Gadis Desa

Gadis Desa
Episode 54


__ADS_3

Ze kembali ke mobil untuk menenangkan diri. Setelah dirasa cukup tenang Ze menghapus air matanya dan melangkahkan kakinya keluar mobil. Ze kembali ke tepi sungai untuk melihat keadaan Re. Ze melihat kakaknya yang masih terduduk disana kemudian Ze menghampirinya.


Ze berkata, "Kak!!."


Re hanya menoleh dan diam membisu tanpa suara.


"Aku tahu saat ini kakak sangat sedih tapi jika kak Re tetap seperti ini maka itu tidak akan ada gunanya. Apa kakak tidak ingin bertemu dengan Leon dan Liam??."


Re hanya menatap Ze dengan wajah sendunya. Wajahnya mengatakan bahwa ia ingin sekali bertemu dengan anak kembarnya itu tetapi hatinya mengatakan hal lain. Re kembali menundukkan wajahnya.


Ze masih berusaha membujuk kakaknya, "Kak. Ayoolaah. Jangan seperti bocah. Jika kau datang baik-baik dan meminta maaf kepada Aira serta menyelesaikan semua permasalahanmu dengan Aira, aku rasa Aira akan memafkanmu. Setidaknya cobalah dulu, aku mohon!!."


"Tidak Ze. Aku pria yang tidak berguna. Aira pasti tidak akan memaafkanku." Ucap Re.


"Haaiisss, kau ini. Belum dicoba saja kau sudah menyerah. Bagaimana kau akan menang dalam berperang kak??. Setidaknya cobalah sekali saja!!."


"Akan ku fikirkan dulu Ze!!." Ucap Re


"Baiklah, terserah kau saja."


"Kau pulang saja kerumahmu, aku tidak ingin diganggu saat ini!!. Aku ingin sendiri dulu dalam beberapa hari kedepan ini."


"Ok. Fine!!" ucap Ze sedikit kesal kepada kakaknya.


Re langsung kembali menuju mobilnya kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ze terpaksa harus pulang ke rumahnya dengan meminta jemput kepada asistennya. Beberapa menit kemudian asisten Ze datang dengan mobil mewah milik Ze. Ze langsung masuk ke dalam mobil.


Karena melihat bosnya yang begitu kusut akhirnya asistennya yang bernama Rambo bertanya, "Ada apa Bos??. Kenapa wajahmu kusut sekali??. Apa ada masalah??. Dan kenapa kau ada disini sendiri??. bukankah tadi kau bersama Bos Re!!."


Ze hanya diam saja tak bersuara kemudian Rambo kembali bertanya, "Apa kalian bertengkar lagi??."


Ze menatap tajam Rambo seakan-akan Ze ingin memangsanya, "Fokus saja menyetir dan tidak usah banyak tanya. Jika kau masih bertanya maka kau yang akan aku tendang dari mobil ini!!."


"Siap Bos. Jangan marah-marah begitu Bos, tidak baik untuk kesehatan."


Ze kembali menatap tajam Rambo dengan tatapan membunuh, "Sekali lagi kau bicara, akan ku penggal kepalamu!!!"


"Gleek.." Rambo menelan selipahnya menatap wajah Ze yang sedang menatap tajam dirinya. Kemudian Rambo kembali fokus menyetir. Sepanjang jalan Rambo hanya menatap Bosnya itu melalui kaca spion yang ada di dalam mobil tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Dalam hati Rambo berkata sambil menatap wajah majikannya itu melalui kaca spion, "Sebenarnya apa yang terjadi?. Sepertinya Bos sedang ada masalah!!. Sudahlah aku tidak mau ikut campur. Aku masih ingin hidup, jika aku ditendang keluar dari mobil dalam keadaan mobil sedang berjalan seperti ini aku bisa mati nanti. Huuuuhh!!."


Beberapa menit kemudian sampailah mereka di rumah Ze. Tapi saat Ze ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata itu telfon dari Rumah Sakit. Ze langsung menggeser tombol hijau yang ada dilayar ponselnya, "Hallo."

__ADS_1


"Hallo Dok. Maaf malam-malam mengganggu."


"Iya ada apa?."


"Gawat Dok, ini benar-benar gawat."


"Gawat bagaimana?."


"Ada pasien kecelakaan Dok, pendarahan di kepalanya tidak mau berhenti. Dokter Zean harus segera ke Rumah Sakit sekarang. Jika tidak nyawa pasien akan melayang, Dokter Sasa sudah menanganinya tapi sepertinya tidak berhasil, pasien benar-benar kritis saat ini. Dokter Sasa mengatakan bahwa pasien tersebut bernama Rein Wijaya mungkin dia saudara anda Dok??."


"Apa!!."


Ze sangat syok saat mendengar nama pasien adalah Rein Wijaya. Ze seperti tidak percaya dengan ucapan suster tersebut, tanpa berfikir lama Ze langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit dengan melajukan mobil sport mewahnya itu.


Rambo yang melihat Ze berlari kearah mobil langsung memanggilnya, "Boss. Heeyy Booss!!. Kau mau kemana??. Boss!!. Haiih, aku ditinggal lagi. Memang susah punya Boss galak. Huuh, sudahlah!!" kesal Rambo.


Hanya butuh waktu 15 menit Ze sampai di Rumah Sakit. Ze benar-benar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jika benar itu adalah Rein Wijaya kakaknya maka Ze tidak ingin kehilangan kakaknya. Sesampainya di Rumah Sakit Ze langsung menuju ruang UGD dengan membawa peralatan yang dibutuhkan untuk menangani pasien. Saat masuk ruangan, Ze dikejutkan dengan pemandangan yang begitu memilukan. Kepala yang bersimbah darah, terlihat tubuh yang penuh dengan luka-luka dengan kaki tergantung dikarenakan selain mengalami pendarahan di kepala Re juga mengalami patah kaki. Tak terasa air mata Ze mengalir membasahi pipinya.


Ze berlari mendekati Re dan segera melakukan tindakan agar nyawa Re dapat tertolong. Ze tidak ingin kehilangan kakak semata wayangnya itu. Ze melakukan semampu dan sebisa mungkin untuk menyelamatkan kakaknya itu. Setelah 1 jam menangani pasien akhirnya pendarahan Re berhenti tetapi Re kehilangan banyak darah jadi Re membutuhkan pendonor darah. Tanpa berfikir panjang Ze langsung memutuskan untuk mendonorkan darahnya kepasa kakaknya itu.


"Dokter Sasa, tolong kau ambil sempel darahku. Cepat!!. Kita tidak punya banyak waktu. Ambil sempel darahku 2 kantong!!."


"Tidak ada tapi-tapi, cepat lakukan perintahku atau kau akan ku pecat!!."


"Baiklah Dok akan saya lakukan!!."


Dokter Sasa segera mengambil sempel darah Ze sebanyak 2 kantong. Setelah selesai mengambil sempel darah kepala Ze begitu pusing namun Ze masih menahannya agar tidak terjatuh. Sasa yang melihatnya sangat mengerti apa yang dirasakan Ze saat ini dan Sasa bertanya, "Apa kau baik-baik saja Senior??."


"Hm." Ze hanya mengangkat tangannya tanda stop/berhenti Agar Sasa tidak banyak bertanya lagi, "Cepat lakukan Tranfusi darah aku baik-baik saja."


"Baiklah Senior."


Sasa melakukan apa yang diminta oleh Ze, Sasa melakukan tranfusi darah ke tubuh Re dengan sempel darah milik Ze. Setelah Sasa selesai memasang selang ke tangan Re, Ze tiba-tiba terjatuh dan pingsan.


"Senioor!!. Senior!!. Senior bangun!!. Seniooooor!!." Teriak Sasa panik membangunkan Ze yang sedang pingsan.


Sasa akhirnya meminta tolong kepada suster untuk membantunya mengangkat Ze ke bed, "Suster tolong bantu saya mengangkatnya!!." Kemudian Sasa langsung memeriksa keadaan Ze, Ze sangat lemas dan lesu sehabis melakukan donor darah. Keadaan Ze sangat tidak baik, jadi dokter Sasa segera bertindak dengan berbagai cara ia membantu Ze agar keadaannya normal kembali dengan dibantu oleh beberapa suster. Setelah 30 menit kemudian keadaan Ze kembali normal namun tetap saja Ze membutuhkan istirahat yang cukup dan minum obat sera vitamin agar bisa memulihkan stamina nya.


Beberapa menit kemudian Ze siuman. Sasa yang setia menemaninya duduk di kursi sebelah bed. Melihat Ze yang baru saja siuman Sasa langsung memeriksa keadaan Ze, "Kau harus banyak istirahat Senior. Sudah aku katakan tadi jangan mengambil resiko ini, untung saja kau baik-baik saja. Bagaimana jika nyawamu yang melayang??. Apa yang akan terjadi??. Coba kau fikirkan itu??."


"Maafkan aku. Aku tidak ingin kehilangan kakakku. Aku sudah kehilangan ibuku aku tidak ingin kehilangan kakakku!!. Tidak masalah jika aku harus kehilangan nyawaku asal aku bisa menyelamatkan kakakku!!"

__ADS_1


"Aku tahu betul Senior, bagaimana hubungan keluargamu!! . Tapi coba kau renungkan kembali, jika kau yang tiada bagaimana nasip pasien-pasien di rumah sakit ini??. Akan banyak pasien yang kehilangan nyawanya juga!!. Fikirkan itu!!." Ucap Sasa.


"Haiiiss... Iya baiklah. Maaf Juniorku yang baweeel, maafkan Seniormu ini yaa!!."


"Menyebalkan!!." Sasa membuang muka dan memasang wajah cemberutnya.


"Memangnya kenapa??. Kenapa kau jadi marah-marah??. Hah??. Katakan!!. Kau benar menyukaiku yaa??." Ze menggoda Sasa.


"Tidak. Jangan mimpi!!. Aku sedang kesal denganmu jadi jangan menggodaku!!"


Ze tersenyum melihat tingkah Sasa yang begitu menggemaskan, "Kalau begitu kenapa kau mencemaskanku??."


"Siapa yang mencemaskanmu??. Aku sama sekali tidak mencemaskanmu tapi mencemaskan pasien Rumah Sakit ini!!."


"Hahaha.. Sasa, Sasa. Itu terlihat jelas dimatamu kau sangat mencemaskanku, mengakulah!!." Lagi-lagi Ze menggodanya.


"Tidak. Aku bilang tidak ya tidak.!!" Sasa langsung pergi ke bed di sebelah Ze yaitu bed Re dan memerikasa keadannya.


"Bagaimana keadaan kakakku??."


"Dia sudah melewati masa kritisnya, sekarang keadaannya sudah membaik. Hanya saja dia butuh beberapa waktu lebih lama lagi untuk siuman."


"Alhmdulillah. Itu artinya tranfusi darahnya berhasil??."


"Iya."


"Kerja bagus baweel!!."


"Hm!!. Berhentilah menyebutku bawel Pak tua!!."


"Apa kau bilang?."


"Pak tuuaaaa!!." ucap Sasa dengan nada mengejek.


"Kau!!. Aaww, ssstth. Kepalaku masih pusing." Ze memegang kepalanya sembari berkata, "Awas saja nanti, aku akan membuatmu tak berdaya. Lihat saja!!"


"Apa maksudmu bicara seperti itu?."


"Tidak ada."


"Dasar aneeh!!."

__ADS_1


__ADS_2