Gadis Desa

Gadis Desa
Episode 52


__ADS_3

Sementara itu di Amerika, Re & Ze masih belum berbaikan. Mereka sudah lama sekali tidak pernah bertemu semenjak Tasya meninggal. Selama beberapa tahun ini, Ze selalu disibukkan dengan Rumah Sakit dan juga pasien-pasiennya. Begitu pun dengan Re, Re juga disibukkan dengan aktifitasnya di perusahaan RN Company.


Kini perusahaan Re semakin berkembang pesat dan Re selalu fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Ze kini sudah memiliki Rumah sendiri dan Rumah Sakit sendiri. Apartemen yang selama ini dimiliki oleh Ze kini sudah mulai ramai penghuninya.


Terkadang di waktu senggang, Ze sesekali memikirkan Aira. Begitu pun dengan Re, meski Re dan Aira sudah berpisah Re masih sering memikirkan Aira dan mengingat kenangan-kenangan indah saat bersama Aira. Tapi disaat Re teringat hal-hal buruk yang ia lakukan kepada Aira Re mengutuk dirinya sendiri. Re merasa sangat bersalah dengan Aira. Re bahkan sangat malu jika suatu saat nanti ia bertemu dengan Aira.


Hari ini Re merasa badannya kurang sehat tetapi Re tetap memaksakan diri untuk pergi ke perusahaannya dengan alasan begitu banyak berkas-berkas yang harus ia tanda tangani dan ia urus. Karena melihat Re yang begitu pucat Bi Mia berkata, "Tuan!!. Sebaiknya Tuan Muda istirahat saja di rumah wajah Tuan sangat pucat. Masalah pekerjaan besok Tuan bisa lanjutkan lagi. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Tuan"


Selama ini Bi Mia sudah menganggap Re dan Ze seperti putranya sendiri. Sekarang Re sudah banyak berubah dan Re juga sangat menyadari apa yang terjadi.


Re berkata, "Tidak Bi. Pekerjaan hari ini sangat menumpuk. Banyak sekali berkas yang belum Re tanda tangani dan aku juga harua mengurua beberapa berkas penting di kantor. Re pergi dulu ya Bi"


"Hati-hati Tuan" pesan Bi Mia.


Re langsung berjalan keluar rumah dan melajukan mobilnya ke perusahaannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata yang menelfon adalah nomor tak dikenal lalu Re mengabaikan ponselnya. Tapi ponsel itu tidak berhenti berbunyi, berkali-kali nomor tidak dikenal itu terus menelfon Re. Karena kesal akhirnya Re menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Re berkata, "Ya haloo. Siapa ini ??"


"Ini aku Ze. Bagimana kabarmu?"


"Oow... Haah!!! Ze??. Maksudmu Zean??."


"Ya iyalah, memangnya Ze mana lagi??. Hah??"


"Aku fikir tadi siapa. Kabarku baik Ze. Tumben kau menelfonku??. Ada apa??"


"Tidak ada. Memangnya aku tidak boleh menelfonmu??"


"Tidak juga!!. Bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


"Baik. Kau ada dimana??"


"Aku sedang di dalam mobil ingin pergi ke perusahaan. Kau kemana saja tidak ada kabar??. Apa sekarang kau sudah memaafkanku Ze??"


Mendengar pertanyaan Re, Ze berkata, "Ya kak aku sudah memaafkanmu. Biar bagaimana pun kau adalah kakakku dan aku adikmu. Tidak baik jika kakak adik bwrtengkar terlalu lama. Pertengkaran dalam persaudaraan itu biasa kak tapi tidak perlu bermusuhan juga!!. Di dunia ini tidak ada mantan adik, tidak ada pula mantan kakak. Kalau mantan pacar, mantan istri, mantan suami, iya banyak. Lagi pula Bunda juga sudah tidak ada dan kita hanya memiliki ayah, sedangkan aku hanya memiliki kau dan ayah"


"Kau benar sekali aku juga hanya memiliki kau dan ayah" Sambung Re


"Nah itulah sebabnya aku sudah memaafkanmu. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku hanya karena masalalu. Kita harus melupakan masalalu demi masa depan" Ucap Ze.


"Hm... Terimakasih Ze. Kau sangat benar. Aku sangat menyesali dan aku juga minta maaf atas apa yang aku lakukan ke Aira dulu. Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan menikah dengan siapa pun lagi. Kalau pun Aira tidak mau kembali lagi bersamaku itu tidak masalah. Aira sudah menjadi milikmu dan aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian."


Ze berkata dalam hati sambil menepok jidatnya, "Astaga. Kak Re belum tahu kalau si Leon & Liam adalah anaknya. Apa aku beritahu saja ya??." Ze berfikir kembali, "*Tidak tidak, j*angan sekarang. Aku akan memberitahu kak Re jika waktunya sudah tiba"


"Haloo!!. Halooo!!. Haloooo!!. Zeee!!. Halo Ze!!" Re berteriak di telfon.


"Kau kenapa diam saja ?"


"Ahh, tidak apa kak. Oh ya, nanti malam aku mengadakan pesta di rumah baruku. Aku akan memberi alamatnya kepadamu jangan lupa datang ya!!" ucap Ze.


"Pestaa ??. Dalam rangka apa Ze?"


"Aku beli rumah baru. Aku juga sudah memiliki Rumah Sakit sendiri dan alhamdulillah Apartemen aku juga sudah mulai ramai penghuninya" ucap Ze.


"Woooww... Ternyata adikku sekarang sudah menjadi seorang Dokter yang sukses ya. Aku bangga kepadamu Ze. Kau berdiri Di atas keringatmu sendiri"


"Hemmh.. Terimakasih kak. Kau sendiri juga tahu apa yang menjadi cita-citaku dan impianku sejak Kecil!!"

__ADS_1


"Iyaa, aku tahu semuanya. Ya sudah kalau begitu aku tutup telfonnya dulu ya. Soalnya aku sudah sampai diperusahaan sekarang. Bye Ze"


"Bye kak. Sampai jumpa nanti malam"


"Ok".


Mereka memutuskan sambungan telfonnya masing-masing.


Sebenernya Ze tidak marah ataupun benci kepada Re. Ze hanya marah dan benci dengan sikapnya selama ini yang selalu memyakiti Aira. Ze, Aira dan Nando belum memberi tahu Re apa pun tentang Leon dan Liam. Apa lagi tentang hubungan Ze dan Aira yang sebenarnya tidak ada ikatan sama sekali. Nando dan Ze berharap Aira membuka hatinya untuk Ze. Tapi Sepertinya hati Aira masih tertutup serta trauma akan cinta dan pernikahan. Entah sampai kapan Aira akan sendiri seperti ini.


Malam Pun tiba, kini para tamu sudah berdatangan di kediaman Zean Wijaya. Re juga menghadiri undangan Adiknya itu. Awalnya Re merasa Ragu dan malu untuk datang tapi Re mencoba memberanikan diri untuk datang ke pestanya Ze.


Sesampai di rumah Ze, Ze sudah menunggu kedatangan Re. Saat Re melangkah masuk ke rumah Ze, Re menoleh kasana kemari mencari keberadaan Ze tapi Re tidak menemukan keberadaan Ze. Ze yang memang sejak tadi sudah menunggu Re dan melihat kedatangan Re kemudian Ze langsung memanggil Re, "Kak Re!!"


Re menoleh kesumber suara, Ze berlari menghampiri Re kemudian menyapanya, "Hai Kak." Ze langsung memeluk Re "Aku sangat merindukanmu kak" ucap Ze.


Re membalas pelukan ze dan mengelus pundak Ze, "Kau pikir hanya kau saja, aku juga sangat merindukanmu wahai adikku tersayang. Aku juga rindu dengan pukulan dan tonjokanmu" ucap Re sambil tertawa kecil.


"Haaiih... Kau ini!!. Maafkan aku kak, saat itu aku benar-benar kesal dengan sikapmu dan saat itu aku benar-benar sudah dikuasai oleh Amarahk sendiri. Sory ya kak" ucap Ze.


"It's okay. Kau tidak salah dan yang harusnya minta maaf itu aku bukan kau" sambung Re.


"Intinya kita semua sama-sama bersalah kak"


Re hanya tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun kemudian mengacak-acak rambut adiknya.


Ze berkata, "Baiklah. Kalau begitu tidak usah membahas masalalu."

__ADS_1


Lagi-lagi Re hanya menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia setuju dengan perkataan Ze.


__ADS_2