
Aira membawa gadis kecil itu masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang ke rumahnya. Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh gadis kecil itu ternyata dia tinggal bersama neneknya yang sedang sakit. Ia mencuri makanan tersebut untuk neneknya makan agar neneknya bisa minum obat. Tak terasa air mata Aira menetes dengan sendirinya, ia teringat masa lalunya yang selalu dicampakkan dan dikucilkan oleh warga karena ia miskin dan anak seorang pemulung. Aira sangat sedih melihat keadaan nenek tersebut kemudian Aira mengambil amplof dari dalam tasnya dan amplof tersebut berisi uang.
"Dek, ini ada sedikit uang dari kakak. Kau gunakan uang ini untuk berobat nenek dan membeli keperluan kalian. Bulan depan kakak akan datang lagi kesini dan uang ini cukup untuk biaya hidup kalian selama1 bulan" ucap Aira.
Gadis kecil itu langsung mengambil uangnya, "Terimakasih kakak. Kakak baik sekali, semoga kakak selalu bahagia"
"Amiin. Terimakasih Dek. Kalau begitu kakak pergi dulu ya!!. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam kakak"
Karena merasa lelah Aira meminta supirnya untuk berhenti di Hotel Wiliam milik Aira yang diberikan Nando kepadanya. Aira ingin istirahat sejenak. Sesampainya di Hotel Wiliam semua karyawan memberi hormat kepada Aira. Aira langsung masuk ke kamar Hotel yang biasa ia tempati saat ia sedang beristirahat. Aira pun segera pergi membersihkan diri di kamar mandi hotel tersebut. Selesai mandi, Aira merebahkan tubuhnya di kasur dan Aira mencoba memejamkan mata namun ia mendengar suara teriakan dari luar. Aira langsung membuka matanya dan berlari kearah pintu kemudian membuka pintunya.
Aira melihat ada beberapa orang yang sedang mengejar seorang wanita muda. Aira tidak mengenali wajah wanita itu karena jaraknya yang agak jauh. Wanita itupun berlari kearah kamar Aira kemudian Aira langsung menarik tangan wanita itu dan langsung menutup pintu kamar hotelnya. Aira mendengar dari balik pintu kamarnya, nampaknya ketua dari para preman tersebut meminta mereka berpencar mencari wanita tadi. Untung saja Aira dengan sigap menarik tangan wanita itu sehingga wanita itu bisa selamat dan beberapa preman tersebut juga tidak ada yang melihat Aira jadi Aira dan wanita itu aman. Aira berhasil menyelamatkan wanita tersebut.
Setelah tidak ada suara diluar Aira mencoba membuka pintu dan mengintip dari balik pintu ternyata para preman itu sudah tidak ada lagi disana, "Alhmdulillah..!!" ucap Aira sambil mengelus dadanya. Saat Aira berbalik melihat wajah wanita itu Aira sangat terkejut dengan mulut yang ternganga.
"KAU!!!" ucap Aira
"Ciih.. Kenapa Aku selalu sial jika bertemu denganmu??"
Wanita itu hanya diam saja dan duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu duduk??" ucap Aira.
"Maaf."
"Pergi dan kembalilah ke kamarmu!!"
"Tapi Nona..."
"Tidak ada tapi-tapi, pergi sekarang juga!!. Cepat!!"
"Baiklah Nona" saat wanita itu berjalan mendekati pintu Aira memanggilnya kembali, "Heey!!. Tunggu!!"
"Iya Nona"
__ADS_1
"Siapa preman-preman tadi??. Apa yang kau lakukan sehingga para preman itu mengejarmu??"
"Aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari mereka Nona"
Mendengar apa yang dikatakan wanita itu Aira melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki wanita tersebut. Benar saja, Aira melihat ada beberapa bagian bajunya yang sobek kemudian Aira mengambilkan beberapa baju miliknya dan memberikannya kepada wanita itu.
"Ini ambillah. Ganti dulu bajumu!!"
"Terimakasih" ucap wanita itu sembari mengambil baju yang diberikan Aira.
Saat wanita itu sedang berganti baju Aira bertanya-tanya dalam hatinya, "Kenapa aku merasa seperti sangat dekat dengannya??. Dan mengapa aku juga merasa bahwa aku mengenalnya??. Siapa sebenarnya wanita itu??. Aku ingat, dulu dia pernah menolongku saat aku pingsan di cafe itu. Aku tidak mengerti, sebenarnya aku ada hubungan apa dengannya sehingga aku merasa seperti pernah mengenalnya sebelumnya. Tapi siapa dia??. Oohh.. Apa lagi ini??. Aaahhh...."
Setelah selesai mengganti bajunya wanita itu berpamitan untuk kembali ke kamarnya namun Aira menahannya, "Tunggu!!. Siapa namamu??"
"Anaya!!"
"Apa??. Anaya??. Kau tidak berbohong kan??." ucap Aira tidak percaya.
"Aku tidak bebohong Nona, namaku adalah Anaya Wirawan."
Anaya berkata, "Tunggu dulu!!."
Anaya mencoba mengingat wajah Aira, Anaya merasa seperti pernah bertemu sebelumnya dengan Aira namun Anaya lupa dimana dan kapan. Setelah mencoba mengingatnya Anaya pun ingat, pada saat itu ia menolong Aira yang jatuh pingsan di cafe saat mereka berada di Amerika. Lalu kemudian Anaya membawanya ke aparementnya dan memanggil dokter. Anaya baru ingat waktu itu Anaya bertanya siapa nama wanita itu dan namanya adalah Aira.
"AIRAA!!!. Jadi kau adalah Aira??. Tidak salah lagi kau adalah Aira??" Anaya langsung memeluk sahabatnya itu. Tetapi Aira tidak membalas pelukan Anaya, Aira hanya diam seperti patung dengan Air mata yang terus mengalir. Karena Anaya merasa Aira tidak membalas pelukannya akhirnya Anaya melepaskan pelukan itu.
Kemudian Aira menghapus air matanya dan berkata, "Pergi kau dari kamar ini!!. PERGI!!. Aku membencimu!!. Kau bukan sahabatku. Pergiii!!!"
"Ai, ini aku Anaya. Jangan berkata seperti itu kepadaku. Aku tidak mau pergi. Aku sangat merindukanmu Ai." Ucap Anaya.
"Tapi aku membencimu, pergi kau dari sini!!. Aku membencimu Anaya!!" sambung Aira.
"Maafkan Aku Ai!!. Aku tahu mengapa kau membenciku, itu karena aku tidak memberi tahumu kebenaran tentang siska. Kau pasti sudah mengetahui segalanya, tolong maafkan aku Aira. Aku tidak tahu jika perbuatan kakakku akan berakibat fatal seperti ini. Maafkan Aku Ai" ucap Anaya.
Aira berjalan maju mendekati Anaya dengan nafas yang tidak teratur dan tatapan membunuh kemudian Aira dengan nada yang keras kepada Anaya, "JIKA KAU MEMANG SAHABATKU MAKA KAU TIDAK AKAN MERAHASIAKAN HAL INI DARIKU!!. SAHABAT MACAM APA KAU, HAH??."
__ADS_1
Air mata Aira terus saja mengalir tiada henti, butiran-butiran kristal itu terus membasahi pipi Aira, "Kau tahu bahwa aku sangat menyayangi ayah dan ibuku. Kau juga tahu bahwa aku rela mengorbankan hidupku demi mereka. Tapi apa yang kau lakukan, hah??. DENGAN MERAHASIAKAN HAL INI DARIKU, KAU SAMA SAJA SEPERTI AYAH DAN KAKAKMU YANG BRENGSEK ITU!!!." Ucap Aira dengan nada yang tinggu.
"Kau tahu Nay!!. Ayahmu sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Ayah dan Ibuku hanyalah umpan agar ia bisa mencapai tujuannya. Hanya karena keserakahannya terhadap harta ayahmu bahkan memanfaatkan anaknya sendiri agar misinya bisa berhasil" ucap Aira.
"Apa maksud dari ucapanmu itu Ai, aku tidak mengerti??. Aku hanya tahu bahwa kakakku Siska yang sudah membunuh ayah dan ibumu. Aku tidak apapun tentang Ayahku Ai!!" ucap Anaya bingung.
"Heh!!. Sungguh??. Kau tidak tahu apapun tentang rencana ayahmu ini??. Menyedihkan!!. Jika kau mengetahui rencana siska untuk melenyapkan ayah dan ibuku itu artinya kau juga mengetahui bahwa semua yang Siska lakukan adalah rencana ayahmu" ucap Aira.
Anaya sangat terkejut dengan ucapan Aira, Anaya tidak percaya bahwa ayahnya adalah dalang dari semuanya. Anaya juga tidak percaya bahwa ayahnya sudah memanfaatkan siska. Anaya berkata, "Itu tidak benar Ai!!. Ayahku bahkan meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Saat Siska membawa ayahku pulang ke London, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa seseorang telah membunuh ayahku dengan begitu tragis. Kau tahu sampai saat ini aku bahkan tidak tahu siapa yang sudah membunuh ayahku!!."
Aira dikagetkan dengan ucapan Anaya yang begitu membingungkan menurutnya kemudian Aira berkata, "Apa maksudmu Nay??."
"Seharusnya aku bertanya seperti itu kepadamu" ucap Anaya.
Aira menatap tajam wajah Anaya kemudian melemparkan sebuah ponsel kepada Anaya, "Ini!!. Kau lihat dan dengarkan dengan jelas apa yang ayahmu katakan di dalam vidio itu!!"
"Apa ini??"
"Bukti!!. Bukankah kau tidak percaya kepadaku!!. Aku tidak akan mengatakan apapun jika aku tidak tahu kebenarannya!!" ucap Aira.
Dalam hati Aira berkata, "Bagaimana mungkin??. Bukankah ayah Nando mengatakan bahwa jenazah om Tomy di makamkan dimakam keluarga. Jika Siska membawa jenazah Tomy pulang ke London lalu siapa yang mereka makamkan di makam keluarga saat itu??. Astaga!!. Mengapa masalah ini jadi semakin rumit"
Kemudian Anaya membuka ponsel yang diberikan oleh Aira dan Anaya menonton video yang direkam Aira beberapa tahun lalu tentang kejadian dirumah tua itu. Anaya melihat Ayah dan Nando sedang berdebat disana. Anaya juga mendengar bahwa apa yang dikatakan Aira tadi semuanya benar. Anaya sangat syok dan jantungnya seolah akan berhenti berdetak setelah melihat dan mendengar kebenaran tentang ayahnya. Anaya baru mengetahui bahwa ayahnya mempunyai dendam lama kepada keluarga besar Wijaya. Anaya bahkan baru mengetahui bahwa ayahnyalah yang sudah membunuh kakek dan neneknya. Kini Anaya sudah mengetahui kebenaran tentang ayahnya, ternyata selama ini ayahnya adalah seorang kriminaldan dalang dari semua permasalahan yang ada.
Anaya menjatuhkan ponsel yang ia pegangnya dan terduduk lemas di lantai dengan air mata yang berderai, "Hiks.. Hiks.. Hiks.." tentu saja itu membuat Aira ikut menangis karena melihat sahabatnya yang sangat bersedih. Namun Aira cepat-cepat menghapus Air matanya dan mengambil ponsel yang dijatuhkan Anaya tadi.
Kemudian Aira berkata dengan wajah sinisnya, "Heh!!. Tidak ada gunanya kau menangis. Semua sudah terjadi, jika saja kau memberi tahuku semuanya sejak awal mungkin aku tidak akan melenyapkan ayahmu dan mungkin aku bisa meluruskan semua permasalahan ini!!" ucap Aira yang membuat Anaya semakin terkejut.
"Apa??. Jadi kau yang sudah melenyapkan ayahku??. Kau jahat Aira, kau jahat!!. Aku membencimu!!" ucap Anaya sambil memukul-mukul tubuh Aira.
"Pukul aku!!. Pukul!!. Pukul aku sesuka hatimu!!" ucap Aira sambil memukul-mukulkan tangan Anaya ketubuh Aira. Aira berkata, "Apa kau pikir aku tidak sedih, hah??. Ayahmu mempunyai dendam terhadap keluarga Wijaya. Tetapi kenapa ayah dan ibuku yang harus menerima akibatnya. KATAKAN!!" Air mata Aira terus saja mengalir tak henti-hentinya, "Mendengar semua kata-kata ayahmu membuat darahku mendidih. Terlebih lagi saat ayahmu mengatakan bahwa ayah dan ibuku hanya umpan agar ia bisa mencapai tujuan yang sebenarnya. Sekarang katakan kepadaku, apakah salah jika ayahku bersahabat dengan ayah Nando??. Hah??. Kau tidak tidak bisa menjawab bukan??. Sekarang katakan padaku Anaya, apakah aku salah jika aku menyayangi ayah dan ibuku??."
mendengar semua yang dikatakan Aira, Anaya juga merasa bersalah terhadap apa yang terjadi. Anaya hanya diam membisu dan tertunduk sambil menangis.
Aira menghapus Air matanya kemudian berkata, "Mulai saat ini, lupakan persahabatan kita!!. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal" ucap Aira sambil menahan Air matanya namun Air mata Aira tetap saja mengalir dengan sendirinya. Aira pun berlalu pergi meninggalkan Anaya di kamar hotel tersebut.
__ADS_1