Gadis Desa

Gadis Desa
Episode 60


__ADS_3

Singkat cerita, Re dan Ze kini sudah tiba di bandara Indonesia tepat pukul 18.00 WIB, karena merasa lelah mereka istirahat sejenak di sekitar bandara. Pada pukul 19.00 WIB Re dan Ze mencoba menghubungi Nando tetapi tidak ada jawaban dari Nando. Karena berkali-kali menelfon tapi tidak ada jawaban akhirnya Re menelfon ke telfon rumah keluarga Wijaya. Aira yang baru saja selesai mengaji mendengar suara telfon berbunyi bergegas keluar kamar dan menjawab sambungan telfonnya. Aira berkata, "Iyaa. Haloo. Ada yang bisa saya bantu??"


Mendengar suara wanita yang mengangkat telfon Re terkejut dan merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Re terdiam dan Aira berkali-kali mengatakan halo namun tidak ada yang menjawab, "Haloo. Haloo. Halo. Haloooo."


Dalam hati Aira berkata, "Aneh sekali. Siapa yang menelfon??. kenapa tidak ada jawaban sama sekali??"


Aira kembali berkata di telfon, "Haloo. Haloo. Haloooo!!"


Ze yang melihat kakaknya diam membisu seperti patung merasa terheran-heran dengan sikap kakaknya itu lalu Ze mengambil alih telfonnya. Ze merebut ponsel Re kemudian berbicara ditelfon, "Iya haloo. Maaf tadi ponselku ada yang menelfon karena itulah aku tidak menjawabmu. Apa ayah ada di rumah??" tanya Ze.


Mendengar suara yang berbicara ditelfon Aira langsung mengenali suaranya, "Zeee!!!."


"Hehehe iya, ini aku Ze. maaf ya Ai" ucap Ze.


"Astaga Ze, aku fikir tadi siapa. Di halo-halo tidak ada suara dan tidak ada jawaban." sambung Aira di telfon.


"Hehehe sorry Ai" ucap Ze.


"Tidak apa. Oh iya, Ayah sedang ada di kamarnya. Apa mau aku panggilkan??"


"Aahh tidak perlu Ai. Eemm, kau pergi saja ke kamar Ayah dan beritahu ayah untuk menelfonku sekarang. Aku menelfon ayah berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari ayah" ucap Ze.


"Ok. Baiklah. Aku akan beritahu ayah!!"


"Ok Ai. Thank you."


Aira hanya tersenyum dan memutuskan sambungan telfonnya. kemudian Aira melangkah menaiki tangga menuju kamar Nando. Aira mengetuk pintu kamar Nando dengan sopan namun tidak ada jawaban. Karena pintu tidak dikunci akhirnya Aira membuka pintu kamar Nando dengan perlahan tetapi Aira tidak melihat keberadaan Nando di dalam kamarnya. Aira berfikir, "Mungkin ayah sedang di ruang kerjanya, coba Aku cek"


Aira berjalan menuju ruangan kerja Nando lagi-lagi Aira tidak menemukan keberadaan Nando. Aira kembali berfikir, "Apa mungkin ayah sedang di teras??. Coba aku ce**k lagi"


Setibanya di teras namun Aira tidak juga menemukan Nando Aira mulai panik dan bertanya dengan dirinya sendiri, "Astaga, Ayah kemana??"


Aira berlari kesana kemari kesemua sudut ruangan namun tidak menemukan Nando. Dengan nafas yang ngos-ngosan Aira terdiam dan berfikir kembali, "Sejak pulang aku tidak melihat ayah keluar tapi kenapa ayah tidak ada di rumah." Setelah mengingat sesuatu Aira berkata sambil menepok jidatnya, "Astaga, kenapa aku bisa lupa. Haiiih, Ayah pasti sedang di kamar Leon dan Liam. Aku sudah seperti orang gila berlari kesana kemari mencari ayah."


Tanpa berfikir lagi Aira langsung berjalan menuju kamar Leon dan Liam. Benar saja, Aira melihat Nando sedang bermain dengan kedua cucunya itu. Aira memanggil Nando, "Ayaah!!."

__ADS_1


Nando menoleh kesumber suara, "Aira. Kau belum tidur Ai??" tanya Nando.


"Belum Ayah. Tadi ada telfon dari Ze. Ze menelfon ke ponsel ayah tapi ayah tidak menjawab telfonnya" ucap Aira.


Nando memeriksa saku celana dan bajunya namun ponselnya tidak ada, Nando baru ingat bahwa ponselnya ia tinggalkan dikamar seusai shalat maghrib tadi. Nando berkata, "Astaga, ponsel ayah tinggal di kamar Ai."


"Haaiih, tadi Ze berpesan agar ayah segera menelfonnya. Aira juga tidak tahu mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Ze" ucap Aira.


"Ya baiklah. Ayah akan menelfonnya nanti." ucap Nando kepada Aira.


Sembari memegang wajah kedua cucunya Nando berkata, "Leon, Liam, Oppa pergi ke kamar dulu ya. Oppa ada urusan sebentar."


"Hm" jawab Leon dan Liam bersamaan.


Nando bergegas pergi ke kamarnya dan segera menghubungi Ze. Sementara itu Aira membujuk kedua putranya itu untuk tidur. "Ayolaah sayang!!. Ini sudah malam. Mommy sangat lelah dan ingin istirahat. Jika kalian tidak segera tidur makan Mommy akan menangis saja."


Aira mulai memasang mimik wajah yang menyedihkan dan itu membuat Leon langsung menjadi kalah. Leon berkata, "Oke baiklah Mommy. Leon dan Liam akan tidul cekalang tapi Mommy jangan menangic ya!!"


"Baiklah, Mommy tidak akan menangis. Ayo kita tidur!!" ajak Aira.


Aira menidurkan kedua putra kesayangannya itu, setelah keduanya tertidur Aira pergi ke kamarnya tak lupa Aira juga menutup pintu kamar Leon & Liam. Setelah di dalam kamar Aira melakukan shalat Isha dan selesai shalat Aira merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Karena Aira merasa lelah dan sangat mengantuk tidak butuh waktu lama Aira pun tertidur.


Sementara itu di sisi lain Nando bergegas pergi ke bandara untuk menjemput Re dan Ze. Setibanya di bandara Nando menelfon Ze untuk menemukan keberadaan mereka dan setelah mereka bertemu Re dan Ze segera masuk ke dalam mobil dan langsung pulang menuju rumah kediaman keluarga besar Wijaya.


Di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah keluarga Wijaya, Nando berkata, "Kenapa mendadak sekali??. Apa kalian ada urusan di sini??. Dan kenapa kalian tidak memberi tahu ayah lebih dulu??. Jika kalian memberitahu ayah Lebih dulu maka ayah akan membawa Leon dan Liam untuk menjemput kalian"


"Heemh.. Kami tidak ada urusan di sini. Hanya ada sedikit permasalahan saja yah dan Ze akan menyelesaikan permasalahan itu" ucap Ze membuat Nando sedikit bingung.


Nando mentautkan kedua alisnya sembari bertanya, "Memangnya permasalahan apa Ze??. Apa itu sangat penting sehingga kalian harus meninggalkan pekerjaan Kalian??"


"Ini sangat penting Ayah dan jika tidak aku selesaikan secepatnya maka aku tidak akan bisa menikah nanti" ucap Ze membuat Nando semakin bingung.


"Haahh??. Permasalahan apa Ze??. Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan??. Atau ini masalah hati??." Tanya Nando.


"Ayah seperti tidak pernah muda saja. Ini masalah hati ayah!!. dan Ze akan selesaikan segera agar Ze bisa menikah dengan wanita pilihan Ze" ucap Ze.

__ADS_1


"Tunggu tunggu tunggu!!. Apa ayah tidak salah dengar Ze??"


"Tidak!!. Apa yang ayah dengar semuanya benar!!"


"Hahaha... Alhamdulillah akhirnya anakku menemukan tambatan hatinya setelah sekian lama menjadi duda" ucap Nando.


"Sssssstt" Ze memberi isyarat kepada Nando untuk diam. kemudian Ze berkata, "Aku masih perjalan bukan duda. Ayah bagaimana sih. Jangan bicara tentang perdudaan nanti ada yang tersinggung di sini"


"Oopss.. Maaf. Ayah kebablasan Ze. Hahahaha" Nando sangat bahagia dengan semua ucapan Ze, namun Re masih tetap diam seperti patung. Re berpura-pura tidak mendengar pembicaraan Ayah dan Adiknya itu. Re melihat ke arah luar jendela mobilnya, Re melihat cahaya lampu sangat terang dan ada banyak dimana-mana. Re akhirnya tersenyum karena mengingat ucapan adiknya tadi, tentunya Re sudah mengetahui apa niat sebenarnya dan alasan kenapa Ze mengajaknya Re kembali ke Indonesia. Hanya saja Re masih takut akan kejadian masa lalu nya yang sudah menyakiti Aira. Re takut jika Aira tidak ingin menerimanya kembali tetapi apapun keputusan Aira nanti Re sudah siap untuk menerimanya.


Setibanya di kediaman Wijaya, Re dan Ze bergegas masuk ke dalam rumah dengan membawa koper mereka masing-masing. Bi Inah yang melihat kedatangan Tuan Mudanya itu sangat terkejut dan bahagia. Bi Inah berkata, "Masha Allah!!. Tuan Muda!!. Waaahh, ini kejutan terbesar Tuan. Bibi sangat bahagia bisa melihat Tuan Muda berdua kembali ke rumah ini. Setelah sekian lama Tuan Muda tidak pernah kembali ke rumah ini sekarang rasanya rumah ini hidup kembali"


Re dan Ze hanya tersenyum kepada Bi Inah kemudian Bi Inah berkata kembali, "Tuan Muda sekarang semakin tampan!!" tentu saja itu membuat Re dan Ze tertawa geli.


Re berkata, "Bibi bisa saja!!. Terimakasih ya Bi karena sudah merawat ayah selama kami tidak ada di sini!!"


"Sama-sama Tuan Muda, itu sudah menjadi tanggung jawab Bibi di sini. Tapi bukan hanya Bibi saja, Nona Aira juga sering membawakan makanan untuk Tuan Besar. Bahkan Nona Aira juga mengizinkan Leon dan Liam untuk tinggal di sini bersama Tuan Besar. Jadi bukan hanya Bibi saja, Nona Aira, Tuan Muda Kecil juga terlibat dalam kebahagiaan Tuan besar" ucap Bi Inah.


Re tersenyum lebar mendengar ucapan Bi Inah, dalam hati Re berkata, "Terimakasih Aira untuk semua yang kau lakukan. Kau selalu memeperthatikan sua orang meskipun saat ini kau pasti sangat sibuk sekali harus menghidupi kedua anak kita. Maafkan Ak Ai" dengan mata yang berkaca-kaca Re berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Bi sudah cukup ya mengobrolnya, Ze dan kak Re ingin istirahat dulu" ucap Ze sambil berjalan.


Saat melintasi kamarnya Re tidak jadi membuka pintu kamarnya, akhirnya Re memilih masuk ke kamar Ze. Ze berlari mengejar Re, "Kak. Kak Re!!. Kau kenapa??"


"Ssstt... Kau bisa diam tidak. Berisik sekali!!." Ucap Re sambil berjalan menuju kamar mandi. Ze hanya diam saja dan tidak berani untuk mengatakan apapun. Setelah selesai mandi Re hanya mengenakan boxer dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Re melihat Ze yang sedang bermain ponselnya sambil rebahan kemudian bertanya, "Kau sudah mandi Ze??"


"Sudah!!" ucap Ze.


"Cepat sekali!!. Kau pasti tidak memakai sabun tadi!!" ucap Re.


"Enak saja!!. Biar begini aku juga sangat pembersih kakak. Aku mandi selalu memakai sabun dan tidak perlu lama-lama juga di kamar mandi. Memangnya kau yang suka berlama-lama di kamar mandi.. Kenapa kau suka berlama-lama di kamar mandi??. Ada pacarmu ya di kamar mandi??" ucap Ze mengejek Re.


Re sama sekali tidak terusik dengan candaan adiknya itu dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. kemudian Re mencoba memejamkan mata namun Ze masih saja mengganggunya dengan candaan-candaan yang tidak penting menurut Re. Karena lelah semua candaannya tidak ditanggapi oleh Re, Ze merebahkan tubuhnya di kasur dan beberapa menit kemudian terdengarlah suara aungan singa dari mulut Ze. Re yang sejak tadi mencoba memejamkan mata tidak bisa tertidur karena mendengar suara aungan dari mulut Ze. Re mencoba menutup telinganya dengan bantal namun tetap tidak bisa tidur. Mencoba memasang handsed di telinganya tapi matanya tetap saja tidak ingin tertidur.


Akhirnya Re memutuskan untuk keluar dari kamar Ze dan berjalan-jalan keliling rumah. Saat melewati kamar yang tidak jauh dari kamar lamanya bersama Aira Re mendengar ada suara anak kecil menangis. Dengan sigap Re langsung membuka pintu kamar itu dan langsung menghampiri anak kecil itu dan ternyata yang menangis itu adalah Liam.

__ADS_1


__ADS_2