
Mereka akhirnya sampai di Lounge dan sudah ditunggu oleh Han dan Ryuu yang sedang makan dan minum disana. Lounge itu sangat mewah, terdapat lampu gantung yang indah dan sofa-sofa yang empuk. Hanya beberapa orang saja yang bisa masuk ke tempat itu karena harga tiket bisnis pada hari ini adalah $ 1,000. Tobe dan Jun pun duduk di meja milik Han.
“Lama! Kalian ngapain aja!”
Han yang memasang wajah sebal itu melihat ke arah mereka berdua. Mereka berdua sebenarnya tidak membaca tiket dari awal dan mengantri pada check-in regular.
“K-Kita tak baca tiket, maafkan kami.”
“Padahal kalian yang paling dulu, ya ampun. Aku tidak mau pergi ke Lions Pore sebenarnya, tapi rupanya sudah ketebak siapa yang membelikan tiket ini.”
Han yang mengeluh itu membuat Tobe semakin menjadi-jadi, ekspresinya yang sangat emosi itu dipancarkan dan dirasakan oleh kedua temannya yang duduk di dekatnya.
“Munafik! Munafik! Munafik! Munafik! Munafik! Mau sampai kapan kau bersikap munafik! Lihat aja nanti!”
“Tenanglah, Tobe! Tenanglah! Aku juga tau, tapi ini tiket kan yang bayar Mama-nya sendiri! Kita dikasih gratis harusnya bahagia.”
Tobe tiba-tiba berteriak dan marah di depan Han, sambil menunjuk Han, dia meluapkan seluruh emosinya dan tidak tahan dengan sikap Han yang selalu menolak Lions Pore.
“HAN! AKU GA TAHAN KAU BERKATA SEPERTI ITU! KAU HARUSNYA BERSYUKUR KALAU KITA PERGI SEKARANG! APALAGI KE LIONS PORE!”
“Woi, tenanglah! Tenangkan dirimu!”
“Tobe! Urat malu-mu udah put-.”
Ketika Jun mau menyelesaikan kalimatnya, sudah ada panggilan untuk menaiki pesawat.
“Mohon untuk penumpang kelas bisnis Lionheart Airlines segera turun menuju pesawat.”
Jun yang tidak pernah naik pesawat kelas bisnis sebelumnya pun mau keluar dari Lounge, kakinya sudah beranjak cepat dan berjalan keluar dengan kopernya. Ketika dia ingin keluar, Han berteriak dengan keras kepada Jun.
“Jun! Kamu mau kemana?!”
“Ke gerbang pemberangkatan.”
“Oh, ya sudah.”
Jun pun ke luar dan pergi menuju gerbang keberangkatan. Ketika dia sampai ke gerbang keberangkatan, Jun tidak melihat mereka bertiga sama sekali, dan kali ini Jun sudah tidak peduli dengan teman-temannya.
“Buat apa aku pedulikan mereka, mereka tidak mau mengikutiku ya sudah. Aku urus sendiri disini.”
Di sisi lain, Han hanya tertawa-tawa melihat Jun yang tidak begitu paham dengan sistem kelas bisnis. Mereka bertiga sudah berada di depan lift yang
“Hahahahaha, tidak kusangka dia keluar! Padahal disini ada Lift buat ke pesawat. ADA LIFT PADAHAL! HAHAHAHAHA.”
Tobe yang melihat Han tertawa itu hanya memperingatinya dengan candaan. Dia yang tadi emosi itu tiba-tiba tersenyum melihat Han tertawa.
“Ya ampun, mungkin ini pertama kalinya dia naik kelas bisnis.”
“Harusnya ga cuma dia sih, itu Ryuu juga baru kedua kalinya naik. Kenapa kamu ga ikut Jun?”
__ADS_1
Ryuu yang ditanya seperti itu oleh Han pun menjawab dengan sedikit angkuh, seolah-olah Han meremehkan kepiawaian dari Ryuu.
“Ya ampun Han, aku hanya sekali lihat itu sudah belajar banyak. Jangan meremehkanku!”
“Emang kau karakter anime isekai? Jangan mengada-ngada kau!”
“Tapi emang begitu, terus bagaimana?”
“Ya udah.”
Akhirnya, mereka bertiga naik lift dan sudah masuk ke dalam pesawat.
Jun yang masih mengantri di tempat regular untuk memberikan tiket tiba-tiba dihampiri oleh petugas dari Lionheart Airlines. Petugas itu bingung melihat Jun yang menaiki kelas bisnis namun mengantri di kelas regular.
“Maaf Pak, bapak ini Pak Jun kan?”
“I-Iya, mengapa?”
“Anda harusnya mengantri di sisi kiri. Langsung masuk, karena anda kelas bisnis.”
“O-Oh, begitu, terima kasih yaa.”
Jun pun pindah haluan, dan akhirnya sampai ke dalam pesawat. Penampakan pertama yang tidak ingin dia lihat adalah ketiga temannya sudah ada di pesawat dan duduk santai.
Jun yang melihat itu pun bertanya kepada Han dan Ryuu, mengapa mereka sudah duduk disana dengan wajah yang sedikit kesal. Han dan Ryuu yang sedang minum teh hangat hanya bersantai-santai.
“Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa kalian sudah sampai!”
“Pertama kali dikerjai di airport, Jun?”
“Brengsek! Kalian kenapa tidak memberitahuku dari awal?!”
“Ya lucu aja reaksimu. Aku mau beritahu, tapi kayaknya lebih lucu seperti ini.”
Akhirnya Jun duduk di sebelah Ryuu, dan Jun mulai bertanya kepada Ryuu mengapa Han tidak begitu suka pegi ke Lions Pore. Wajahnya sangat heran dan penuh rasa penasaran karena sebelumnya Tobe sudah menceritakan, tapi Tobe tidak menceritakan apa-apa.
“Ryuu, kenapa Han tidak begitu menyukai Lions Heart?”
Ryuu dengan santai menjawab pertanyaan Jun itu. Dengan mata yang tertutup karena menikmati teh-nya dia menjawab dengan santai.
“Oh, kamu mau tau kenapa? Tunggu aja nanti kalau sudah sampai di ‘Three Trees Yacht Bay’. Kamu tidak akan melihat Han yang berlogika seperti biasanya di kampus.”
“Ha? Itu kan hotel paling mahal di Lions Pore!”
“Iya, keluarganya Han itu udah punya 2-3 kamar. Kita nanti tidur disitu.”
“Gi-Gi-Gila!!”
“Tunggu saja Jun. kamu tidak akan melihat Han yang sama kalau sudah di Lions Pore.”
__ADS_1
Pesawat mereka akhirnya meluncur dan memakan waktu selama 2 jam perjalanan. Mereka akhirnya sampai di Lions Pore di malam hari.
“YES! YES! YES! YES! YESSSS!!!! LIONS PORE! AKU CINTA NEGARA INI!”
Han yang begitu bahagia ketika sampai pun dipertanyakan oleh Jun. Jun yang kaget melihat perubahan sikap Han yang begitu mendadak itu dengan mulut terbuka dan menunjuk Han dari belakang itu melihat kedua temannya yang berada di sebelahnya pun hanya menghembuskan nafas dan berbicara dengan biasa.
“Ya, seperti inilah Han kalau sudah sampai di Lions Pore.”
Han lalu bertanya kepada Tobe, dia menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya ke arah Tobe.
“Tobe, benda ‘itu’?”
Jun bertanya kepada Ryuu, apa yang dimaksud benda ‘itu’ dengan wajah yang bingung.
“Ryuu, apa itu benda ‘itu’?”
“Oh, itu benda paling dibutuhkan sama kita kalo sudah sampai di sini.”
Tobe mengulurkan dompet berwarna merah dan memberikannya kepada Han. Han yang mengambilnya hanya tersenyum dan mulai mengajak mereka untuk ke MRT Station.
“Ayo semua! Kita ke MRT Station! Saatnya pergi!”
Mereka semua ke MRT Station, waktu sudah jam 7 malam dan mereka juga sudah lapar. Han dan Tobe yang sudah hafal dengan Lions Pore itu mulai berdebat untuk pergi makan dimana.
“Woi, kita makan di Chinatown!”
“Oh tidak! Kita makan di Pirchard! Kita harus makan mewah!”
“Chinatown, brengsek! Hari ini kita menghemat dulu!”
“Tidak! Uang itu bisa kembali dengan cepat besok!”
Perdebatan yang larut itu membuat Jun bertanya kepada Ryuu, pada awalnya mengapa mereka tidak perlu membawa koper ke MRT.
“Ryuu, kenapa kita tidak bawa koper?”
“Oh, itu? Pihak pesawat bakal kasih ke hotel kita soalnya.”
“Oh, begitu. Aku tidak tau tentang itu.”
“Yaa susah, namanya orang teralu kaya itu entah servisnya macam-macam.”
Akhirnya Han memenangkan perdebatannya dan mereka makan di Chinatown.
“Ah, Chinatown! Jalanan yang ramai dan gemerlap!”
“Kau selalu pergi kesini Han setiap kali kita pergi ke negara ini. Apa kau tidak bosan?”
Ryuu yang mengeluh itu hanya ikut saja dengan mereka berdua yang lebih hafal dengan negara ini. Mereka akhirnya makan di jalan, hanya saja, sebuah penampakan yang tidak ingin dilihat oleh Han maupun Ryuu pun datang.
__ADS_1