Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 3: Bad Luck, Part 1


__ADS_3

Setelah malam yang cukup mengerikan itu, Han dan teman-temannya kembali ke cottage yang mereka sewa. Han yang meratapi handphone yang dia pegang sudah terbelah menjadi 2 pun mengeluh dengan kesakitan.


“Kenapa, kenapa handphone-ku terbelah menjadi dua? Padahal aku jatuh ke jurang, harusnya LCD-nya yang rusak. Kenapa bisa jadi seperti ini?”


Lalu Jun pun menyahut dengan nada yang mengolok-olok Han yang terlihat murung.


“Yah, kalaupun LCD-nya yang rusak tetap aja kamu ga bisa servis atau klaim garansi.”


Leonne yang berada di sampingnya, membuka perban dan mencoba untuk mengikat perban tersebut di tangan kanan Han. Ketika dia mulai mengikat, dengan sekuat tenaga dia mengikatkan perban tersebut. Han yang merasa nyeri pun mengeluarkan keringat dingin, matanya menjerit kesakitan dan dia berteriak.


“JANGAN DIPERBAN YA AMPUN! SAKIT!!!!!!”


Leonne pun membalas teriakan Han dengan nada yang marah.


“Syukur-syukur kau masih aku perban. Kalau aku ga mau ya aku ga perban, bodoh!”


“Kau aja yang ga mau dilihat orang lagi jalan dengan korban kekerasan kan?!”


Han membalas teriakan Leonne dengan nada yang pelan, karena dia tahu ada banyak orang yang melihat mereka berdua. Beberapa dari mereka juga mengatakan hal-hal yang cukup sinis.


“Kasihan laki-lakinya, jadi korban kekerasan perempuan.”


“Nak, kalau jadi besar jangan jadi seperti perempuan itu.”


Wajah Leonne langsung memerah, dia pun dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu dia lari meninggalkan mereka berempat. Alex yang melihat Leonne yang berlari seperti itu pun menasihati Leonne dari jauh.


“Hey, you’d better don’t slip!”


Mereka telah kembali ke cottage tersebut, lalu Han mengambil pakaiannya dan mulai mandi. Air di pegunungan sangat dingin. Tidak ada air panas ataupun yang hangat. Hari sudah malam, dan di waktu tersebut adalah saat yang buruk untuk mandi. Air yang sangat dingin itu tersiram ke luka-luka Han yang tadi dia peroleh, mulai dari wajah hingga badannya. Han yang tidak tahan pun berteriak sekencang ayam yang sedang diburu.


“DINGINNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!! WOI! 100 DOLLAR GA ADA AIR PANAS SAMA SEKALI? JANGAN BERCANDA!!!”


Mereka berempat yang merasa terganggu oleh Han, mulai ke depan kamar mandi. Alex yang ingin menjahili Han pun siap menutup lampu kamar mandi itu. Jun pun memulai aba-aba, ucapan yang dikeluarkan sangatlah serius sehingga dapat membuat Han percaya.


“Han, kita mau ke minimarket. Kau jaga cottagenya ya.”


Lalu Alex pun mematikan lampu kamar mandi tersebut, dan mereka berempat pun keluar. Ryuu pun tidak lupa mengunci pintu cottage tersebut sambil tertawa jahil.


Han, yang sedang mandi itu tidak dapat melihat apa-apa pun berteriak memanggil salah satu dari mereka. Namun tidak ada respon dari mereka.


“JUNNN, RYUU, LEONNEEEEE, ALEXX!!!!! LAMPUNYA WOI TOLONG LAMPUNYA! LAPORKAN KE RESEPSIONIS! HALO??????”


Han yang tidak mendengar respon dari mereka berempat pun mencoba untuk mengambil shampoo di kamar mandi itu. Dia tidak sadar dan tidak dapat melihat bahwa shampoo tersebut memiliki lubang yang sangat kecil di tutupnya, dan shampoo tersebut sangat cair. Ketika Han meremas shampoo tersebut, cairan shampoo itu keluar dan mengenai matanya.


“AHHH!!!! MATAKU!!!! BRENGSEK!!!!!!!!”


Mata Han pun menjadi merah merona dan sangat sakit rasanya, Han mencari air dan menyiramkan itu di matanya. Akhirnya dia keluar dari malapetaka itu dan melihat tidak ada siapa-siapa di cottage itu.


Ketika mereka berempat pulang, Leonne pun bertanya kepada mereka bertiga dengan nada yang sedikit berdosa dan bersalah.


“Apa tidak apa-apa kita tinggal Han di situ dan menutup lampunya?”


Jun pun meyakinkan Leonne, dengan nada yang percaya diri dia mengatakan kepada Leonne ketika selesai membeli belanjaan mereka.


“Ngapain khawatir, dia bisa bertahan kok. Tenang, dia ga mungkin mati di cottage.”


Ryuu pun ketawa terbahak-bahak. Dia tidak yakin apa yang akan Han lakukan ketika mereka pulang.


“Hmm, nanti gimana yaa. Aku ga yakin dia akan baik-baik saja.”


Mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak.


Ketika mereka berempat telah kembali, mereka melihat mata Han yang memerah serta luka di tangan kanannya yang mulai bercucuran darah lagi. Mukanya yang sedikit jengkel, mata kirinya pun dinaikkan olehnya, dengan senyuman yang jahat dia menatap keempat temannya. Leonne yang melihat itu pun menutup matanya, menepukkan kedua tangannya, dan tersenyum sinis.


“Ara-ara, Han, apa yang terjadi sama kamu? Matamu membengkak lho, tanganmu kenapa keluar darah semua? Kamu kenapa? Hahahaha.”


Han yang melihat tawa sinis Leonne pun membalas sindiran Leonne dengan nada yang sinis juga.


“Hahahaha, Leonne bodoh, kamu kunci pintu depan namun pintu kamar tidak terkunci sama sekali. Hmm, yang bikin rencana kan Jun yaa. Kamu tau, barang yang paling mahal yang kau pegang sekarang sudah tidak ada. Coba tebak dimana, carilah hahaha.”


Jun pun yang langsung menangkap maksud dari Han, yang dimaksud oleh Han adalah kunci mobilnya. Dari semua pesan yang telah disampaikan, dia kira-kira paham dimana kunci itu berada.


Di kamar Leonne

__ADS_1


Jun berteriak sambil berlari cepat ke kamar Leonne.


“BRENGSEK KAU!!!!!”


Leonne yang mengejar Jun pun mencoba mengatakan sepatah kalimat yang sedikit putus asa.


“Jun, TUNGGU!!!!”


Jun sudah membuka kamarnya, dia sudah siap membuka tas dari Leonne. Leonne yang terlambat menyadari bahwa kunci mobilnya ada di gantungan baju. Leonne pun mengambil kuncinya dan melihat Jun yang mau membuka tasnya.


Dengan wajah yang sedikit jengkel, dia pun siap membentak Jun.


“Hey, kan sudah kubilang tunggu.”


Jun pun yang merasa bersalah, mukanya pun terlihat polos dan kebingungan.


“Ini… Ini… Ini tidak seperti yang kau lihat. Leonne, kamu tahu kan itu. Leonne? Hei Leonne?? INI BUKAN RENCANAKU!!!!!!!! DASAR SIALAN!”


Akhirnya mereka pun kembali, Leonne mengambil perban yang dia tadi pakai buat menutup lukanya Han. Tetapi Jun menunjukkan ekspresi wajah yang sangat kosong, wajah yang sangat ketakutan. Leonne pun menghampiri Jun untuk mengikat perban-nya, tetapi Han sudah tahu dan dia mengambil perban dari Leonne dan mengikatnya dengan sendiri.


Ryuu yang langsung ke kamarnya membuka handphone-nya, dia lalu mengirimkan pesan kepada seseorang.


*Siapkan berkas Asuransi Han dan berkas baru untuk 2 hari lagi. Aku tunggu di Rumah Sakit Everhealthy jam 11 Siang*



Dua malam akhirnya telah berlalu, mereka pun akhirnya pulang dan tempat yang dituju pertama oleh mereka adalah rumah sakit. Iya, rumah sakit. Ryuu mengatakan kepada Jun setelah dia memulangkan Leonne dan Alex, dia meminta Jun untuk ke rumah sakit Everhealthy. Akhirnya mereka bertiga pergi ke rumah sakit tersebut.


Jun memutuskan untuk menunggu di café rumah sakit, sedangkan Ryuu yang menemani Han ke ruangan pasien. Ryuu pun menyuruh Han untuk menunggu di depan lobby.


“Han, kau tunggu disini dulu. Aku mau mengambil tugas sekolahku yang mau dikirim.


“Oke.”


Ryuu pun pergi, namun Han baru sadar setelah Ryuu pergi.


“Bukannya tidak ada tugas kuliah ya?”


Ryuu pun bertemu dengan orang yang dia beri pesan, dan semua berkasnya pun diserahkan kepada Ryuu.


“Sudah kubilang, jangan panggil aku itu.”


Ryuu pun menyusul Han yang berada di lobby. Ketika mereka pergi ke ruang praktik itu, banyak orang yang melihat kondisi Han yang memiliki luka hampir di seluruh tubuhnya. Orang-orang pun sedikit ketakutan dengan Han. Ryuu pun mengantarkan Han ke ruang praktik tersebut.


“Oi, aku yang urus obat-obatnya dan pembayarannya.”


“Ya, tolong diuruskan, temanku.”


Setelah Han masuk, Ryuu pun menyelinap di salah satu orang yang sedang duduk. Lalu dia memulai kalimat-kalimat yang sungguh persuasif.


“Kasihan orang itu tadi, dia punya luka yang sangat parah di seluruh tubuhnya. Ini bisa habis banyak biaya kalau dia tidak punya asuransi.”


Banyak orang yang melihat Ryuu berbicara, mata mereka pun menunjukkan ekspresi ketakutan. Ryuu pun melihat atensi mereka, lalu dia pergi ke resepsionis rumah sakit itu. Dia lalu memulai percakapan dengan orang yang mengurus biaya rumah sakit.


“Tuan Ryuu, ini biaya aslinya sebenarnya $ 400. Tapi karena ini Tuan Han ada asuransi dari Healthy Life Insurance, maka pihak asuransi-lah yang akan menutup biaya tersebut.”


“Terima kasih.”


Ryuu pun kembali duduk, lalu ada beberapa orang yang tadinya ketakutan pun pergi menghampiri Ryuu. Mereka pun mulai melontarkan pertanyaan kepada Ryuu.


“Apakah, apakah anda agen asuransi?”


Ryuu pun membalas pertanyaan mereka dengan nada yang sangat meyakinkan.


“Iya, saya adalah agen asuransi dari Healthy Life Insurance.”


Setelah Ryuu memperkenalkan dirinya, ada lebih dari 20 orang yang mengerumuni dirinya dan meminta formulir pendaftaran asuransi darinya.


“Pak Ryuu, saya minta formulir asuransinya!”


“Pak! Pak! Tanda tangan di 3 halaman ini kan?”


Tiba-tiba suasana rumah sakit di daerah tersebut sedikit ramai, dan beberapa dari mereka menulis formulir yang diberikan Ryuu.

__ADS_1


Setengah jam telah berlalu, Han pun sudah keluar dari tempat praktik dokter tersebut. Dia mencari Ryuu di tempat itu dan memanggilnya.


“Ryuu?? Ryuu??”


Lalu dia melihat ada sekumpulan orang-orang yang memberikan formulir kepada seseorang yang tidak asing di mata Han.


“Pak, kalau misalnya saya sakit di rumah sakit, ada jaminan kan Pak kalau saya tanda tangan di kertas ini??”


“Ada Pak, tenang saja. Jangan khawatir, kita siap menutup biaya pengobatan bapak kalau bapak sakit.”


Orang itu adalah Ryuu. Ryuu pun yang tiba-tiba menoleh, dia melihat Han dengan tatapan jengkel. Ryuu pun yang menunjukkan ekspresi kaget pun mengatakan


“Oh… hai… Han, gi-gimana kondisi-nya?? Kata dok-ter bagai-mana?”


Ryuu yang tersenyum karena sudah ketahuan, membuat Han sedikit tersenyum jahat.


“Ryuu, kita perlu berbicara.”


Mereka pun pergi ke tempat yang sepi. Ryuu, orang yang sudah memegang lebih dari 40 formulir pendaftaran asuransi pun sedikit lesu. Han pun mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ryuu, dengan senyuman yang jahat.


“Jadi, kakak manager yang kau bilang itu kerja di asuransi, menyukai kinjeramu karena kamu bisa mendatangkan banyak orang seperti kau melempar makanan ikan ke sekelompok ikan koi di kolam?”


Ryuu pun selalu membalas Han dengan nada yang pelan sambil tersenyum, senyuman yang menandakan dia sudah ketahuan.


“Iya.”


“Terus bulan lalu, ada 2 mobil yang tabrakan hebat di Guanghui Mall, apa kamu juga disana?”


“I-iya…”


“Lalu kejadian di Pegunungan kemarin, apakah kamu berharap aku meninggal ditabrak mobil?”


“Ti-tidak, aku ga berharap kamu yang di-ditabrak.”


“Kamu berharap yang perempuan itu yang ditabrak?”


“I-i-i-i-iya.”


Lalu Han melanjutkan pertanyaan terakhirnya, Ryuu yang sudah lemas itu berkeringat basah dan meneteskan banyak butiran-butiran air di bajunya.


“Kau membayar biaya rumah sakitnya dengan asuransi?”


“Iy-”


Tiba-tiba, ada orang yang lewat dan menghampiri mereka berdua. Orang itu mulai menanyakan kepada Ryuu.


“Mr, bagaimana berkasnya?”


“Ini berkasnya.”


Ryuu pun menyerahkan berkasnya kepada orang tersebut. Han yang canggung pun bertanya kepadanya.


“Hei, kau mencela pembicaraan kami. Kamu siapa? Berani sekali kau menyela diriku?”


Orang tersebut menatap Han, dia mulai berkata dengan sangat sopan.


“Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan Han. Saya adalah bawahan Mr. Shinigami.”


“Shinigami? Siapa Shinigami? Kau pikir Death Note?”


Han yang melihat Ryuu, Ryuu yang sudah lemas karena dicecar pertanyaan oleh Han pun mengaku.


“I-i-itu aku.”


Han pun bertanya lagi kepada orang tersebut, dengan nada yang heran.


“Kenapa dia dipanggil Shinigami? Apa yang sudah dia capai di perusahaan?”


“Iya, Mr. Shinigami adalah satu-satunya agen yang berhasil menembus 440 pendaftar baru dalam waktu 3 bulan, ini adalah rekor yang tidak pernah dicapai oleh atasan-atasan Mr. Shinigami, bahkan managernya pun tidak bisa. Mr. Shinigami adalah satu-satunya orang yang berhasil mendapatkan gaji 10 kali lipat dari gaji asalnya.”


Han pun takjub, tetapi dengan wajah yang sinis. Dia melihat Ryuu yang dijuluki oleh orang itu sebagai Shinigami.


“Baiklah, saya pamit dulu.”

__ADS_1


Orang itu pun keluar meninggalkan mereka berdua. Lalu Han dan Ryuu mencari Jun untuk diantarkan pulang.


Bersambung ke Part 2


__ADS_2