
Zean kini menetap di Amerika, ia membangun bisnisnya di sana. Ia juga membangun rumah impian disana bersama orang-orang yang ia cintai. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, Re tidak pernah menghubungi Ze. Begitupun sebaliknya, Ze juga tidak pernah menghubungi Re secara langsung. Hanya saja Ze sering menelfn Aira beberapa kali untuk menanyakan kabar kakak semata wayangnya itu. Sejahat apapun dia dan seburuk apapun dia, Re tetaplah kakaknya Seorang adik akan lebih mengkhawatirkan kakaknya jika berjauhan. Namun lain halnya dengan Re, Re sebenarnya ingin menelfn Ze tetapi gengsinya jauh lebih tinggi dari pada rasa rindunya.
Ze menikah dengan seorang wanita bernama Sasa, yang mana wanita tersebut adalah wanita yang sangat ia cintai. Ze dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Arsya Zean Wijaya. Saat ini Arsya masih duduk dibangku kuliah dan mengambil jurusan Kedokteran sama seperti ayahnya. Ze sama sekali tidak pernah memaksakan apa kemauan anak semata wayangnya itu. Apapun yang menjadi cita-cita Arsya, Ze selalu mendukungnya. Selagi itu hal baik, kenapa tidak?? itulah yang ada di pikiran Ze untuk anak perempuannya itu.
" Good morning, Papi!!! " ucap Arsya sebegitu ia melihat papinya datang kemeja makan.
"Morning, sayang" langsung di jawab Ze dengan mencium kening putrinya, "Apa kau pergi kuliah hari ini?? " tanya Ze sambil ia duduk dan menyantap makanan yang sudah disediakan Sasa dipiringnya.
"hm.. " jawab Arsya sambil mengunyah makanannya
"Bagaimana kuliahmu sayang?? apa ada masalah??"
"eemm eemm" jawab Arsya sambil menggelengkan kepalanya
"Baiklah, habiskan makananmu!! " ucap Ze
"Hm"
Setelah selesai berdialog dengan putrinya tiba-tiba istrinya berkata, "sayang, apa kau tidak ingin bertemu dengan keluargamu??
Mulut Ze berhenti mengunyah dan menatap wajah istrinya.
"Ya sudahlah, aku tidak mau membahas itu. Terserah kau saja!! Aku hanya ingin mengingatkan, jika kau merindukan kakakmu sebaiknya kau jenguk dia. Tidak baik jika saudara putus silahturahmi, apa lagi memutuskan persaudaraan!!" ucap Sasa sembari menghabiskan makanannya.
Mulut Ze yang tadinya berhenti mengunyah, kembali terobsesi dengan makanan dipiringnya. Kini ia melahap semua makannya tanpa berhenti, "Hap... hap.. hap... " makanan dipiringnya habis tak tersisa.
"Pelan-pelan sayang!!" Ucap Sasa sembari memberikan segelas Air
minum untuk Ze.
Ze meminun Air itu hingga habis kemudian langsung pergi meninggalkan meja makan seperti terburu-buru, "Aku pergi sayang!! "
****
Sementara itu dibumi yang lain, dikampus Alea sedang duduk sendiri di kantin. Tiba-tiba ada yang menyapanya, "Hai Lea!! "
"Haii.. "
"Kau kenapa?? kau terlihat murung dan tidak bersemangat hari ini!!" tanya seseorang.
"aah, tidak apa-apa"
"apa kuliahmu baik-baik saja?? " tanya seseorang itu lagi
"kuliahku baik-baik saja" jawab Alea
"Sepertinya kau punya masalah lain ya?? " lagi-lagi orang itu bertanya
"Tidak ada masalah apapun!!" jawab Alea
__ADS_1
"ya sudahlah jika kau baik-baik saja, aku pergi dulu ya."
"Ok... " jawab Alea
Alea bejalan melangkahkan kakinya menuju kelas belajar, ia disambut oleh kedua sahabatnya yang bernama Rosa dan Sinta.
Alea melewati kedua temannya dan masuk ke dalam kelas, entah kenapa Alea sekarang menjadi sosok yang pendiam.
"Ada apa dengan Alea Sin??" tanya Ros kepada Sinta
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Lebih baik kita bicara dengannya!! ayo!!" ajak Ros
Ros dan Sinta melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas menyusul Alea. Mereka berdua duduk disamping kiri dan kanan Alea.
"Katakan padaku, kau kenapa?? hah?? " tanya Ros
"kenapa?? apanya?? " tanya Alea balik.
"Kau datang dengan wajah ditekuk seperti itu!! ada apa?? apa ada masalah?? " tanya Sinta
"Tidak ada!! Hanya sedikit kesal saja" jawab Alea
Ros dan Sinta saling menatap, "Kesal?? kesal kenapa?? " tanya mereka berdua berbarengan.
"Biasa aja, tidak perlu sampai segitunya!! " jawab Alea
"baiklah, baiklah. Ceritakan padaku apa yang terjadi?? " pinta Ros
kedua temannya begitu antusias mendengar penjelasan Alea, "Kau bertemu Pria atau wanita?? " tanya Ros
"Hm, iya.. Dia pria atau wanita?? hah?? " tambah Sinta
Alea membuang nafasnya kasar, "Kalian berdua ini kenapa?? aku yang mendapat maslah, kalian bukannya mengkhawatirkan aku malah menanyakan pria atau wanita!! aneh sekali!! memangnya kenapa kalau dia pria atau wanita ?? apakah itu penting?? tidakkan!!" jawab Alea sedikit jengah dengan kedua temannya itu.
"Tentu saja itu penting. Kata orang jaman dulu, Kalau dia wanita bisa jadi dia akan menjadi saudaramu . Jika dia laki-laki bisa jadi dia akan menjadi jodohmu" ucap Ros
"Iiisss... kalian berdua ini kenapa?? apa kalian sakit?? itukan kata orang jaman dulu. Jaman sekarang mana ada yang percaya begituan. Sudahlah tidak usah membahas orang yang tidak penting" sambung Alea.
****
Diruangan Lain tampak seorang pria sedang berkutat dengan layar komputer dan berkas-berkas diatas mejanya. Meja yang dipenuhi dengan tumpukan berkas yang harus ia tandatangani. Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi pagi, "kenapa aku jadi teringat padanya" gumam Leon
Leon membuang Nafas kasar, ia menghilangkan ingatannya tentang gadis yang hampir ia tabrak tadi pagi. Sebenarnya Leon tidak seberapa tertarik dengan wanita berhijab. Entah kenapa tiba-tiba saja ia teringat dengan wajah gadis itu.
Sebenarnya Leon sudah terbiasa dengan pergaulan di Amerika dimana semua orang bebas melakukan apa saja bahkan semua wanita mengenakan pakaian Sexy dan terbuka. Entah wanita seperti apa yang Leon suka. Melihat wanita yang berpakaian sexy dan memperlihatkan bentuk tubuh yang indah, menurutnya itu sudah biasa. Apa lagi jika wanita itu mengenakan gaun mini dan memperlihatkan belahan dadanya, menurutnya itu bukanlah tipenya. Namun jika melihat wanita berhijab, dia juga bingung dan sedikit gugup. apakah dia menyukai wanita berhijab?? entahlah.
Leon juga terkenal Playboy dan Liam terkenal sedikit pendiam. Kedua saudara kembar itu sangat berbeda sifatnya tetapi mereka berdua sam-sama orang yang bertanggung jawab. Leon tidak pernah berpacaran, selama ini wanita yang selalu mengejarnya dan mengajaknya kencan bahkan mengajaknya tidur bersama. Karena itulah meski Ia suka bergonta-ganti wanita, namun mereka bukanlah sepasang kekasih melainkan hanya sebatas senang-senang saja.
Yaaa ibaratkan Kucing dikasih ikan, kucing mana sih yang akan menolak?? Ibaratkan Anjing dikasih tulang, anjing mana sih yang akan menolak?? kira-begitulah ya. Leon menjalani hubungan-hubungan itu hanya sekedar untuk melampiaskan gairah hasratnya saja tidak ada perasaan cinta sama sekali.
__ADS_1
Leon pun melanjutkan kegitannya dengan berkas-berkasnya. Setelah beberapa jam kemudian ia pun selesai dengan tumpukan berkas-berkas itu. Ia memutuskan untuk pulang segera, Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setibanya di rumah Ia langsung masuk kedalam kamarnya, meletakkan tas kerjanya, melepas dasi dan kemejanya, Ia pun membersihkan diri dikamar mandi.
Leon keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dan setengah bertelanjang dada. Ternyata dikamar Liam sudah menunggunya, Liam duduk di sofa yang ada di kamar itu.
"Bagaimana kak?? apa hari ini pekerjaanmu lancar??" tanya Liam
"Hm... "
"Apa Dedy memarahimu tadi??" tanya Liam lagi
"Tidak.... "
"Aiiih... Aku sedang serius berbicara padamu. Kenapa kau hanya menjawab begitu" Liam kurang puas dengan jawaban kakanya.
"memangnya Aku harus menjawab apa??" Leon malah bertanya balik
"Sudahlah. Malas sekali berbicara denganmu!! lebih baik aku tidur saja" sambung Liam
Liam segera merebahkan tubunnya kekasur, ia memejamkan matanya. Tiba-tiba Leon datang menimpa tubuh Liam, Liam berteriak kesakitan, "Aaw, sakit!! Apa yang kau lakukan??"
Tanpa memperdulikan adiknya, "Kau tahu Liam, tadi pagi aku hampir saja menabrak seorang gadis berhijab" ucap Leon.
Liam langsung bangun dari tidurnya, "What?? gadis berhijab?? Lalu, lalu?? Bagaimana dengan gadis itu?? apa dia terluka??" tanya Liam bersemangat
"Dia baik-baik saja tidak ada luka ataupun lecet. Aku hanya bingung saja, entah kenapa aku teringat wajahnya terus sampai sekarang" ucap Leon.
"Pasti kau memarahinya?? kau merasa bersalah padanya bukan??" tanya Liam
Leon menatap wajah adiknya itu, "Iya, a a ku memarahinya tadi, tapi bukan aku yang salah" ucap Leon dengan nada gengsinya.
Liam memasang wajah malasnya, "Aiiss, kau ini. Bukannya meminta maaf, kau malah memarahi gadis itu. Bagaimana jika ibu kita diperlakukan seperti itu?? Bagaimana perasaanmu??" ucap Liam yang membuat Leon terdiam.
"Kau tidak bisa jawab kan??" tanya Liam. Liam kembali berkata, "Kau kan orang yang berpendidikan seharusnya kau tahu tatakrama dan sopan santun bukan?? gunakan akan sehatmu"
"kau tahu!! sejak dulu aku tidak pernah meminta maaf kepada siapapun selain Dedy dan Momy" tegas Leon
"ini niih, Kelamaan tinggal di Amerika, sepertinya akal sehatmu tidak berfungsi dengan baik" jawab Liam kesal
"Apa maksudmu bicara seperti itu??" tanya Leon dengan kesal
"Hilliiih... Sudahlah. Terserah kau saja. Aku mengantuk, Aku mau tidur, bicara denganmu lama-lama membuatku gila" ketus Liam
"Heeii.. jangan tidur dlu. Jelaskan padaku, apa maksud perkataanmu!!" pinta Leon
"Terserah kau saja, cerna sendiri kata-kata ku. Kau bukan bayi lagi yang harus ku jelaskan setiap perkataanku" ketus Liam lagi
Liam memejamkan matanya tanpa memperdulikan Leon yang terus meminta ia menjelaskan kata-katanya.
"Selalu saja bicara omong kosong" kesal Leon
__ADS_1
Rupanya seharian bekerja di kantor, membuat otaknya sedikit goyang dan karena lelah akhirnya ia pun tertidur nyenyak.