
Beberapa jam kemudian, Ze sudah mulai bisa bangun dari tempat tidurnya. Ze mendekati Re lalu duduk di samping bed Re. Sembari memegang tangan Re, Ze berkata, "Kak. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan kakak. Ze akan berusaha membuat kakak dan Aira bersatu kembali, bagaimanapun caranya. Ze tidak peduli jika Ze harus berkorban untuk itu. Ze tidak akan membiar kak Re menderita seperti ini lagi. Ze akan bicara kepada Aira nanti. Kak Re jangan khawatir Aira akan menerima kembali dirimu. Itu janjiku padamu kak!!."
Sampai saat ini sebenarnya Ze masih menyimpan perasaan terhadap Aira. Usia Ze yang kini sudah bertambah dewasa ternyata itu membuatnya sadar bahwa cinta tidak harus memiliki. Ze ingin melihat orang yang dia cintai itu bahagia. Ze yakin bahwa Aira tidak ingin menikah lagi bukan karena trauma atau apapun melainkan Aira masih mencintai Re.
Ze juga berusaha untuk melupakan Aira, karena itu Ze selalu menggoda Sasa agar pemikirannya tentang Aira sedikit membuyar. Tapi ternyata melupakan seseorang yang kita cintai itu memang sangat sulit. Bagi Ze tidak ada wanita lain yang lebih baik dari pada Aira. Hanya demi Re dan demi si kembar, Ze akan mengorbankan cintanya kepada Aira dan berusaha mempersatukan kembali mereka menjadi keluarga yang utuh. Walaupun ini sangat menyakitkan bagi Ze, tetapi tidak masalah ini demi kebaikkan semuanya.
Re kini sudah dipindahkan ke ruang rawat pasien yaitu Ruang VVIP. Selain itu keadaan Ze pun kini sudah lumayan membaik meskipun kepalanya terkadang masih terasa sedikit pusing. Sasa meminta Ze untuk istirahat dulu dan jangan banyak berjalan. Jika banyak berjalan Sasa takut Ze mengalami hal yang tidak diinginkan. Ze meminta kepada Sasa agar ia dirawat juga di ruangan yang sama dengan Re. Tentu saja Sasa mengikuti permintaan Bosnya itu. Rumah Sakit tempat Sasa bekerja adalah milik Ze sendiri. Jadi Ze bebas ingin dirawat di ruangan mana saja.
Sembari berbaring di bednya Ze berfikir untuk menelfon Aira, "Apa aku telfon Aira sekarang ya?. Tapi, apa Aira masih menggunakan nomor lamanya?. Aku coba dulu kalau begitu."
Ze meminta suster untuk mengambilkan ponsel miliknya, "Suster, tolong ambilkan ponselku di tasku!!."
"Baik Dok." Suster tersebut segera mencari ponsel milik Ze di dalam tasnya Ze. Setelah menemukan ponsel milik Ze, suster tersebut langsung memberikannya kepada Ze, "Ini ponselnya Dok!!." Ucap suster tersebut sembari memberikan ponsel milik Ze.
"Terimakasih." Ucap Ze sembari mengambil ponselnya dan Ze kembali berkata kepada suster tersebut, "Pergilah!!. Tinggalkan ruangan ini!!." pinta Ze kepada suster tersebut.
"Baik Dok. Saya permisi!!."
"Hm!!."
Ze membuka ponselnya dan mencari nomor Aira, Ze langsung menghubungi nomor Aira tetapi nomor Aira tidak aktif. Ze mencoba menghubungi nomor Aira berkali-kali tetap saja nomornya tidak aktf.
"Apa mungkin Aira sudah mengganti nomor ponselnya ya??." Batin Ze
"Aaahh, bagaimana ini??." Ze sedikit kecewa tapi tiba-tiba dia teringat ayahnya, Ze segera menghubungi ayahnya.
Ponsel Nando pun berdering, "Haloo Ze."
"Halo Ayah. Ayah ada dimana??."
"Ayah ada di rumah Ze."
Ze mendengar seperti ada suara anak-anak, "Tunggu!!. Jika ayah dirumah mengapa ada suara anak kecil yah??."
"Ooww, itu suaranya Leon dan Liam."
"Ayah serius??."
"Iya."
"Apa Aira ada di rumah juga, Yah??."
"Saat ini Aira tidak di rumah. Aira sedang di butik. Ada apa?."
"Tidak ada Yah. Apakah Ayah bisa memberikan nomor baru Aira kepadaku??."
"Untuk apa?."
"Ze ingin menanyakan kabar Aira, Ayah."
"Baiklah, Ayah akan kirim ke Wa mu saja."
__ADS_1
"Oke. Terimaksih Ayah."
"Hm." Nando memutuskan sambungan telfnnya dan langsung mengirim nomor Aira ke Wa Ze.
"Tumben banget, Ayah tidak mengucapkan salam." Gumam Ze.
"Aahh, sudahlah."
Beberapa saat kemudian pesan masuk di Wa Ze, setelah mendapati nomor Aira, Ze langsung menelfon nomor Aira. Saat ingin memencet tombol hijau Ze melihat ke arah jam tangannya. Ternyata jam tangannya saat ini menunjukkan pukul 00:00 malam.
"Astagaa, tadi ayah mengatakan Aira masih di butik. Tapi kenapa Leon dan Liam belum tidur tengah malam begini." Gumam Ze
Karena Ze merasa Khawatir akhirnya Ze menelfon kembali Ayahnya. Nando kembali mengangkat telfon dari Ze, "Ada apa lagi Ze ini sudah malam!!." Ucap Nando ditelfon.
"Ayah, ini sudah tengah malam kenapa Leon dan Liam belum tidur??."
"Mereka tadi sudah tidur, karena mendengar ponselku berbunyi mereka terbangun. Sekarang mereka sudah tidur lagi. Sudahlah, Ayah masih mengantuk ini!!."
"Tunggu dulu Ayah!!."
"Ada apa lagi??."
"Ini pukul 00:10 malam kenapa Aira belum pulang dari Butik, Ayah??."
"Itu karena Aira lembur dan ada banyak pesanan pelanggannya."
"Kenapa Ayah membiarkannya, Aira bisa sakit nanti Ayah."
"Iyaa Ayah tahu tetapi dia juga sudah biasa seperti ini, Ayah juga sudah sering kali mengingatkannya namun apalah daya Aira tidak mau mendengarkan Ayah. Kau tahukan Aira sangat keras kepala."
"Bye." Nando memutuskan sambungan telfonnya kemudiam melanjutkan tidur yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu.
Keesokan harinya, Leon dan Liam bangun pagi-pagi sekali. Mereka mencari keberadaan Aira tetapi mereka tidak menemukannya. Mereka pergi ke kamar Aira namun mereka juga tidak menemukan Aira. Leon dan Liam berkeliling rumah tapi mereka tak menemukan keberadaan Aira.
"Kakak, Mommy dimana??. Liam kangen cama Mommy. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Liam menangis karena tak menemukan Aira.
"Cudah, cudah. Liam jangan menangic yah. Kita tanya cama Oppa saja, ayoo!!." Ucap Leon kepada adiknya.
"Mommy.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Liam mau Mommy, kak!!."
"Iya, iya. Ayo ikut kakak!!."
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Mommy."
Akhirnya Leon menggandeng tangan adiknya dan membawanya kembali ke kamar Nando. Leon membangunkan nando yang masih tertidur pulas.
"Oppa!!. Oppa!!. Oppa banguun!!. Bangun Oppa!!. " Leon menggoyang-goyangkan tubuh Nando agar Nando terbangun.
Karena tidak ada respon dari Nando Leon punya ide jahil untuk membangunkan Nando, "OPPAAAAAAAAA!!." Leon berteriak ditelinga Nando.
Nando langsung terbangun dan berlari lompat-lompat seakan-akan terjadi sesuatu, "Aaaaa... Banjiir.. Banjir.. Tolong.. Kecoa.. Uler.. Maliing.." Nando terkaget-kaget dengan teriakan Leon ditelinganya. Sedangkan Leon tertawa terbahak-bahak dan Liam yang tadinya menangis juga ikut tertawa lepas, "Hahahaha, Oppa cangat lucu. Hahahaha.."
__ADS_1
"Dicini tidak ada Banjil Oppa!!." Ucap Leon
"Disini juga tidak ada maying Oppa!!." Sambung Liam
"Naaahh, kalau kecoa.. Adaaa!!. Itu kecoanya.. Ituu di celana Oppa!!." Ucap Leon jahil kepada Nando.
"Mana??. Mana kecoanya??. Aaaa kecoa!!. Kecoa!!." Ucap Nando sambil lompat-lompat tak jelas.
Lagi-lagi Leon dan Liam tertawa terbahak-bahak melihat Nando lompat-lompat tak jelas, "Hahahaha."
Tiba-tiba Nando tersadar bahwa ia sedang dikerjai oleh kedua cucunya itu, "Heemm." Nando menatap tajam kedua cucunya itu.
"Waduuh." Leon melihat kearah Liam begitu pun dengan Liam.
"Kalian mengerjai Oppa ya??."
"Hehehe, maaf Oppa jangan malah-malah dong!!." Ucap Leon.
"Kalau Oppa jantungan bagaimana??. Hah??. Kalian mau Oppa meninggal??."
"Tidak Oppa!!." Jawab Liam.
"Hiliih, Leon belkali-kali membangunkan Oppa tapi Oppa tidak bangun. Oppa tidulnya sepelti olang mati. Hm😒"
"Kau ini, berani berkata seperti itu kepada Oppa!!. Aku ini Oppamu, apa begitu caramu bicara kepada orang yang lebih tua??."
"OPPAAA!!. STOOP!!. Maafkan kak Leon ya Oppa. Kak Leon tidak belmaksud begitu kepada Oppa. Jadi, gini celitanya!!. Tadi kita cali Mommy, tapi kita tidak menemukan Mommy. Nah, maksud kak Leon membangunkan Oppa adalah kita mau tanya. Apa Oppa tahu Mommy ada dimana??. Begitu Oppa!!." Ucap Liam menjelaskan kepada Oppanya itu.
"Hoohh, jadi kalian cari Mommy??."
"Iya Oppa." Jawab Liam
"Mommy kalian tidur di butik, Mommy kalian lagi banyak pesanan baju makanya lembur tidak pulang."
"Oowh, jadi Mommy di butik. Oppa bica antelin kita ke butik tidak??." Ucap Liam
"Kalian mau apa ke butik??." Tanya Nando
"Mau ketemu Mommylah!!." Jawab Leon dengan wajah yang masih kesal.
"Yakiin??. Kalian mau ke butik??. Tidak mau menunggu Mommy pulang saja??." Tanya Nando lagi.
"Hm😒." Leon masih memasang wajah kesalnya.
"Kakak, cudah donk. Jangan memacang mimik wajah cepelti itu!!." Pinta Liam kepada Leon.
"Baiklah, baiklah." Ucap Leon, "Tapi Oppa halus antelin kita ke butik. Titik tidak pakai koma." Ucap Leon lagi.
"Asiiap, Tuan muda!!." Ucap Nando sambil tersenyum.
Leon dan Liam sangat senang mendengar perkataan Nando, "Yeey.. Yeey.. Ketemu Mommy.. Yeey.. Gomawo Oppa!!."
__ADS_1
"Ya sudah. Oppa mandi dulu. Ok."
"Ok Oppa." Jawab Leon dan Liam.