
“Dengar ya! Kau bayar dengan ini juga bisa brengsek!”
“Ryuu, kamu tau tagihanku belakangan ini berapa? Tagihanku sudah mencapai $ 1,000! Kamu tau berapa banyak Mamaku menghabiskan uang dengan kartu ini?! Hampir $ 600, terus kau minta aku bayar dengan kartu ini?! JANGAN BERCANDA KAU! BILANG SAJA HARGANYA BERAPA!”
Ryuu yang terdiam itu mengatakan harganya dengan lemas ketika mereka sudah mendekati restoran itu.
“Hanya $ 12.”
“Oh, aku ga perlu pakai Black Card juga.”
Mereka bertiga sampai di depan restoran itu, Han menuliskan $ 36 di mesin pembaca kartu debit. Dia langsung membayar untuk ketiga temannya, yang dimana aksinya itu membuat petugas penjaga itu bingung. Han tiba-tiba mengulurkan tangannya dan meminta sesuatu kepada Ryuu.
“Uang.”
Ryuu yang melihat Han itu pun menyela Han, dia dengan nada yang bingung mulai mengatakan sesuatu yang tidak dia harapkan. Ryuu mulai memukul telapak tangan Han dengan keras hingga suara pukulannya terdengar cukup sakit.
“Aku sudah bayar tadi Han. Kamu kenapa bayar lagi buat aku?”
“HA?????”
“Mangkanya jangan asal gesek bodoh!”
Han menoleh kepada resepsionis itu, dia meminta uang kembali sebesar $ 12. Dia memohon-mohon kepada penjaga resepsionis itu untuk mengembalikan $ 12 itu.
“Pak, tolong kembalikan $ 12-nya. Saya memohon kepada anda.”
“Terima kasih untuk donasinya Pak. Kami menunggu pembayar lanjutan anda.”
Han yang berada di kondisi yang menyedihkan itu terus memohon kepada mereka, namun mereka menolak untuk mengembalikan uangnya yang tidak sengaja terbayar.
Tiba-tiba, ada seseorang yang berjas rapi dan memiliki tag nama besi itu menghampiri Han. Orang itu kaget melihat Han yang menyedihkan itu karena memperkarakan uang $ 12. Orang itu menghampiri Han dan dia sadar akan sesuatu.
“Apakah anda anak dari Zhang Lin?”
“I-Iya, anda siapa?”
“Oh, nama saya adalah Hito, saya General Manager di restoran ini. Kamu meminta uangmu yang tidak sengaja terbayar kan?”
__ADS_1
“Iya Pak, tapi mereka menolak untuk memberikannya.”
“Oh begitu, tunggu sebentar.”
General Manager restoran itu menuju ke kantornya, mengambil uang $ 12 dan kontrak kerja dari petugas itu. Dia lalu kembali ke depan Han dan menyerahkan uang $ 12 milik Han.
“Maafkan saya atas ketidaksudian pegawai saya. Ini uang anda saya kembalikan secara tunai. Mohon anda ambil, tuan Lin.”
“P-Pak, ini bukan dari dompet pribadi anda kan?”
“Tidak, ini adalah uang kas restoran ini. Saya mohon, jangan anda laporkan ke tuan Zhang Lin dengan apa yang terjadi saat ini.”
“S-Saya tidak akan melaporkan kok Pak. Anda tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.”
Tiba-tiba, General Manager itu melihat penjaga resepsionis itu dan membawa surat kontraknya. Dia lalu berbicara dengan nada yang cukup tegas dan sedang ditonton oleh Han, Tobe, dan Ryuu.
“Kau, kenapa kamu tidak menyerahkan uang $ 12-nya kepadanya! Kau bodoh atau bagaimana?! Saya lebih baik memecat anda daripada saya harus kehilangan seisi restoran ini! Mulai besok anda dipecat, tanpa ada uang kontrak! Hari ini adalah hari terakhir kamu berkerja!”
“Baik Pak, maafkan saya atas kelalaian saya.”
Penjaga resepsionis itu tertunduk lemas dan tidak dapat berkata apa-apa. Han yang melewati resepsionis itu bersama Tobe dan Ryuu, lalu Ryuu bertanya kepada Han dengan anda yang cukup lemas.
“Aku sendiri tidak tau, kenapa mereka takut kepada Papa.”
Tapi sebenarnya, dalam hati Han dia berkata sebaliknya.
“Gila! Langsung dipecat di tempat! General Manager itu benar-benar takut dengan Papa! Apakah Papa bisa membeli seisi hotel ini gara-gara kejadian tadi? Ah, Papa tidak mungkin sekejam itu.”
Tobe menyela Ryuu, dia sepertinya tau apa yang terjadi sebelum-sebelumnya.
“Han, kamu tau hotelmu yang ada di pulau Hoshi? Hotel mewah itu ada di sebelah hotelku. Dulu, Papaku menceritakan bahwa Papamu membeli seisi hotel itu karena dia kecewa dengan pelayanan mereka dan merombak sistem pelayanan itu sampai akar-akarnya. Sekarang, hotel itu menjadi hotel yang selalu ramai saat liburan, bahkan lebih ramai daripada hotelku yang berada di sebelahnya. Karena itu, para pengusaha hotel tidak berani macam-macam kepada anggota keluargamu.”
Ryuu yang mendengar itu tiba-tiba terkejut, mulutnya terbuka lebar seolah-olah dia tidak percaya dengan tindakan Papa Han saat itu. Han sendiri baru tau jika Papanya pernah membeli seisi hotel di pulau Hoshi, tapi dia tidak pernah mengetahui karena apa.
Ketika mereka telah sampai di meja reuni kelasnya, dia melihat sosok perempuan berambut pendek itu. Dia sedang bermain handphone, dia menoleh kepada Han. Senyumannya mulai memunculkan senyuman yang cukup jahat dan menatapnya dengan aura yang cukup keji.
Han yang bertemu dengan perempuan itu tiba-tiba pucat, matanya kosong dan dia mulai bergumam sendiri.
__ADS_1
“Ha-Ha-Haruki????!!!!!!!”
“Oh, halo Han, si pecundang sekolah. Sudah lebih dari satu tahun kita terakhir bertemu, marilah kita bersenang-senang disini!”
Teman-teman SMA Han yang melihat pertemuan mereka berdua itu tiba-tiba bertepuk tangan dan menyerukan suara-suara mereka.
“WOW! PEMANDANGAN YANG SUNGGUH INDAH.”
Hampir semua orang itu bertepuk tangan, kecuali Ryuu dan teman SMA lainnya yang bernama Naoto. Naoto yang merupakan sahabat kecil dan teman basket dari Han semasa SMA itu hanya diam saja. Dia tidak ingin mengikuti teman-temannya itu. Tiba-tiba, Mika menghampiri Haruki dan menanyakan sesuatu dengan nada yang bertanya-tanya.
“Oh, Haru. Aku pikir kamu tidak akan datang kesini.”
Haruki yang tiba-tiba melihat Mika setelah menatap keji kepada Han. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat manis dan tersenyum.
“Ayolah, aku sangat menantikan reuni ini.”
Pertemuan itu sangatlah canggung bagi Han, Haruki yang tidak merasa canggung itu mulai berbicara dengan yang lainnya. Dengan nada yang cukup ceria dia bercerita bahwa dia sudah tidak mempedulikan Han lagi di depan orang-orang.
“Ayolah, kenapa kalian canggung semua? Aku sekarang sudah bahagia di Akasuka.”
Wang yang mendengar itu pun tertawa saja, dia yang memukul pundak Han dengan nada yang cukup ceria.
“HAHAHA, Ayolah Han! Kamu sekarang harus melupakan relasimu dengannya! Sudah, lupakan saja.”
Mika lalu bertanya lagi kepada Haruki tentang kehidupannya di Akasuka. Dia dengan nada yang cukup baik itu diterima oleh Haruki.
“Haru, kamu di Akasuka sudah… sudah dapat pacar?”
“Oh tentu, dia lebih baik daripada Han yang pasti. Dia itu halus, cakap, dan dia juga penolong yang handal.”
Han yang mendengar itu hatinya mulai panas, Naoto yang melihat Han dengan sangat tertekan itu mengajaknya untuk keluar dan mengambil makanan.
“Han, mau ambil makanan?”
“I-Iya. Ayo pergi, Nao.”
Ryuu yang melihat mereka berdua itu menyusul, ketika mereka bertiga telah keluar, Long tiba-tiba bertanya kepada Tobe tentang situasinya. Tobe sendiri juga tidak tau apa yang sedang terjadi itu tetap diam sambil meminum lemon tea yang sudah ada di mejanya.
__ADS_1