
Aira berjalan dengan terburu-buru menuju mobilnya kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Aira meninggalkan aupirnya dihotel Wiliam. 15 menit kemudian Aira berhenti di sebuah taman, Aira duduk di kursi taman dan menumpahkan semua kekesalannya yang berderai Air mata.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Tuhaaaan!!!. Kenapa kau mengambil orang-orang yang aku sayangi. Satu-persatu kau mengambil mereka dariku. Apa salahku??. Sehingga hidupku begitu memilukan!!. Aku membenci diriku sendiri!!. Aku benci diriku!!. Aku seorang pembunuh, aku seorang kriminal. Hiks.. Hiks.."
Lalu Aira berjalan ke tepi danau, Aira teriak sekuat-kuatnya, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!. Ibuuuuu!!. Bapaaak!!. Maafkan Aira. Aira sudah menjadi seorang pembunuh!!. Hiks.. Hiks.. Hiks.."
"Maafkan Aira Pak, Aira baru menyadari bahwa apa yang Aira lakukan adalah salah, tidak seharusnya Aira melenyapkan ayahnya Anaya. Tapi apa yang bisa Aira lakukan!!. Sebaik apapun seorang anak jika mengetahui orang tuanya yang tidak bersalah dilenyapkan tentu saja dia akan menjadi malaikat maut untuk orang yang sudah melenyapkan kedua orang tuanya itu. Maafkan Aira Pak, Bu, Aira tidak bisa mengendalikan diri saat itu. Hiks.. Hiks.. Maafkan Aira!!."
Aira terduduk di pinggir danau sambil menangis. Sebenarnya Aira tidak ada niat untuk menghabisi Tomy saat itu. Tetapi di saat tomy mengatakan bahwa Anaya dan Siska mengetahui rencananya, jadi Anaya termakan omongannya Tomy dan itulah yang membuat Aira akhirnya melenyapkan Tomy. Sahabat yang selama ini sangat ia percaya ternyata telah mengkhianatinya. Aira tidak tahu bahwa Anaya sebenarnya tidak mengetahui rencana Ayahnya. Lebih tepatnya Tomy membuat Aira salah paham terhadap Anaya.
Sementara itu disisi lain, Alan yang baru saja selesai melakukan operasi terhadap pasien pergi ke taman untuk merefreskan pikirannya. Kebetulan rumah sakit milik yang satunya dikelola oleh Alan yang letaknya tidak jauh dari danau tersebut. Saat Alan berjalan dan duduk di kursi taman Alan melihat ada seorang wanita yang sedang duduk dan menangis di tepi sungai. Karena alan merasa penasan dengan apa yang terjadi kepada wanita itu akhirnya Alan menghampirinya. Kemudian Alan menyapa wanita itu, "Hai Nona!!" namun Aira tetap diam dan tidak menoleh. Karena Aira tidak mendengar ada seseorang yang sedang menyapanya.
Alan mendekati Aira dan berlutut dihadapan Aira dan Aira sangat terkejut dengan kedatangan Alan yang secara tiba-tiba, "Astaghfirullahal'adjim!!" Aira langsung menghapus Air matanya dan melihat ke wajah pria yang ada dihadapannya, "Alan!!" ucap Aira.
"Haiih, ternyata kau masih ingat denganku??." ucap Alan.
"Iya aku ingat. Aku hampir menabrakmu waktu itu!!" ucap Aira.
"Oohh, syukurlah kau masih ingat!!. Aku fikir kau sudah lupa denganku."
"Hemh, bagaimana aku bisa lupa. Aku tidak mungkin lupa dengan kejadian itu!! "
"Tapi tunggu dulu!!. Kenapa kau menangis??. Apa ada masalah??"
"Tidak ada. Aku tidak menangis!!. Siapa yang menangis??"
"jangan berpura-pura aku bisa melihat matamu yang bengkak itu. Katakan!!. Siapa yang membuatmu menangis??. Aku akan menghajarnya Nanti"
"Tidak ada. Aku sedang bertengkar dengan seseorang!!"
"Apa dia kekasihku??" tanya Alan.
Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa dia keluargamu, Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kakak, Adij??" tanya Alan lagi.
Lagi-lagi Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu siapa??" tanya Alan penasaran.
"Bukan siapa-siapa!!" jawab Aira.
"Oooo aku tahu!!. Dia pasti temanmu, jika bukan temanmu dia pasti sahabatmu. Benarkan??"
"Haaaiiss, kau ini banyak bicara!!"
"Aku bertanya serius padamu."
"Sudahlah, tidak usah membahas masalhku. Sekarang katakan kenapa kau ada di sini??"
"Aku sedang istirahat, jadi aku memanfaatkan waktu yang ada untuk merefreskan otakku dan tenagaku.!!" ucap Alan.
Aira melihat ke sekitar dan terlihat tidak jauh dari danau tersebut ada sebuah gedung bertingkat tinggi. Aira berkata, "Apa itu Rumah Sakit milikmu??"
"Iya!!. Kenapa??"
"Tidak apa!!. Aku hanya bertanya saja!!"
Alan hanya tersenyum kepada Aira.
"Kenapa buru-buru sekali Ai??"
"Sejak pagi aku pergi, ayahku sedang sakit di rumah. Kapan-kapan kita bertemu lagi. Papah Al" ucap Aira sambil berlari ke mobilnya.
"Ai. Aira. Aira, tunggu Ai!!" ucap Alan sambil berlari menghampiri Aira yang sudah berada di dalam mobil.
"Hm. Ada apa lagi??" tanya Aira.
"Eemm.. Boleh minta nomor ponselnya??"
Aira hanya tersenyum kepada Alan kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Airaaa!!. Yaah, gagal lagi. Huuh, ternyata sangat susah mendapatkan gadis seperti Aira" gerutu Alan.
Aira hanya tersenyum melihat dari kaca spion mobilnya. Aira baru ingat bahwa ia meninggalkan supirnya di Hotel Wiliam akhirnya ia menelfon supirnya untuk segera kembali ke rumah keluarga Wijaya. Sesampainya di rumah Aira terlihat lesu dan lelah serta wajah yang begitu kusut. Aira masuk ke dalam rumah disambut oleh kedua anaknya dan juga Re.
__ADS_1
"Mommy" ucap Leon dan Liam bersamaan sembari berlari menghampiri Aira.
Mendengar anaknya memanggilnya Aira langsung tersenyum dan merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Sayaaaang Mommy!!" Aira memeluk kedua anaknya, "Maaf ya sayang, Mommy baru pulang" ucap Aira.
"Tidak apa Mommy!!. Mommy habis menangic ya??" ucap Leon.
"Hm, tidak!!" jawab Aira sambil meng geleng yg eleng kan kepalanya, "Mommy tidak habis menangis. Memangnya kenapa??. Wajah Mommy terlihat habis menangis ya?" tanya Aira.
"Iya Mom. Wajah Mommy bengkak" ucap Liam.
"Oohh, itu. Wajah Mommy bukan bengkak karena menangis tapi tadi Mommy habis latihan tinju sama temen Mommy" jawab Aira berbohong.
"Waah, kelen Mom. Cetelah Leon dewaca Leon akan belajal tinju dan menembak jitu agal Leon bica melindungi Mommy dan kelualga kita dali selangan mucuh" ucap Leon.
"Hm, Liam juga Mom. Cetelah dewaca Liam akan belajar kalate dan bel main pedang agal Liam bisa menjaga dan melindungi keluarga Liam" ucap Liam.
"Iya, kalian boleh belajar apapun setelah besar nanti. Ok!!" sambung Aira.
"Ok Mom!!" ucap Leon dan Liam bersamaan.
"Ya sudah, sekarang kalian lanjut main lagi sana!!" ucap Aira.
"Aaciap Mom!!" ucap Leon dan Liam bersamaan.
"Ayo Liam!!" ajak Leon kepada Liam
"Ayoo!!" sambung Liam.
Leon dan Liam berlari ke kamar bermain, ternyata beberapa waktu yang lalu Re menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk Leon dan Liam bermain. Melihat anak-anaknya berlari begitu ceria dan bahagia membuat Aira melupakan masalahnya walau hanya sesaat. Namun Re yang sangat paham dengan Aira tentu saja tidak bisa di bohongi. Re berkata, "Ada masalah apa??"
Mendengar ucapan Re, Aira menghentikan langkahnya kemudian berkata, "Tidak ada. Aku hanya lelah saja. Aku butuh istirahat!!"
Namun Re langsung menarik tangan Aira sehingga Ara menatap wajah Re. Re berkata, "Jangan berbohong padaku Aira kau tahu aku sejak dulu bukan bahwa aku tidak suka orang yang berbohong. Sekarang katakan padaku, ada masalah apa??"
"Haaiiiih, aku tidak bisa cerita ini masalahku dan sahabatku. Jadi kau tidak perlu ikut campur Re!!" ucap Aira malas.
"Tapi Ai, masalah mu adalah masalah ku juga. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu di luar, katakan!!" ucap Re sedikit memaksa.
__ADS_1
"Jangan memaksaku Re. Aku sedang tidak ingin berdebat. Sudahlah, lebih baik kau urus anak-anakmu itu!!" ucap Aira kesal.
Aira pun berlalu meninggalkan Re dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Aira langsung merebahkan tubuhnya di kasur hingga tertidur.