
Ze terbangun dari tidurnya, pancaran sinar matahari yg begitu memancar ke arah tempat tidurnya membuat Ze merasa terganggu. Ze bergumam sendiri, "Pasti kak Re yg membuka jendela, Dasar tidak peka" Ze bangun dan langsung menutup kembali jendela dan hordeng kamarnya lalu melanjutkan tidurnya.
Dari arah pintu nampak seorang pria berjalan menghampiri Ze, dia adalah Re. Re mencoba membangunkan Ze, "Zee, bangun!!" Re menggoyang-goyang badan Ze, namun Ze tetap saja tidak bangun. Re mencoba membangunkan kembali, "Zeee!!. Bangun!!. Zeeeeee!!"
"Hm" jwb Ze dengan suara khas bangun tidurnya.
"Bangun ini sudah siang, ayo cepat bangun!!" sambung Re.
"Iyaa a a... 5 menit lagi" ucap Ze dengan suara beratnya.
"Tidak ada 5 menit, sekarang juga ayo bangun. Di luar ada Sasa tuh!!" ucap Re mengerjai Ze.
Ze langsung bangun seketika mendengar nama Sasa, "Sasa??. Mana Sasa??. Mana??" ucap Ze sembari melihat kearah pintu namun tak ada siapapun, "Menyebalkan, kau mengerjaiku ya!!. Sudahlah aku mau lanjut tidur lagi" ucap Ze.
"Tidak bisa!!. Kau harus menelfon Sasa sekarang Ze!!. Tadi dia menelfon ke ponselku, katanya ada hal penting yg ingin dia bicarakan kepadamu" ucap Re.
"Iya iya kak, aku akan telfon Sasa sekarang!!" ucap Ze sembari mengambil ponselnya yg tergeletak diatas meja. Saat ia membuka ponselnya Ze sangat terkejut melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Sasa, "Astaga, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Sasa" ucap Ze dan segera menelfon Sasa.
Saat sambungan telfonnya masih berbunyi, Ze melirik ke arah Re. Seketika Re sudah mengetahui apa maksud lirikan Ze, "Aku harus ke kantor, bye" ucap Re sembari berjalan meninggalkan kamar Ze.
"Bye" jwb Ze.
Tak berapa lama kemudian Sasa menjawab telfon dari Ze, "Halloo!!"
"Hallo bawel!!" ucap Ze
"Senior, kau kemana saja??. Sejak pagi aku menghubungi mu namun tak ada jawaban darimu" ucap Sasa.
"Sorry bawel, aku baru saja bangun!!. Ada apa??. Apa ada hal penting??" tanya Ze
"Hm, kau benar sekali. Ini keadaan darurat" ucap Sasa.
Mendengar Sasa mengatakan keadaan darurat Ze langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berkata, "Keadaan darurat apa??. Apa ada masalah dirumah sakit??"
"Iya, kau benar senior. Tapi keadaan darurat ini bukan dirumah sakit melainkan kau yang sakit" ucap Sasa kesal.
"Apa kau bilang!!!. Aku sakit??. Aku tidak sakit bodoh, aku ini sehat dan keadaan ku baik-baik saja" tegas Ze.
"Apa kau yakin??" tanya Sasa.
__ADS_1
"Oooohh, aku tahu. Kau pasti sengaja menelfonku karena kau sedang rindu padaku, iyaaakaaan??" ucap Ze menggoda Sasa.
"Iiiiihh, enak saja. Tidak ada!!. Sama sekali tidak!!. Jangan mengada-ada ya Bapak Tua" Sahut Sasa.
"Dasar kau!!. Awas saja jika aku bertemu denganmu, akan ku buat tidak bisa bicara mulutmu itu" ucap Ze.
"Weeew.. Sungguh kejamnya dirimu Pak Tua, jika saja kau bukan Boss ku pasti sudah ku enyahkan kau dari muka bumi ini. Hehehe... Canda pak Boss!!" ucap Sasa.
"Hm.. Dasar kucing liar" ucap Ze.
"Apa kau bilang, aku bukan kucing liar Pak Tua!!" ucap Sasa.
"Kalau begitu berhenti memanggilku Pak Tua, aku tidak akan memanggilmu kucing liar lagi" tegas Ze.
"Iya, iya baiklah.. Hmmm🙄" ucap Sasa.
"Ya sudah nanti aku telfon lagi, aku mau mandi dulu" ucap Ze
Tapi Sasa langsung menjawab perkataan Ze, "Eeeeeee Nanti dulu Senior!!"
"Apa lagi??" tanya Ze.
"Oowh" ucap Ze, namun tiba-tiba Ze terkejut mengingat perkataan Sasa, "Whaat??. Di bandara??. Apa aku tidak salah dengar??"
"Iya Di bandara. Jemput aku Di bandara sekarang, oke. GPL, ga pake lama. Waktumu hanya 10 menit dimulai dari sekarang!!" tegas Sasa.
"Yang benar saja??. Kau gila ya??" tanya Ze
"Aku tidak gila tapi kau yg membuatku gila dengan menyuruhku menunggu lama. Aku sudah seperti tong sampah disini berdiri sejak tadi subuh. Pokoknya 10 menit tidak ada tapi-tf apo atau apapun" ucap Sasa
"Bagaimana mungkin aku bisa sampai dlm waktu 10 menit??. Aku baru saja bangun dan belum mandi, tambah 10 menit lagi jadi 20 menit, oke Sasa cantik" ucap Ze merayu Sasa.
Namun rayuan Ze tidak mempan terhadap Sasa, "Baiklah kalau begitu 8 menit!!. Fix, no tawar-tawar!!" ucap Sasa.
"Whaaaaat!!"
"Oooo, masih mau aku kurangi lagi jadi 3 menit??" tanya Sasa
"Tidak tidak tidak. Oke 8 menit. Sekarang juga aku akan pergi ke bandara" ucap Ze.
__ADS_1
"Oke. Jangan sampai terlambat!!. Jika kau terlambat, kau akan mendapat hukuman" tegas Sasa. Sasa langsung memutuskan telfponya tanpa basa basi lagi "Tut.. Tut.. Tut"
"Dasar kucing liar, tidak ada sopan santun. Apa seperti itu cara berbicara kepada Boss. Sebenarnya yg jadi Boss aku atau dia??. Haaaarrhh.. Menyebalkan!!" gerutu Ze kesal kepada sikap Sasa.
Dengan sigap dan cepat Ze langsung bergegas menancapkan gas menuju bandara. Ze mangendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan 8 menit kemudian Ze sudah sampai di bandara dan langsung mencari lokasi yg dikirim oleh Sasa. Setibanya di lokasi tempat Sasa berada, Ze langsung menarik tangan Sasa dan pergi dari bandara tanpa basa basi. Merasa ada yg menarik tangannya Sasa seketika langsung menepis tangan Ze.
"Heey, apa-apaan ini??" teriak Sasa, "Lepaskan tanganku!!" Sasa langsung menoleh dan ternyata dia adalah Ze. Sasa berkata, "Ada apa denganmu??. Kenapa kau menarik tanganku seperti ini??. Aku ini manusia bukan hewan!!"
Ze menghentikan langkahnya dan menatap wajah Sasa dengan tatapan dinginnya. Seketika Sasa langsung terdiam dan hanya mengikuti kemana Ze menarik tangannya. Setibanya diparkiran Ze langsung membuka pintu mobil dan melempar Sasa masuk ke mobil. Ze masih kesal dengan sikap Sasa dan kata-kata Sasa ditelfon tadi. Ze mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh seperti tadi saat ia pergi ke bandara. Ze melakukan ini agar Sasa ketakitan dan tidak berkata semena-mena kepada Ze serta memberi efek jera terhadap Sasa.
Sementara itu Sasa ketakutan didalam mobil, Ze hanya memperhatikan Sasa sesekali melalui kaca spion yg ada di dalam mobil. Sasa tidak berani berbicara apapun, Sasa hanya bisa menangis dan berpegangan dengan erat disisi mobil untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
8 menit kemudian mobil Ze tiba di depan halaman rumah dan mengerem mendadak. Ze belum membukakan pintu mobil namun Ze terus menatap wajah Sasa melalui kaca spion. Karena melihat air mata Sasa terus mengalir dan sepanjang jalan Sasa menangis tak henti-henti akhirnya Ze mengalah.
"Haiiis.... Dasar cengeng!!" gerutu Ze.
Ze langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Sasa. Ze mengulurkan tangannya berharap Sasa akan memberikan tangannya kepada Ze namun Sasa masih ketakutan dengan sikap Ze barusan. Ze sedikit membungkuk dan memasukkan kepalanya ke Mobil sambil berkata, "Apa kau takut??"
Sasa hanya diam dan menatap wajah Ze dengan wajah ketaakutannya. Kemudian Ze berkata lagi, "Haiiihh, apa aku terlihat seperti monster??"
Namun Sasa tetap diam dan hanya menatap Ze, lalu Ze kembali berkata, "Lain kali jangan kau ulangi lagi sikapmu seperti tadi pagi. Aku tidak suka. Apa kau mengerti??"
Sasa hanya menundukkan kepalanya, kemudian Ze mengelus kepala Sasa dengan lembut. Ze berkata, "Sudah, jangan takut lagi!!. Semarah apapun aku, aku tidak akan memakan mu. Apa kau dengar??"
Dengan kepala menunduk Sasa menganggukkan kepalanya, Ze memegang dagu Sasa dan menariknya dengan lembut. Ze berkata, "jika aku sedang berbicara denganmu, lihat aku dan tatap wajahku. Jangan menunduk seperti tadi!!"
"Iya, maaf Senior. Maafkan atas sikapku tadi pagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi!!" sambung Sasa.
"Ya sudahlah, tidak usah membahas hal itu lagi. Sekarang pergilah ke kamar tamu, bersihkan dirimu lalu istirahatlah" ucap Ze
"iya" jawab Sasa sambil tersenyum.
kemudian Ze memanggil Bi Inah untuk mengantar Sasa ke kamar tamu, "Bi Inah.... Bi Inah"
"Iya Tuan!!" jwb Bi Inah
"Tolong antarkan teman saya ke kamar tamu dan selagi dia mandi tolong bibi tapi kan kamarnya" ucap Ze
"Baik Tuan" sahut Bi Inah, "Mari Nona" ucap Bi Inah mengajak Sasa.
__ADS_1