Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 4, Chapter 28: What a Festival, Part 5


__ADS_3

“WOI! INI PENGKHIANATAN! JAWAB ‘TIDAK’ AJA BAGAIMANA!”


Maylene pun bertanya dengan bingung, mengapa Han berteriak seperti itu.


“Kenapa Han? aku kan jawab dengan jujur. Memang kamu pernah hampir menjua-.”


*Blerrrrrrrrr*


Soda itu disemprotkan kepada mereka berdua, dan soda itu berasal dari seluruh penonton dan peserta. Mengapa mereka disemprot? Karena kertas itu tertulis:


“Jika pacarmu pernah menjualmu, maka seluruh penonton dan peserta akan menyemprot kalian. Jika tidak, maka hanya anggota keluarga yang minum. Namun jika anggota keluarga menutupi kebohongan pacarnya, maka pacarnya yang akan disemprot.”


Han dan Maylene benar-benar basah kuyup saat ini, Maylene pun mulai merengek dan melihat ke arah Han dan bertanya dimana kamar mandi rumahnya.


“Han… maafkan aku! Kamar mandi dimana?”


“Nanti aja, kamar mandi di rumah ini ada 8. Pakai kamar mandiku nanti, belum tentu kita tidak disemprot lagi.”


Lalu semuanya berjalan dengan tenang hingga giliran pacar Miko yang mengocok dadu. Mereka sampai di ‘Old Orlanes’, dan pertanyaan dari kartu itu adalah.


“Sebutkan kekurangan pacarmu”


Suara Miko yang sedikit keras itu membuat pacarnya semakin berapi-api untuk menceritakan aib-nya.


“Pacarku itu! Masa dia lebih sayang sama Han daripada aku! Aku ini pacarnya, tapi kalo urusan kencan Pacarku lebih banyak-.”


*Blerrrrrrrrr*


“KENAPA AKU DISEMPROT!”


Semua orang yang menyemprot itu menatapnya dengan jahat, namun Miko yang basah juga itu memukul pacarnya yang bodoh itu.


“’Kalau kamu menyebutkan keburukan pacarmu, kamu akan disemprot!’ mangkanya, sabar sedikit kenapa! Jangan umbar keburukan pacarmu kenapa! Andai Han bukan saudaraku, lebih baik aku sama dia daripada sama kamu!”


“Ke-Kenapa aku yang dibully hari ini!!!!”


Baik Han maupun Miko yang mengetahui maksud dari permainan ini sudah saling menatap satu sama lain. Han yang melihat Miko sudah memperingati Miko untuk mengerem mulut pacarnya jika kartu itu sudah mengarahkan kepada sisi negatif.


“Miko, pacarmu harus mengerem kalo itu sudah menyentuh dengan sisi negatif.”

__ADS_1


“Aku tau itu, Han!”


Akhirnya mereka semua masuk ke zona ketiga, dimana pertanyaan ke sini semakin gila dan tidak masuk akal. Dimulai dengan Nagi dan Yui yang sampai ke ‘Okasa’. Nagi pun mengambil kartu dan membacakan tulisan yang ada di kartu itu.


“Andaikata pacarmu sedang terbaring di rumah sakit karena dia sedang sakit. Apa yang kamu lakukan?”


Yui dengan polosnya menjawab ke arah Nagi.


“Aku akan menemaninya sampai dia sembuh.”


Namun giliran Nagi yang disemprot oleh mereka semua. Permainan semakin absurd dengan peraturan-peraturan ini.


“Jika kamu berpikir hal yang lain dan terdeteksi di lie detector, maka kamu akan disemprot!”


Mama Nagi pun maju dan bertanya kepada anaknya, apa yang dia pikirkan saat ini.


“Anakku, apa yang kamu pikirkan saat ini?”


“Dicium.”


Mereka semua membatu dan terdiam dengan kepolosan Nagi.


Permainan dilanjutkan lagi oleh pasangan Kazuki dan pacarnya, yaitu Sakura. Mereka berdua bermain dan sampai di ‘Yokto’. Kartu pertanyaan itu dibaca oleh Kazuki dan Kazuki juga kebingungan saat ini.


Sakura dengan polos menjawab pertanyaan Kazuki dengan suara-suara yang penuh dengan harapan dan halusinasi. Mereka yang mendengarkan itu saja tidak dapat membedakan mana yang halusinasi, mana yang realita.


“Aku akan selalu mencintai Kazuki walaupun kita tidak memiliki anak suatu saat. Kita itu memang saling mencintai…”


*TITTTTTT*


Suara lie detector Kazuki pun bunyi, Sakura yang mendengarkan itu pun tidak siap dan…


*Blerrrrrrrrr*


Mereka berdua disemprot dengan soda air.


Ketika mama Han ingin bertanya kepada Kazuki apa yang sedang dia pikirkan, Sakura dengan wajah yang marah itu mulai bertanya kepada Kazuki. Dia menarik baju depan Kazuki dan mengangkatnya ke atas dengan mata yang penuh dengan kebencian.


“Oi pacar bodoh! Apa yang kamu pikirkan saat ini!”

__ADS_1


“Me-Membeli anak di pasar ge-gelap…”


Wajah Kazuki yang ketakutan itu ketika melihat Sakura sudah marah akhirnya melepaskan Kazuki. Akhirnya permainan itu sudah berada di zona terakhir, yaitu zona lima.


Ronde ini sangat krusial, karena jika mereka ketahuan berbohong maka mereka akan pasti kalah. Namun, jika mereka jujur, mereka langsung memenangkan permainan ini. Paman Ken berhasil mencapai zona lima itu bersama pacarnya. Ketika Paman Ken membacakan kertas itu, pacar Paman Ken langsung diberikan lie detector juga oleh Mama Nagi. Mama Nagi sangat bahagia karena di permainan ini mereka dapat melihat anak dan saudaranya tersiksa di dalam siklus yang bernama


Kejujuran.


“Ini untuk mendeteksi kebohongan hatimu.”


  Kertas itu dibaca oleh Paman Ken.


“Jika seandainya aku melarat dan tidak memiliki apa-apa, apakah kamu masih mau menemaniku?”


Pernyataan yang selalu dipakai dalam acara pernikahan itu pun keluar, terkadang kata ‘iya’ di saat pernikahan itu benar-benar tabu dan penuh dengan kebohongan.


Menurut data negara, dari 400 ribu pasangan, yang menceraikan dari pihak perempuan ada sebanyak 300 ribu, sedangkan laki-laki hanya sisanya.


“Jelas, aku akan mendukungmu dari nol! Aku selalu menghiburmu di saat kamu susah dan di saat kamu bahagia! Aku akan tulus kepada-.”


*TETTTTTT*


Paman Ken yang mendengarkan itu tiba-tiba melihat ke arah keluarga besar Lin dengan wajah yang putus asa. Dia merasa bahwa ini adalah permainan penuh penyiksaan, dia ingin membela pacarnya itu. Pacarnya pun kaget sendiri, karena dia mengatakan itu dari lubuk hatinya dan tidak ada tanda-tanda kemunafikan di dalam setiap kata-kata yang keluar.


“Ce, Ko! Ini game benar-benar bikin orang gila, tau! Kasihan pacar-pacar kita in-.”


“Justru itu tujuan dari permainan ini. Kita ingin mengetahui seberapa tulus pacarmu denganmu.”


Papa Han yang mencela perkataan Paman Ken itu membuat Paman Ken pasrah. Mereka akhirnya berputar kembali ke zona pertama, disemprot ramai-ramai dan dipastikan kalah.


*Blerrrrrrrrr*


“T-Tapi aku tidak berpikiran yang lain. Ma-Maafkan aku.”


Pacar Paman Ken yang sedih itu tiba-tiba dirangkul oleh Paman Ken, Paman Ken hanya bisa tertawa karena ini hanya permainan.


“Hahahaha, tidak apa-apa kok sayang. Ini kan cuma permainan.”


Lalu lanjut ke peserta berikutnya yang sudah sampai di zona terakhir. Han yang sedikit mual karena meminum soda itu membaca pertanyaan itu ke arah Maylene walau mereka berdua sudah basah kuyup karena semprotan itu. Pertanyaan yang benar-benar menjadi musuh besar Maylene itu diceritakan oleh Han dengan wajah yang datar.

__ADS_1


“Andai kamu menikahiku, tempat apa yang ingin menjadi tempat pernikahan kita berdua.


Maylene yang mendengarkan itu hanya kaget seketika, namun dia berani menjawab karena pengalaman-pengalaman yang sudah dia habiskan bersama Han dan teman-temannya di warung maupun tempat makanan murah.


__ADS_2