Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Introduction


__ADS_3

“Woi, kapan kau mau cari pacar? Sudah kuliah masih ga dapat aja. Jangan kelamaan cari pacar dan segeralah mencari pengalaman dalam hubungan.”


Itulah diriku, namaku Han dan sampai sekarang aku masih tidak memiliki pacar. Aku berasal dari keluarga yang lengkap dan bahagia, namun semua hal tersebut berubah sejak beberapa saudaraku sudah mempunyai pacar. Sungguh memilukan karena ada dari mereka yang bersekolah di luar negeri namun langsung mendapatkan pacar sebangsa yang juga bersekolah di luar.


Aku tahu ini aneh, namun dengarkanlah aku. Aku bukanlah tipe laki-laki yang dapat mudah menggoda perempuan, aku bukanlah tipe orang-orang yang sedikit melihat perempuan dapat dengan instannya menggoda mereka seperti anda menggodok mie instan untuk makan.


Pacar? Apa itu? Aku tidak membutuhkannya sedarurat mungkin. Aku bahagia dengan hidup yang aku jalani, dan tidak ada orang yang boleh mengomentari hidupku karena hidup ini adalah hidupku dan tolong uruslah hidupmu sendiri.


Aku juga memiliki teman-teman dekat yang juga tidak memiliki pacar sepertiku, kukira mereka adalah orang yang baik karena kita memiliki nasib yang sama. Mereka sudah bersamaku 2 tahun di saat masa sekolah dan sampai sekarang. Sungguh waktu yang membahagiakan.


“Long, lu serius lu udah pacaran sama dia?”


Mika bertanya dengan nada yang heran, karena kebetulan Long mengunggah foto di Instugrum miliknya. Hal ini memancing pertanyaan dari teman-temanku yang lain, seperti temanku Wang yang mengetahui profil dari pacar Long.


“Woi, kenapa ga bilang-bilang kami kalau lu udah pacaran? Dia adik kelas di SMA, ya ga sih?”


Long sendiri dengan lantangnya membela dirinya seolah-olah dia mengetahui seluruh momen yang terjadi diantara mereka.


“Lu aja ga ada yang laporan sama gua kalau lu juga pacaran.”


“Bentar, lu bertiga sudah punya?”


Jelas diriku kaget, karena selama ini aku merasa dibohongi oleh mereka bertiga. Jangan-jangan mereka bertiga sudah memiliki pacar tanpa diriku mengetahui hal tersebut.


“Oh iya, kami baru saja pacaran juga di sana (Luar Negeri).”


“Sudah berapa lama?”, Wang bertanya untuk memastikan keraguannya.


“Ya sekitar satu tahun.” Mika menjawab dengan lantang di saat telepon bersama.


Lalu mereka bertiga memanggilku dan mencoba untuk menginjak-injak harga diriku. Di saat itulah, harga diriku semakin tertekan dan berpikir untuk menutup telepon itu sesegera mungkin.


“Lihatlah Han, cuma dia satu-satunya dari kita yang ga punya. Dia mungkin masih ga bisa mo-”


Kututup telponnya, dan aku tidak mau menelpon mereka lagi dalam waktu yang cukup lama. Ini sangat memilukan, saudaraku sudah punya, sekarang teman-temanku juga sudah punya. Aku mengalami sebuah kejahatan, dunia ini sangat tidak adil buat diriku. Hati di dalam diriku ingin menjerit sekencang mungkin karena aku merasa dikhianati.


“Dasar Brengsek!!!!!!!!!!”


Keesokan harinya, aku pergi ke kampus universitasku. Universitasku bukanlah universitas terpusat, tapi universitas yang memiliki berbagai cabang kampus. Kampus tersebut dibagi empat sesuai dengan fakultas masing-masing. Aku sendiri masuk di Fakultas Teknik, jurusan Pertambangan. Sesuai ekspetasi kalian, Teknik Pertamangan tidak memiliki murid perempuan.


Semua murid yang mengambil studi ini adalah laki-laki, dan jangan pernah berharap dengan fakultas yang bernama Teknik dapat berpacaran dengan sesama jurusan. Kemungkinannya sangat kecil dan kadang berharap teralu tinggi dapat menyesakkan. Aku juga memiliki teman kuliah yang juga merupakan sahabatku, dia namanya Ryuu dan menurutku dia satu-satunya sahabatku yang tidak mengkhianatiku. Dia sampai sekarang masih tidak memiliki pacar karena dia tidak teralu tertarik dengan hubungan romansa seperti itu.


“Lu telpon-telponan sama mereka lagi?”


“Sepertinya begitu.”


“Terus bagaimana hasilnya?”


“Tidak terduga, mereka semua sudah punya. Kamu tahu kan rasanya ga punya pacar? Kita ini senasib.”


“Temanku, kamu harus mengingat fakultas apa mereka dan sadarilah fakultas kami tidak seringan mereka.”

__ADS_1


Akhirnya, seseorang telah memperkeruh suasana. Tidak ada sebuah permasalahan seseorang di fakultas mana, namanya Pacar adalah harga mutlak.


Lalu ada teman kuliahku yang baru datang juga, namanya Jun. Dia sendiri juga senasib karena tidak memiliki pacar karena dia tidak begitu tertarik. Dia adalah orang yang pintar dan selalu mendapatkan ranking atas di dalam kelas.


“Pagi-pagi udah rebut masalah pacar, bisa disimpan ga buat nanti siangan?”


Lalu, biasanya setelah kuliah kami pergi bersama untuk nongkrong di café atau restoran untuk menghibur diri. Kuliah di fakultas itu ibarat neraka dan sangat melelahkan walau kuliah paling lama hanya 5 jam. Tidak lama kemudian, Jun bertanya tentang apa yang terjadi pada pagi tadi.


“Jadi, apa yang lu mau bicarakan?”


“Jadi, semua teman SMA-ku sudah punya pacar.”


Ryuu langsung membalas seperti di pagi hari tadi, bahwa fakultas kami teralu susah untuk menyisihkan waktu untuk berpacaran.


“Ayolah, kita itu harus belajar dan menjadi pintar, apa gunanya pacaran kalau kita ga lulus?”


“Hmm, benar juga”


Jun seketika langsung sepakat dengan perkataan Ryuu. Tidak ada perdebatan karena memang bukan saatnya berpacaran. Pacaran sendiri bukanlah hal yang tidak wajib, itu hanya sekadar status dan menyombongkan di depan teman-teman sendiri. Lalu kami lanjut makan dan langsung pulang.


Walaupun saat di rumah, setelah belajar selama satu jam, aku selalu membuka Instugrum untuk melihat banyak perempuan disana, apakah ada yang menarik atau tidak. Sehingga kadang aku lupa untuk mengerjakan tugas kuliah maupun belajar. Aku menghabiskan waktuku hanya mencari perempuan dimana-mana, mau di beranda maupun mencari akun perempuan-perempuan disana. Kadang gambar di post tidak seindah tampang aslinya. Itu adalah hal yang lumrah terjadi di media sosial, dan banyak juga laki-laki yang terjebak di tipuan-tipuan media sosial.


Seperti biasa, hidupku di perkampusan berjalan baik-baik saja di akademis dan proyek-proyek di kampus juga. Tidak lama kemudian, Ryuu mulai mendapatkan perkerjaan sehingga dia kadang-kadang tidak dapat diajak pergi. Akhirnya aku pergi dengan teman lain, dia bernama Tobe. Dia berbeda universitas denganku dan jurusan juga berbeda.


“Tobe, kau tahu teman-teman kita sudah berpacaran?”


“Ha? Teman-teman siapa?”


“Oh mereka, aku sih sudah tahu mereka berpacaran. Tapi aku ga tahu sudah berapa lama mereka pacarana? Kamu tau ga mereka udah berapa lama berpacaran?”


“Sekitar 1 tahunan mungkin, mereka pacaran saat mereka sudah studi di luar. Kamu tidak pernah check Instugrum mereka?”


“Oh, aku ga teralu perhatian di Instugrum, aku cuma buat Instugrum untuk melihat mobil-mobil luar. Lihat mobil itu menarik tau.”


Lalu aku pergi ke toilet setelah makan dengannya. Saat aku pergi, Tobe membuka chat dengan Wang, tanpa sepengatuhanku.


“Wang, kau udah punya pacar?”


“Udah, emangnya kenapa?”


“Gini, aku ga mau bilang ke Han. Tapi aku juga baru dapat pacar dari kampus lain. Dia cantik sih dan aku mau tau pengalamanmu pacarana gimana.”


“Pokoknya jangan ada Han disitu, kita cerita. Dia jomblo dan tidak tau cara berkenalan dengan perempuan-perempuan. Ga tahu aku kenapa dia bisa sesial itu. Oh ya pastikan, jangan sampai ada dia di belakangmu melihat kita chatting.”


Tobe membalik wajahnya ke belakang, dan dia baru sadar kalau aku melihat seluruh isi chat-nya. Mukanya ketakutan ingin tertawa dan bertanya.


“Han, sudah berapa lama kamu melihat ini semua?”


“Hmm, berapa lama yaa? Kamu penasaran?”


“Han, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku… aku… aku tidak punya pacar kok.”

__ADS_1


“BRENGSEK! KAU JUGA IKUT PACARAN! APA BEDANYA KAU DENGAN MEREKA! AKU PIKIR KAU SENDIRI YANG GA PUNYA PACAR!”


Akhirnya aku pergi meninggalkan Tobe, dengan muka yang sebal dan muak dengan teman-temanku yang tiba-tiba sudah punya pacar. Sementara Tobe, melanjutkan chat dengan Wang.


“Kenapa? Dia melihatmu?”


“Iya.”


“Sudah kuduga.”


Malam tiba, dan Long mengajakku untuk melakukan telpon bersama dengan 1 grup. Awalnya aku tolak, namun karena sudah lama juga tidak bertemu mereka walaupun baru 2 hari yang lalu kita melakukan telpon bersama, maka aku menguatkan hati untuk membuka telepon dan malam yang panjang pun muncul. Penuh aura-aura kesombongan dari mereka pada saat telpon bersama, seolah-olah mereka adalah manusia-manusia yang cukup beruntung.


Long pun memulai pembahasan mengenai pacarnya yang menurutnya adalah pemberian malaikat.


“Kalian tau, aku pertama kali bertemu dengan Kyouko itu saat kita di kampus, aku kenalan dengannya dan kita tukar kontak Lane secepat itu. Rasanya bagaimana, satu bulan kemudian kita udah pacaran.”


Tidak lama kemudian, Mika pun membalas dan memamerkan bagaimana mereka bertemu.


“Long, kau tau? Aku malah sekelas dengan Hana, dia karena bingung dengan Bahasa Yumemachi, aku yang menerjemahkannya. Tidak itu juga, dia memandang diriku adalah orang yang pintar.”


Dalam hatiku, aku ingin cabut dari percakapan penuh kesombongan dari mereka ini. Ini sangat memanaskan hati dan pikiran. Aku tidak dapat berpikir dingin karena mereka ini terus-menerus memamerkan bagaimana mereka bertemu dengan pacarnya.


Long tidak lama bertanya kepada Tobe


“Aku dengar dari Wang, kamu udah punya. Bagaimana kamu bertemu dengan pacarmu itu?”


“Oh itu, 2 minggu yang lalu dia datang ke tokoku. Dia nanya-nanya kalau ada mobil yang harganya $ 30,000. Dia beli itu mobil, iya kau ga salah dengar. Dia beli mobil itu! Menurut pandanganku, dia adalah perempuan yang handal. Kapan lagi ada perempuan yang ke showroom langsung terus mencari mobil? Biasanya kan Papanya semua itu.


Mereka bertiga pun tertawa karena mereka sudah punya, dan sisa aku yang tidak ditanya-tanyakan mengenai pacar. Pikiranku sudah mulai negatif terhadap mereka dan ingin menghajar mereka kalau sudah bertemu. Denyut nadi sudah kencang dan ingin meledak. Lalu Ryuu langsung masuk sebelum aku marah-marah.


“Kalian bahas pacar? Ya ampun, menyedihkannya kalian. Ini saatnya belajar dan kejar karir. Cari pacar itu sih gampang, kalau udah punya uang siapa yang ga mau datang coba?”


Aku cukup lega dengan pernyataan sahabatku itu, hanya dia sendiri yang belum pernah pacaran dan tidak begitu peduli.


“Tapi, di tempat kerja-ku, Managerku sedikit agresif kepadaku. Padahal aku sudah bilang kita ini terpaut 3 tahun. Dia suka kinjeraku dan aku beberapa kali ditawarkan makan malam bersamanya berduaan. Yaa beberapa kali aku ikut sih, kalau ga ada ulangan.”


Aku yang kaget disitu pun bertanya.


“Hoi, ulangin lagi. Pelan-pelan.”


“Aku-. Han, aku ulangin lagi. Aku tidak ada rasa romantis kepadanya walau dia bisa digambarkan sebagai kakak perempuan yang cantik. Tapi aku tidak ada rasa kepadanya.”


Dengan nada yang sedikit datar, dia menjelaskan itu dan aku percaya kepadanya karena aku yakin dia tidak akan mengkhianatiku.


Lalu Tobe bertanya kepada Ryuu.


“Ryuu, aku bilang ya. Itu sih cuma akal-akalan managermu biar kamu ga pergi kemana-mana. Siapa yang mau anggota kantornya mengundurkan diri?”


“Hmm benar juga, dia seperti kakak yang sangat ceria.”


Malam itu aku merasa terintimidasi oleh mereka karena mereka membahas perempuan. Kalau bisa aku sudah pergi dari telponnya.

__ADS_1


__ADS_2