
“Han, kau dimana? Ayo susul kita!”
Pesan itu diterima Han setelah dia menghabiskan waktu bersama Yoru. Han yang masih berada di kereta pun melihat pesan dari Long.
“Kau dimana? Aku malas sebenarnya mau ke sana.”
“Ayolah, kita sudah lama tidak kumpul juga! Kita di Cafétian.”
“Oh, tempat itu lagi. Beto ga bosan-bosan rupanya ke tempat itu.”
Han lalu menyusul mereka yang sedang kumpul di Cafétian itu, sesampainya di Cafétian itu Han langsung dibully oleh mereka.
“Lihat teman kita Wang, dia masih jomblo akut walau kita tinggal dia.”
“Aku ga kenal dia Long, siapa dia itu?”
“Yah, yah, si jomblo masih tidak punya.”
Han yang mendengar itu langsung mundur satu langkah menuju pintu dan keluar. Mika pun tiba-tiba memohon kepada Han untuk kembali.
“Han, ayolah kita cuma guyonan.”
Han yang kembali lagi itu pun menghembuskan nafasnya dan bertanya kepada mereka. Han sebenarnya tidak ingin keluar uang lebih banyak lagi setelah pergi makan bersama Yoru.
“Iya, iya, aku paham. terus, kalian mau apa?”
Long yang menatap Han dengan liciknya itu mengatakan beberapa kata yang sebenarnya juga memancing Han untuk ikut ke pembicaraan mereka.
“Kita mau roast si Tobe ini.”
“AKU IKUT!”
Tobe yang sebenarnya murung itu dibully oleh mereka berempat. Jadi, pada dasarnya mereka hanya mengundang Han untuk mau mencari tau mengapa Tobe tiba-tiba menyatakan putus.
“Han, kamu tau apa yang sebenarnya terjadi pada Tobe?”
“Oh, aku tau itu Wang. Semuanya dari akar-akarnya!”
“Ayo cerita-cerita! Aku penasaran dengan kebodohannya ini.”
Tobe yang semakin murung itu pun bergumam, sama seperti apa yang dilakukan Chen saat itu.
“Jangan umbarkan, jangan umbarkan, jangan umbarkan, jangan umbarkan, jangan umbarkan, jangan umbarkan tolonglah Han, Dewi Langit, jangan umbarkan, aku sudah bahagia sekarang.”
Han mulai bercerita dengan sangat bahagia. Teman-temannya yang ada di Cafétian itu mulai melirik Tobe dengan wajah yang cukup sinis.
“Kalian tau, tiba-tiba Tobe sudah membahas untuk memutuskan Maylene dari jam 9 Pagi. Aku sama Ryuu sudah mengatakan bahwa jangan diputuskan cepat-cepat.”
Long yang semakin penasaran itu memaksa Han untuk bercerita lebih dalam lagi.
“Han, ayo lanjut, AYO LANJUT!!”
Tobe yang mendengar teman-temannya ingin diceritakan lebih tentang Tobe itu membuatnya bergerak. Tobe berdiri, dia mengambil dompetnya itu di saku dan memberikan sejumlah uang yang agak banyak, yaitu $ 30. Dia yang murung itu mengatakan dengan pelan namun mengancam Han.
“Ambil uang ini dan jangan ceritakan lebih lanjut. Sepakat?!”
Ketiga temannya itu langsung membuka dompetnya dan mengeluarkan $ 30. Uang itu dikumpulkan di meja tepat di depannya Han. Lalu Wang menambahkan uang $ 10 sehingga genap menjadi $ 100.
“Kutambahkan $ 10, sebagai hiasan kuenya.”
__ADS_1
Long yang menyerahkan uang itu menatap dengan bahagia kepada Han. Nadanya memancing-mancing Han untuk mengambil uang yang lebih banyak itu, namun Tobe tiba-tiba memukul meja dan berteriak penuh amarah.
“$ 100, kamu pilih yang mana? $ 30 atau $ 100?”
“WOI! INI TIDAK ADIL! TETAP AJA KALIAN BAYAR $ 30! HAN, PIKIRLAH DENGAN OTAK DAN NALAR YANG SEHAT!”
Han yang mendengar itu dari Tobe pun mulai tertawa. Han mentertawakan mereka berdua dengan tangan kanannya menutup wajahnya. Dia tidak bisa berhenti tertawa dan mulai menjelaskan nominal uang itu sambil menunjukkan Black Card miliknya.
“Kalian ini bodoh? Uang ini tidak ada harganya dibandingkan kartu ini! Tapi, dalam dunia ini mencari teman dan bersekutu adalah sebuah strategi perang. Tobe, kamu harusnya mengenal prinsip suap-menyuap. JADI, AKU AMBIL $ 100-nya! HAHAHAHAHA.”
Han yang tertawa dengan kejam itu membuat Tobe tertekan, di sisi lain ketiga temannya melakukan tos satu sama lain seolah-olah mereka telah meraih kemenangan mutlak.
“Ayo Han, ceritakan!”
Han melihat dengan senyuman yang jahat dan mata yang penuh dengan rasa ingin menyiksa Tobe. Tobe sudah pasrah dan putus asa.
“Jaaaadiiii, sebenarnya ada orang entah darimana muncul di tempat itu. Dia mengaku sebagai orang pintar dan mulai menakut-nakuti Tobe.”
“HENTIKAN!”
Tobe yang berteriak seperti itu dan dia mulai menutupkan kupingnya. Dia tidak ingin mendengarkan cerita itu lebih lanjut.
“Orang pintar itu menanyakan zodiac dari Tobe dan Maylene, berhubung zodiac-nya adalah Gemini dan Cancer sehingga menurut orang pintar itu mereka berdua tidak cocok.”
Mika yang mendengar cerita itu mulai menoleh kepada Tobe, dia menyentuh pundak Tobe dan menatap dengan penuh kesedihan. Raut wajahnya seperti orang yang melihat kondisi yang sangat menyedihkan.
“A-A-Apa! Kau jangan sembarangan menyentuhku!”
“Oh, temanku, aku tidak tau apa yang kamu alami selama ini sehingga membuat otakmu terdegenerasi. Tapi kamu tau? Zodiac itu hanya berlaku pada hari itu juga. Di hari lain hasilnya bisa beda.”
“Wha-?!”
“Zodiac hari ini, Gemini dan Cancer bisa menjadi berbaikan lho.” (Bohong)
Yang sebenarnya tertulis adalah:
“Gemini dan Cancer akan memperkeruh hubungan mereka jika salah satu dari mereka mulai meminta maaf.”
Han pun menunjuk kepada Tobe, yang berada di kondisi yang menyedihkan. Dia mulai mengkritik tajam Tobe dengan keputusan konyolnya itu. Dengan nada yang sedikit mengarah seperti nada orang-orang yang melakukan orasi itu menekan Tobe dengan kuat.
“Kau! Kau tau apa yang dialami Maylene setelah putus denganmu?! Air matanya kering dan menangis satu hari penuh! Kamu tau? Karena jawabanmu yang menyedihkan itu membuat perempuan menangis!”
Long yang mendengar ucapan Han itu memanas-manasi suasana.
“Sampah! Sampah! Sampah!”
Han lalu menenangkan ketiga temannya yang mulai bertindak anarkis di depan Tobe. Dia mengusulkan untuk meminta maaf, berhubung Han memiliki kontak dari Maylene. Dengan nada yang memancing emosi Tobe, dia mulai menggoda Tobe untuk meminta maaf kepada Maylene.
“Tobe, sebenarnya ketika kamu memutuskan hubunganmu dengan Maylene. Maylene mulai memberikanku pesan daaaannnn sekaaaraaangg, kita adalah teeemaaannn dekaat. Apakah kamu mau aku menyambungkan padanya??”
“A-A-Aku mau berbicara kepadanya.”
“Baiklah.”
Han lalu menyambungkan telponnya kepada Maylene. Tidak lama kemudian Maylene mengangkat telponnya.
“Hai May.”
“Hai, ada apa Han?”
__ADS_1
“Oh, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong aku mau menyambungkanmu dengan seseorang.”
“Oh, begitu. Aku harap bukan si sampah itu.”
Ketiga temannya yang mendengarkan itu mulai tertawa terbahak-bahak. Lalu Han memberikan handphone-nya kepada Tobe, lalu Tobe mulai berbicara kepada Maylene.
“M-M-Maylene, a-aku minta maaf?”
“Ha??? Kau kan bahagia kemarin? Ah aku malas sama kamu! Sayonara!”
Maylene menutup telpon itu, melihat Tobe yang ditolak mentah-mentah itu membuat teman-temannya tertawa tanpa henti.
“HAHAHAHAHA! INI OPERA SABUN LIVE!”
“TOBE-TOBE, SUMPAH KAU HARI ITU SAMA HARI INI MELAWAK ATAU BAGAIMANA? YA AMPUN, PITA TAWAKU MAU PUTUS!”
Wang yang pengertian itu mulai memukul bahu dari Tobe. Dia yang awalnya menunjukkan ekspresi kesedihan tiba-tiba berubah 180 derajat.
“Tobe, memang rasanya sakit kalau hubungan itu terputus. TAPI TIDAK BEGINI JUGA CARANYA! KAU LAWAK! SUMPAH HAHAHAHA!”
Tobe yang berada di meja itu merasa dirinya telah mengalami penghinaan yang luar biasa dari teman-temannya. Matanya kosong dan pucat, tiba-tiba dia berdiri dan megatakan beberapa kata dengan cukup tegas.
“Aku mau pulang!”
Long yang mendengar Tobe langsung menyela Tobe.
“Ayo teman-teman, kita juga pulang.”
“KAU TINGGAL DISINI AJA!”
Wang yang membantah Tobe itu mendebati Tobe. Matanya yang mulai serius itu membuat Tobe terpaksa untuk mengantarkan mereka bertiga pulang.
“Perjanjian sesuai perjanjian! Kau harus mengantarkan kita bertiga pulang.”
Tobe pun berteriak dengan keras, di saat ketiga temannya itu tertawa terbahak-bahak.
“TIDAK!!!!!!!! BRENGSEK KAU HAN!!!!!!!”
Han yang melihat Tobe itu mulai tersenyum dari kejauhan. Dia lalu berteriak kepada Tobe dengan bahagia.
“Oiii, maafkan aku! Aku kasih $ 50 buat kamu nanti.”
“Maafmu diterima!”
Han lalu berpikir dalam hatinya, secepat itukah seseorang untuk memaafkan orang lain hanya dengan uang.
“Wah, dengan uang kamu bisa dimaafkan oleh orang lain. Apakah orang lain akan bisa diperlakukan seperti ini?”
Lalu dia menelpon Maylene, Maylene langsung mengangkat telpon dari Han itu dan dia yang mulai pembicaraannya.
“Hey, aku tak mau kamu menyambungkan telpon lagi itu kepada orang seperti itu lagi. Kamu mengerti?”
“Aku, aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa, seenggaknya aku sudah lega juga.”
Han yang selesai menelpon itu mulai berjalan ke stasiun kereta. Dia merasa lelah pada hari itu.
__ADS_1