Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 7: Pre-Reunion, Part 3


__ADS_3

“Hey, kita berhenti dimana nanti?”


“Stasiun Konoha.”


“Konoha? Kau pikir Naruto? Ini kehidupan nyata Han. Ya ampun.”


“Aku serius. Lihat ini.”


“HA????????”


Memang ada stasiun Konoha, stasiun itu terletak di daerah tengah kota. Di stasiun itu terdapat restoran yang sangat terkenal karena cukup artistik dari segi eksterior dan interiornya, makanannya sendiri sangat memuaskan. Ketika mereka berdua keluar dari stasiun itu, tepat di depan stasiun itu adalah tempat yang dimaksud Han.


Qing Garden.


Iya, restoran itu adalah restoran terbaik dalam menyajikan masakan-masakan Tionghoa. Terdapat 3 lantai dan terdapat banyak sekali ornamen-ornamen bernuasa Tiongkok. Han yang membawa Yoru ke dalam itu sudah memesan tempat duduk mereka.


“Atas nama Han.”


“Baik Pak, tempat anda berada di Balcony 1.”


Tempat itu berada di atas, dan seluruh pemandangan restoran itu dapat terlihat dari atas. Mulai dari hiasan-hiasan Shio Binatang, jembatan dan sungai buatan, hutan bamboo, vas keramik yang diisi dengan bunga, dan air terjun buatan yang ada disana. Tempat itu sangatlah indah.


“Tidak kusangka kamu membawaku kesini. Seleramu tidak buruk juga Han.”


“Oh, kamu meremehkan seleraku selama ini karena aku membawamu ke tempat-tempat murah?”


Yoru yang merasa tersinggung itu mulai menggelak Han, tapi Han mengetahui bahwa Yoru sedang bercanda. Yoru yang mulai mengomel dan menunjuk-nunjuk Han itu membuatnya tertawa.


“Hey, kamu selalu membawaku ke tempat emperan selama 2 bulan ini, di timur kota dan di barat kota juga. Kamu tidak pernah mengajakku untuk pergi ke restoran atau bagaimana, kamu juga sering membawaku pergi ke pulau sebelah hanya untuk makan bebek goreng? Ya aku jelas bingung dengan kamu lah, Hahahaha.”


“Yang penting enak kan? Toh kita juga berlima bersama May, Jun, dan Ryuu. Ngomong-ngomong, May dimana?”


“Enak sih, aku tidak alergi juga dengan tempat seperti itu. Oh, May? May kalau sudah liburan panjang tidak mungkin bangun. Dia sudah menjelma menjadi nokturnal.”


Yoru yang menjawab dengan nada seperti itu membuat Han tidak meragukan ucapan Yoru. Situasi yang mereka alami sekarang adalah kencan, sesuatu yang selalu diharapkan Yoru ketika pertama kali bertemu dengan Han.


Mereka memesan makanan mereka, dan mereka mulai berbicara mengenai ujian mereka. Han yang cukup traumatik dengan apa yang dialaminya di hari terakhir itu pun dengan berani menceritakan kepada Yoru.


“Han, gimana ujianmu di jurusanmumu?”


“Kamu tau, ujianku mungkin nilainya biasa-biasa saja. Namun aku mendapatkan nilai 0.”


“HA???? KAU TAK BELAJAR ATAU BAGAIMANA?!”


“Kamu mau tau soalnya?”

__ADS_1


“Aku penasaran mengapa kamu bisa mendapatkan 0.”


“Soal ini sangat membuat orang emosi, kau tau. ‘Jika Emas memiliki massa atom sebesar 196.967 gram/molekul, berapakah harga emas per 1-gram pada hari ini?’ dan kamu tahu? aku berhasil menjawab pertanyaan itu dengan benar.”


“Terus kenapa bisa dapat 0?”


“Karena saat aku mengumpulkan soal itu, saat itu juga harga di pasar sudah berubah.”


Yoru yang terkejut dengan apa yang diceritakan Han itu mulai menaikkan nadanya. Seolah-olah dia tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Han.


“KOK… KOK BISA SEPERTI ITU? TERUS TEMAN-TEMANMU YANG LAIN BAGAIMANA?”


“Oh, tenang. Mereka semua juga dapat 0.”


Yoru pun tertawa terbahak-bahak, dia tidak menyangka bahwa di kelasnya Han dapat dengan mudahnya mencari nilai 0.


“HAHAHAHAHA. Han, dosenmu itu luar biasa! Aku tidak pernah bertemu dengan dosen yang sekeren dia.”


“Kamu gimana ujiannya?”


“Nothing special. Aku bisa kerjakan soalnya, dan tidak ada yang heboh sih. Kecuali satu soal.”


“Oh, kenapa soalnya?”


“Ada seorang Tarzan yang sedang berayunan di pohon. Dia memiiki berat 70 kg dan dari pohon itu dia ingin pergi ke tebing yang berada di depannya. Jarak antara tebing dan pohon itu adalah 20 meter. Kecepatan angin yang melawan arah Tarzan itu adalah 10 m/detik dan tegangan ranting pohon itu adalah 500 Newton.”


“Oh, belum Han, itu belum sampai di pertanyaannya. Pertanyaan dari soal itu adalah ‘Apakah Tarzan-nya jatuh?’”


Han yang mendengar itu dari Yoru membuat dirinya berpikir, bahwa kuliah ini penuh dengan niat jahil para dosen yang mengajar. Dia lalu menjawab Yoru dengan nada yang cukup percaya diri.


“Wah, rupanya kita di kuliah ini hanya dikerjai oleh dosen-dosen kita. Ngapain juga kuliah kalau begini?”


“Kalau kamu, kamu pasti menghitung jawabannya dengan rumus Fisika.”


“Oh, kamu salah besar. Aku tulis ‘Tarzan-nya tidak mungkin jatuh karena dia sudah terlatih untuk berayunan di hutan.”


Han lalu menaikkan alisnya, dia bingung dengan jawaban Yoru. Dia tidak mengharapkan Yoru akan menjawab jawaban sebodoh itu, mungkin kalau itu Han dia akan menjawab demikian. Tapi Yoru-lah yang menjawab seperti itu.


“Kamu menjawab seperti itu?”


“Kan soalnya nanya Tarzan itu jatuh atau tidak. Ya aku jawab seperti itu kan ga salah.”


Han juga tertawa, rupanya di jurusan Yoru dia juga mendapatkan pertanyaan yang juga sedikit di luar nalar.


“HAHAHAHA, Kenapa dosenmu juga begitu? Aku tidak menyangka bakal ada pertanyaan seperti itu keluar di ujianmu.”

__ADS_1


“Dosennya masih muda, kau tau. Dia masih 23 tahun, tapi dia itu sangat pintar.”


“Teralu pintar sampai dia buat soal seperti itu?”


“Mu-mungkin.”


Akhirnya mereka berdua ketawa, mereka tidak menyangka bahwa ujian mereka dipenuhi dengan lawakan-lawakan dari dosennya. Makanan mereka pun datang dan mereka menikmati hari itu.


Yoru yang pakaiannya sangat mencolok itu membuat Han merasa tidak tenang ketika Yoru sedang dilihat orang banyak.


“Hey Yor, t-tolong lepas topimu. Aku merasa tidak nyaman sama orang-orang ini.”


Yoru pun mulai menggoda Han, dia menatap Han sambil tersenyum.


“Hee, kamu iri karena mereka melihatku kan. Baiklah aku lepas topiku, tapi kamu yang bawa bagaimana?”


Yoru melepas topinya itu dan memberikan topi itu kepada Han. Mereka akhirnya selesai makan dan akhirnya pulang. Setibanya mereka di stasiun, Han menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.


“Yor, apa aku boleh menemanimu pulang di kereta?”


“Tidak apa-apa.”


Mereka berdua pun berada di kereta, dan perjalanan hanya 10 menit saja sampai ke Chinatown. Ketika mereka sudah sampai di Chinatown, Yoru pun yang mau keluar dari kereta itu melihat Han sambil tersenyum manis. Dia memejamkan matanya dan itu sangat imut di mata Han.


“Terima kasih buat hari ini! Han!”


Han yang melihat Yoru itu pun tersenyum juga, dia membalas Yoru dengan wajah yang hangat.


“Hmm, iya, sama-sama.”


Ketika Yoru sudah keluar, Han menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Dia melihat black card yang dia pegang sekarang itu. Han mulai mencium-cium black card yang dia bawa itu dan mengucapkan beberapa kata, berhubung tidak ada orang di kereta itu jadi dia bebas berbuat.


“Untung aku berhasil mengambil kartu ini di meja riasnya Mama. Ini kalau tidak diambil, tidak mungkin aku bisa mendapatkan diskon sebesar itu. Tagihan $ 100 bisa menjadi $ 40 gara-gara kartu ini. AHH BLACK CARD! Terima Kasih!”


Hari itu ditutup dengan bahagia oleh Han dan Yoru.



Sesampainya di tempat reuni itu, teman-teman sekelasnya sudah berada di ruangan itu. Han yang baru saja sampai, matanya tiba-tiba kosong dan pucat ketika dia melihat perempuan berambut pendek itu.


“Ha-Ha-Haruki????!!!!!!!”


Haruki yang menoleh kepada Han, dia melihat Han dengan senyuman penuh kelicikan dan matanya yang memiliki tatapan dingin dan siap untuk membunuh siapapun yang dilihat olehnya.


“Oh, halo Han, si pecundang sekolah. Sudah lebih dari satu tahun kita terakhir bertemu, marilah kita bersenang-senang disini!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2