkan kedua tangannya dan meninju apa pun yang ada dihadapannya.


Nando terus berfikir keras, "siapa si penelpon itu?. Siapa yang berani melukai orang-orang yang dia sayangi?. Apa yang dia inginkan dariku dan apa motif dibalik semua kejahatannya?."


Nando sangat tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Nando juga frustasi dibuatnya. Disaat emosi Nando sedang meluap, Nando tidak bisa mengontrol emosinya dan mengendalikan dirinya. Nando melempar dan meninju apapun yang ada dihadapannya hingga tangannya terluka terkena serpihan kaca.

__ADS_1


"LEPASKAN AKU TASYA!!". Teriak Nando


"TIDAK!!. AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU." Ucap Tasya dengan nada tinggi.


"PERGILAH!!. MENJAUHLAH DARIKU!!. LEPASKAN ATAU AKAU AKAN MENCELAKAIMU." Ucap Nando dengan kemarahan yang benar-benar sudah menguasainya.


sembari memeluk Nando dari belakang kemudian Tasya berkata, "APAPUN YANG TERJADI AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU. MESKI KAU AKAN MEMBUNUHKU, AKU TIDAK PEDULI."


Tasya berkata seperti itu bermaksud untuk menenagkan Nando. Nando yang tadi terlihat begitu marah dan tidak bisa mengontrol emosinya seketika tenang saat mendengar kata-kata Tasya. Tangan nando yang berlumuran darah karna nando meninju dindin, lemari, kaca, akibatnya ada serpihan kaca yang menusuk di tangannya. Kamar yang begitu berantakan, kaca yang berserakan, semua barang-barang yang bertaburan, membuat Nando terduduk lemas.


Seakan tak berdaya, dengan wajah yang begitu lesu Nando berkata kepada istrinya, "Maafkan Ayah, Nda!!."


"Iya, tidak apa. Ayah tenanglah dulu." Ucap Tasya


Tasya pun beranjak mengambil air minum yang ada di kamarnya dan memberikan segelas Air putih kepada Nando, "Ini, Ayah minumlah dulu."


Setelah Nando sedikit lebih tenang Tasya bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi?. Kenapa hal ini bisa terjadi?. Katakan!!." Ucap Tasya


Akhirnya Nando menjelaskan dan menceritakan tentang si penelpon itu. Karena si penelpon itulah yang sudah membuat Nando menjadi tidak terkendali.


Tasya yang mendengar penjelasan Nando menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, "Haiiiss... Jadi hanya karena si penelfon itu. Kau sampai tidak bisa mengendalikan dirimu??. Hemh!!." Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sudahlah. Apa yang dia katakan juga belum tentu benar." Ucap Tasya


"Iya Nda." Ucap Nando


"Ya sudah, sekarang kita pergi ke Rumah Sakit untuk mengobati lukamu itu. Nda tidak ingin tanganmu nanti terkena infeksi. Masalah ini akan kita urus nanti."


"Iya, baiklah. Ayo kita pergi!!."


Mereka berdua pun pergi ke Rumah sakit untuk mengobati luka di tangan Nando dan mencabut beberapa serpihan kaca yang menancap di tangan nando.


Setelah pulang dari Rumah Sakit, Nando & Tasya pergi ke kantor polisi untuk melacak keberadaan nomor itu. Setelah beberapa menit menunggu, polisi menemukan lokasi nomor si penelfon itu. Nando mencatat alamat lokasi nomor tersebut di ponselnya. Setelah selesai Nando dan Tasya pulang ke rumah. Kali ini Nando tidak ingin melibatkan Istri dan anak-anaknya atau menantunya.

__ADS_1


FLASHBACK OF


__ADS_2