
"Bunda, dua minggu sudah berlalu tapi kenapa tidak ada kabar tentang kak Re ya Bun??." Aira bertanya kepada Tasya.
Aira kembali berkata, "Aira sangat khawatir Bun, Aira merasa terjadi sesuatu kepada mereka!!."
"Kau jangan berfikir yang macam-macam dulu sayang, mungkin mereka sedang banyak pekerjaan."
"Tapi Buun, setidaknya bisa telpon Aira sekali saja kan!!."
"Sabar ya sayang. Bunda yakin mereka tidak ada niat untuk membuatmu khawatir. Sudahlah, jangan cemaskan mereka. Mereka itu bukan anak kecil lagi. Jika urusan mereka sudah selesai mereka pasti akan kembali atau mengabari kita." Ucap Tasya mencoba menenangkan Aira, agar Aira tidak merasa khawatir lagi.
"Ya sudahlah, Aira ke kamar dulu ya Bun. Aira mau lanjut mengerjakan PR." Sambung Aira
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Bunda yakin mereka pasti sangat sibuk sehingga tidak bisa mengbarimu atau menjawab telfon darimu." Sambung Tasya
"Iya. Aira ke kamar dulu."
"Iya sayang."Jawab Tasya
Tasya ingin sekali memberitahukan keadaan Re kepada Aira. Tetapi Re meminta Tasya untuk merahasiakan kecelakaan itu. Re tidak ingin membuat Aira panik dan semakin khawatir. Tasya tidak tega melihat keadaan aira yang sering mengurung diri di kamarnya. Tasya tahu betul, bagaimana perasaan aira saat ini. Apalagi jika sampai Aira mengetahiu kecelakaan yang menimpa Re beberapa hari yang lalu.
Tasya mengambil ponselnya dan menelfon Re, "Haloo Re. Bagaimana keadaanmu??."
"Re sudah membaik Bunda, tetapi Re belum di izinkan pulang ke rumah. Re masih harus dirawat di Rumah sakit. Jawab Re
__ADS_1
Tiba-tiba Ze merebut ponsel yang dipegang Re, "Bunda jangan khawatir Ze akan menjaga kak Re." Ucap Ze
"Ya sudah, syukurlah kalau begitu. Bunda harap kau menjaga kakakmu dengan baik!!."
"Pasti Bunda. Ngomong-ngomong ada apa bunda menelpon malam-malam begini??." Tanya Ze
"Bunda tidak tega melihat Airaa seperri ini!!. Dia terlihat sangat sedih dan merasa khawatir kepada kalian terutama Re. Sepertinya dia sangat kepikiran kakakmu. Dia bahkan tidak fokus belajar karena memikirkan kakakmu."
"Kasihan sekali Aira, Bunda." Ucap Ze
Mendengar nama Aira, Re langsung merebut ponsel dari tangan Ze, "Aira kenapa Bunda??." Ucap Re panik.
"Aira baik-baik saja, hanya saja sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu Re. Sampai-sampai dia tidak fokus belajar. Apa Bunda beritahu saja ke Aira tentang keadaanmu??."
"Baiklah. Bunda tidak akan beritahu Aira."
"Terimakasih Bunda. Ya sudah, kalau begiru Re ingin istirahat dulu Bunda. Besok Re akan telfon bunda lagi."
"Ya sudah, Bunda tutup telponnyaya!!!." Tasya memutuskan sambungannya. Karna hari sudah sangat larut, Tasya pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Sementara itu Aira yang sudah selesai belajar masih belum bisa tidur. Aira mencoba memejamkan matanya tetap tidak bisa tertidur juga. Lalu Aira mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, tidak ada telpon atau pesan dari Re. Aira merasa kehilangan semangatnya sejak Re pergi ke Amerika namun Aira mencoba sebisa mungkin untuk menutupi itu dari Ayah & Bundanya.
Karena Aira tidak bisa tidur, akhirnya Aira turun ke bawah ke ruang keluarga. Aira mengambil remot TV dan menyalakan TV nya. Aira menonton film drakor kesukaannya sambil membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di depan TV.
__ADS_1
Dalam kesunyian malam Aira berkata dalam hati, "Apakah dia benar-benar sibuk?. Apakah dia sudah melupakanku?. Atau mungkin dia selingkuh?."
"Astagaaaa apa yang aku pikirkan. Tapi Aku dan kak Re belum melakukan malam pertama. Apa jangan-jangan kak Re sibuk dengan pacar barunya??. Ooohh.. Tidak tidak tidak. Itu tidak mungkin. Kak Re tidak mungkin melakukan Itu. Tapiiii.. Jika mengingat pergaulan di Amerika. Ooohh Tuhaan.. Jangan sampai itu terjadi." Aira bicara dengan dirinya sendiri.
"Ya Tuhaan.. Aku benar-benar frustasi dibuatnya. Huwaaa.. Cepatlah kembali kak, aku merindukanmu!!. Aira janji. Jika kak Re kembali, Aira akan menjadi istri yang baik. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kak Re jangan nakal di sana." Aira berbicara dengan foto Re yang ada di ponselnya. Aira juga menangis hingga tertidur sampai pagi di kursi itu.
Sementara itu di Amerika, Re masih berada di Rumah Sakit. Re berusaha memejamkan matanya untuk tidur namun tidak bisa. Re terus memikirkan Aira, Re juga sangat merindukan sosok Aira disampingnya. Kecelakaan itu membuat Re harus sembunyi dari Aira. Mengingat tragedi kecelakaan yang begitu mengerikan Re tidak sanggup untuk menceritakannya kepada Aira.
Mobil mewah yang dikendarai Re saat kecelakaan itu hangus terbakar dan hancur berkeping-keping. Untung saja sesaat sebelum kecelakaan, mobil Re sedikit oleng. Re langsung membuka pintu mobilnya dan langsung melompat keluar dari mobilnya. Karna itulah Re masih bisa selamat meski banyak luka memar dan sedikit luka bakar di tubuhnya.
Re tidak sadarkan diri saat kecelakaan itu. Untung saja saat itu jalanan sangat sepi jadi tidak ada korban lainnya. Re terbaring di pinggir jalan sekitar 200 M dari jarak mobilnya yang meledak dan hancur berkeping-keping. Re terkena serpihan mobilnya.
Selang beberapa menit, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti karena melihat Re yang terbaring di pinggir jalan. Orang itu keluar dari mobilnya dan menghampiri Re, ternyata Re masih hidup. Tanpa berfikir panjang orang itu membawa Re ke Rumah Sakit terdekat. Setelah memastikan keadaan Re baik-baik saja orang itu mengabari Ze kemudian pergi meninggalkan Re di Rumah Sakit. Orang itu menemukan kartu nama Ze di dalam dompet Re, karena itulah orang itu bisa menghubungi Ze.
Kembali lagi di Rumah Sakit tadi, Re melihat Ze yang sudah tertidur lelap di kursi yang ada di dalam ruangan VVIP tempat Re dirawat. Re mencoba memejamkan matanya lagi tapi tidak bisa tertidur. Re memikirkan Aira dan terus memikirkan Aira. Dalam Hati Re berkata, "Bagaimana keadaan aira saat ini ya?. Apa Aira juga tidak bisa tidur sama seperti ku?. Atau justru sebaliknya?."
"Aira maafkan aku karena tidak memberi tahu kabar apa pun. Aku sangat sibuk dengan perusahaan, setiap hari lembur dan sekarang aku sedang terbaring di Rumah Sakit. Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kau sedih atau khawatir." Re berbicara dengan dirinya sendiri.
Re kembali mencoba memejamkan matanya namun masih saja tidak berhasil. Akhirnya Re mengambil ponselnya dan menatap ponselnya. ingin sekali rasanya dia menelpon Aira tetapi ia takut menggangu tidur Aira. Masih terus menatap ponselnya Re teringat ada beberapa foto Aira diponselnya.
Re menatap foto aira dengan lekat dan berkata, "Sepertinya aku memang harus menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Aku sangat merindukanmu sayang. Maafkan aku. Aku belum bisa memberi kabar apapun kepadamu. Aku janji akan cepat menyelesaikan perkerjaan di sini dan akan memberi kejutan untukmu. Tunggulah kedatanganku sayang. I Love You."
Re memberikan kecupan bibir difoto Aira. Tak bosan Re memandangi foto Aira. Hingga buliran-buliran air mata pun menetes. Re menghapus air matanya dan mencoba memejamkan mata. Akhirnya Re tertidur sangat pulas dengan memeluk ponselnya. Ternyata kerinduan yang begitu berat kini menyiksa dua insan yang saling mencintai itu. Aira yang begitu sangat merindukan kehadiran Re, begitupun dengan Re yang sangat merindukan Aira.
__ADS_1